Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi sarung dan sepatu boots
Malam pertama di Pesantren Al-Fathan bagi Syra Aliyah Farhana terasa lebih buruk daripada terjebak macet total di jalur Puncak. Kamar di Dhalem yang disediakan untuknya sangat bersih, harum kayu gaharu, dan tenang—terlalu tenang sampai-sampai Syra bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang penuh amarah.
Pukul 03.30 pagi, sebuah pengeras suara dari menara masjid berteriak, melantunkan puji-pujian yang membangunkan seluruh penghuni bumi. Syra menutup telinganya dengan bantal.
"Gila! Ini jam berapa? Ayam aja belum bangun!" teriak Syra frustrasi.
Pintu kamarnya diketuk dengan sopan tapi tegas. Tiga kali. Syra tahu itu bukan ketukan Ayahnya, apalagi ketukan asisten rumah tangganya di Jakarta. Itu ketukan yang memiliki irama... berwibawa.
Syra membuka pintu dengan rambut acak-adakan, masih mengenakan kaos band metal kegedeannya dan celana pendek. Di depannya, Arkanza Farras Zavian berdiri tegak. Pria itu langsung membuang muka, menatap lantai koridor dengan sangat disiplin.
"Tutup auratmu, Mbak Syra. Ini lingkungan pesantren," ucap Arkan, suaranya tetap rendah namun dingin seperti es pagi hari.
"Aurat-aurat... ini namanya fashion tidur, Gus!" balas Syra ketus sambil menyilangkan tangan di dada. "Lagian ngapain sih jam segini udah ngetuk pintu? Mau ngajak sahur? Ini bukan bulan Ramadhan, kan?"
"Tahajud," jawab Arkan singkat. "Abi menunggu di meja makan setelah subuh. Saya sarankan Anda mandi dan bersiap. Dan tolong... simpan sepatu boots penuh lumpur itu di luar dhalem. Omar hampir pingsan karena mengira ada bangkai musang di koridor."
Syra mendengus, matanya menyipit. "Oh, jadi lo ke sini cuma mau menghina sepatu mahal gue? Oke, liat aja nanti."
Dua jam kemudian, ruang makan Dhalem yang sakral menjadi saksi bisu sebuah pemandangan ajaib. Kyai dan Umi sudah duduk rapi. Arkan berada di sisi kanan Abi-nya, tampak sangat sempurna dengan baju koko berwarna biru navy.
Lalu muncullah Syra.
Ia memang memakai kerudung, tapi caranya memakai kerudung membuat Umi hampir tersedak teh hangat. Syra melilitkan pasmina hitam di kepalanya seperti turban bajak laut, membiarkan lehernya tetap terlihat, dipadukan dengan jaket denim dan—tentu saja—sepatu boots Dr. Martens miliknya yang berdecit keras di atas lantai marmer.
"Assalamualaikum, Bos Besar. Assalamualaikum, Bu Nyai," sapa Syra dengan gaya yang terlalu santai, lalu duduk di depan Arkan dan langsung mengambil sepotong tempe goreng sebelum doa dimulai.
Arkan memejamkan mata sejenak, sementara Omar Rizky Hafiz yang bertugas mengantar nasi tambahan di sudut ruangan, hanya bisa beristighfar berkali-kali sambil memegangi dadanya.
"Syra," suara Kyai terdengar lembut namun berwibawa. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
"Gak, Kyai. Berisik. Itu toa masjid volumenya bisa dikit dikecilin gak? Gue berasa lagi di tengah konser rock tapi liriknya bahasa Arab semua," jawab Syra jujur tanpa saringan.
Umi tersenyum tipis, mencoba maklum, sementara Arkan meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap Syra dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Mbak Syra," puji Arkan dengan nada sarkasme yang sangat halus. "Turban Anda sangat menarik. Apakah itu gaya baru untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Anda tidak tahu cara memakai peniti?"
Syra tersentak. Ia tahu Arkan sedang menyindirnya. "Heh, Gus Arkanza yang terhormat. Ini namanya gaya bohemian. Lo nggak bakal ngerti karena hidup lo cuma seputar sarung dan kitab kuning!"
"Saya mungkin hanya tahu sarung," Arkan berdiri, merapikan duduknya. "Tapi saya tahu bahwa di rumah ini, ada aturan. Abi, Arkan izin membawa Mbak Syra berkeliling pesantren. Sepertinya dia butuh orientasi medan sebelum dia benar-benar tersesat di sini."
Syra hendak protes, namun Kyai mengangguk setuju. Syra pun terpaksa mengekor di belakang Arkan. Sepanjang jalan menyusuri koridor pesantren, pemandangan kontras terjadi. Arkan berjalan dengan tenang, menyalami para santri yang menunduk hormat, sementara di belakangnya, Syra berjalan dengan langkah lebar, mengunyah permen karet, dan sesekali memainkan kunci motornya.
"Lo beneran mau nikahin gue?" tanya Syra tiba-tiba saat mereka sampai di area lapangan basket yang sepi.
Arkan berhenti mendadak, membuat Syra hampir menabrak punggungnya yang tegap. Arkan berbalik.
"Ini bukan soal kemauan, Syra. Ini soal janji," jawab Arkan. "Ayahmu menyelamatkan Abi dari fitnah besar di masa lalu. Dan perjodohan ini adalah cara mereka mengikat persaudaraan."
"Tapi kita beda planet, Arkan! Gue suka balapan, gue suka ke klub—maksud gue klub musik ya, bukan yang aneh-aneh—dan gue nggak bisa ngaji! Lo itu... lo itu ustadz idola semua orang. Apa lo nggak malu punya istri kayak gue?"
Arkan melangkah maju, memangkas jarak. Untuk pertama kalinya, Syra melihat ada kilatan emosi di mata pria yang biasanya datar itu.
"Malu?" Arkan tersenyum miring, sebuah senyum yang terlihat sedikit... nakal? "Justru menarik, bukan? Menjinakkan macetnya Jakarta saja saya bisa, apalagi menjinakkan satu wanita yang hobinya teriak-teriak di atas motor."
Syra terpaku. Ia baru sadar, Gus Arkanza ini bukan tipe ustadz lembek yang bisa ia tindas dengan mudah.
"Oh ya?" Syra menantang, mendongak menatap wajah Arkan. "Jangan nyesel ya kalau nanti lo yang malah ketularan 'barbar' gara-gara gue."
Arkan hanya mengangkat bahu, lalu berjalan pergi. "Kita lihat saja, Syra. Dan omong-omong... turbanmu miring. Pakailah dengan benar atau Omar akan mengira kamu sedang menyamar jadi jin penunggu pohon beringin."
Syra menghentakkan kakinya ke tanah. "GUS ARKANZA! LO NYEBELIN BANGET, SUMPAH!"
Di kejauhan, Nabila Khairina yang sedang mengintip dari balik asrama santriwati, segera menelepon teman-teman Syra di Jakarta. "Halo? Gila, Syra beneran perang sama Gus-nya! Tapi kayaknya seru... Gus-nya ganteng banget, lebih ganteng dari foto di Instagram!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love..