"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Regina bersama asistennya dan kedua pengawalnya pun pergi. Namun, baru beberapa meter, Regina menghentikan langkahnya.
"Ada apa Boss?" tanya sang asisten.
"Pemuda itu mengingatkan aku pada seseorang, tapi aku lupa namanya. Sikapnya, wajahnya persis orang itu," jawab Regina.
Regina berbalik. Kiandra kembali khawatir, kalau-kalau ibu angkatnya itu akan kembali menghajar suaminya.
"Mama Gina, ada apa?" tanya Kiandra.
"Kamu ...." Regina menjeda ucapannya. "Kamu mirip seseorang, tapi aku lupa namanya," sambung Regina. "Karena sudah lama sekali," imbuhnya.
Dexter berpikir, jika orang yang dimaksud itu adalah papanya. Tapi Dexter tidak mau menyebutkannya. Seolah Dexter tidak kenal dengan orang yang Regina maksud.
"Ah sudahlah, mungkin cuma kebetulan mirip," katanya kemudian.
Regina kembali mengingatkan kepada Dexter untuk memperlakukan Kiandra dengan baik. Baru setelah itu Regina benar-benar pergi dari situ.
Kiandra melambaikan tangannya ketika helikopter yang ditumpangi Regina mulai naik ke udara.
Kiandra tersenyum, kemudian memeluk dan bersandar di dada suaminya. Dexter pun merangkul pundak Kiandra dan mengelusnya.
"Sebelum nenek meninggal, mama Gina datang dan merawat aku. Beliau begitu baik kepadaku, walaupun terkadang beliau kejam pada orang jahat," ungkap Kiandra.
Dexter tidak menjawab. Kemudian dia mengajak Kiandra untuk kembali ke rumah. Para warga desa pun sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Setelah selesai berziarah, kita akan kembali ke kota," kata Dexter. Kiandra mengangguk pertanda iya.
Kemudian keduanya pun naik mobil ke tempat pemakaman. Tapi sebelum itu, Kiandra terlebih dahulu berpamitan kepada warga desa yang begitu baik kepadanya.
Karena, setelah dari makam neneknya, Kiandra dan Dexter akan langsung kembali ke kota.
Tiba di tempat pemakaman umum khusus warga desa sini. Kiandra dan Dexter langsung keluar dari mobil.
Dexter menggandeng tangan Kiandra menuju makam neneknya Kiandra. Kiandra berjongkok di sisi makam, sambil mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di atas gundukan tanah kuburan itu.
"Nek, aku datang menziarahi nenek. Kali ini aku tidak sendiri Nek, aku bersama suamiku. Walaupun pada awalnya kita menikah tanpa adanya cinta, tapi perlakuannya padaku meluluhkan hatiku. Aku berjanji pada diriku sendiri, Nek. Akan mencintainya setulus hatiku," ucap Kiandra pelan. Namun masih terdengar oleh Dexter.
Dexter hanya tersenyum saja. Dia tahu Kiandra belum mencintainya saat ini. Tapi Dexter akan tetap memperlakukan Kiandra dengan baik.
Dexter ingin, Kiandra mencintainya dengan kerelaan hati Kiandra sendiri. Namun, penerimaan Kiandra padanya sudah cukup membuat Dexter merasa senang.
Dan hari ini, di depan pusara sang nenek, Kiandra entah sadar atau tidak sudah mengungkapkan perasaan cintanya. Walaupun tidak secara langsung kepada Dexter itu sendiri.
"Nenek, aku janji akan menjaga Kiandra dengan baik. Walaupun aku tidak tahu pasti, bagaimana nenek memperlakukan Kiandra, maka aku akan memperlakukan seperti itu juga. Aku akan berikan cinta dan kasih sayang hanya untuk dirinya saja," ungkap Dexter.
Kiandra menatap Dexter dalam-dalam. Ada rasa haru yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Perkataan Dexter sungguh membuatnya tersentuh. Selama ini, Kiandra belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi, kali ini ketika bersama dengan Dexter, Kiandra merasakan sesuatu yang berbeda.
Kiandra dan Dexter menaburkan kelopak bunga mawar di atas makam sang nenek. Kemudian keduanya berdoa secara bersamaan.
Baru setelah itu mereka pun pamit pulang untuk kembali ke kota. Dexter dan Kiandra tidak lagi melewati rumah warga, karena tempat pemakaman umum di desa ini cukup jauh dari rumah-rumah warga.
Sementara di tempat kediaman warga. Para warga berbondong-bondong menghampiri truk membawa bahan makanan.
Tiga buah truk berukuran besar membawa bahan makanan berupa sembako untuk dibagikan kepada warga.
Ternyata, Dexter kemarin sudah menghubungi James untuk mengantar bahan makanan kepada warga desa sini.
Dengan dibantu oleh Louis, James bergerak cepat belanja keperluan sehari-hari untuk dibawa ke desa.
"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak," ucap para warga.
"Bukan pada kami, tapi ini atas perintah tuan dan nona kami, yaitu tuan Dexter dan nona Kiandra," kata James.
Para warga tidak menyangka, mereka hanya memberi sedikit saja sembako untuk Kiandra dan Dexter. Tapi balasannya cukup untuk makan satu bulan per-keluarga.
Bapak kepala desa tersenyum senang melihat warganya bahagia menerima bantuan. Sebagai kepala desa yang baik, tentu saja dia mendahulukan kepentingan warganya.
"Sampaikan ucapan terima kasih kami kepada Dexter dan Kiandra," ucap bapak kepala desa.
"Iya Pak, akan kami sampaikan," kata James.
Pak kepala desa dan warganya tidak tahu, jika yang memberikan bahan makanan kepada mereka sebenarnya orang yang berkuasa di dunia bawah.
Mereka tidak melihat sisi buruk dari Kiandra dan Dexter. Yang mereka lihat hanya sisi baiknya saja.
Sebenarnya, baik Kiandra maupun Dexter, walaupun mereka berkuasa di dunia bawah, tapi mereka hanya jahat kepada orang yang menurut mereka jahat.
Setelah semua selesai dan para warga desa sudah mendapatkan bagian masing-masing, James dan yang lainnya pun berpamitan kepada bapak kepala desa beserta warga desa.
James dan Louis merasa risih, karena para ibu-ibu bersalaman cukup lama dengan mereka. Apalagi Louis tidak terlalu dekat dengan yang namanya perempuan.
Sementara James, hanya dengan Naomi dia yang paling dekat. Karena mereka memang pasangan kekasih.
Sementara Dexter dan Kiandra kini masih dalam perjalanan. Keduanya berhenti di sebuah warung makan perbatasan antara kota dan desa.
Karena hari sudah cukup siang, jadi mereka harus makan siang terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
"Kamu lapar sayang?" tanya Dexter.
"Iya, sejak tadi belum makan," jawab Kiandra.
Keduanya pun masuk, lalu memilih tempat duduk yang kosong. Pemilik warung makan segera menghampiri mereka.
"Maaf Tuan dan Nona. Di sini makanannya ambil sendiri," kata pemilik warung makan.
"Oh iya Pak, terima kasih," ucap Dexter.
"Kamu mau apa sayang? Biar aku ambilkan," tanya Dexter.
"Hmm, tidak usah, aku ambil sendiri saja," jawab Kiandra.
Dexter pun mengangguk, keduanya pun bangkit dari duduknya berjalan ke tempat penyimpanan makanan.
Kiandra sedikit bingung, karena banyak lauk yang harus di pilih. Dan semuanya terlihat lezat.
Akhirnya Kiandra memilih ikan bakar dan ayam goreng. Sementara Dexter mengikuti pilihan Kiandra.
Baru saja mereka kembali duduk. Ponsel Dexter berdering. Dexter melihat nama pemanggil, yaitu James. Dexter segera mengangkatnya.
"Halo Tuan, sesuai perintah Anda, semua sudah saya laksanakan."
"Bagus. Bagaimana? Apa cukup?"
"Cukup Tuan. Para warga desa mengucapkan terima kasih kepada Anda dan nyonya Kiandra."
Dexter mengangguk, seolah mereka sedang berhadapan. Sementara Kiandra hanya terdiam, dia tidak ingin mengganggu percakapan Dexter bersama asistennya.
"Aku tutup dulu, aku mau makan."
Tanpa menunggu jawaban dari James, panggilan telepon pun terputus secara sepihak. Dexter menyimpan ponselnya kembali. Lalu mulai makan.