Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Malam di apartemen 703 itu berubah menjadi sebuah labirin emosi yang menyesatkan. Archelo, yang awalnya berniat menjadi pelindung terakhir bagi kehormatan Florence, kini duduk di sofa ruang tamu dengan napas yang masih belum stabil. Ia baru saja menyelimuti Flo di dalam kamar dan memutuskan untuk tidur di sofa, berusaha menjaga jarak demi menghormati sumpah yang ia buat pada dirinya sendiri, bahwa ia bukan pria menjijikkan seperti yang Flo tuduhkan setahun lalu.
Namun, obat yang mengalir di darah Flo bukanlah jenis yang membiarkan korbannya tertidur tenang. Zat kimia itu bekerja membakar setiap saraf, menciptakan halusinasi panas yang tak tertahankan dan gairah yang menuntut pelepasan segera.
Archelo baru saja memejamkan mata selama beberapa menit ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka. Ia tersentak duduk, dan jantungnya seolah berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya.
Flo berdiri di ambang pintu, namun ia tidak lagi mengenakan pakaiannya. Gaun dan pakaian dalamnya telah ia tanggalkan di lantai kamar karena rasa panas yang membakar kulitnya. Dalam keremangan lampu kota yang menembus jendela, tubuh Flo tampak seperti porselen yang bersinar, namun matanya gelap, dipenuhi kabut nafsu yang tidak terkendali.
"Flo... apa yang kau lakukan? Pakai pakaianmu!" Archelo bangkit dengan panik, ia memalingkan wajahnya, berusaha sekuat tenaga mempertahankan kewarasannya.
Namun Flo tidak mendengarkan. Ia melangkah mendekat dengan goyah, setiap langkahnya memancarkan godaan yang tak disengaja namun mematikan. Sebelum Archelo sempat menghindar, Flo sudah menerjangnya di sofa. Tangan Flo yang panas melilit leher Archelo, dan tanpa peringatan, ia membungkam bibir Archelo dengan ciuman yang liar, menuntut, dan penuh rasa putus asa.
"Flo, berhenti! Kau sedang tidak sadar!" Archelo mengerang, mencoba mendorong bahu Flo menjauh. "Ini pengaruh obat itu, Florence! Kau akan membenciku besok pagi!"
"Panas, Archelo... tolong aku... jangan tolong aku dengan kata-kata," Flo meracau di sela-sela ciumannya. Ia mulai menciumi rahang Archelo, lalu turun ke leher pria itu dengan napas yang memburu.
"Aku menginginkanmu... dari dulu... selalu kau..."
Archelo merasa benteng pertahanannya mulai retak. Aroma tubuh Flo, sentuhan kulitnya yang halus namun membara, dan cara Flo memohon benar-benar membangunkan sisi gelap dalam dirinya yang selama ini ia tekan habis-habisan.
Sesuatu yang primitif di dalam diri Archelo mulai mengambil alih. Namun, ia masih mencoba menolak dengan sisa-sisa logikanya.
"Kembalilah ke kamar, Flo. Kumohon..." bisik Archelo, suaranya kini mulai serak oleh gairah yang mulai tersulut.
Flo justru semakin menjadi. Ia menatap mata Archelo dengan air mata yang menggenang, namun bibirnya tersenyum menggoda. "Jangan tinggalkan aku lagi... jangan jadi pengecut sekarang, Archelo. Cintai aku... kumohon..."
Pertahanan Archelo runtuh total. Kata-kata cintai aku dari mulut Flo adalah kunci yang membuka kotak pandora dalam dirinya. Sumpah untuk tidak menjadi pria menjijikkan itu kalah telak oleh rasa cinta dan gairah yang telah ia pendam selama satu tahun dalam kesunyian.
Archelo membalikkan posisi mereka, kini ia berada di atas Flo, menatap wajah gadis itu dengan tatapan penuh pemujaan sekaligus rasa lapar yang buas. Ia tidak lagi menolak. Ia menciumi Flo dengan intensitas yang seolah ingin menghapus semua jarak dan waktu yang pernah memisahkan mereka.
Kamar apartemen yang sunyi itu kini dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang bertemu. Saat Archelo mulai menjelajahi setiap inci tubuh Flo, desahan pertama lolos dari bibir gadis itu.
"Archelo... ahh... Archelo..." Flo mendesah, menyebut nama pria itu seolah itu adalah satu-satunya mantra yang bisa menyelamatkannya dari kegilaan ini.
Entah obat apa yang diberikan senior brengsek itu, namun Flo seolah kehilangan rasa sakit fisiknya. Saat Archelo mulai menyatu dengannya, melakukan dorongan pertama yang menandai penyerahan diri mereka seutuhnya, Flo tidak meringis. Ia justru melengkungkan punggungnya, menerima Archelo dengan tangan terbuka lebar, seolah ia telah menunggu momen ini selamanya.
"Jangan berhenti, Archelo... kumohon, jangan berhenti," bisik Flo di telinga Archelo, suaranya serak dan penuh gairah yang jujur. "Aku mencintaimu... aku selalu mencintaimu..."
Archelo tertegun sejenak mendengar pengakuan itu di tengah pergulatan mereka. Ia menatap wajah Flo yang tampak begitu cantik sekaligus rapuh di bawahnya. "Aku juga mencintaimu, Flo. Maafkan aku... aku sangat mencintaimu," balas Archelo, menciumi kening dan kelopak mata Flo dengan penuh perasaan.
Malam itu, apartemen 703 menjadi saksi bisu sebuah penyatuan yang melampaui logika. Desahan yang memenuhi ruangan bukan lagi suara nafsu semata, melainkan sebuah percakapan emosional antara dua jiwa yang selama ini saling menyakiti.
Setiap gerakan Archelo dipenuhi dengan rasa cinta yang dalam, seolah setiap sentuhannya adalah cara untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalunya.
Suasana semakin panas seiring berjalannya waktu. Mereka akan melakukannya berulang kali hingga fajar mulai mengintip dari balik tirai. Archelo kehilangan hitungan berapa kali ia membisikkan kata cinta, dan berapa kali Flo membalasnya dengan desahan yang memanggil namanya tanpa henti.
Mendekati pagi, saat mereka berada di puncak kelelahan sekaligus kenikmatan yang luar biasa, Archelo merasakan dirinya sudah berada di ambang batas. Mengingat masa depan Flo dan tanggung jawabnya sebagai pria, Archelo mencoba menarik diri saat akan melakukan pelepasan pertama kalinya di malam itu. Ia ingin memastikan semuanya aman bagi Flo.
"Flo... aku harus... di luar..." bisik Archelo dengan napas tersengal-sengal, mencoba menjauhkan dirinya sejenak.
Namun Flo, yang masih berada di bawah pengaruh gairah dan sisa-sisa obat, justru melingkarkan kakinya lebih erat di pinggang Archelo. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, menarik wajah Archelo kembali untuk menatapnya.
"Tidak... di dalam saja, Archelo... aku mohon," pinta Flo dengan suara yang sangat manja sekaligus menuntut. "Milikimu... biarkan semuanya di dalam. Aku ingin memilikimu sepenuhnya..."
Archelo benar-benar kehabisan akal. Permintaan Flo adalah godaan terakhir yang tidak bisa ia tolak. Logikanya benar-benar lenyap, digantikan oleh rasa kepemilikan yang mutlak. Ia pun menyerah pada keinginan Flo, membiarkan semuanya terjadi di dalam penyatuan mereka yang paling intim, seolah mereka berdua memang ingin terikat selamanya melalui malam ini.
Archelo jatuh menimpa tubuh Flo setelah segalanya berakhir, napas mereka berdua bersahutan dalam keheningan pagi yang mulai terang. Ia menciumi bahu Flo yang berkeringat, menghirup aroma tubuh gadis itu yang kini telah bercampur dengan aromanya sendiri.
Ia tahu, besok pagi mungkin akan ada badai besar. Mungkin Flo akan menangis, mungkin Flo akan membencinya lebih dalam, atau mungkin Flo tidak akan ingat apa pun.
Namun saat ini, Archelo hanya ingin memandang wajah Flo yang tertidur pulas dalam dekapannya dengan penuh cinta. Ia telah melanggar sumpahnya untuk tidak menyentuh Flo, namun di saat yang sama, ia merasa telah menemukan kembali jiwanya yang hilang di dalam diri gadis itu.
Malam itu berakhir dengan Archelo yang memeluk Flo erat, menatap fajar yang menyingsing di Cambridge, menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah pagi ini tiba.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍