🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 | Insting Sang Pemburu
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Asap dari kopi instan yang sudah mendingin menguap tipis di depan wajah ku, bercampur dengan bau debu kertas dan aroma tajam dari pembersih lantai kantor kepolisian Distrik Jing'an yang sepi. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Di luar, Shanghai masih berdenyut dengan lampu neon nya, tetapi di ruang interogasi mental ini, hanya ada aku dan tumpukan berkas digital yang baru saja dikirim oleh informan ku di Jakarta.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, jemari ku memijat pelipis yang berdenyut. Di layar monitor, sebuah foto paspor kusam terpampang. Wajah pria itu tampak lebih kurus, rambut nya sedikit berantakan, dan mata nya... mata nya di foto itu tampak redup. Sangat jauh berbeda dengan pria yang menatap ku di gudang tua atau di pesta mewah tempo hari.
"Satya Samantha," gumam ku, suara nya bergema hanya di dalam kepala ku. "Siapa kau sebenarnya? Tiga bulan lalu kau hanya seorang pria yang telah terusir dari rumah nya sendiri, diceraikan karena dianggap sampah dan suami tak berguna oleh keluarga konglomerat Wijaya. Dan sekarang? Kau mulai menggerakkan triliunan Yuan seolah itu hanya butiran pasir di telapak tangan mu."
Aku menggeser kursor, membuka dokumen bertanda Rahasia. Laporan perceraian. Mata ku menyipit membaca detail nya. Satya tidak hanya diceraikan; dia dihina secara publik. Istri nya, Clarissa Wijaya, berselingkuh dengan seorang pengusaha properti dan mengusir Satya hanya dengan pakaian di badan nya. Tidak ada harta gono-gini, tidak ada belas kasihan.
"Sampah..." aku berbisik lirih. Dada ku terasa sesak secara tiba-tiba. Sebagai seorang polwan yang besar di lingkungan keras, aku tahu rasa nya diremehkan, tapi apa yang dialami Satya adalah penghancuran karakter yang sistematis.
"Detektif Chen? Anda belum pulang?"
Aku tersentak dan refleks menutup layar monitor. Sersan Wu berdiri di pintu dengan wajah mengantuk, memegang baki berisi camilan malam.
"Hanya sedikit riset, Wu. Pergilah istirahat," jawab ku tegas, mencoba mengembalikan topeng dingin ku.
"Anda terlalu terobsesi dengan pria Indonesia itu, Detektif. Ingat, atasan memerintahkan kita mengawasi alur dana Samantha Holdings. Mereka curiga ada skema pencucian uang di balik kesuksesan instan nya yang tidak masuk akal," Wu meletakkan biskuit di meja ku lalu pergi sambil menguap.
Obsesi? Mungkin Wu benar. Tapi ini bukan sekadar obsesi profesional. Ada sesuatu dalam cara Satya menatap ku malam itu, tatapan seorang pria yang telah melihat neraka dan memutuskan untuk membangun tempat nya sendiri di atas puing-puing nya.
Aku membuka kembali dokumen itu. Foto Clarissa Wijaya muncul. Cantik, tapi mata nya memancarkan kesombongan yang dangkal. Aku membandingkan nya dengan Wang Meiling. Meiling jauh lebih berbahaya, namun dia menatap Satya seolah pria itu adalah pusat gravitasi nya.
"Kau menghancurkan naga yang sedang tidur, Clarissa," gumam ku pada foto itu. "Dan sekarang naga itu bangun di kota ku."
Aku bangkit berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Menara Jin Mao. Di puncak nya, aku tahu Satya mungkin sedang berdiri di griya tawang nya, merencanakan langkah catur berikutnya. Tangan ku meraba saku jaket kulit ku, menyentuh kartu nama emas yang dia berikan. Permukaan nya terasa dingin, namun membawa sensasi aneh yang menjalar ke ujung jari.
"Insting ku bilang kau bukan kriminal, Satya," pikir ku. "Tapi kau adalah anomali. Dan anomali adalah ancaman bagi ketertiban yang ku jaga."
Tiba-tiba, ponsel satelit ku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal.
"Chen di sini," jawab ku pendek.
"Kau sedang membaca bagian tentang kecelakaan mobil itu, bukan?"
Suara itu. Berat, tenang, dan seolah-olah dia sedang berdiri tepat di belakang ku. Aku segera berbalik, tangan ku secara refleks menyentuh sarung pistol di pinggang, namun ruangan itu kosong. Hanya ada bayangan ku yang terpantul di kaca.
"Satya? Bagaimana kau bisa masuk ke jalur ini?" jantung ku berpacu. Ini adalah jalur terenkripsi kepolisian.
"Teknologi hanyalah sekumpulan angka yang bisa diatur, Detektif. Sama seperti nasib. Berhenti menggali lubang di masa lalu ku. Kau hanya akan menemukan abu yang sudah lama ku tinggalkan."
"Tugas saya adalah memastikan setiap Yuan yang masuk ke Shanghai legal, Satya! Kau muncul dari ketiadaan dan sekarang kau memegang leher ekonomi kota ini. Kau pikir saya bisa diam saja?" teriak ku ke arah telepon, meskipun aku tahu dia tidak bisa melihat kemarahan di wajah ku.
Terdengar tawa kecil yang kering di seberang sana. "Legalitas adalah perspektif pemenang. Jika kau ingin tahu ke mana dana ku mengalir, datanglah ke dermaga internasional besok pagi pukul lima. Aku akan menunjukkan pada mu apa yang tidak bisa dilihat oleh detektif biasa."
"Apa maksud mu? Satya! Halo?"
Sambungan terputus.
Aku menatap layar ponsel ku yang gelap. Gila. Dia tahu aku sedang menyelidiki nya. Dia tahu detail apa yang sedang ku baca. Apakah dia memiliki mata-mata di kepolisian?
Pukul lima pagi, Pelabuhan Yangshan.
Kabut tebal menyelimuti deretan kontainer raksasa. Aku berdiri di sana sendirian, memegang senapan mesin ringan di bawah mantel besar ku. Insting polisi ku berteriak bahwa ini bisa jadi jebakan, namun rasa penasaran ku jauh lebih kuat.
Sesosok bayangan muncul dari balik kabut. Satya. Dia mengenakan jas panjang hitam yang berkibar tertiup angin laut yang amis. Dia tampak seperti malaikat maut yang elegan.
"Kau datang tepat waktu, Chen," sapa nya tanpa menoleh. Dia berdiri di tepi dermaga, menatap sebuah kapal kargo raksasa yang sedang bersiap lepas landas.
"Jelaskan ini, Satya. Kapal itu membawa apa?" tuntut ku sambil melangkah mendekat, menjaga jarak aman.
"Kapal itu membawa bantuan medis, beras, dan logistik dasar ke Asia Tenggara," jawab nya datar. "Termasuk ke negara mu, dan negara ku. Saat krisis ini menghantam, pemerintah akan sibuk menyelamatkan bank-bank mereka. Rakyat kecil akan mati kelaparan di jalanan. Dana ku mengalir ke sana. Apakah itu ilegal bagi mu?"
Aku tertegun. "Kau... kau menyumbangkan keuntungan bursa saham mu?"
Satya berbalik. Di bawah lampu dermaga yang temaram, pupil mata nya berkilat merah darah. "Aku bukan orang suci, Chen. Aku membeli kesetiaan mereka. Saat semua orang bangkrut, mereka yang ku beri makan akan menjadi tentara bayaran ku tanpa perlu senjata. Aku sedang membangun fondasi kekuasaan yang tidak bisa dihancurkan oleh inflasi."
Dia melangkah mendekat, memaksa ku mundur hingga punggung ku menyentuh tiang lampu. Dia mengunci pergerakan ku dengan menempelkan satu tangan nya di tiang, tepat di samping kepala ku.
"Kau menyelidiki perceraian ku," bisik nya. Nafas nya beraroma kopi pahit. "Kau merasa simpati pada ku, bukan? Kau melihat seorang pria yang dikhianati dan kau ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan nya dari kegelapan."
"Jangan sombong, Satya," desis ku, mencoba menahan getaran di suara ku. "Aku hanya melakukan tugas ku."
"Tugas mu?" Satya menarik dagu ku agar menatap langsung ke mata nya yang mistis. "Tugas mu adalah menangkap penjahat. Tapi kau tahu di dalam hati mu? Aku adalah satu-satu nya orang di kota ini yang bisa memberi mu kebenaran yang tidak pernah kau dapatkan dari lencana polisi mu."
Aku bisa merasakan panas dari tubuh nya. Di dunia ku yang kaku, Satya adalah kekacauan yang indah. Dia adalah pria yang seharus nya ku kurung di balik jeruji besi, namun jiwa ku justru ingin tahu lebih banyak tentang rasa sakit yang dia sembunyikan di balik topeng penguasa itu.
"Apa yang kau inginkan dari ku?" tanya ku, suara ku melemah.
"Jangan jadi musuh ku, Chen," bisik nya, bibir nya hanya berjarak beberapa milimeter dari telinga ku. "Jadilah mata ku di kepolisian. Dan sebagai imbalan nya, aku akan memberi mu kepala setiap sindikat yang pernah membunuh rekan-rekan mu. Kesepakatan yang adil?"
Aku terdiam. Ini adalah pelanggaran kode etik terberat dalam sejarah karir ku. Tapi melihat kapal kargo yang membawa harapan itu berangkat, dan melihat luka yang sama di mata Satya dengan luka yang ku pendam sejak kematian ayah ku... aku tahu jawaban nya sudah tertulis di garis tangan ku.
"Aku akan mengawasi mu, Satya," kata ku, mencoba menguatkan diri. "Jika kau melangkah sedikit saja ke jalur yang salah, aku sendiri yang akan memborgol kamu."
Satya tersenyum, senyuman pertama yang terasa tulus, meski penuh dengan misteri. Dia melepaskan kuncian nya dan berjalan menjauh ke dalam kabut.
"Aku menantikan saat kau melakukan nya, Detektif. Tapi untuk sekarang... nikmatilah fajar ini. Ini adalah fajar yang terakhir sebelum dunia yang kau kenal benar-benar runtuh."
Aku berdiri sendirian di dermaga yang dingin, menyaksikan punggung nya menghilang. Di tangan ku, aku menyadari bahwa aku tidak lagi hanya memburu seorang spekulan. Aku sedang mengejar takdir yang jauh lebih besar.
"Satya Samantha," gumam ku saat matahari mulai mengintip dari cakrawala. "Kau pikir kau telah memenangkan kesetiaan ku? Kita lihat saja siapa yang akan berlutut lebih dulu."
Aku memasukkan kembali kartu emas nya ke dalam saku, menyadari bahwa mulai hari ini, laporan kasus ku akan menjadi fiksi yang paling berbahaya di Shanghai.
...----------------🍁----------------🍁----------------...
inspirasi yeee