Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kalau bukan karena Reynaldo aku sudah mengusir nenek lampiran itu!!" gerutu Nabila didalam lift.
Setelah sampai di lantai tiga tempat kamar Reynaldo, Nabila bergegas menuju kamar itu. Dia mencari telepon genggamnya kemudian mencari nomor Reynaldo.
"Kadal Air " gumam Nabila dalam hati saat menekan kontak yang bernama "Kadal Air"
Dreeettttt... Dreeeettttttt..dreeetttt... Telepon genggam Reynaldo bergetar.
"Ada apa?" Ucap Reynaldo dari ujung telpon.
"Kau belum pulangg??" Ucap Nabila.
"Belum, kenapa? Kangen aku?"
"Idiihhhh kangenn kangenn! Ngapain kangen sama kadal air.."
"Terus?"
"Thank You.."
"Untuk apa?"
"Coklatnya yang kamu kirimin..."
"Ohhh jangan makan terlalu banyak ya nanti tenggorokanmu sakit.."
"Baiklah, tapi aku mau izin keluar boleh?"
"Kemana?"
"Aku ingin belanja keperluan sendiri dan ada beberapa hal yang mau aku cari.."
"Pergilah tapi bawa beberapa pengawal ya.."
"Tidak perlu kok aku bisa sendiri.."
"Bawa pengawal atau jangan keluar rumah sama sekali..!!"
"Tapii.."
"Terserah kamu pilihannya!"
"Ahhhh dasar kadalll airrr!! Baiklah baikk aku akan bawa pengawal! Byeee!!" umpat Nabila kesal lalu langsung mematikan teleponnya. Yasudahlah mau ada pengawal atau tidak, aku harus beli lemari pendingin buat kamar.. heheheh
Dimana tas kemarin ya? Kemarin dia kasih kartu untuk kebutuhanku.., lagipula nggak akan masalah kan kalau dipakai, orang kaya kan bisa bebas mau apa aja..
Reynaldo tidak akan mempermasalahkan kok Nabila, tenang aja... Kau adalah istrinya sekarang, walau hanya enam bulan kenapa tidak kita manfaatin waktu singkat itu..." ucap Nabila tertawa sendiri.
Tokkk...tokkkk...tokkkk
Nabila menekan tombol untuk membuka kamar.
"Masuk.." teriak Nabila yang sibuk mencari kartu yang dia terima.
"Nyonya ini sarapan untuk Nyonya.." ucap pelayan.
"Letakkan saja di meja itu.."
"Baik Nyonya.., saya permisi...."
"Hemm.." Kini pelayan itu meninggalkan Nabila sendirian.
"Nahhhh ketemuuuu!!" ucap Nabila bahagia karena kartu itu masih ada.
Nabila mengambil Sandwich Sosis itu kemudian memakannya. Setelah selesai dia meminum susu coklat yang dibawakan pelayan.
Kini dia bergegas bersiap-siap untuk berangkat.
Bram yang sedang menemani Reynaldo menangani masalah ekspor tiba-tiba terhenti melihat tuannya sedang tersenyum sendiri saat mengangkat telepon.
"Hanya satu orang yang bisa membuatnya seperti itu! Pasti Nyonya Nabila.." gumam Bram dalam hati.
"Bagaimana tuan, jadi kita akan bagaimana dengan dia..?" ucap Bram bertanya kepada Reynaldo.
Orang yang mereka tangkap sudah sangat tak berdaya – setiap orang yang berani mengganggu bisnis keluarga Wijaya akan mendapatkan konsekuensi yang berat.
"Kubur saja dia hidup-hidup!!" ucap Reynaldo melemparkan tongkat yang dia gunakan untuk menghadapi orang itu.
Kemudian Bram memberikan instruksi kepada pengawal untuk melaksanakan perintah Reynaldo. Kini mereka meninggalkan tempat itu dan Reynaldo memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan ke kantor. Sebelum masuk kantor, dia mengganti pakaiannya agar tidak ada noda darah atau kotoran yang terlihat.
Di kantor pusat perusahaan Wijaya Group di Kota Perak, terlihat Reynaldo datang dengan gaya khasnya – pria cuek dan dingin dengan tatapan tajam yang mampu membuat orang merasa takut. Namun ketampanannya tetap memikat banyak wanita di kantor.
Reynaldo terus menyusuri koridor kantor hingga memasuki lantai atas yang khusus untuknya saja. Dia mulai memeriksa dokumen dan pekerjaan lainnya ditemani oleh Bram yang berbagi ruangan dengannya.
"Haloo.." ucap Bram mengangkat telpon kantor.
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan Reynaldo.." ucap sekretaris dari lantai bawah.
"Siapa?"
"Nona Sofia Lim tuan.."
"Sekentar.." ucap Bram kepada sekretaris kemudian menghadap Reynaldo.
"Tuan.. Sofia Lim ingin bertemu dengan anda.." ucap Bram.
"Katakan aku sibuk!" ucap Reynaldo yang masih fokus dengan dokumennya.
"Katakan bahwa Tuan Reynaldo sedang tidak bisa diganggu!" ucap Bram kepada sekretaris.
"Baik tuan.."
Kemudian sekretaris mematikan telpon. Di ruang sekretaris, terlihat jelas Sofia sedang berharap bisa bertemu dengan Reynaldo.
"Nona maaf, saat ini tuan sedang sangat sibuk dan tidak bisa menemui anda.." ucap sekretaris dengan ramah.
"Katakan pada Reynaldo aku tidak akan pergi dari sini sampai dia mau melihatku!" ucap Sofia bersikeras.
"Tapi Nona.. Tuan memang sedang sangat sibuk, anda bisa kembali lain hari saja.."
"Dia selalu bilang sibuk – aku sudah kenal dia sejak kecil! Katakan padanya ini adalah kalinya terakhir aku akan datang jika dia tidak mau bertemu denganku hari ini.." ucap Sofia memohon.
"Baiklah Nona, saya akan menyampaikannya.."
Sekretaris menghubungi Bram kembali untuk menyampaikan permintaan Sofia.
"Tuan... Bagaimana? Sofia ingin anda bertemu dengannya.." ucap Bram.
"Dia selalu seperti ini, sangat keras kepala..!" gumam Reynaldo dalam hati.
"Katakan padanya, aku akan menemui dia..!" ucap Reynaldo kini berdiri dan berjalan ke arah ruangan sekretaris.
Bram menyampaikan pesan itu kepada sekretaris. Kini Reynaldo berada di ruangan sekretaris.
"Sofia! Ikut aku!!.." ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Vano.. kau.. baikklahhh.." ucap Sofia tersenyum bahagia saat melihat Reynaldo akhirnya mau bertemu dengannya.
"Bram.. urus meeting sore nanti.. setelah ini aku akan pulang!"
"Baik tuan.." ucap Bram menerima perintahnya.
"Kita mau kemana Vano?" ucap Sofia mengikuti langkah Reynaldo.
"Ikut saja.." ucap Reynaldo singkat.
Bagaimanapun dulu Sofia dan Reynaldo sangat dekat – mereka bersahabat sejak kecil, namun semuanya berubah setelah kedatangan seseorang yang membuat Reynaldo terluka hati, terutama saat ibunya Dewi meninggal dan ayahnya menikah lagi sebelum genap 100 hari setelah kepergian ibunya.
Kini Nabila sudah siap untuk pergi "me time". Dia menggunakan legging hitam, tank top hitam, dan outer crop warna lilac, tidak lupa tas selempang Hermes warna lilac yang dibeli Reynaldo untuknya. Dia menggunakan riasan tipis dan mengikat sebagian rambutnya, membuatnya terlihat sangat cantik.
Nabila menatap wajahnya di cermin.
"Hahahah ternyata kalau sudah jadi orang kaya wajah jadi 10x lebih bersinar" kekeh Nabila melihat diri sendiri.
"Nyonya sangat cantik bahkan tanpa riasan sekalipun.." ucap salah satu pelayan yang mengurusnya.
"Hahahah kau ingin naik gaji yahh!? Nanti aku sampaikan sama Reynaldo buat tambahin gajimu.." ucap Nabila tertawa.
Pelayan itu hanya tertawa melihat Nabila yang tidak pernah merendahkan mereka – jauh berbeda dengan mantan kekasih Reynaldo atau bahkan Alisha yang selalu sombong.
"Menurutmu apa aku harus kirim foto ke Reynaldo aja?" ucap Nabila kepada pelayan.
"Itu ide yang bagus Nyonya.." ucap pelayan tersenyum.
"Baiklahh.." ucap Nabila mengambil teleponnya, membuka kamera, kemudian...
Cekkkreeekk..! Dia mengambil foto dirinya yang tersenyum manis.
Kemudian dia menekan tombol share dan mencari kontak "Kadal Air".
"Aku ijin pergi ya Suami Kontrak Kadal Air.." isi pesan yang dia kirimkan.
Setelah itu Nabila menyimpan teleponnya.
"Baiklah aku akan pergi, tolong rapikan kamar yang aku berantakin yahh.." ucap Nabila kepada kedua pelayan pribadinya kemudian berjalan keluar kamar menuju lift.
Di lantai dasar dia mencari pengawal yang akan menemaninya. Namun hidupnya tidak akan tenang jika nenek lampiran itu masih ada di istana.
"Mau kemana kau??" ucap Alisha dengan pandangan sinis.
"Ehhh ada nenek lampiran lagi.." cetus Nabila dengan nada menyindir.
"Kaauu!!!" pekik Alisha ingin menampar pipi Nabila namun akhirnya mengurungkan niatnya.
"Kirain mau nampar.." cetus Nabila cuek.
Alisha mencoba mengontrol emosinya.
"Kau semakin berulah tanpa ada batasan!" ucap Alisha sinis.
"Jelasss dong.. terus masalahnya apa sih?"
"Kau harus tahu tata krama di istana ini!"
"Wah wahh tata krama yang mana? Lagipula Anda tidak dengar perkataan Reynaldo kemarin kan? Sekarang istana ini dalam pengawasanku, tata krama mana yang harus aku ikutin..!"
"Dengar Nabila kau akan aku usir dari istana ini.."
"Caranya?? Aku bisa saja mengusirmu nenek lampiran! Cuma saja suamiku membiarkan kalian karena kalian hanya ingin melihat apakah aku dan Reynaldo benar-benar menikah atau tidak kan?? Nih kau lihatt Cincin ini..? Ini salah satu buktinya. Terus mau lihat apa lagi? Kau tidak lihat kamar kami? Atau mau lihat kartu ini? Reynaldo tidak akan kasih kartu Unlimited ini kalau bukan untuk istrinya.. Yah aku tahu kau iri!! Tapi aku bisa saja belikanmu perhiasan yang jauh lebih mahal dari yang kamu pakai sekarang.." ucap Nabila dengan lancar membuat Alisha terdiam.
"Kau sangat lancang berbicara kepada ibu mertuamu!!" teriak Alisha marah.
"Sadarrrrr!! Selama Reynaldo tidak menganggapmu sebagai ibunya, maka selama itu aku juga tidak akan menganggapmu sebagai ibu mertuaku Thalita.. maaf, Alisha!" ucap Nabila menatap tajam.
"Lihat saja hidupmu hanya sebentar lagi..!" cetus Alisha dengan pandangan merendahkan.
"Yahh lakukanlah apa yang kamu mau! Lagipula bukankah kau lihat suamiku selalu kasih aku keamanan? Gimana mungkin aku akan kuatir!! Seharusnya kamu yang siap-siap saja karena aku akan keluarkanmu dari keluarga Wijaya nenek lampiran!!" ucap Nabila kembali.
"Kauuu!!!!" pekikk Alisha.
"Sudahlah bicara sama nenek lampiran bikin aku capek.." gerutu Nabila kemudian melenggang pergi.
"Pengawal siapkan mobil kita akan ke Kota Perak Mall" teriak Nabila kepada pengawal agar Alisha bisa mendengarnya.
"Kota Perak Mall?? Itu tempat jualan barang-barang branded mahal.." gumam Alisha dalam hati.
"Sialll! Wanita itu benar-benar dijadikan ratu oleh Reynaldo..!" gerutu Alisha kesal.
Kini Nabila berada di dalam mobil Limousine milik Reynaldo. Alisha melihat semua fasilitas yang diberikan kepadanya membuat dirinya semakin marah – padahal dia sama sekali tidak boleh menggunakan mobil-mobil mewah yang ada di garasi istana.
Nabila menikmati perjalanannya, terutama karena Reynaldo sudah menyuruh pengawalnya untuk memberikan pelayanan terbaik kepadanya. Para pengawal juga senang melayani Nabila, tidak seperti saat mereka melayani mantan kekasih Reynaldo.
"Lain kali kita pakai mobil biasa aja ya!" ucap Nabila yang menikmati perjalanan di dalam mobil besar itu.
"Terserah Nyonya saja.." ucap supirnya.
"Kita ke toko elektronik rumah dulu yah, ada beberapa barang yang aku mau beli.." ucap Nabila ramah.
"Baik Nyonya.."
Kini mereka telah sampai di pusat elektronik terbesar di Kota Perak.
Nabila melihat sebuah lemari pendingin kecil yang tidak terlalu besar namun sangat fungsional – bisa digunakan untuk menyimpan cemilan dan juga skincare-nya. Dia sedikit terkejut melihat harganya, namun segera berusaha menenangkan diri.
"Ingat Nabila kau bukan lagi orang biasa yang harus hemat-hemat. Beli saja selama kartu hitam itu masih ada di tanganmu" ucap Nabila kepada dirinya sendiri, terlihat sedikit bingung tapi tetap ingin menikmati hidupnya. Karena Reynaldo sendiri tidak pernah membatasi apa yang membuatnya bahagia.
Di tempat lain, dua orang yang dulu pernah dekat sedang berada di dalam mobil mewah. Terlihat Reynaldo dan Sofia hanya diam sepanjang jalan – Reynaldo lebih fokus menatap layar teleponnya. Dia melihat pesan dari Monyet Kecil yang baru saja datang.
"Apa yang dia kirim??" ucap Reynaldo dalam hati kemudian membuka pesannya.
Reynaldo langsung tersenyum saat melihat foto wajah Nabila yang cantik. Dibawah foto tertulis pesan:
"Aku ijin pergi Suami Kontrak Kadal Air.."
Melihat pesan itu membuat Reynaldo tidak bisa menahan tawanya.
"Hahahah.." tawa Reynaldo terdengar jelas oleh Sofia dan juga supir serta pengawal di dalam mobil.
"Apa yang kau tertawakan Elvano? Kau tak pernah sebahagia ini bahkan tertawa seperti ini – biasanya kau hanya tersenyum atau tertawa untuk Tante Dewi.." gumam Sofia dalam hati.
"Ternyata dia memang memanggilku kadal air, tapi bagaimana bentuk kadal air sih??" gumam Reynaldo dalam hati kemudian membuka pencarian di teleponnya dengan kata kunci "Gambar Kadal Air".
Mata Reynaldo menatap tajam saat melihat hasil pencarian yang menunjukkan gambar kadal air yang tidak terlalu menarik.
"Gadissss ini darimana dia lihat aku seperti binatang jelek itu!!" gerutu Reynaldo dalam hati.
"Awass saja monyettt kecill!!" umpat Reynaldo yang merasa tidak terima.
Sofia terus memperhatikan wajah Reynaldo yang tetap fokus dengan teleponnya, membuat hatinya semakin terluka.
"Harusnya aku tidak mengharapkanmu lagi Vano.." lirih Sofia dengan suara pelan.