NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1) PERTEMUAN YG TIDAK DIINGINKAN

Kerumunan mahasiswa di halaman utama gedung Rektorat semakin padat setelah rapat besar Badan Eksekutif Mahasiswa berakhir. Suara bisik dan tawa bergema di udara sore yang mulai memerah, sebagian besar tertuju pada sosok tinggi yang sedang melangkah dengan langkah mantap melewati mereka.

Rayyan Pratama – ketua BEM Fakultas Ilmu Komunikasi yang dikenal tidak hanya karena prestasinya yang membanggakan, tapi juga wajah yang rupawan dan sikap yang selalu terkontrol. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang tertata rapi, jas hitamnya menyatu dengan celana panjang yang membuatnya terlihat lebih gagah. Banyak mahasiswi mencoba menyapa dengan senyum manis, beberapa bahkan berani memberikan ucapan pujian atau menawarkan bantuan untuk mengurus berkas rapat. Tapi Rayyan hanya mengangguk singkat, bibirnya sedikit mengerut tanpa emosi yang jelas terlihat di mata gelapnya.

"Ada acara makan malam akhir pekan nanti, Kak Rayyan. Banyak teman-teman yang ingin datang lho," ucap salah satu mahasiswi tahun pertama dengan wajah memerah.

Rayyan menghentikan langkahnya sejenak, menatapnya sebentar lalu berkata dengan nada netral, "Maaf, jadwal sudah penuh." Tanpa menunggu balasan, ia melanjutkan langkahnya, berniat segera kembali ke asrama untuk menyelesaikan beberapa proposal kerja BEM.

Namun sebelum ia bisa menjauh dari kerumunan, sebuah sosok perempuan menerobos dari antara mahasiswa yang sedang berdesakan. Ia berlari kecil, rambut pirangnya yang diikat menjadi poni panjang bergoyang mengikuti gerakannya. Ketika sudah berdiri tepat di depan Rayyan, ia berhenti dengan cepat, membuat rok plisketnya sedikit melayang. Kemudian ia menundukkan kepala sebentar sebelum mengangkat wajahnya dengan senyum lebar yang menerangi wajahnya yang cerah.

"Rayyan! Lama nggak ketemu, ya?"

Suaranya yang ceria membuat beberapa mahasiswa berhenti berbicara dan menoleh ke arah mereka berdua. Rayyan yang baru saja mengeluarkan smartphone dari saku jasnya, menoleh perlahan. Alisnya sedikit terangkat, menandakan kebingungan yang muncul di benaknya.

"Rayyan?" gadis itu memanggil lagi, senyumnya tidak surut.

"Kita kenal?" tanya Rayyan dengan nada yang tetap dingin, matanya mengamati sosok perempuan di depannya dengan cermat. Wajahnya memang terlihat akrab, tapi ia tidak bisa mengingat kapan pernah bertemu dengannya.

"Sea!" gadis itu mengangkat bahu dengan ceria, seolah itu cukup untuk mengingatkan Rayyan tentang dirinya. "Ya ampun… aku Sea. Rumah kita dulu sebelahan. Kamu sering nangis kalau kalah main sepeda sama aku lho!"

Beberapa mahasiswa di sekitar mereka tertawa kecil, suara itu terdengar jelas di tengah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti area tersebut. Wajah Rayyan yang tadinya tenang mulai menegang, warna pipinya sedikit memerah karena rasa tidak nyaman yang melanda. Ia melihat sekeliling, menyadari banyak pasangan mata yang sedang memperhatikan mereka dengan rasa penasaran.

"Rayyan," Sea memanggil lagi, ingin menjelaskan lebih jauh.

Tapi Rayyan mengangkat tangan sebentar untuk menghentikannya. "Kamu salah orang," ucapnya dengan nada yang lebih tegas. Tanpa melihat lagi ke arah Sea, ia berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang lebih cepat. Beberapa mahasiswi mengikuti langkahnya, sementara yang lain tetap berdiri dengan melihat Sea yang masih berdiri di tempat yang sama.

Sea tetap tersenyum tipis, meskipun senyumnya tidak lagi seceria tadi. Ia menatap belakang Rayyan yang semakin menjauh, kemudian mengucapkan namanya dengan suara pelan yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.

"Sea…" bisiknya sambil menghela napas perlahan. "Kamu boleh pura-pura lupa, tapi aku nggak akan pernah melupakan masa lalu yang kita lewati bareng."

JEJAK MASA LALU

Dua minggu telah berlalu sejak temuian yang tidak menyenangkan itu di halaman Rektorat. Rayyan mencoba untuk melupakan sosok perempuan yang menyebut dirinya Sea. Tapi nama itu terus muncul di benaknya setiap kali ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada masa kecilnya – seperti sepeda anak-anak yang lewat di jalan kampus, atau aroma kue bolu yang dijual di warung dekat asrama.

Hari itu, Rayyan sedang berada di perpustakaan kampus untuk mencari referensi buku untuk skripsi yang akan segera ia mulai. Ia duduk di sudut pojok lantai tiga, meletakkan beberapa buku tentang komunikasi organisasi di atas meja. Ketika ia sedang mencatat beberapa poin penting di buku catatannya, sebuah bayangan muncul di depan meja.

"Maaf, bolehkah aku duduk di sini? Tempat lain sudah penuh," ucap suara yang sudah tidak asing lagi.

Rayyan mengangkat kepalanya dengan cepat, melihat Sea yang berdiri dengan membawa beberapa buku dan tas ransel yang cukup besar. Wajahnya tetap membawa senyum hangat, meskipun kali ini tidak terlalu lebar. Rayyan ingin mengatakan tidak, tapi melihat banyak mahasiswa yang sedang mencari tempat duduk, ia hanya mengangguk singkat dan kembali fokus ke buku yang sedang dibacanya.

Sea dengan hati-hati duduk di kursi di seberangnya, meletakkan barang-barangnya dengan perlahan agar tidak mengganggunya. Ia mulai membaca buku yang dibawanya, dan untuk beberapa saat, hanya suara halus jemuran buku dan langkah kaki mahasiswa yang terdengar di sekitar mereka.

Setelah sekitar setengah jam, Rayyan merasa tidak nyaman karena merasa ada mata yang terus mengamatinya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Sea yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Apa?" tanya Rayyan dengan nada yang masih dingin.

Sea menggelengkan kepala sebentar. "Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kamu masih sama saja seperti dulu. Suka fokus pada sesuatu yang kamu kerjakan."

Rayyan menutup buku yang sedang dibacanya dengan keras, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh ke arah mereka. "Katakan saja apa yang kamu inginkan. Jangan datang kesini hanya untuk mengingatkan aku pada masa lalu yang aku tidak ingat."

Sea terdiam sejenak, kemudian mengambil sebuah foto kecil dari saku jaketnya. Ia meletakkan foto itu di atas meja, menghadap ke arah Rayyan. "Kalau kamu benar-benar tidak mengenalku, mungkin ini bisa membantu."

Rayyan melihat foto itu dengan cermat. Di dalamnya terlihat dua anak kecil – seorang anak laki-laki dengan rambut hitam yang sedang menangis di atas sepeda kecil, dan seorang anak perempuan dengan rambut pirang yang berdiri di sebelahnya dengan wajah yang sedang menertawakan. Di bagian bawah foto tertulis tanggal: "25 November 2008 – Rayyan & Sea, Juara 2 Lomba Balap Sepeda Anak-anak Kelurahan Sukamaju."

Mata Rayyan sedikit membesar. Ingatan yang telah lama terkubur mulai muncul sedikit demi sedikit. Ia melihat wajah Sea di foto dengan wajahnya yang sekarang, dan benar-benar ada kesamaan yang jelas. Rasa cemas mulai muncul di dadanya.

"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan.

"Kamu memberikannya padaku saat kita akan pindah rumah. Kamu bilang itu bukti bahwa kamu pernah bisa mengalahkanku dalam balapan sepeda, meskipun hanya sekali," jelas Sea dengan senyum lembut. "Kamu juga bilang kita akan selalu jadi teman baik, tidak peduli di mana kita berada."

Rayyan menghela napas dalam-dalam, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Ia memang mengenal gadis di depannya. Sea – anak perempuan yang tinggal di rumah sebelah ketika ia masih berusia sembilan tahun. Mereka sering bermain bersama, terutama main sepeda di jalanan sekitar rumah mereka. Tapi kenangan itu sudah lama hilang dari ingatannya setelah keluarganya pindah kota karena pekerjaan ayahnya.

"Kenapa kamu muncul sekarang?" tanya Rayyan dengan nada yang sudah tidak sekeras tadi.

Sea mengambil foto itu kembali dan menyimpannya dengan hati-hati. "Keluargaku pindah kembali ke Jakarta tiga bulan yang lalu. Aku mendaftar di fakultas Kedokteran di kampus ini setelah tahu kamu kuliah di sini. Aku ingin menemukanmu dan menghubungi kembali hubungan yang pernah kita miliki."

Rayyan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak sama seperti dulu, Sea. Aku punya banyak tanggung jawab sebagai ketua BEM dan juga harus fokus pada studi. Aku tidak punya waktu untuk mengenang masa lalu."

"Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengenangnya sekaligus," ucap Sea dengan lembut. "Aku hanya ingin kamu memberi aku kesempatan untuk menjadi temanmu lagi. Itu saja."

Rayyan terdiam sejenak, melihat wajah Sea yang penuh harap. Ia tidak bisa menolak langsung permintaannya. Akhirnya, ia mengangguk sebentar. "Baiklah. Tapi jangan mengharapkan aku akan cepat kembali seperti dulu."

Sea tersenyum lebar kembali, kali ini senyumnya penuh dengan kebahagiaan. "Cukup saja kalau kamu mau memberi aku kesempatan, Rayyan. Sisanya kita bisa lakukan secara perlahan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!