Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kebodohan.
Adakah seorang tunangan duduk di belakang, sementara wanita lain duduk di sisi tunangannya? Ya, ada, itu yang sering kali Nana alami. Ia tidak masalah, karena wanita itu sudah ada di hidup Tris jauh sebelum Nana.
“Tris, berhenti, aku pengen buah itu!” Dari belakang Nana menepuk-nepuk pundak Tris sambil menunjuk toko buah.
Tris berdecak lidah, menepis tangan Nana. “Elli sudah hampir terlambat ke kantor, kita tidak bisa berhenti,” kata Tris.
“Sebentar saja, tidak apa-apakan, Elli?”
“Maaf, Nana. Aku tidak ingin telat.”
“Ayolah berhenti, sebentar saja!”
Mobil menepi, Nana senang Tris mendengarkannya. Setelah ia turun, Nana berbalik ingin bertanya buah apa yang mereka inginkan, akan tetapi mobil itu pergi meninggalkan Nana. Nana terdiam di tepi jalan, menggenggam ujung roknya erat-erat.
Tris lebih peduli pada Elli daripada Nana, sudah lama ia menyadari hal itu. Teman-teman Nana mengatai Nana bodoh karena masih bertahan dengan Tris, bahkan bertunangan dengan laki-laki yang tidak bisa menjadikannya prioritas. Mungkin mereka benar, tetapi Nana sangat mencitai Tris. Tidak terhitung berapa kali Tris menyakiti hatinya, Nana selalu memaafkan Tris.
Nana menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. ‘Aku terlalu memaksa turun makanya Tris meninggalkan aku. Yah, aku yang kekanak-kanakan.’
Dia berbalik ke arah toko buah, memilih jeruk manis berwarna jingga pekat. Waktu hendak membayar, Nana baru ingat tasnya tertinggal di mobil Tris. Ia langsung menepuk jidatnya sendiri.
“A-anu, maaf dompetku ketinggian. Aku tidak jadi membeli.” Ia tersenyum canggung, penjaga toko buah segera memaklumi.
Padahal Nana sangat ingin memakan jeruk saat ini. Jangankan memakan jeruk, bahkan ia tidak tahu bagaimana caranya pulang tanpa memiliki uang.
Nana berjalan kaki, sialnya cuaca sangat panas hari ini. Setelah 100 meter, kakinya sakit, itu karena ia berjalan menggunakan hak heels runcing. Ingin melepaskan sepatunya, tapi aspal panas akan membakar telapak kakinya. Ia terus melangkah, dan langkah ini masih harus menempuh jarak sekitar 12 km. Mungkin ia akan pingsan sebelum sampai ke rumah.
Berhenti di bawah pohon, Nana mencoba menghentikan kendaraan yang berlalu lalang. Mereka tidak menurunkan kecepatan, tidak ada satupun yang berhenti untuk menolong Nana.
“Bajingan kau Tris!” teriak Nana bagaikan orang gila.
“Aduh, aku haus. Tau gini, gak usah turun dari mobil tadi.”
Mau tidak mau Nana melanjutkan perjalanan, rambutnya sudah mengembang karena panas. Setelah satu jam ia berjalan kaki, ia melihat mobil yang cukup ia kenal di depan. Nana langsung melompat ke tengah jalan, merentangkan kedua tangannya.
Mobil itu berhenti, Nana tanpa tahu malu membuka pintu mobil. “Halo Bang Aska.” Sambil tersenyum lebar.
Aska adalah abangnya Tris, seorang duda tanpa anak. Seorang pengacara dengan kasus tingkat kesuksesan tinggi. Dia belum pernah kalah dalam persidangan, tapi namanya tidak cukup bersih karena dia menerima segala kasus tanpa berpikir pihak benar atau salah.
Aska memandang Nana secara malas, apalagi melihat wajahnya yang tetap ceria meskipun berpenampilan berantakan.
“Tris meninggalkanmu?” tebak Aska.
“Iya, heheh.”
“Itu karena kau bodoh.”
Nana cemberut. “Tidak begitu bodoh kok.”
Aska cuman bisa menghela napas. “Kau mau ke mana?”
“Aku mau ke kantor Tris. Bisa antarkan?”
“Tidak bisa, aku mau pulang istirahat. Aku antar kau pulang saja.“
Aska tidak menunggu jawaban setuju dari Nana. Ia langsung menginjak gas, membuat tubuh Nana terjerembap sedikit ke sandaran kursi kulit yang empuk. Wangi campuran kayu cendana dan kopi langsung menyerbu indra penciuman Nana, sangat kontras dengan aroma keringat dan debu jalanan yang menempel di kulitnya.
"Tapi Bang, tas dan ponselku ada di mobil Tris," cicit Nana pelan. Ia melirik kakinya yang lecet dan memerah di balik sepatu heels-nya. "Kalau aku pulang sekarang, aku tidak bisa masuk rumah. Kuncinya ada di dalam tas."
Aska melirik sekilas ke samping, menangkap bayangan wajah Nana yang kusam. "Lalu kau mau ke kantor Tris? Menunggu di lobi seperti pengemis hanya untuk melihatnya sedang tertawa bersama Elli di jam makan siang?"
Kata-kata Aska tajam, tepat sasaran. Nana terdiam, jemarinya memainkan ujung rok yang kini tak lagi rapi. "Dia tunanganku, Bang. Wajar kalau aku menemuinya."
"Tunangan yang menurunkanmu di pinggir jalan tanpa uang sepeser pun?" Aska mendengus remeh. "Nana, dalam hukum, ada yang disebut kelalaian. Tapi dalam hubungan, yang kau lakukan itu namanya penyiksaan diri."
Mobil berhenti di lampu merah. Aska tiba-tiba meraih sebuah botol air mineral dingin dari dashboard dan menyodorkannya ke arah Nana tanpa menoleh. "Minum. Wajahmu sudah seperti kepiting rebus."
Nana menerimanya dengan ragu. "Terima kasih, Bang."
"Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya tidak ingin jok mobilku kotor karena kau pingsan di sini."
Alih-alih berbelok ke arah apartemen Nana, Aska justru mengarahkan mobilnya ke sebuah area komersial mewah. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah butik dan toko perlengkapan kantor.
"Turun," perintah Aska singkat.
"Loh, katanya mau pulang?"
"Aku perlu membeli sesuatu. Dan kau," Aska menatap Nana dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang dingin, "bersihkan dirimu di toilet sana. Kau merusak pemandangan di mobilku."
Nana cemberut, namun ia tetap turun. Sambil menunggu Aska, ia membasuh wajahnya di wastafel. Saat ia keluar, ia melihat Aska berdiri di depan toko ponsel, sedang berbicara dengan pelayan. Tak lama kemudian, Aska berjalan ke arahnya dan melemparkan sebuah kantong kecil.
"Gunakan itu. Masukkan kartu baru, hubungi Tris dan suruh dia mengirimkan tasmu ke rumahku lewat kurir."
Nana terbelalak melihat kotak ponsel pintar keluaran terbaru di tangannya. "Bang, ini... ini mahal sekali. Aku tidak bisa—"
"Anggap saja itu biaya sewa karena kau sudah menghiburku dengan kebodohanmu hari ini," potong Aska datar. Ia mulai berjalan menuju mobil lagi. "Cepat, aku lapar. Kita makan sebelum aku mengantarmu."
Nana menatap punggung tegap Aska. Kakaknya Tris ini memang bermulut pedas, tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa lebih nyata daripada janji-janji manis Tris yang seringkali kosong.
Nana tersenyum tipis, menyusul langkah Aska dengan kaki yang tak lagi terasa begitu perih. Mungkin benar kata teman-temanku, batin Nana, kalau Tris tidak bisa menjadikanku prioritas, kenapa aku tidak mencari perlindungan pada orang yang lebih berkuasa darinya?
Dalam mobil, tepatnya di sebelah Aska, Nana menelepon Tris. Awalnya Tris tidak tahu siapa nomor baru yang meneleponnya, setelah mendengar suara Nana, ia langsung bernada malas.
“Aku sedang kerja, jangan ganggu aku.”
“Tasku di mobilmu, kirimkan itu ke alamat abangmu.”
“A-abangku?”
“Iya, dia memungut aku di tepi jalan.”
Tris paling takut sama Aska, selain pukulan Aska yang menyakitkan, ia juga punya hutang yang tidak bisa kembalikan kepada saudaranya itu.
“Baiklah, akan aku kirimkan sekarang.”
Bersambung....