NovelToon NovelToon
DEWA IBLIS : SHEN YU

DEWA IBLIS : SHEN YU

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:124.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.

Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.

Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 24

Gerbang Reruntuhan Bulan Kuno.

Gerbang batu meteor itu menjulang setinggi lima puluh meter, permukaannya dingin dan memancarkan cahaya perak redup. Di depan gerbang, sebuah perkemahan mewah didirikan. Tenda-tenda sutra putih bersulam benang perak terlihat sangat kontras dengan lingkungan Hutan Tulang Putih yang suram.

Sekelompok kultivator berpakaian putih bersih berdiri menjaga area itu. Aura mereka murni, berbeda dengan aura kultivator Selatan yang cenderung liar.

"Berhenti!"

Seorang penjaga wanita menghunus pedang peraknya saat melihat Shen Yu dan Su Ling mendekat.

"Ini adalah area terlarang yang telah diklaim oleh Sekte Dewi Bulan (Moon Goddess Sect) dari Benua Tengah. Dilarang mendekat dalam radius sepuluh li. Pergi atau mati!"

Di tengah perkemahan, duduk seorang wanita muda yang luar biasa cantik. Dia mengenakan mahkota bulan sabit di rambutnya yang keperakan. Wajahnya angkuh, seolah dia adalah dewi yang turun ke kandang babi.

Ini adalah Yue Xi, Orang Suci (Saintess) dari Sekte Dewi Bulan.

Yue Xi sedang memegang sebuah gulungan kuno, mencoba memecahkan kode rune di gerbang. Dia melirik sekilas ke arah Shen Yu dan Su Ling dengan tatapan jijik.

"Kenapa kalian bicara dengan serangga?" kata Yue Xi dingin. "Bunuh saja mereka. Mereka mengganggu konsentrasiku."

"Baik, Nona Suci!"

Tiga penjaga (Ranah Nascent Soul Awal) melesat maju. Pedang mereka memancarkan cahaya bulan yang dingin, mengarah ke leher Shen Yu.

Shen Yu tidak berhenti berjalan. Dia juga tidak melihat para penjaga itu.

"Berisik."

Shen Yu mengibaskan lengan bajunya.

BAM!

Bukan angin, tapi dinding tekanan Dao yang padat menghantam ketiga penjaga itu.

Tubuh mereka meledak di udara menjadi kabut darah, bahkan sebelum pedang mereka sempat menyentuh ujung jubah Shen Yu.

Darah muncrat ke tenda sutra putih yang suci itu, menodainya dengan warna merah.

Hening.

Yue Xi menjatuhkan gulungan di tangannya. Para tetua pelindung yang berdiri di belakangnya terbelalak.

"Membunuh tiga Nascent Soul dengan satu kibasan lengan?!"

Seorang Tetua Pelindung (Wanita tua, Setengah Langkah Transformasi Dewa) maju melindungi Yue Xi.

"Siapa kau?!" bentak Tetua itu, suaranya bergetar. "Kami adalah utusan Benua Tengah! Berani menyentuh kami berarti menyatakan perang terhadap Sekte Dewi Bulan!"

Shen Yu akhirnya berhenti. Dia menatap Yue Xi dan Tetua itu dengan tatapan bosan.

"Benua Tengah?"

Shen Yu melangkah maju.

"Di mataku, kalian hanyalah tamu yang tidak tahu sopan santun di rumah orang lain."

"Berlutut."

Satu kata. Diucapkan dengan nada datar.

Namun, efeknya seperti gunung yang dijatuhkan dari langit.

KRAAAAAAAK!

Tekanan Transformasi Dewa Sejati milik Shen Yu menimpa mereka.

Tetua Pelindung itu mencoba menahan, tapi lututnya hancur seketika. Dia jatuh berlutut, muntah darah. Yue Xi, yang hanya berada di ranah Inti Emas Puncak, langsung terhempas ke tanah. Wajah cantiknya mencium debu kotor. Mahkotanya jatuh menggelinding.

"Ugh... Kau..." Yue Xi berusaha mengangkat kepalanya, wajahnya merah karena penghinaan yang tak tertahankan. Seumur hidupnya, dia dipuja. Tidak ada yang berani menyuruhnya berlutut!

"Aku adalah Orang Suci! Kau pribumi kotor... Kau akan menyesal—"

PLAK!

Shen Yu menampar udara dari jarak jauh.

Di wajah Yue Xi, muncul bekas telapak tangan merah menyala. Tubuhnya terpental menabrak tiang gerbang. Pipinya bengkak, sudut bibirnya pecah.

"Mulutmu terlalu kotor untuk seorang 'Orang Suci'," kata Shen Yu dingin. Dia berjalan mendekat, menatap Yue Xi dari atas ke bawah seperti melihat sampah.

"Satu kata lagi, dan aku akan mencabut lidahmu."

Ketakutan murni akhirnya merasuk ke dalam mata Yue Xi. Dia menyadari pria ini bukan orang sembarangan. Dia adalah monster yang tidak peduli dengan latar belakangnya. Dia diam, gemetar ketakutan.

Sementara Shen Yu mendominasi situasi, Su Ling berjalan perlahan ke meja batu tempat Yue Xi tadi duduk.

Mata Iblis Su Ling tertarik pada gulungan kuno yang tadi dijatuhkan Yue Xi.

"Shen Yu..." panggil Su Ling, suaranya terdengar aneh. "Lihat ini."

Shen Yu menoleh. Dia meninggalkan Yue Xi yang ketakutan dan berjalan ke arah Su Ling.

Su Ling membuka gulungan itu lebar-lebar.

Itu adalah lukisan tua yang usianya mungkin sudah ribuan tahun, namun tinta dan warnanya tidak pudar karena dilindungi Qi abadi.

Lukisan itu menggambarkan sepasang pria dan wanita berdiri di depan Gerbang Reruntuhan ini di masa lalu.

Sang Pria mengenakan jubah hitam dengan aura kegelapan yang pekat. Wajahnya dingin, tampan, dan identik dengan Shen Yu. Sang Wanita mengenakan jubah ungu dengan mata tertutup kain (buta), namun aura keanggunannya persis seperti Su Ling.

Di bawah lukisan itu, tertulis puisi kuno:

"Bulan menangis darah, Iblis kehilangan hati." "Kami menanam janji di sini, menunggu ribuan siklus untuk bertemu kembali." "—Kaisar Malam & Permaisuri Bulan."

Shen Yu dan Su Ling terdiam. Mereka saling berpandangan, lalu melihat lukisan itu lagi. Kemiripannya terlalu akurat untuk disebut kebetulan.

"Jadi..." bisik Su Ling, menyentuh wajah wanita di lukisan itu. "Perasaan familiar ini... bukan hanya imajinasiku."

"Kita pernah ke sini," kata Shen Yu pelan. "Di kehidupan yang lain. Di siklus yang lain."

Su Ling merasakan kesedihan yang mendalam memancar dari lukisan itu. Seolah-olah pasangan di lukisan itu berakhir tragis.

"Apakah kita... mengulang takdir yang sama?" tanya Su Ling cemas.

Shen Yu menggenggam tangan Su Ling erat. Matanya menyala dengan tekad menantang takdir.

"Tidak. Jika kehidupan lalu berakhir tragis, maka kehidupan ini aku yang menulis akhirnya."

Shen Yu berbalik menatap Yue Xi yang masih meringkuk di tanah.

"Hei, Wanita Bulan."

Yue Xi tersentak kaget. "Y-Ya?"

Shen Yu melempar gulungan itu ke arah Yue Xi.

"Kau membawa gulungan ini bukan hanya untuk dipajang, kan? Kau butuh ini untuk membuka gerbang."

Shen Yu menunjuk pintu gerbang yang tertutup rapat.

"Buka pintunya."

"T-Tapi..." Yue Xi ragu. "Membukanya membutuhkan pengorbanan darah murni dari keturunan Dewi Bulan. Itu akan menguras kultivasiku..."

Mata Shen Yu menyipit. Aura pembunuhnya bocor sedikit.

"Kau punya dua pilihan," kata Shen Yu.

"Satu: Buka pintunya, kehilangan sedikit kultivasi, tapi tetap hidup." "Dua: Aku membunuhmu di sini, menguras seluruh darahmu, dan menyiramkannya ke pintu itu. Pintunya tetap terbuka, tapi kau mati."

"Pilih dalam tiga hitungan."

"Satu."

"AKU BUKA! AKU BUKA!" jerit Yue Xi histeris.

Dia tidak ragu lagi. Pria ini gila. Dia benar-benar akan membunuhnya dan menjadikannya kunci mayat.

Yue Xi merangkak bangun, berjalan tertatih ke depan gerbang. Dia mengiris telapak tangannya. Darah perak bercahaya mengalir ke ukiran rune di pintu gerbang.

ZIIING!

Gerbang Reruntuhan Bulan Kuno bergetar. Rune-rune itu menyala terang. Suara gemuruh berat terdengar saat pintu batu raksasa itu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong gelap yang memancarkan aura dingin dan sedih dari masa lalu.

Shen Yu menggandeng Su Ling.

"Ayo masuk. Mari kita lihat apa yang kita tinggalkan di masa lalu."

Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan, melewati Yue Xi yang jatuh pingsan karena kehabisan darah.

1
Dedi Sopandi
singkat nya di atas langit masih ada langit, jangan bangga dengan apa yang kita miliki 🤣🤣🤣🤣
Indah Hidayat
andai ada cinta sejati spt itu????
Indah Hidayat
jarang ada novel genre ini yg mc nya setia, biasanya si mc hobby kawin dan herannya yg like banyak artinya reader itu juga hobby kawin ya.
Amad R Laros
jooos
Dedi Sopandi
semangat Kaka
Indah Hidayat
ada sepatu bot ya di jaman itu? tetuanya ada 3 kan yang 2 mana?
Indah Hidayat
makin kerrn ceritranya
Amad R Laros
sakti duluaan sebelum kahir
Indah Hidayat
baru kali ini baca novel si mcnya iblis kejam
Indah Hidayat
si thor itu membuat ceritra si mc terlalu naif, tidak cerdas
Indah Hidayat
agak aneh kenapa mesti hrs ketemuantan musuhnya apalagi jelas tahu akan dijebak dan tdk cari cara dulu utk mengatasinya...si mc kurang cerdas hanya ikut nasib saja
Amad R Laros
piye to ki kok bingung law bisa berubah jadi ultra raksasa knpa kemarin lari
Amad R Laros
apa kekuatanmu sudah bisa mengungguli pengadilan langit shen yu
Dedi Sopandi
coba kalo dari awal, kekuatan itu muncul mungkin su lin selamat kali yah 🤣🤣🤣🤣
Duan Iwan
one vote and secangkir kopi tuk kelanjutan ceritamu thor💪👍
Duan Iwan
mantaaaaaap lanjoooootken ceritamu thor
Dedi Sopandi
nggak punya cara apa gitu, padahal sudah ada bayangan apa yg akan terjadi,,, 🤣🤣🤣🤣
Amad R Laros
harat jar banjar💪💪💪
Dedi Sopandi
ide cerita yang gila tapi seru untuk di ikuti
Dedi Sopandi
sudah pasti kalah, tapi otak nya cerdas 😄🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!