kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Sore harinya, Alendra duduk di balik tembok gudang kayu, mengintip Patricia yang sedang berjalan perlahan menuju asrama sambil mengusap perutnya.
Alendra menyentuh pipinya yang kotor oleh spidol. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum lebar.
"Istri ku tertawa, Cia... Kamu tertawa karena kekonyolanku lagi," bisiknya. "Meskipun aku harus jadi tukang sayur seumur hidup, asal bisa melihatmu sehat dan anak kita tumbuh, aku akan melakukannya."
_____
Langit di atas pesantren mulai berwarna jingga saat Gus Azmi berjalan perlahan menuju kebun belakang. Di sana, ia melihat sesosok pria dengan pakaian yang terlalu besar, caping yang miring, dan kumis palsu yang lebarnya tidak masuk akal, sedang sibuk mencangkul tanah tapi lebih banyak melamunnya.
Gus Azmi berhenti tepat di belakang Alendra. Beliau berdeham pelan, namun Alendra masih asyik mengelus daun sawi sambil bergumam, "Tumbuh yang subur ya, biar nanti dimakan Mbak Cia langsung jadi vitamin buat anak saya..."
Tiba-tiba, suara berat terdengar dari belakangnya.
Ehem! Kang Asep, sepertinya sawi itu tidak bisa bicara," suara berat Gus Azmi memecah lamunan Alendra.
"Kang Asep? Sedang apa mengintip istri orang?"
Alendra menoleh dan mendapati Gus Azmi berdiri dengan tangan bersedekap dan senyum penuh arti.
Alendra meloncat kaget. Ia refleks membetulkan kumisnya yang hampir lepas dengan gerakan yang sangat kikuk. "Eh, Gus! Anu... ini Gus, saya lagi... memberikan motivasi pada tanaman. Kata ahli botani, tanaman yang diajak bicara akan lebih bahagia."
Alendra buru-buru menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik caping besar. Ia juga berusaha menutupi tahi lalat spidolnya yang mulai luntur terkena keringat hingga membentuk garis hitam panjang sampai ke rahang.
"Motivasi yang bagus. Tapi saya tidak tahu kalau CEO Suhadi Group sekarang merambah ke bisnis motivasi sayur-sayuran."kata Gus Azmi dingin,ia mencoba menahan senyumnya dengan wajah datarnya.
Alendra mematung. Cangkul di tangannya hampir jatuh. Ia mencoba tertawa dengan suara yang sengaja dicemprengkan. "CEO? Apa itu CEO, Gus? Saya mah cuma kuli, nama saya Asep. Gus salah orang mungkin..."
Gus Azmi tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan singkat dari Rukayyah.
"Gus, ada beruang kutub yang sedang menuju pesantren dengan kumis palsu dan tahi lalat spidol. Tolong jangan langsung diusir, dia sedang mencoba menjadi manusia lagi. Tapi kalau dia macam-macam, suruh cangkul seluruh pesantren saja."
Wajah Alendra langsung memerah, lebih merah dari tomat yang sedang ia tanam. Ia perlahan melepas capingnya dan menghela napas panjang. Dengan gerakan pasrah, ia mencopot kumis palsunya yang kini benar-benar hanya menempel dengan sisa-sisa lem yang lengket.
Suara Alendra kembali ke nada aslinya yang berat dan frustrasi " jadi Mbak Rukayyah juga sudah tahu, kalau Patricia disini?" tanya Alendra dengan nada kecewa.
" terus, sejak kapan,gua tahu saya ad disini?.
"Rukayyah sudah pasti tahu!" jawab gua azmi membuat Alendra terenyum kecut,ia menyadari, kalau mbak Rukayyah memang sangatlah hebat,sudah pasti rukaayyah tahu patricia ada dimana.
" Dan aku tahu kau ke sini Sejak kamu menginjakkan kaki di pasar dengan sepatu pantofel yang harganya bisa buat beli satu hektar sawah di sini, Alen. Penyamaranmu itu... sangat buruk. Bahkan anak-anak santri di sini pun curiga kenapa ada kuli panggul yang tangannya lebih halus dari pipi bayi."
Alendra tertunduk lesu. "Jangan usir saya, Gus. Saya mohon. Saya tahu saya sudah banyak dosa pada Patricia. Saya cuma ingin ada di dekatnya, memastikan dia makan dengan baik, memastikan dia aman. Saya tidak akan mengganggunya sampai dia sendiri yang siap melihat saya."
Gus Azmi menatap Alendra dengan pandangan yang dalam. Beliau melihat kesungguhan di balik mata Alendra yang biasanya angkuh, kini penuh dengan kerendahan hati.
"Rukayyah menceritakan segalanya padaku. Dia dan Hilman menjaganya di sini. Kalau bukan karena permintaan Rukayyah agar kamu diberi kesempatan belajar tentang kehidupan, sudah dari awal aku menyuruh santriku untuk mengantar kamu keluar dari desa ini."
Gus Azmi melipat tangan di dada. "Baiklah, Alendra. Kamu boleh tetap jadi Kang Asep. Tapi ada syaratnya."
"Apa saja, Gus! Apa saja! Saya mau!" jawab Alendra sungguh-sungguh. Wajahnya berubah ceria penuh semangat.
"Pertama, jangan pernah lepas penyamaran itu di depan Patricia. Kedua, seluruh kebun ini adalah tanggung jawabmu. Jika ada satu helai daun pun yang layu, kamu pulang. Dan ketiga... kamu harus membantu memasak di dapur umum setiap subuh."
Alendra sempat melongo. "Memasak? Gus, saya cuma bisa masak mi instan dan itu pun sering kelembekan."
"Justru itu. Patricia sering ke dapur pagi-pagi untuk mengambil air hangat. Itu satu-satunya kesempatanmu melihatnya dari dekat tanpa dicurigai. Bagaimana?" tawar gua Azmi menaikkan kedua alisnya.
Mendengar itu, mata Alendra langsung berbinar. "Siap, Gus! Besok pagi saya akan jadi koki terbaik di pesantren ini!"
Saat Gus Azmi berjalan pergi, Alendra kembali menempelkan kumis palsunya, tapi kali ini terbalik karena terlalu semangat.
Alendra bicara sendiri sambil mencangkul lagi "Dengar itu, Cangkul? Besok kita ke dapur! Aku akan membuatkan bubur sumsum paling enak sedunia untuk istri ku. Eh, tapi... bagaimana cara nyalain kompor tungku ya?"
Gus Azmi yang masih bisa mendengar gumaman itu hanya menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka pria dingin yang diceritakan Rukayyah bisa berubah menjadi sekonyol ini demi merebut kembali hati istrinya...tapi memang kata Rukayyah, sebelum Alendra menikah,memang ia adalah pribadi yang ceria dan kadang-kadang sikapnya bikin orang tertawa.
***
Keesokan harinya....Pukul setengah empat pagi. Udara pesantren masih membeku, namun dapur umum sudah mulai mengepul. Alendra, yang biasanya hanya tahu menekan tombol mesin kopi otomatis, kini berdiri di depan tungku kayu bakar yang besar.
Penampilannya? Luar biasa hancur. Wajahnya yang tadinya hanya dihiasi tahi lalat spidol, kini sudah penuh dengan jelaga hitam karena ia mencoba meniup api tungku dengan cara yang salah. Kumis palsunya sudah miring hampir menyentuh dagu, dan matanya merah karena terkena asap.
"Ayo dong, Api Sayang... Nyala dong! Masak kamu nggak kasihan sama Kang Asep yang gantengnya tertunda ini?" bisik Alendra sambil terus meniup bara api menggunakan bambu kecil.
Puffff!
Bukannya nyala, abu tungku malah terbang balik dan mengenai wajah Alendra. Ia terbatuk-batuk, tangannya yang hitam legam mengusap wajah, membuat coretan jelaga itu semakin rata ke seluruh pipi dan dahi. Kini ia benar-benar terlihat seperti orang yang baru keluar dari cerobong asap.
"Oke, oke. Kita main kasar ya," gumamnya sambil kembali bergaya konyol, seolah-olah tungku itu adalah saingan bisnisnya. "Saya tidak akan menyerah sampai bubur sumsum ini matang!"