NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kilau Berlian di Sarang Ular

Malam itu, langit Jakarta tampak bersih tanpa awan, seolah turut bersiap menyambut acara besar yang akan digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di pusat kota.

Di dalam kamar utama Adhitama Estate, suasana terasa sibuk namun senyap. Tiga orang penata rias profesional yang dipanggil khusus oleh Pak Hadi sedang bekerja dengan kecepatan tinggi namun hati-hati. Mereka memperlakukan Nala seolah gadis itu adalah boneka porselen yang sangat rapuh.

Nala duduk diam di depan cermin besar. Ia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Rambut hitamnya yang panjang kini disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai ikal yang jatuh membingkai wajah, memberikan kesan anggun sekaligus romantis. Wajahnya dipulas dengan riasan bold yang menonjolkan sorot matanya, namun tetap terlihat elegan dan tidak menor.

Namun, yang paling membuat Nala terpukau adalah gaun yang melekat di tubuhnya.

Itu adalah gaun malam berbahan beludru sutra berwarna biru dongker yang sangat gelap, hampir menyerupai warna langit malam. Potongannya sederhana namun memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Bagian bahunya terbuka, memperlihatkan kulit putih Nala yang kontras dengan warna gelap kain itu. Tidak ada payet atau kristal yang berlebihan, hanya sebuah bros berlian berbentuk bulan sabit yang tersemat di pinggang, berkilau tajam setiap kali terkena cahaya.

"Anda terlihat luar biasa, Nyonya," puji salah satu penata rias sambil menyemprotkan sedikit hair spray terakhir.

Nala tersenyum kaku. "Terima kasih."

Di dalam hatinya, ia merasa gugup setengah mati. Ia merasa seperti seorang penipu yang memakai kostum putri raja. Bagaimana jika ia melakukan kesalahan? Bagaimana jika ia menumpahkan minuman di karpet mahal? Bagaimana jika orang-orang tahu bahwa dia hanyalah anak buangan yang tidak lulus kuliah?

Pintu kamar mandi terbuka.

Raga keluar dengan kursi rodanya. Suara percakapan para penata rias seketika berhenti. Keheningan yang segan langsung menyelimuti ruangan itu.

Raga mengenakan setelan jas formal berwarna hitam pekat (tuxedo) dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu hitam. Penampilannya sangat rapi, maskulin, dan mengintimidasi. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi. Dan tentu saja, topeng perak itu terpasang di wajah kirinya, menjadi pusat perhatian yang tidak bisa diabaikan.

Raga menjalankan kursi rodanya mendekati Nala. Ia menatap istrinya dari pantulan cermin. Matanya menyapu penampilan Nala dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa berkedip. Tidak ada kata-kata yang keluar, namun tatapan intens itu sudah cukup membuat pipi Nala memanas.

"Kalian boleh keluar," perintah Raga datar kepada para penata rias.

Tanpa membantah, ketiga wanita itu membereskan peralatan mereka secepat kilat, membungkuk hormat, dan bergegas meninggalkan kamar.

Kini hanya tinggal mereka berdua.

"Apakah... apakah saya terlihat aneh, Tuan?" tanya Nala ragu, tangannya meremas kain gaunnya. "Gaun ini rasanya terlalu mewah untuk saya."

"Kau tidak terlihat aneh," jawab Raga pelan. Ia memutar kursi rodanya agar bisa berhadapan langsung dengan Nala. "Kau terlihat mahal. Dan itu yang kita butuhkan malam ini."

Raga mengulurkan tangannya, meraih kotak perhiasan beludru panjang yang ada di pangkuannya. Ia membukanya. Di dalamnya, tergeletak seuntai kalung berlian putih dengan liontin batu safir biru yang senada dengan gaun Nala.

"Mendekatlah," perintah Raga.

Nala bangkit dari kursi rias dan berlutut di depan kursi roda Raga, membelakangi suaminya agar Raga bisa memakaikan kalung itu.

Tangan Raga yang besar dan hangat menyentuh leher jenjang Nala. Nala merinding. Sentuhan kulit Raga terasa kontras dengan dinginnya logam kalung itu.

"Kalung ini milik mendiang ibuku," bisik Raga tepat di dekat telinga Nala saat ia mengaitkan kuncinya. "Dia wanita yang kuat. Dia tidak pernah menundukkan kepalanya di depan siapa pun, bahkan saat dia sedang hancur. Aku ingin kau memakai  malam ini."

Nala memegang liontin safir dingin di dadanya. Beban sejarah kalung itu terasa berat, namun juga menguatkan.

"Saya akan berusaha, Tuan," ucap Nala sambil berbalik.

"Jangan hanya berusaha. Lakukan," tegas Raga. "Malam ini kita akan masuk ke sarang ular. Orang-orang di sana akan tersenyum padamu, tapi di belakang mereka memegang pisau. Mereka akan menilaimu, mencari celah untuk menjatuhkanmu karena kau istriku. Tugasmu hanya satu. Berdiri tegak, tersenyum misterius, dan jangan biarkan mereka melihat ketakutanmu."

"Baik, Tuan."

"Dan ingat," tambah Raga, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Nala. "Kau adalah Luna. Pelukis jenius yang karyanya diperebutkan. Percayalah pada peran itu sampai kau sendiri lupa bahwa itu hanya sandiwara."

Lobi hotel Grand Hyatt dipenuhi oleh manusia-manusia berbalut pakaian mahal. Aroma parfum bercampur baur menjadi satu, menciptakan wangi kemewahan yang menyesakkan. Kilatan lampu kamera wartawan berkedip-kedip seperti badai petir buatan di pintu masuk, menyambut para tamu undangan VVIP.

Sebuah mobil limousine hitam berhenti di depan lobi. Petugas valet dengan sigap membukakan pintu.

Suasana yang tadinya riuh rendah oleh obrolan para sosialita mendadak senyap saat kursi roda Raga diturunkan dari mobil.

Raga Adhitama. Sang Tuan Muda yang telah menghilang dari peredaran sosial selama lima tahun. Sang legenda bisnis yang dirumorkan cacat, gila, dan buruk rupa.

Malam ini, dia muncul.

Raga duduk tegak di kursi rodanya, wajahnya yang tertutup topeng perak terangkat angkuh, menantang setiap mata yang menatapnya. Di sampingnya, berdiri Nala. Tangannya menggenggam pegangan kursi roda Raga dengan anggun, namun buku-buku jarinya memutih karena tegang.

Bisik-bisik mulai terdengar seperti dengungan lebah.

"Itu Raga Adhitama? Dia benar-benar datang?"

"Lihat topengnya. Jadi benar rumor itu, wajahnya hancur."

"Siapa wanita di sampingnya? Cantik sekali. Apakah itu perawatnya?"

"Bodoh. Lihat kalung di lehernya. Itu 'The Heart of Ocean' milik Nyonya Adhitama terdahulu. Dia pasti istrinya."

Nala bisa mendengar semua itu. Kakinya gemetar di balik gaun panjangnya. Ia ingin lari. Ia merasa ratusan mata sedang menelanjanginya, menilainya, mencari cacat sekecil apa pun pada dirinya.

Tiba-tiba, sebuah tangan hangat menepuk punggung tangan Nala yang ada di pegangan kursi roda.

"Jalan," perintah Raga pelan, hanya untuk didengar Nala. "Tatap lurus ke depan. Jangan lihat mereka. Mereka tidak penting."

Suara Raga yang tenang menjadi jangkar bagi Nala. Ia menarik napas dalam, menegakkan bahunya, dan mulai mendorong kursi roda itu memasuki lobi.

Langkah mereka di atas karpet merah diiringi oleh bunyi jepretan kamera yang membabi buta. Nala memaksakan seulas senyum tipis, senyum "Mona Lisa" yang misterius seperti yang diajarkan Raga.

Mereka memasuki ballroom utama yang sudah disulap menjadi galeri seni sementara. Lukisan-lukisan dipajang dengan pencahayaan dramatis di sekeliling ruangan. Para pelayan berjalan hilir mudik membawa nampan berisi gelas sampanye.

Seorang pria paruh baya dengan kacamata bulat dan setelan jas nyentrik berwarna ungu menghampiri mereka. Itu adalah Ben, kurator galeri nasional sekaligus teman lama Raga.

"Raga!" seru Ben riang, seolah tidak peduli dengan aura dingin yang dipancarkan Raga. "Aku tidak percaya kau benar-benar datang. Dan ini pasti..."

Ben menatap Nala dengan mata berbinar. "Nyonya Adhitama. Atau haruskah kupanggil, Sang Muse?"

Nala tersenyum malu. "Selamat malam, Pak Ben."

"Karya Anda..." Ben menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. "Luar biasa. Saya meletakkannya di urutan terakhir sebagai gong acara malam ini. Penutup yang manis."

"Jangan terlalu memujinya, Ben. Nanti dia besar kepala," potong Raga datar, meski Nala bisa melihat kilatan bangga di matanya.

"Ah, kau ini tetap saja kaku seperti kanebo kering," kelakar Ben. "Ayo, meja kalian di depan. VIP, tentu saja."

Mereka duduk di meja bundar paling depan. Nala merasa tidak nyaman karena posisi itu membuat mereka menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Ia melihat beberapa wanita menatapnya dengan pandangan iri, sementara para pria menatap Raga dengan pandangan takut bercampur hormat.

Acara lelang dimulai.

Satu per satu barang seni ditampilkan. Patung keramik, lukisan abstrak, perhiasan antik. Juru lelang berteriak-teriak menyebutkan angka dengan cepat.

"Lima puluh juta! Enam puluh juta! Terjual!"

Nala hanya bisa melongo. Orang-orang ini mengeluarkan uang puluhan juta semudah membeli gorengan di pinggir jalan.

Raga tampak bosan. Ia hanya duduk bersandar, sesekali mengecek ponselnya, sama sekali tidak tertarik untuk menawar barang apa pun.

Hingga akhirnya, tiba saatnya.

Lampu ruangan diredupkan. Sebuah sorot lampu spotlight diarahkan ke panggung. Dua orang petugas membawa sebuah kanvas tertutup kain beludru hitam.

"Hadirin sekalian," suara Ben menggema melalui pengeras suara. "Sebagai penutup malam ini, kami mempersembahkan sebuah karya debut yang sangat istimewa. Karya dari seorang seniman anonim yang menyebut dirinya... Luna."

Kain penutup ditarik.

Lukisan "Pejuang Luka" terpampang di sana.

Helaan napas kagum terdengar serentak dari para tamu.

Dalam pencahayaan panggung yang dramatis, lukisan itu terlihat hidup. Warna hitam pekat yang mendominasi pinggiran kanvas seolah menyedot cahaya, sementara sosok abstrak di tengahnya yang bergoreskan warna perak, emas, dan merah darah tampak menyala. Luka merah di wajah sosok itu terlihat begitu nyata, menyakitkan, namun indah.

Nala meremas tangan Raga di bawah meja. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga telinganya berdenging. Itu lukisannya. Itu curahan hatinya. Dan sekarang semua orang melihatnya.

"Judul karya, Pejuang Luka," lanjut Ben. "Sebuah interpretasi visual tentang kekuatan di balik kehancuran. Kami buka penawaran di angka lima puluh juta rupiah."

Hening sejenak. Nala menahan napas. Apakah tidak ada yang mau? Apakah lima puluh juta terlalu mahal?

"Lima puluh lima juta!" seru seorang wanita sosialita di meja belakang.

Nala menghembuskan napas lega. Ada yang menawar.

"Enam puluh juta!" sahut seorang kolektor tua di sebelah kiri.

"Tujuh puluh juta!"

Penawaran mulai naik perlahan. Nala merasa seperti bermimpi. Tujuh puluh juta? Itu uang yang sangat banyak.

Namun, di angka delapan puluh juta, penawaran mulai melambat.

"Delapan puluh juta, sekali..." seru juru lelang. "Delapan puluh juta, dua kali..."

Raga yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengangkat papan nomornya dengan santai.

"Dua ratus juta," ucap Raga. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di seluruh ruangan yang senyap.

Seluruh kepala menoleh ke arah meja Raga. Bisik-bisik kembali pecah. Raga Adhitama menawar lukisan debutan seharga dua ratus juta? Langsung melompat jauh dari delapan puluh juta?

"Dua... dua ratus juta dari Tuan Raga Adhitama," juru lelang tergagap saking kagetnya. "Apakah ada penawaran lain?"

Di sudut ruangan, seorang pria muda berwajah arogan mengangkat papannya. Nala mengenali pria itu. Dia adalah salah satu saingan bisnis Raga yang sering muncul di majalah.

"Dua ratus lima puluh juta," tantang pria itu sambil tersenyum miring ke arah Raga.

Raga tidak menoleh sedikit pun. Ia hanya mengangkat papannya lagi.

"Lima ratus juta."

Ruangan gempar. Lima ratus juta untuk lukisan pelukis tak dikenal? Ini gila.

Pria saingan itu tampak ragu. Wajahnya merah padam. Ia tidak mau kalah gengsi, tapi lima ratus juta untuk lukisan abstrak adalah angka yang tidak masuk akal baginya.

"Lima ratus juta, sekali..."

"Enam ratus juta!" teriak pria itu nekat.

Raga meletakkan gelas minumannya. Ia mengangkat papan nomornya tinggi-tinggi.

"Satu miliar."

Hening.

Benar-benar hening. Tidak ada bisikan. Tidak ada suara gelas berdenting. Bahkan napas pun seolah tertahan.

Satu miliar rupiah.

Nala menatap Raga dengan mata terbelalak lebar. Tangannya gemetar hebat di paha Raga. "Tuan... itu... itu terlalu banyak..." bisiknya panik.

Raga menoleh pada Nala. Di balik topengnya, matanya memancarkan kepuasan.

"Satu miliar, sekali," suara juru lelang bergetar penuh semangat. "Satu miliar, dua kali... Terjual kepada Tuan Raga Adhitama!"

Palu diketuk. Tok!

Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan. Semua orang berdiri memberikan apresiasi. Bukan hanya untuk uangnya, tapi untuk drama perebutan yang seru itu.

Pria saingan tadi langsung duduk lemas, wajahnya pucat karena malu.

Ben naik ke panggung dengan wajah berseri-seri. "Luar biasa! Satu miliar rupiah untuk karya debut Luna! Ini adalah rekor baru! Luna, di mana pun Anda berada, malam ini Jakarta menyambut kelahiran bintang baru!"

Nala merasa pusing. Satu miliar. Lukisannya dihargai satu miliar.

Raga menarik tangan Nala, menggenggamnya erat di atas meja.

"Lihat?" bisik Raga. "Itu nilaimu, Nala. Jangan pernah biarkan siapa pun, termasuk keluargamu, memberimu harga murah lagi. Kau bernilai satu miliar. Tidak, kau tak ternilai."

Air mata Nala menetes, jatuh membasahi gaun mahalnya. Ia tidak peduli riasannya luntur. Ia menangis karena bahagia, karena lega, dan karena rasa syukur yang meluap-luap.

"Terima kasih, Tuan," isak Nala pelan.

"Hapus air matamu," Raga menyodorkan sapu tangannya. "Wartawan akan datang sebentar lagi. Kita harus pergi sebelum mereka mengerumuni kita seperti lalat."

Raga memberi isyarat pada pengawal pribadinya. Dengan sigap, mereka membuka jalan. Nala mendorong kursi roda Raga keluar dari ballroom itu dengan kepala tegak.

Saat mereka melewati kerumunan orang yang bertepuk tangan dan menatap kagum, Nala tidak lagi merasa takut. Ia bukan lagi gadis miskin yang memanjat kursi reyot untuk mengambil kuas. Ia adalah Luna, pelukis bernilai satu miliar, istri dari Raga Adhitama.

Dan di antara semua tatapan itu, ada satu pasang mata yang menatap dari kejauhan dengan penuh kebencian. Bella Aristha berdiri di dekat pintu keluar, meremas gelas sampanyenya hingga hampir pecah. Ia melihat semuanya. Ia melihat Raga memperlakukan Nala seperti ratu. Ia melihat Nala bersinar terang.

"Nikmati waktumu, Nala," gumam Bella pelan, matanya menyipit licik. "Semakin tinggi kau terbang, semakin sakit saat kau jatuh nanti."

Namun Nala tidak melihatnya. Dunianya malam ini hanya berpusat pada pria di kursi roda yang telah memberinya sayap untuk terbang.

Di dalam mobil perjalanan pulang, Nala terus memeluk lengan Raga, bersandar di bahu pria itu karena kelelahan emosional. Raga tidak menolaknya. Tangan pria itu justru merangkul bahu Nala, memberikan kehangatan di tengah dinginnya AC mobil.

"Tuan," panggil Nala pelan, matanya sudah setengah terpejam.

"Hm?"

"Apakah Tuan benar-benar menyukai lukisan itu? Atau Tuan membelinya hanya untuk membuat saya senang?"

Raga menatap jalanan malam Jakarta yang lengang.

"Aku membelinya karena lukisan itu adalah cermin," jawab Raga jujur. "Setiap kali aku melihatnya, aku melihat diriku yang dulu. Dan aku melihat harapan yang kau berikan padaku."

Nala tersenyum dalam tidurnya. Jawaban itu sudah cukup baginya.

Malam itu menjadi tonggak sejarah baru dalam hidup mereka. Sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar kontrak telah terjalin. Ikatan saling menghargai, saling membangun, dan mungkin... benih-benih cinta yang mulai tumbuh subur di tanah yang gersang.

(Penjelasan dari Authtor kenapa lukisan di beli kembali ya karena nanti nama Nala akan semakin terkenal sudah cukup)

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!