NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Jantung

Di sisi lain…

Amira merapikan apron hitamnya, lalu mengikat rambut supaya tidak mengganggu. Bau kopi, roti panggang, dan bumbu dapur masih menempel di bajunya, bau yang khas, yang biasanya baru hilang setelah mandi.

Dia melirik jam di dinding. Sudah lewat dari jam pulang.

“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Rani, salah satu temannya yang masih sibuk membersihkan meja.

Amira mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya. Besok aku masuk siang, kan?”

“Iya. Hati-hati di jalan.”

Amira mengambil tas selempangnya dari loker, lalu menutup dengan bunyi klik pelan. Dia menoleh ke area dapur yang masih ramai, memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Duluan ya, guys!”

Amira melambaikan tangan.

“Iya, Mir!” sahut beberapa orang hampir bersamaan.

Amira keluar dari pintu belakang. Badannya pegal, telapak kakinya panas karena seharian berdiri, dan pikirannya masih penuh dengan daftar pekerjaan besok.

Begitu dia sampai di luar, udara malam menyambutnya. Amira menarik napas panjang.

Di parkiran, motor-motor karyawan berjajar rapi. Lampu jalan menyala kekuningan, membuat bayangan Amira memanjang di aspal.

Dia memasukkan kunci motornya, memakai helm, lalu menyalakan mesin. Namun, sebelum dia benar-benar pergi, Amira sempat berhenti sebentar.

Entah kenapa, ada rasa aneh yang menempel di dadanya malam ini. Jantungnya berdegup begitu cepat, seperti sebuah firasat buruk, tapi entah apa.

Akan tetapi, Amira berusaha menepis. Dia menggeleng kecil, menertawakan pikirannya sendiri.

“Ah, paling aku cuma kecapean."

Dia pun menarik gas perlahan, meninggalkan tempat kerja menuju rumah.

Lima belas menit kemudian, Amira memarkir motornya di depan rumah, lalu melepas helm.

Lampu teras menyala, tapi rumah terasa sunyi. Amira melangkah masuk, menaruh tas di sofa, lalu menyalakan lampu ruang tengah.

“Ibu?” panggilnya, tapi tidak ada sahutan.

Amira menelan ludah, lalu berjalan cepat menuju kamar ibunya. Pintu kamar terbuka sedikit.

“Ibu, Amira pulang.”

Dia mendorong pintu tersebut, tapi kosong. Ranjang rapi, selimut dilipat, seolah ibunya tidak pernah masuk ke sana malam ini.

Amira mematung sebentar, lalu buru-buru melirik ke dapur. Tidak ada orang. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Tenggorokan Amira mendadak kering.

“Ibu …?”

Suaranya mulai bergetar. Lalu Amira menoleh ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandi tertutup rapat

“Ibu!”

Amira menggedor pintu kamar mandi.

“Bu! Ibu denger Amira?”

Tidak ada jawaban. Amira mencoba memutar gagang pintu, tapi terkunci.

“Ibu, jawab! Tolong jawab!”

Rasa panik seketika mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Tangan Amira gemetar. Kepalanya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuat dadanya sesak. Amira mundur satu langkah, lalu mengangkat kakinya.

BRAK!

Satu tendangan. Pintu kamar mandi terbuka, dan Amira langsung membeku.

Di lantai kamar mandi, ibunya tergeletak miring. Wajahnya pucat, rambutnya basah, salah satu tangannya terlipat di bawah tubuh. Air kran masih menetes pelan, membasahi lantai.

“Ibu…!”

Amira berlutut, tangannya gemetar menyentuh bahu ibunya.

“Bu bangun!”

Amira berteriak memanggil ibunya. Namun, tidak ada respons. Dia menahan napas, lalu menempelkan jari ke leher ibunya, mencari denyut nadi.

Ada, tapi lemah. Amira hampir menangis karena lega, tapi panik itu belum hilang.

“Ibu tolong bangun. Ya Allah ...."

Tangannya buru-buru meraih handuk, menutupi tubuh ibunya supaya tidak kedinginan. Amira merogoh saku, mengambil ponsel dengan tangan gemetar. Lalu, menghubungi ambulans relawan yang sering dia mintai bantuan.

Akhirnya panggilan tersambung.

“Hallo—halo! Tolong! Ibu saya pingsan di kamar mandi! Tolong kirim ambulans!”

Suara Amira naik, napasnya terputus-putus sembari meminta bantuan agar ambulance secepatnya datang. Setelah selesai menelepon, Amira menatap ibunya lagi.

Dia menepuk pipi ibunya pelan. “Bu bangun ...!"

Tenggorokan Amira terasa panas. Matanya mulai basah. Tangannya menahan tangan ibunya, dan menggenggam erat, seolah dengan itu dia bisa menahan ibunya untuk tetap sadar.

Beberapa menit terasa seperti satu jam. Amira duduk di lantai, punggungnya menempel dinding, tangannya terus menggenggam tangan ibunya. Dia tidak berhenti memanggil, meski suaranya sudah serak.

Sampai akhirnya, suara sirine terdengar dari kejauhan. Amira langsung berdiri, hampir tersandung karena kakinya lemas. Dia berlari ke depan, membuka pagar selebar-lebarnya.

Ambulans akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Dua petugas medis turun cepat, membawa tandu lipat dan tas peralatan.

“Bagaimana keadaannya?” tanya salah satu petugas.

“Masih pingsan di kamar mandi!”

Amira hampir menangis. Mereka langsung bergerak masuk, satu orang memeriksa nadi, satu lagi memasang alat pengukur tekanan darah, lalu menyiapkan oksigen.

“Penyakit jantungnya kambuh lagi, mungkin dia kesakitan, tapi saya nggak ada di rumah. Jadi, ngga ada yang nolong sampe dia pingsan."

Petugas itu mengangguk cepat. “Oke. Kita tangani.”

Mereka mengangkat tubuh ibu Amira dengan hati-hati, memindahkannya ke tandu.

Ibu Amira sempat mengerang pelan, alisnya mengerut, seolah dia berusaha kembali sadar tapi tubuhnya terlalu lemah.

Amira langsung mendekat. “Bu … Ibu … ini Amira … aku di sini.”

Petugas medis memasang oksigen di wajah ibu Amira, lalu mengecek detak jantungnya dengan alat.

“Denyutnya lemah. Kita bawa sekarang,” kata salah satu petugas.

Mereka mendorong tandu keluar rumah dengan cepat. Amira mengikuti, napasnya putus-putus.

Di depan ambulans, salah satu petugas menoleh. “Mbak ikut, ya. Bawa identitas, kartu BPJS kalau ada, sama obat-obatan yang biasa diminum.”

Amira mengangguk cepat, buru-buru masuk rumah sebentar, mengambil dompet ibunya, BPJS, dan botol obat yang ia temukan di laci meja, obat yang selama ini ibunya sembunyikan.

Saat kembali, pintu ambulans sudah terbuka. Amira naik, duduk di sisi ibu. Tangannya gemetar, tapi dia memaksakan diri untuk tetap tenang.

Di dalam ambulans, suara alat medis berbunyi pelan. Lampu putih menyala terang. Petugas terus bekerja, memasang infus, mengecek tekanan darah, dan memastikan oksigen stabil. Amira menatap wajah ibunya yang pucat. Dada Amira sesak.

“Ibu tahan sebentar ya."

Petugas medis menatap Amira sebentar. “Mbak, kira-kira Ibunya minum obat rutin nggak?”

Amira menggeleng, marah sekaligus sedih. “Kadang. Ibu keras kepala, kalau udah merasa mendingan, obatnya suka berhenti.”

Petugas itu menghela napas singkat, lalu kembali fokus. “Oke. Yang penting sekarang kita sampai rumah sakit dulu.”

Ambulans melaju kencang. Amira menggenggam tangan ibunya erat-erat, seolah takut kalau dia melepas, ibunya akan pergi. Sirine kembali meraung, menembus malam.

"Tolong bertahan ya, Bu. Aku nggak mau hidup sendiri."

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!