Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gundah
Langkahnya teratur, anggun seperti biasanya. Tidak tergesa. Tidak goyah. Namun, ada sesuatu yang berubah pada ritmenya, lebih ringan, seolah beban tak kasatmata yang selama ini menekan dadanya berkurang sedikit.
Kereta keluarga menunggu di gerbang samping istana. Ia naik tanpa banyak bicara. Di dalam, ruang sempit itu terasa sunyi. Roda kereta berderak lembut di atas batu jalanan. Angin sore masuk dari celah jendela kecil, menyentuh pipinya.
Ia memejamkan mata. Suara pria itu kembali terngiang di kepalanya. Tidak semua percakapan membutuhkan tujuan. Kalimat itu sederhana. Namun, ia belum pernah mendengarnya diucapkan dengan begitu tulus.
Bukan sebagai rayuan. Bukan sebagai basa-basi. Ia berbicara padanya seolah Elenna tidak sedang membawa nama keluarga. Tidak sedang berdiri sebagai bayangan Lilith. Tidak sedang dinilai akan posisinya.
Hanya… sebagai dirinya sendiri.
Elenna membuka mata perlahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Ia merasa dilihat. Bukan diperiksa.
Kediaman keluarga telah diterangi lampu ketika ia tiba. Tangga marmer memantulkan cahaya lilin, menciptakan bayangan panjang di dinding. Aroma teh dan bunga malam memenuhi udara.
“Lady Elenna telah kembali.”
Pengumuman kepala pelayan terdengar lembut.
Langkah ringan segera menyusul.
“Elenna?”
Suara itu manis. Terlalu manis.
Lilith muncul dari balik pilar besar di ruang tengah. Gaun biru pucatnya tampak lembut, pita di pinggangnya terikat sempurna. Rambutnya terurai rapi, wajahnya bersinar dalam cahaya hangat.
Senyumnya seperti biasa. Ramah. Tak bercela.
“Kau sudah kembali? Bagaimana pertemuanmu dengan Tuan putri?"
Elenna berhenti beberapa langkah darinya.
“Baik.”
Hanya itu. Jawaban netral, yang singkat,tanpa berniat menjelaskan.
Lilith mendekat sedikit, jaraknya cukup dekat untuk menilai perubahan sekecil apa pun di wajahnya.
“Putri Isabella cukup sulit ditebak,” katanya ringan. “Aku sempat khawatir kau akan merasa tertekan olehnya."
“Aku tidak merasa demikian.”
“Benarkah?” Lilith tersenyum tipis. “Baguslah kalau begitu, ia sering menguji orang dengan cara yang tidak terlihat.”
Elenna melepas sarung tangannya perlahan.
“Mungkin aku tidak cukup menarik untuk diuji.”
“Ah, jangan merendah begitu.”
Nada Lilith lembut, tetapi tatapannya tajam.
“Kau tahu… akhir-akhir ini banyak orang mulai memperhatikanmu.”
Elenna mengangkat wajahnya sedikit.
“Memperhatikan dari segi mana?"
“Mhm.” Lilith berjalan perlahan mengitari meja kecil, tetap menjaga sudut pandangnya terhadap Elenna. “Kau semakin sering dipanggil ke istana. Itu bukan yang sepele”
“Aku hanya memenuhi undangan.”
“Tetapi undangan tidak datang tanpa alasan.”
Hening tipis menggantung.
Lilith memiringkan kepala, memperhatikan wajah Elenna lebih lama.
“Kau terlihat berbeda hari ini.”
Elenna menahan napas sepersekian detik.
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih… terkesan hidup.”
Kata itu diucapkan dengan ringan.
Namun, ada nada yang hampir tak terdengar seperti seseorang yang tidak menyukai temuannya sendiri.
“Apakah terlihat seperti itu?"
Lilith mengangguk perlahan.
“Seolah kau baru saja menemukan sesuatu yang menyenangkan, atau mungkin motivasi hidup?"
Tatapan mereka bertemu. Elenna tidak berpaling. Ia membalas pandangan itu dengan tenang, tanpa gugup, tanpa terburu-buru menjelaskan diri.
“Aku hanya berjalan-jalan di taman istana.”
“Taman?” Lilith mengulangnya pelan, seakan menimbang satu kata sederhana itu.
“Sendirian?”
“Ya.”
“Tidak bertemu siapa pun?”
Pertanyaan itu datang terlalu cepat, terlalu tepat. Elenna menyadarinya. Namun, wajahnya tetap datar.
“Hanya seekor anak kucing.”
“Kucing?”
“Ya, kucing perak.”
Ada jeda singkat. Sangat kecil, nyaris tak terlihat, kecuali bagi seseorang yang terbiasa membaca perubahan sekecil apa pun. Senyum Lilith menegang sepersekian detik sebelum kembali sempurna.
“Menarik sekali, bagaimana bisa ada kucing liar di istana yang penjagaannya ketat."
“Ya, tetapi kucing itu kemudian menghilang dalam sekejap."
“Menghilang bagaimana?"
“Seperti tidak pernah ada.”
Lilith terkekeh lembut. “Kadang imajinasi memang kuat saat kita terlalu lama sendirian, mungkin kau perlu istirahat yang cukup."
Nada itu ringan. Namun, arah kalimatnya tajam, seperti mengejek secara tidak langsung bahwa Elenna selalu sendiri sehingga bisa berkhayal hal yang aneh.
Elenna tidak tersinggung, dia sudah terbiasa dengan ucapan Lilith yang mencemohnya secara tidak langsung.
“Mungkin.”
Jawaban pendek. Tidak membela diri. Tidak berniat menjelaskan lebih jauh.
Lilith memerhatikannya beberapa detik lebih lama. “Kau benar-benar tidak bertemu siapa pun?” Kini nadanya melembut, hampir seperti seorang kakak yang sekadar memastikan.
“Tidak.”
Jawaban itu mantap. Tanpa celah.
Lilith tersenyum lagi. “Maaf bila aku banyak bertanya padamu, aku hanya tidak ingin kau merasa kesepian di istana.”
Kata-kata manis. Perhatian yang terdengar tulus. Namun, bagi Elenna, kalimat itu terasa kosong seperti bunga tanpa aroma.
“Aku tidak merasa kesepian, dan sejak kapan kamu memperhatikanku?" ujarnya pelan.
Lilith terdiam. Itu bukan jawaban yang biasa ia dengar. Biasanya Elenna hanya menerima, tidak menyangkal, tidak menyatakan apa pun. Tetapi sekarang berbeda, dia bahkan berani mempertanyakan ucapannya.
“Yah aku senang mendengarnya bila kau tidak butuh perhatian dariku,” ucap Lilith akhirnya.
Elenna mengangguk tipis. “Aku lelah. Aku ingin beristirahat.”
“Tentu saja begitu.” Lilith melangkah mundur memberi jalan. “Istirahatlah. Besok mungkin akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan."
Kalimat biasa. Namun, terselip isyarat yang tak diucapkan. Elenna tidak bertanya. Ia berbalik dan melangkah menuju tangga. Tetapi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan
Ia merasakan tatapan Lilith menempel di punggungnya. Seolah menatapnya dengan lekat, entah itu menilai, mencari, atau sesuatu yang lain.
Begitu langkah Elenna tak lagi terdengar, senyum Lilith memudar perlahan, seperti lilin yang padam tanpa angin. Ruang tengah menjadi sunyi.
“Nona Lilith?” seorang pelayan mendekat hati-hati.
Lilith tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada tangga.
Lebih hidup. Itulah hal yang mengganggunya.
Elenna biasanya seperti bayangan, tenang, datar, hampir tak berwarna. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Cahaya kecil di matanya. Percikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, dan Lilith membencinya.
“Apa putri Isabella mengatakan sesuatu?” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Atau… ada orang lain yang berada di sisi Elenna.
Tangannya mengepal halus di sisi gaunnya. Ia telah memastikan bahwa kakaknya bukan ancaman. Jalurnya sudah ia bersihkan. Ia bahkan beberapa kali menguji Elenna secara tidak langsung.
Namun, perubahan seperti itu tidak muncul tanpa sebab.
“Apa yang kau sembunyikan dariku…” bisiknya nyaris tanpa suara.
Pelayan di dekatnya menunduk lebih dalam. “Siapkan teh di kamarku,” ujar Lilith akhirnya, suaranya kembali lembut dan terkontrol. "Serta cari tahu apa yang telah terjadi di istana pada hari ini."
Pelayan itu sempat terkejut, tetapi segera membungkuk. “Baik, nona Lilith.”
Lilith berjalan menuju tangga lain, langkahnya ringan tetapi terukur. Ia tidak akan membiarkan sesuatu tumbuh di luar pengawasannya. Terkhusus kan pada Elenna, karena ia membenci Elenna lebih dari siapa pun.
Dapat ia pastikan, ia akan merebut semua milik Elenna, perhatian, kasih sayang, keluarga, teman dan hidup Elenna itu sendiri.