Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahun Kedua
Theo ikut turun tangan mencari keberadaan Maerin, ia mengerahkan pengawal di kediamannya untuk berpencar dan mencarinya juga. Wajahnya dengan jelas terlihat putus asa saat membayangkan jika terjadi hal buruk pada istrinya itu. Ia berkeliling hingga dekat kediaman Sylvaine, tak disangka saat melewati taman. Theo terlihat sedikit lega sebab ia melihat Maerin sedang duduk bersama Sylvaine. Dengan segera ia mendekati, "Syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Theo yang mengejutkan mereka tiba-tiba.
"Kenapa napas anda tak beraturan? Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Maerin yang langsung berdiri dari posisi duduk dan mendekati Theo.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, pelayan yang bersamamu tadi kebingungan mencarimu sebab kau menghilang." Theo menjelaskan.
"Maafkan saya, saya..." Maerin menjawab namun dipotong oleh Sylvaine, "Kebetulan kami bertemu dan aku hanya menawarkan untuk minum teh bersama di cuaca cerah ini."
Theo melihat Sylvaine dengan tatapan sedikit curiga.
"Benar, Yang Mulia Putri Mahkota hanya menawarkan untuk minum teh bersama." Ucap Maerin.
"Benarkah hanya itu?" Tanya Theo.
"Iya." Jawab Maerin.
"Kebetulan anda kemari, jadi sekalian saja saya menagih jawaban anda." Ucap Sylvaine.
"Bisakah anda memberi sedikit waktu, setidaknya sampai setelah pelantikan saya besok?" Tanya Theo.
Sylvaine terdiam seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian ia menjawab, "Mungkin saja saya berubah pikiran jika anda meminta tambahan waktu lagi."
"Saya akan menerima apapun keputusan anda nanti." Jawab Theo.
"Baiklah. Saya akan memberi waktu hingga besok setelah acara pelantikan." Ucap Sylvaine.
Theo dan Maerin kembali ke kediaman Theo. Diikuti Silas dari belakangnya. Lalu Theo memerintahkan Silas untuk menghentikan pencarian Maerin, sebab Maerin telah ditemukan.
***
Setibanya di kediaman, Theo dan Maerin hanya berdua saja. "Sylvaine tak mencoba mengancam atau memojokkanmu kan?" Tanya Theo. Maerin tak langsung menjawabnya, "Tidak. Kami hanya saling berkenalan."
Melihat Maerin yang membutuhkan waktu untuk menjawab, Theo merasa terjadi sesuatu diantara mereka. Namun Theo tak ingin memaksa Maerin lebih jauh. Theo memutuskan untuk mengamati dan menunggu Maerin untuk membicarakannya dengan kemauannya sendiri saat sudah siap.
***
Hari pelantikan Theo menjadi Putra Mahkota pun tiba, suasana diantara bangsawan-bangsawan yang hadir tak begitu menyenangkan. Theo hanya mencoba bersikap tenang agar tak membuat Maerin khawatir. Prosesi pelantikan terbilang sederhana tanpa pesta. Raja langsung meninggalkan aula sesaat setelah Theo resmi menjadi putra Mahkota. Beberapa bangsawan mulai bergosip yang tidak mengenakkan untuk didengar. Hanya beberapa bangsawan yang memberikan ucapan selamat pada Theo, itupun terlihat seperti formalitas saja. Semua bangsawan pun memandang sinis dan tajam ke arah Maerin. Sylvaine pun keluar aula dengan anggun serta mendapatkan pujian dari banyak bangsawan. Sikap para bangsawan pada Sylvaine sangat kontras dengan Theo. Saat itu Theo benar-benar merasakan ucapan Sylvaine seolah menimpanya dengan keras, memaksanya melihat kenyataan yang sangat pahit untuk dirasakan ini. Jamuan belum berakhir, namun Garrick masuk kembali ke aula dan mendekati Theo sembari berbisik di telinganya, "Yang Mulia Raja telah berpulang."
Theo cukup terkejut mendengar kabar itu, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Ia memerintahkan Silas untuk menangani situasi sementara di aula. Lalu berjalan keluar meninggalkan aula bersama Maerin dan diikuti oleh Garrick dari belakangnya. Para bangsawanpun mulai berasumsi masing-masing saat menyaksikan itu. Namun Silas bisa membuat suasana tak menjadi tegang.
***
Setibanya di kamar Raja, Sylvaine dan dokter istana sudah berada di sana. Theo mendekat dan menatap wajah pucat ayahnya itu. Perasaan campur aduk yang tak bisa ia deskripsikan itu hanya membuatnya terdiam. Maerin cukup terlihat sedih, mengingatkan kematian-kematian orang-orang terdekat dan tersayangnya. Ia tak kuasa menahan air matanya. Namun dengan cepat mengusapnya. Beberapa saat setelahnya, pihak istana mengumumkan berita duka ini secara resmi. Hal itu membuat terkejut semua bangsawan yang sedang berada di aula. Sebagian semakin tak menyukai Theo, sebagian mengkhawatirkan kerajaan jika dipimpin Theo yang tak memiliki pengalaman sama sekali itu ditambah ada kemungkinkan putri Mahkota turun tahta sebab Theo telah memiliki istri. Keadaan istana menjadi kacau, kestabilan kerajaan dipertaruhkan.
***
Beberapa hari berlalu setelah pemakaman Raja, suasana berkabung masih menyelimuti istana sekaligus kerajaan Cyrven. Bahkan gosip-gosip buruk menyebar begitu cepat hingga ke kalangan rakyat biasa yang menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Theo merasa dia harus segera bertindak untuk meredam agar tak menjadi lebih buruk. Posisi Raja pun juga tak boleh dibiarkan kosong untuk waktu lama, Theo akhirnya menemui Sylvaine dalam kondisi putus asa.
"Anda benar, semua ini terjadi karena salah saya. Kekacauan serta kekhawatiran rakyat juga sayalah penyebabnya. Tolong saya, bukan lebih tepatnya tolong kerajaan Cyrven. Semakin lama situasi semakin memburuk." Ucap Theo dengan putus asa.
"Batas waktu yang telah saya berikan sudah terlewat lama. Lalu saya menganggapnya sebagai penolakan anda untuk menikah denganku." Kata Sylvaine dengan dingin.
"Banyak hal terjadi, saya tak ingin mencari alasan untuk pembenaran. Anda benar, saya dalam posisi tak memiliki pilihan sama sekali. Jadi saya mohon pada anda, kali ini saja tolong saya." Wajah Theo memerah menahan diri untuk menyembunyikan ketidakberdayaannya.
"Saya akan membantu anda, namun dengan syarat." Kata Sylvaine.
"Apapun itu akan saya terima syarat anda demi kerajaan Cyrven." Jawab Theo.
"Saya bersedia membantu dengan maksimal, sebagai imbalannya selain saya menempati posisi Ratu. Jadikan anak kita sebagai pewaris tahta Raja. Tak peduli anak itu lahir laki-laki atau perempuan." Ucap Sylvaine dengan tegas dan tanpa memberi celah Theo untuk menolaknya.
Dengan berat hati Theo menjawab, "Baiklah, saya menerima syarat itu. Namun saya tak bisa menceraikan Maerin. Dan saya tak bisa menjanjikan memberikan atau mencurahkan rasa cinta saya pada anda. Saya tak bisa membagi cinta."
"Saya tak membutuhkan hal lemah semacam cinta atau apalah itu. Yang jelas selama tak membahayakan posisi saya, saya tak keberatan jika anda menjadikan istri anda sebagai selir." Jawab Sylvaine dingin.
***
Sekembalinya Theo di kediamannya, ia menjelaskan situasi dan solusi yang diambilnya pada Maerin. Maerin tak berkomentar apapun hanya mengangguk setuju. Theo merasa sangat bersalah, namun hanya ini solusi terbaik untuk kestabilan kerajaan.
***
Beberapa minggu berlalu, hari penobatan Theo menjadi Raja tiba dan dibarengi dengan hari pernikahan Theo dengan Sylvaine. Saat Theo dan Sylvaine bertukar cincin, Maerin merasakan sesuatu patah di dalam hatinya. Ia tersenyum. Senyum yang menipu semua orang kecuali dirinya sendiri. Senyum yang menutupi jeritannya yang ingin ia lepaskan. Hati Maerin terasa sangat sakit menyaksikan langsung suaminya menikahi wanita lain. Serta mendengarkan cibiran serta gunjingan dari bangsawan lain yang sengaja bicara tanpa berbisik agar didengarnya. Maerin hanya berusaha tenang dan tak terpengaruh. Ia tak ingin menunjukkan bahwa dirinya lemah, ia tak ingin menjadi lebih membebani Theo ke depannya. Ia berusaha menahan semuanya seorang diri.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat tanpa disadari. Maerin menempati kediaman lama Theo yaitu istana pangeran Kedua, ia menolak pindah tinggal bersama Theo di istana Raja. Karena Ratu Sylvaine menolak tinggal bersama Theo dan memilih tinggal di istana Ratu, oleh sebab itu Maerin tak ingin menimbulkan masalah diantara keduanya. Ia merasa sebisa mungkin untuk tak menonjol atau menarik perhatian. Maerin mulai mengikuti pelajaran etika dan lainnya yang dibutuhkan menjadi anggota keluarga kerajaan sesuai saran Ratu Sylvaine. Sementara Theo selalu disibukkan dengan banyak pekerjaan dan kegiatan. Namun Theo selalu menyempatkan diri menemui Maerin dan menghabiskan malam dengannya. Di malam-malam itu, mereka tak banyak bicara. Theo terlalu lelah, dan Maerin... Maerin hanya ingin merasakan kehadirannya. Terkadang ia menangis setelah Theo tertidur, air matanya jatuh di bantal tanpa suara. Tapi saat pagi tiba, ia kembali tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, hubungan Theo dan Sylvaine terbilang netral. Sylvaine banyak membantu Theo sesuai dengan ucapannya saat melakukan kesepakatan. Meskipun situasi kerajaan berangsur kembali stabil, namun sebagian besar bangsawan terlihat masih tak menyukai Theo. Silas juga telah menjadi ajudan resmi Theo. Sementara Garrick memilih untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya di desa terpencil bersama keluarga tercintanya. Ia telah mengajarkan segala hal pada Silas.
***
Di awal tahun kedua setelah Theo menjadi Raja, istana kerajaan mengumumkan kehamilan Ratu Sylvaine. Kabar baik pertama setelah sekian lama membuat rakyat bersuka cita. Banyak ucapan selamat serta hadiah datang dari para bangsawan memenuhi istana Ratu. Hanya Theo yang merasa sedih, saat mendengar kabar itu. Theo merasa dadanya sesak. Bukan karena ia mencintai Sylvaine. Bukan karena ia menginginkan anak itu. Tapi karena ia membayangkan wajah Maerin saat mendengar berita ini. Ia membayangkan bagaimana hatinya akan hancur. Dan yang terburuk... ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Meskipun Maerin tak pernah menunjukkan eskpresi kecewanya. Jauh di lubuk hati Theo, ia menyadari bahwa Maerin benar-benar hancur.
Bersambung...