Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Founder is Here
Jakarta, Indonesia – Mansion Sanjaya.
Salma menatap ponselnya yang sudah blank. Wajahnya berbunga-bunga, wajah yang memerah dengan kebahagiaan, mata berkilau, senyum yang menjangkau dari telinga ke telinga.
Seperti habis memenangkan lotre bernilai jutaan dollar. Atau lebih tepatnya, memenangkan sesuatu yang jauh jauh lebih berharga daripada uang.
Dia melompat ke kasur dengan gerakan yang kekanak-kanakan, memeluk bonekanya, tertawa sendiri dengan kebahagiaan yang murni.
Rafael masih cinta dia. Rafael tidak lupa. Rafael akan menepati janjinya.
Hanya itu yang Salma ingin ketahui sekarang.
***
Riverdale Modern Estate – Siang Hari.
Rafael bangkit dari dapur dengan energi baru. Dia naik ke bedroom, membuka lemari pakaian yang besar sekali.
Deretan pakaian tersusun rapi, semua merek kelas atas, semua disesuaikan dengan sempurna. Seraph punya keterampilan yang sempurna dalam memilih barang.
Rafael memilih outfit yang stylish tapi professional. Kemeja putih dengan material yang lembut, celana bahan hitam dengan potongan yang modern, blazer navy yang tersusun tapi tidak kaku. Sepatu kets warna putih yang nyaman di pakai.
Simple tapi powerful. Tepat seperti apa yang dia butuhkan untuk visit AGE hari ini.
Dia styling rambutnya dengan wax—textured messy yang terkontrol. Menyemprot parfum, aroma halus dan berkayu. Mengambil kacamata hitam dan key fob McLaren.
Ready.
Keluar dari mansion, masuk ke McLaren yang licin dan aggressive. Mesin mengaum untuk hidup. Dan Rafael menyupir menuju Manhattan.
***
Manhattan Tower, New York – AGE Office.
Perjalanan satu jam melintasi jalanan New York yang Lalu lintas hari Minggu-nya yang sedang. Rafael parkir McLaren di basement parking yang disimpan untuk executives.
Dia keluar, berjalan menuju elevator dengan langkah yang percaya diri. Menekan tombol untuk lobby.
Pintu lift terbuka, memperlihatkan lobby yang menakjubkan. Desain industri modern dengan beton terbuka, jendela dari lantai ke langit-langit, furniture yang minimalist tapi nyaman. Meja resepsionis dengan AGE logo yang indah dengan lampu neon yang meneranginya.
Manhattan Tower bukan milik AGE. Rafael menyewa lima lantai dengan kontrak tiga tahun. Sekarang sudah hampir setahun berjalan.
Tata letak bangunan: Lantai pertama—lobby dengan resepsionis, beberapa ruang pertemuan dengan dinding kaca, ruang gawat darurat, dapur yang luas.
Lantai dua. Green Technology & Renewable Energy division, direktori oleh Zen Feng.
Lantai tiga. Cyber Security & Digital Services division, direktori oleh Ryzen Zinhai.
Lantai empat. Financial Investment & Market Analysis division, saat ini direktori oleh Sylvia Hartman setelah Rafael "meninggal".
Lantai lima, lantai eksekutif. CEO office, CFO office, ruang rapat, ruang tunggu eksekutif.
Saat Rafael melangkah masuk ke lobby, beberapa karyawan yang kebetulan lembur di hari minggu melihatnya. Mereka langsung bangkit, berdiri dengan posture yang penuh hormat.
"Welcome back, Mr. Alkava!"
Mereka menunduk hormat, gesture yang membuat Rafael sedikit tidak nyaman. Ini berlebihan. Dia bukan bangsawan.
Tapi Rafael tahu, ini budaya perusahaan yang Kimberly implementasikan. Hierarki yang jelas, rasa hormat yang bisa dilihat.
Rafael tidak ingin kehilangan muka atau terlihat awkward. Dia mempertahankan sikap profesional. Mengangguk dengan sentum tipis, mengakui mereka tanpa kata, lalu berjalan menuju lift pusat.
Pintu lift terbuka. Rafael masuk. Menekan tombol untuk lantai lima.
Tapi sebelum pintu menutup, seseorang masuk, wanita berusia dua puluh sembilan tahun dengan penampilan yang dipoles rapi.
Sylvia Hartman—direktur Financial Investment & Market Analysis division. Rambut coklat dikuncir sleek ponytail, memakai blouse putih dan pencil skirt hitam, terlihat serasi dengan warna kulit.
"Mr. Alkava," dia menyapa dengan professional tone.
"Selamat pagi."
"Sylvia," Rafael menjawab.
"Bagaimana keadaan divisi kamu?"
"Semuanya berjalan dengan lancar," Sylvia melaporkan dengan penuh kepercayaan diri.
"Q3 projection kita on track. Portfolio kinerja yang melampaui tolok ukur 7.3%. Tingkat akuisisi klien naik 22% dari kuartal terakhir."
Rafael terkesan. Angka-angka yang solid.
"Bagus," katanya.
"Keep up the good work. Dan kalau ada issue yang membutuhkan keputusan tingkat pendiri, jangan ragu-ragu untuk menghubungiku."
"Understood, Sir," Sylvia mengangguk.
Elevator tiba di lantai lima. Doors terbuka memperlihatkan lantai eksekutif yang elegant—carpet yang mewah, cahaya yang hanyat, karya seni di dinding.
"Kebetulan saya juga mau ke kantor CEO," kata Sylvia.
"Ada dokumen yang perlu ditandatangani oleh Ms. Kimberly."
"Dokumen apa?" Rafael bertanya sambil berjalan menuju kantor CEO.
"Akuisisi proposal," jawab Sylvia.
"Target adalah perusahaan digital berbasis smartphone di China, Longwei Tech. Market cap sekitar 300 juta dollar. Mereka develop proprietary OS yang compatible dengan Android ecosystem tapi lebih aman."
Rafael mengangguk, mencatat di kepala untuk bertanya Kimberly tentang ini nanti.
Mereka sampai di depan CEO office, pintu double dengan es kaca dan AGE logo. Rafael membuka pintu tanpa mengetuk.
Didalam, Kimberly dan Aurelia sedang duduk di depan meja, mendiskusikan sesuatu dari dokumen yang menyebar di permukaan-nya. Mereka berdua mengenakan pakaian profesional, Kimberly dalam dress hitam yang elegant, Aurelia dalam pantsuit abu-abu yang tajam.
Melihat Rafael, keduanya langsung berdiri lurus, posture yang penuh dengan kehormatan. Tatapan mata yang melihat Rafael bukan sebagai teman, tapi sebagai founder yang pantas mendapatkan kehormatan.
Rafael mengangkat tangan, gesture yang berkata "lanjutkan". Lalu dia berjalan ke sofa area di sudut ruangan, duduk dengan relax.
Dia tidak buru-buru. Dia sedang mengamati. Menyaksikan bagaimana perusahaannya berjalan tanpa dia.
Sylvia mendekat ke meja, menyerahkan portofolio ke Kimberly. "Proposal akuisisi Longwei Tech. Sudah final setelah legal review."
Kimberly membuka portfolio, scanning dokumen dengan mata yang dilatih untuk menangkap detail. Beberapa menit kemudian, dia mengambil pen dan tanda tangan di beberapa page.
"Disetujui," katanya sambil handing portfolio kembali.
"Proceed dengan fase uji tuntas. Aku mau laporan audit lengkap dalam dua minggu."
"Understood," Sylvia membungkuk sedikit, professional gesture, lalu keluar dari ruangan.
Setelah Sylvia pergi, Kimberly menatap Aurelia. "Material untuk pembangunan gedung AGE baru, aku mau kamu rapat dengan supplier hari ini. Menyelesaikan ketentuan kontrak. Kita perlu terobosan dalam sebulan."
"Ada meeting jam dua siang," Lapor Aurelia.
"Dengan Apex Construction Materials. Mereka supplier terbesar di Pantai Timur."
"Bagus," Kimberly mengangguk.
"Jangan lupa untuk check kualitas material. Aku mau gedung itu berdiri tegap untuk seratus tahun ke depan."
Aurelia mengangguk, mengambil tablet-nya. Lalu dia keluar, meninggalkan Rafael dan Kimberly sendirian.
Kimberly berdiri, berjalan menuju Rafael. suara High heels-nya terdengar jelas di lantai dengan ritme yang terukur.
"Rafael. Kenapa kamu tidak menghubungiku dulu kalau mau kesini?" tanyanya, nada professional tapi ada nada hangat.
Rafael tidak langsung menjawab. Dia berdiri, berjalan menuju meja Kimberly, meja yang dulu dia pakai sebelum "mati".
Meja Mahogani yang sangat lebar dengan tatanan kulit. Dual monitor, keyboard mechanical, kursi ergonomic. Dokumen-dokumen tertata rapi, financial reports, market analysis, partnership proposal.
Rafael mengambil beberapa dokumen, scanning dengan mata yang dilatih untuk membaca dengan cepat. Neraca, laporan arus kas, proyeksi pertumbuhan.
Semuanya mengagumkan. Revenue naik 340% bulan demi bulan. Profit margin healthy di 28%. Jumlah karyawan naik dari sembilan puluhan menjadi hampir dua ratusan.
AGE tumbuh lebih cepat dari yang pernah dibayangkan Rafael.
Setelah cukup melihat, Rafael meletakkan dokumen kembali. Menatap Kimberly.
"Kerja bagus," katanya dengan genuine appreciation.
"Semuanya berjalan dengan semestinya. Sepertinya aku sudah tidak diperlukan di sini."
Kimberly membuka mulut untuk respond,
Tapi Rafael melanjutkan. "Aku akan menunggu kalian semua di mansion pinggiran kota. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Lalu dia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Kimberly yang berdiri dengan pertanyaan di wajahnya.
Rafael tidak banyak melakukan apa-apa di sini. Tujuannya kesini hanya satu—menunjukkan kehadiran. Menunjukkan bahwa dia masih founder. Tidak perlu banyak action, cukup penekanan yang signifikan.
And that's exactly what he did.
***
Bersambung...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.