NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Lebih dari sekedar sahabat

Bara berjalan menuju bangkunya dengan kaki yang terasa berat seperti diseret. Ia duduk tepat di belakang mereka, dipaksa menjadi saksi atas setiap kemesraan yang menghancurkan hatinya.

"Eh, Bara! Sini deh," panggil Brian sambil menoleh ke belakang. "Lo harus liat, Luna sekarang makin terbuka sama gue. Dia bahkan kasih semua password sosmed sama kunci HP-nya ke gue.

​Bara memaksakan senyum . "Oh ya? Bagus dong, Bri."

​"Iyalah! Gue bersyukur banget punya sahabat kayak lo yang dulu dukung gue maju," lanjut Brian tanpa dosa. "Gue tadinya mikir hubungan lo sama Luna itu spesial banget, tapi ternyata bener kata lo, kalian emang cuma sahabat biasa. Makanya Luna bisa secepat ini buka hati buat gue."

​Setiap kata "sahabat" yang diucapkan Brian terasa seperti paku yang dipukul masuk ke ulu hati Bara. Dulu, ia menggunakan kata itu untuk melindungi gengsinya. Kini, kata itu justru menjadi senjata yang digunakan Brian untuk membuktikan bahwa Bara tidak berarti apa-apa bagi Aluna.

​Bara hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mengaduk isi tasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Brian kembali mengecek galeri foto Aluna.

​"Eh, Lun, foto yang ini kok masih ada? Foto lo berdua sama Bara pas di kantin sebulan lalu?" tanya Brian sambil menunjukkan layar.

​Aluna melirik layar itu sebentar, lalu dengan gerakan jari yang dingin, ia menekan ikon tempat sampah. Hapus.

​"Kehapus kayaknya, Bri. Atau mungkin aku lupa," jawab Aluna datar. "Hapus aja kalau kamu nggak suka. Lagian itu cuma masa lalu."

​Bara memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya sesak luar biasa. Foto itu... foto saat mereka tertawa bersama sambil memperebutkan bakso, satu-satunya kenangan yang paling Bara simpan di ingatannya, kini dimusnahkan di depan matanya sendiri hanya dengan satu sentuhan jari.

​Ia menyadari bahwa tembok tinggi itu kini tidak hanya memisahkannya dari Aluna, tapi juga sedang menghapus setiap jejak yang pernah ia tinggalkan di hidup gadis itu. Di mata semua orang, mereka mungkin masih bersahabat. Tapi di mata Aluna, Bara kini hanyalah orang asing yang pernah salah menempatkan rasa.

​Bara menarik napas panjang yang terasa menyakitkan. Ia menatap punggung mereka yang bersandar satu sama lain. Benar kata Brian, mereka kini "lebih sekadar dari sahabat", Brian terasa seperti paku yang dipukul masuk ke ulu hati Bara. Dulu, ia menggunakan kata itu untuk melindungi gengsinya. Kini, kata itu justru menjadi senjata yang digunakan Brian untuk membuktikan bahwa Bara tidak berarti apa-apa bagi Aluna.

Bara hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mengaduk isi tasnya. Dari sudut matanya, ia melihat Brian kembali mengecek galeri foto Aluna.

Bel istirahat berbunyi nyaring, namun bagi Bara, suara itu terdengar seperti lonceng kematian. Kelas yang tadinya sunyi mendadak riuh, Brian dengan sigap berdiri, mengulurkan tangannya pada Aluna dengan gerakan yang sangat romantis.

"Yuk, Lun. Kantin? Gue laper banget nih, tadi pagi nggak sempat sarapan karena buru-buru jemput lo," ajak Brian sambil tersenyum lebar.

Aluna mengangguk, ia meraih tangan Brian dan berdiri. "Bara, lo nggak ikut?" tanya Brian sambil menoleh ke belakang, basa-basi yang sebenarnya tidak Bara butuhkan.

Bara tidak berani mendongak. Ia hanya menatap buku tulisnya yang kosong. "Gue... gue ada tugas yang belum selesai. Kalian duluan aja."

"Yaudah, jangan telat makan lo, Bar! Nanti sakit lagi," seru Brian sebelum akhirnya mereka berdua melangkah keluar kelas, meninggalkan Bara dalam keheningan yang menyesakkan.

Begitu bayangan mereka menghilang di balik pintu, pertahanan Bara runtuh. Ia mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Udara di dalam kelas terasa sangat tipis, seolah oksigennya telah habis dibawa pergi oleh mereka. Bara merasa dadanya terbakar; kombinasi antara cemburu, penyesalan, dan rasa rendah diri yang amat sangat.

Ia tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Melihat mereka makan berdua di kantin, melihat Brian merangkul Aluna dengan mesra. Bara tidak akan sanggup.

Dengan gerakan kasar, Bara menyambar tasnya. Ia tidak mempedulikan buku-bukunya yang berantakan. Ia berjalan keluar kelas, namun bukan menuju kantin, melainkan menuju parkiran belakang sekolah yang sepi.

Suasana parkiran yang panas tidak menyurutkan niatnya. Bara menyalakan mesin motornya dengan terburu-buru. Suara knalpot motornya menggelegar, memecah kesunyian area itu. Ia tidak peduli jika ada guru piket yang melihatnya. Saat ini, ia hanya ingin pergi. Sangat jauh.

Bara memacu motornya melewati gerbang belakang yang kebetulan sedang terbuka sedikit. Begitu roda motornya menyentuh aspal jalan raya, ia menarik gas sekencang-kencangnya. Angin kencang menghantam wajahnya, tapi tidak bisa mendinginkan kepalanya yang panas.

Ia membelah jalanan kota tanpa tujuan yang jelas. Di balik helmnya, mata Bara memanas. Ia merasa seperti pecundang paling besar di dunia. Ia bolos bukan karena ingin bermain, tapi karena ia tidak cukup kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa ia sendiri yang telah menyerahkan kebahagiaannya pada orang lain.

"Gue bego... gue bener-bener bego!" teriaknya di dalam helm, suaranya teredam oleh deru mesin dan angin.

Bara akhirnya menepi di sebuah pinggiran danau yang sepi di pinggir kota. Ia turun dari motor dan duduk di atas rumput yang kering, menatap air danau yang tenang.

Danau itu begitu sepi, hanya ada suara gesekan daun kering yang tertiup angin. Bara berdiri di tepiannya, menatap bayangan dirinya di permukaan air yang tampak kacau.

Di sinilah, ia jauh dari keramaian sekolah dan jauh dari pandangan tajam Aluna, benteng pertahanan yang selama ini ia bangun dengan keangkuhan akhirnya roboh sepenuhnya.

Dadanya terasa seperti mau meledak. Ada bongkahan sesak yang menyumbat tenggorokannya, menuntut untuk dilepaskan. Bara menarik napas sedalam yang ia bisa, memenuhi paru-parunya dengan udara dingin, lalu ia menumpahkan segalanya.

"AAAAAAA........!!!"

Teriakan itu melengking, membelah kesunyian danau. Suaranya serak, penuh dengan amarah dan luka yang tidak terlukiskan. Ia berteriak lagi dan lagi, membuang semua rasa sakit yang sejak kemarin mencekik lehernya. Ia berteriak pada takdir, pada kebodohannya sendiri, dan pada kenyataan yang begitu kejam.

Setelah suaranya habis, kekuatan di kakinya seolah lenyap. Tubuh Bara lemas, ia jatuh terduduk di atas tanah yang kasar. Bahunya berguncang hebat. Untuk pertama kalinya, Bara menangis sejadi-jadinya tanpa memedulikan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

"Luna..." bisiknya di sela isak tangis yang menyesakkan.

Ia memukul tanah di sampingnya, mengabaikan rasa perih di tangannya. Air matanya jatuh membasahi tanah, menjadi saksi bisu kehancuran batinnya.

"Luna, andai waktu bisa diputar kembali..." Bara berucap lirih, suaranya gemetar menahan perih. "Saat itu juga aku akan jujur sama Brian kalau aku cinta sama kamu. Aku nggak akan peduli soal persahabatan ini kalau akhirnya aku harus kehilangan kamu kayak begini."

Ia menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. "Tapi sekarang sudah terlambat, Lun. Semuanya sudah terlambat."

Bersambung .....

Jangan lupa like ya kakak♥️😌

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!