Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi menikah?
Baim tergelak mendengarnya sambil mengikuti langkah yang lainnya menuju lift.
Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar dengan satu ranjang ukuran king size.
"Mereka semua akan terjaga besok sore," tukas Eldar. Dia sudah memberikan pil tidur yang bisa larut dan ngga akan menimbulkan kecurigaan dalam minuman alkohol yang dikonsumsi Cakra.
"Ya," senyum Malik.
Pengawalnya baru saja membaringkan tubuh Cakra, berdekatan dengan dua poli si yang mengawal Cakra di club.
"Dia pasti akan kaget saat bangun besok. Acara akadnya sudah berakhir." Erland menatapnya kasian. Tapi demi Jetro, laki laki ini terpaksa mereka kerja-in.
"Idemu gila juga, Malik. Kita main main dengan aparat lo.....," kekeh Quin.
"Oknum." Theo membenarkan.
"Sama aja," balas Quin ngeyel.
"Jangan pukul rata, Quin," timpal Deva juga ikut mengoreksi.
"Iya, iya. Tau gua," protes Quin kesal yang direspon dengan tawa pelan yang lain.
"Dia berhasil kita lumpuhkan segampang ini," tukas Eldar sambil menatap wajah pulas Cakra.
"Aku pikir kita bakal dor dor-an," sambung Baim. Karena itu dia ikut serta dalam penculikan ini.
"Aku juga berpikir begitu," sambung Dewa. Tau begini, dua orang saja sudah cukup.
"Syukurin aja," jawab Malik kalem. Siapa yang mengira Cakra bersama dua rekannya malah ke club.
Padahal mereka sudah menyiapkan skenario penculikan. Karena itu sepupu sepupu yang lainnya mau ikut serta.
"Tulangku masih pegal pegal," keluh Quin. Padahal dia butuh peregangan otot.
"Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang. Ngga sabar nunggu besok," pungkas Theo.
"Ya, ya. Sudah larut juga." Erland melihat jam di tangannya.
"Makasih, ya, buat kerja samanya," tukas Eldar.
"Sama sama. Kalo butuh bantuan lagi, jangan sungkan," kekeh Deva menyahuti. Netranya melirik Baim yang spontan melebarkan cengirannya.
"Do'akan saja cepat dia dapat hilalnya," ejek Erland membuat durasi tawa tambah lama.
*
*
*
Di gedung mewah tempat akan diselenggarakannya pesta sudah dibanjiri tamu tamu yang tidak biasa karena yang hadir tidak terbatas dari kalangan pengusaha saja, tapi juga dari kalangan pemerintahan.
Fiola menatap penuh binar ketika melihat kedatangan Jetro dan keluarganya. Dia sudah bisa membaca masa depannya nanti. Pernikahannya akan lebih mewah dari ini. Maklum saja keluarga Jetro merupakan konglomerat dan laki laki idamannya itu adalah anak tunggal. Mungkin pestanya akan berlangsung tiga hari tiga malam.
Teman teman Febi, Cica, Hana, Nashwa dan Juwita memperhatikan Fiola dengan sinis.
"Dia kelihatan bahagia sekali," decih Cica kesal.
"Aku sudah berdo'a tadi malam agar pernikahan ini gagal," cuwit Nashwa pelan.
"Semoga do'amu terkabul, Wa. Amin," tanggap Hana.
"Amin." Cica, Juwita dan Nashwa serentak berucap.
Jantung mereka sama cepatnya berdebar, menunggu terjadinya mukjizat.
Sementara Jetro memperhatikan meja akad yang belum dihadiri mempelainya. Dia tersenyum miring mengingat kabar dari Erland.
"Aman terkendali."
Dia menatap sepupunya yang juga datang bersama rekan rekannya yang berkomplot tadi malam.
Beberapa diantaranya melambaikan tangannya dengan wajah sumringah.
Kalandra yang memperhatikan interaksi ini merasa curiga.
"Salahkah kalo aku berharap pernikahan ini gagal?" gumam Adriana yang masih bisa didengar suaminya.
"Berdo'a saja."
"Hemm...." Adriana menoleh pada suaminya.
"Ngga berdosa kalo berdo'a seperti itu?"
Kalandra hanya mengembangkan senyum tipisnya sambil merangkul bahu istrinya.
Jetro tersenyum samar mendengar percakapan orang tuanya. Dia sedang menunggu kesempatannya.
Menjelang akad, di pihak keluarga Danu Sumirat sedang pusing tujuh keliling. Cakra masih belum juga muncul.
"Dia kemana? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Tante Marlena jadi gelisah bercampur panik.
"Ponselnya juga tidak aktif," sambungnya lagi sambil berjalan bolak balik, mondar mandir di dalam satu ruangan pengantin. Jantungnya sudah berdebar tidak beraturan. Sangat cepat hingga dadanya terasa sakit.
Danu-suaminya juga sudah berulang kali menelpon Rino dan Wira yang akan mengawal Cakra agar tidak terlambat ke acara pernikahannya. Juga agar putranya tidak berulah macam macam. Tapi sama saja seperti Cakra, tetap tidak diangkat. Padahal telponnya tersambung.
Dia dan istrinya terlalu mempercayai Rino dan Wira, setelah kedua bawahan putranya mengatakan posisi mereka sudah di apartemen Cakra malam itu, mereka tidak menelpon lagi.
Baru sekarang mereka merasa kalang kabut karena sudah mendekati waktu akad, tapi Cakra dan dua bawahannya belum juga terlihat memasuki gedung resepsi.
Bahkan Danu sampai memeriksa rute jalan yang akan dilalui putranya dari apartemennya ke gedung ini, apakah terjadi kemacetan luar biasa ataukah mengalami kecelakaan. Dia juga sudah memerintahkan banyak pengawalnya untuk melihat ke rumah sakit, apakah ada korban kecelakaan yang mengenakan jas pengantin.
Marlena menggeram dalam hatinya. Tamu tamu terdekatnya sudah banyak mempertanyakan ketakhadiran Cakra. Dia bingung menjawabnya.
Dia ingat percakapannya dengan putranya satu hari sebelumnya. Cakra memohon dengan amat sangat kalo pengantinnya ditukar dengan Fiola.
"Ngga bisa. Menurutmu Om Angga ngga akan merasa dipermainkan?!" tolaknya waktu itu.
Wajah Cakra tampak sangat frustasi.
"Om Angga akan lebih marah lagi, mam, karena aku sudah menyakiti dua putrinya."
'Itu ngga boleh terjadi. Kamu tidak boleh menyakiti Febi. Anak itu sudah terlalu lama dizalimi kakaknya. Mama ngga nyangka kamu lebih suka gadis berhati kejam itu," kecam Marlena lagi.
Rasa kurang sukanya pada Fiola berawal ketika kedua gadis itu masih SD. Fiola selalu saja menyuruh adiknya membawakan tasnya, menyuruhnya ini itu, bahkan pernah membuat adiknya hampir tertabrak mobil karena kecerobohannya.
Tapi Febi tetap mengalah dan tumbuh menjadi gadis ceria. Seolah yang diperbuat kakaknya tidak terlalu mengganggunya. Karena itu hatinya sangat gembira ketika Fiola menolak menjadi istri Cakra yang sampai sekarang dia tidak tau alasannya. Padahal dia sudah ketar ketir melihat kedekatan putranya dengan Fiola.
Selangkah lagi akan menikahkan Febi dengan Cakra, tidak mungkin akan dia sia siakan.
Saat perdebatan itu berakhir, Marlena pikir putranya akan menurut dan tidak akan bertingkah seperti ini. Ternyata dia salah. Fiola bemar benar sudah meracuni otak putranya.
"Kenapa Cakra belum juga datang?!"
Danu Sumirat dan istrinya terdiam melihat kedatangan Anggareksa.
"Aku sudah mengirim orang untuk menjemputnya," sahut Danu ingin menenangkan wajah tegang mantan bosnya.
"Baru sekarang?" tanya Anggareksa dengan rahang mengetat. Setelah tau apa yang sebenarnya terjadi, dia sudah merasa bimbang dan cemas sejak tadi malam. Hingga dia kurang tidur menunggu pagi ini.
"Ada dua bawahannya yang mendampinginya. Aku juga heran, kenapa mereka masih belum juga tiba. Semoga tidak ada apa apa di jalan," ucap Danu Sumirat mencoba tidak sepanik dan setegang Anggareksa.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,