Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Malam mulai larut di rumah sakit itu. Lampu lorong menyala redup, membuat suasana terasa lebih sunyi dibandingkan sore tadi. Beberapa jam sebelumnya, Mario akhirnya menjelaskan sesuatu yang selama ini ia simpan.
Di ruang kerja kecil rumah sakit itu, Mario berkata dengan hati-hati pada Alex,
“Sebenarnya … sejak pertama kali saya melihat Kenzo dan Kenzi … saya juga memiliki kecurigaan yang sama, Tuan.”
Alex menatapnya tajam, Mario melanjutkan,
“Wajah mereka … terutama Kenzo … terlalu mirip dengan Anda.” Ia menundukkan kepala sedikit.
“Tapi saya tidak berani mengatakan apapun sebelumnya.”
Alex tidak langsung menjawab. Tatapannya dingin, namun di dalamnya terlihat sesuatu yang bergejolak. Ingatan tentang wanita tujuh tahun lalu kembali muncul di kepalanya. Wanita yang ia suruh Mario cari, wanita yang seharusnya sudah tidak ada.
Namun, kini seorang wanita dengan dua anak yang wajahnya sangat mirip dengannya muncul begitu saja di hadapannya.
“Cari tahu semuanya,” ucap Alex akhirnya. Suara pria itu rendah namun tegas. Mario hanya bisa mengangguk. Ia tahu perintah itu tidak sederhana.
Sementara itu di ruang rawat inap Kenzi.
Kenzi sudah tertidur karena obat, mesin monitor berdetak pelan. Tasya berdiri di samping tempat tidur anaknya cukup lama sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Ia berniat pergi sebentar untuk melihat kondisi kakeknya di ruangan lain. Tetapi, begitu membuka pintu, Tasya langsung berhenti.
Di lorong depan ruangan Kenzi berdiri beberapa pria berpakaian hitam. Mereka tidak berdiri tepat di depan pintu, tetapi cukup jauh di ujung lorong.
Tetapi Tasya langsung mengenali mereka adalah pengawal Alex.
Darahnya langsung terasa dingin.
'Kenapa mereka di sini?' gumamnya dalam hati. Para pria itu berdiri diam, seolah berjaga. Tasya tidak tahu apa tujuan mereka berada di sana. Tetapi nalurinya mengatakan sesuatu yang buruk. Langkah yang tadi hendak keluar lorong itu langsung berhenti. Setelah beberapa detik ragu Tasya akhirnya memutar tubuhnya kembali.
Ia masuk lagi ke dalam kamar Kenzi.
Pintu ditutup perlahan.
Kenzo yang duduk di kursi dekat tempat tidur langsung menoleh.
“Mommy?”
Ia mengerutkan kening.
“Kenapa Mommy masuk lagi?”
Tasya berusaha terlihat tenang. Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping anaknya.
“Mommy akan melihat kondisi Kakek … besok saja.”
Kenzo masih menatapnya. Tasya melanjutkan,
“Mommy sudah menghubungi perawat. Mereka akan memeriksa kondisi Kakek malam ini.”
Kenzo tidak langsung menjawab, matanya menyempit sedikit. Ia menatap wajah ibunya dengan penuh kecurigaan. Sebagai anak yang sangat peka Kenzo langsung menyadari sesuatu.
Napas ibunya sedikit lebih cepat, tatapannya juga terlihat cemas. Kenzo kemudian melirik ke arah pintu kamar. Lalu kembali menatap ibunya.
Dalam hatinya ia yakin, 'mungkin sesuatu terjadi di luar sana.'
Malam itu Alex telah kembali ke penthouse. Alex meninggalkan beberapa pengawal di sana untuk menjaga keluarga Tasya, sebelum tes DNA keluar Alex bisa bertindak.
Lampu kota terlihat berkilau dari jendela kaca besar yang memenuhi dinding ruangan. Alex berdiri di dekat meja kerjanya. Di tangannya ada sebuah iPad.
Di layar itu terpampang beberapa foto. Tatapan Alex sangat tajam saat menatap wajah kedua anak itu, terutama Kenzo.
Di depan meja, Mario duduk dengan wajah sedikit cemas.
Di depannya laptop terbuka menampilkan rekaman CCTV lama. Rekaman dari tujuh tahun lalu, Mario menekan beberapa tombol.
Video lama itu diputar kembali. Sayangnya sebagian file sudah rusak dan banyak yang terhapus. Mario menarik napas pelan sebelum berbicara.
“Tuan … saya sudah mencoba memulihkan sebagian rekaman.”
Alex tidak menoleh, matanya masih terpaku pada foto di layar iPad. Mario melanjutkan dengan hati-hati,
“Wanita itu … Nona Tasya … sebenarnya tidak sengaja masuk ke kamar Anda malam itu.”
Baru kali ini Alex menoleh sedikit, tatapannya dingin. Mario menunjuk layar laptop.
“Dari rekaman yang masih tersisa terlihat jelas … seseorang mungkin sedang mengejarnya di lorong hotel, wajahnya terlihat panik.”
Ia memperbesar potongan gambar.
“Nona Tasya waktu itu sedang melarikan diri.”
Mario menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Sepertinya demi menyelamatkan diri … dia bersembunyi di kamar Anda.”
Ia berhenti sebentar.
“Mungkin dia tidak tahu kalau Anda ada di dalam kamar itu malam itu.”
Ruangan menjadi sunyi beberapa detik, Mario kemudian berkata lebih pelan,
“Tuan … itu bukan kesalahannya.” Ia ragu sebentar sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
“Tidak mungkin kita … membunuhnya … bukan?”
Alex masih diam, Mario akhirnya berkata lagi dengan suara lebih rendah,
“Mengingat … sejak malam itu … Anda sendiri menjadi impoten.”
Brak!
Alex tiba-tiba berdiri dengan keras. Kursinya terdorong ke belakang.
“Lancang sekali kamu! Karena justru itu! Dia yang membuat saya impoten,” suara Alex menggema dingin di ruangan itu.
Mario langsung berdiri.
“Tuan, saya minta maaf!” Ia menundukkan kepala.
“Saya tidak bermaksud menyinggung Anda.” Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
Namun, Mario tetap melanjutkan dengan hati-hati.
“Tapi Tuan Besar selalu mengatakan … keluarga Vasillo membutuhkan penerus.”
Ia menatap Alex dengan serius.
“Jika kita pikirkan dengan baik … kedua anak itu kemungkinan besar adalah anak Anda.”
Alex menatapnya tajam, Mario melanjutkan,
“Anda punya hak atas mereka.”
“Mereka pewaris keluarga Vasillo.”
Ia menunjuk layar iPad di tangan Alex.
“Mereka bisa menjadi penerus Anda.”
Mario menghela napas.
“Terlebih lagi … kedua anak itu terlihat sangat cerdas.”
“Apalagi Kenzo.”
Sedikit senyum muncul di wajah Mario.
“Dia sangat mirip dengan Anda.” Mario menambahkan dengan nada setengah serius,
“Kalau suatu hari Anda pensiun … dia mungkin bisa menggantikan posisi Anda.”
Alex tidak menjawab, dia berdiri diam cukup lama. Tatapannya kembali pada foto Kenzo di layar iPad. Bahkan, keberaniannya menampar dirinya di rumah sakit tadi. Semuanya terlalu familiar, beberapa detik berlalu dan Alex akhirnya berkata pelan,
“Tidak mungkin.”
Mario langsung mengangkat alisnya, Alex menatap layar iPad lagi. Tatapannya menjadi jauh lebih gelap.
“Wanita itu … seharusnya sudah mati sejak dulu.”
Mario menelan ludah, sangat sulit baginya untuk menyakinkan Boss nya itu.
"Kamu boleh keluar," kata Alex pelan, itu artinya Alex tak ingin membahas apapun lagi mengenai mereka dengan Mario.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal