💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — PRESSURE POINT
Layar lobi Volt-Tech menunjukkan grafik saham yang anjlok parah pagi ini. Berita bisnis mulai ramai membahas kekacauan internal dan kegagalan kepemimpinan Arsenio.
Kabar tentang Alinea yang akan pindah ke kompetitor membuat investor panik. Rencana Arsenio berantakan karena krisis kepercayaan ini.
Arsenio membanting koran dan memanggil kepala humas dengan segera. Telepon dari pemegang saham terus masuk menanyakan kejelasan status Alinea. Dia yakin bocornya berita ini adalah langkah sengaja untuk menjatuhkannya.
Tekanan untuk mundur kini mulai terasa nyata di pundaknya.
Jurnalis sudah berkumpul di depan gedung menunggu penjelasan.
Arsenio dipaksa bergerak cepat sebelum dewan direksi mengambil tindakan lebih jauh. Situasi sudah sangat genting dan tidak bisa lagi ditunda. Dia mengambil map hitam dan langsung menuju ruang konferensi pers.
Orion Capital kasih tawaran triliunan tapi syaratnya cuma satu yaitu Alinea jadi pengawas dengan hak veto atas Arsenio. Ini posisi sulit buat Arsenio karena kalau ditolak maka proyek Volt-Tech bangkrut total. Kalau diterima maka kekuasaannya bakal dipangkas habis oleh Alinea.
Arsenio lempar dokumen itu ke depan komisaris dengan wajah tegang. Para bos besar jelas menuntut dia setuju demi menyelamatkan uang mereka.
Arsenio tahu gertakannya sudah tidak mempan lagi sementara itu Alinea cuma duduk santai sambil menonton kekacauan di ruang rapat.
Dia tidak bersuara sedikitpun dan membiarkan para pemegang saham mendesak Arsenio habis-habisan.
Posisi tawar Alinea sekarang jauh melampaui jabatan manapun.
Arsenio tidak punya pilihan lain selain menyerah pada keadaan lalu dia akhirnya menandatangani surat itu dengan berat hati.
Sekarang Alinea resmi jadi orang yang bisa menjatuhkan keputusan Arsenio kapan saja. Proyek terselamatkan tapi perang dingin di kantor baru saja dimulai. Arsenio harus berbagi panggung atau sekalian tersingkir. Kontrak sudah diteken dan keadaan tidak akan pernah sama lagi.
Pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua dalam ruangan. Arsenio berdiri membelakangi meja sambil menatap keluar jendela. Dia tidak kunjung bersuara meski suasana semakin menekan. Hanya bunyi detak jam dinding yang mengisi kekosongan di antara mereka.
Alinea merapikan tabletnya dengan gerakan tenang. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun meski baru saja mendapat posisi strategis lewat kontrak itu. Baginya jabatan baru ini hanyalah cara untuk memastikan semua rencana berjalan sesuai target.
"Keputusan proyek masih di tangan Anda," kata Alinea. Dia melihat Arsenio yang masih membelakanginya. Arsenio pun berbalik lalu menatapnya dengan tajam.
Arsenio melangkah maju lalu menumpu kedua tangannya di pinggiran meja. Dia mengurung posisi Alinea di depannya.
"Dan karier Anda tetap di tangan saya," balas Arsenio pelan. Dia ingin memastikan Alinea tetap tahu siapa bosnya di perusahaan ini. Keduanya saling tatap dengan tensi yang makin tinggi.
Alinea tidak mundur dan malah mencondongkan tubuhnya. "Selama keputusan itu tidak melanggar kontrak baru saya," sahutnya tenang. Dia sangat paham aturan hukum yang melindunginya dari rencana Arsenio.
Arsenio tersenyum tipis. "Itu yang sedang saya urus sejak kontrak tadi diteken," balasnya. Dia merasa tertantang karena Alinea tetap tenang meski terus ditekan.
Arsenio mengambil kontrak asli lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas di sudut ruangan. Dia hanya diam melihat dokumen itu hancur menjadi serpihan.
Suara mesin penghancur kertas memecah sunyi di antara mereka. Alinea melihat lembaran itu hancur berantakan. Dia tahu Arsenio sedang menghapus hubungan kerja lama mereka. Sekarang yang tersisa hanya aturan baru yang membuat mereka jadi rekan sekaligus lawan.
"Anda terlalu percaya diri untuk posisi yang baru saja 'dibeli' kompetitor," cetus Arsenio sambil balik ke mejanya. Dia mencoba memancing emosi Alinea, tapi cuma dibalas anggukan kecil yang formal. Ketenangan Alinea tetap jadi hal paling sulit ditembus oleh gertakan Arsenio.
"Saya tidak dibeli, saya hanya ditempatkan di posisi yang paling butuh efisiensi," jawab Alinea. Dia membalikkan kata-kata yang selalu Arsenio pakai di setiap rapat. Kalimat itu menunjukkan bahwa sekarang dialah standar efisiensi yang sesungguhnya di mata investor.
Alinea berdiri lalu mengambil tasnya. Dia menyodorkan sebuah amplop kecil ke arah Arsenio tanpa kata-kata. Dia tetap tenang meski Arsenio menatapnya dengan penuh selidik.
"Itu daftar vendor yang harus Anda putus dalam sehari," ucap Alinea sebelum pergi. Arsenio membuka amplop itu dan menemukan nama perusahaan orang-orang dekatnya yang selama ini dia pelihara. Alinea baru saja menghancurkan rahasia kekuasaan Arsenio tanpa banyak bicara.
Arsenio menatap punggung Alinea yang menjauh. Ada rasa kesal sekaligus kagum yang tertahan. Dia sadar Alinea bukan cuma mau kerja, tapi mau merombak semua yang dia bangun. Pertarungan di Volt-Tech baru saja dimulai.
Arsenio menekan intercom. "Siapkan draft pemutusan kontrak vendor. Sekarang," perintahnya pada tim legal.
Ponsel di meja marmer bergetar. Nama Ketua Dewan Komisaris muncul di layar. Arsenio menggeser ikon hijau, lalu menyalakan speaker sambil bersandar kaku.
"Rapat darurat baru saja selesai, Arsenio," suara di telepon terdengar datar. Arsenio diam. Dia sudah menduga pergerakan vendor tadi pagi bakal memicu reaksi dari atasan.
"Dewan mau angkat Alinea jadi Chief Strategy Officer minggu depan," lanjut suara di telepon. Kabar itu menghancurkan semua rencana Arsenio dalam sekejap.
Arsenio mematikan ponselnya kasar, lalu menyalakan monitor. Dia menatap grafik saham yang mulai merah. Posisinya terancam.
Layar itu menampilkan draf organisasi baru. Nama Alinea tercetak tebal tepat di bawah Direktur Utama, sejajar dengan posisi Arsenio. Ini bukan lagi kerja sama, tapi usaha resmi para pemegang saham untuk mendepak posisinya.
Arsenio mendekat ke layar, menatap draf yang kini terasa seperti jebakan. Ternyata setiap langkah efisiensi yang dia buat justru jadi jalan untuk Alinea. Dia melonggarkan dasinya yang mulai terasa mencekik leher.
Jabatan itu bakal bikin Alinea berkuasa penuh. Arsenio merasa senjata makan tuan. Dia harus segera cari celah di kontrak itu sebelum semuanya sah.
Arsenio mengambil wiski dari lemari dan menuangnya sampai penuh.
Gelas berdenting di meja. Arsenio meneguk wiskinya, membiarkan rasa pahit membakar kerongkongan. Matanya tidak lepas dari nama Alinea di layar.
Lampu kota mulai nyala di luar, tapi mata Arsenio cuma tertuju ke satu nama di layar. Dia kepikiran lagi soal galeri seni itu—pertemuan yang tadinya dia anggap remeh. Sial, dia kecolongan. Orion Capital sudah masuk terlalu jauh ke urusannya.
Detik-detik ini jadi ancaman buat posisinya di Artha Group dan Volt-Tech. Arsenio tahu dewan komisaris cuma peduli angka, dan sialnya, sekarang angka itu lagi memihak ke sana. Dia harus putar otak buat ubah opini pasar sebelum berita resmi keluar besok pagi.
Arsenio menggeser lukisannya, membuka brankas, dan mengambil map hitam berisi data lama.
Isinya asuransi terakhir kalau dia terpojok. Ada riwayat transaksi antara anggota dewan dengan pihak lawan. Arsenio sebenarnya enggan main kotor, tapi sekarang dia terdesak.
Arsenio membolak-balik kertas kusam itu, mencari celah antara Orion Capital dan para petinggi. Bukti konflik kepentingan bisa menjegal posisi Alinea. Tangannya menandai poin krusial untuk rapat besok.
Ini bukan lagi soal bisnis, tapi bertahan di politik korporasi. Arsenio menutup map, memasukkannya ke tas, lalu melangkah keluar.
Koridor meredup, menyisakan bayangan di dinding marmer. Di dalam lift, ia menatap pantulannya.
Rencana sudah matang.
Di parkiran, udara dingin menyambut.
Satu pesan dari Alinea muncul di dasbor.
"Siap?"
Arsenio membanting setir, mengabaikan sekitar. Ia tak akan membiarkan kekuasaannya runtuh.
Mobil melaju kencang. Lelahnya hilang. Arsenio punya kejutan untuk besok.
Gedung Artha Group menjauh di spion. Kali ini, keputusan tak lagi sepenuhnya di tangannya.
👍
🙆✨🔥
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹
terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨