Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Peringatan Yang Sia-sia
Abel berdiri dengan napas terengah setelah menaiki anak tangga terakhir. Di sana, Arslan sudah menunggu, bersandar pada pagar dengan gaya santainya yang menyebalkan namun selalu berhasil membuat jantung Abel berdesir.
"Arslan, kamu harus hati-hati," bisik Abel panik saat mendekat. "Kak Reno... dia nggak percaya soal kemarin kita bertemu itu. Dia sempet curiga dan nanya-nanya soal mobil putih itu."
Arslan mengangkat satu alisnya, ia tersenyum miring sambil memainkan ponsel di tangannya. "Memangnya lo memberi alasan apa pada kakak lo itu?"
"Aku bertemu dengan 'Kakak kelas' dan mengobrol sebentar."
Arslan terdiam, dan tertawa. "Abel, Abel, jelas Kakak lo gak percaya. Kita 'kan kelas 12, mana ada Kakak kelas lagi."
"Aku panik, jadi asal sebut. Tapi kamu harus berhati-hati mulai sekarang." Ucap Abel memperingati Arslan.
"Terus? Lo takut kakak lo yang galak itu bakal gigit gue?" Goda Arslan mencondongkan badannya dekat pada Abel.
"Ini serius! Kakakku itu pintar, Arslan. Dia anak Teknik Informatika, dia bisa ngelakuin apa saja kalau dia curiga," Abel memegang lengan jaket Arslan, matanya memohon. "Tolong, jangan pakai mobil itu dulu untuk saat ini, apalagi kamu bawa ke sekolah. Dan... pemantik kamu. Pemantik inisial 'A' itu ketinggalan di kafe, dan sekarang ada di tangan Kak Reno."
Seketika, senyum Arslan memudar. Pemantik itu. Itu adalah hadiah terbatas yang sering ia pamerkan di tongkrongan. Jika Reno menghubungkan pemantik itu dengan dirinya, taruhan 30 juta ini bisa berubah jadi bencana fisik.
"Oke, tenang. Gue bakal urus soal pemantik itu," ucap Arslan, mencoba menenangkan Abel sambil mengelus pipi gadis itu—sebuah gerakan yang membuat Abel langsung terpaku dan lupa akan bahayanya. "Lo udah pinter banget peringatin gue. Sekarang, balik ke kelas. Jangan tunjukkin wajah panik lo di depan orang-orang."
Di saat yang sama, Reno tidak sedang berada di kampus. Ia duduk di kamarnya dengan tiga monitor yang menyala. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika terbaik, membobol sistem keamanan Cloud sebuah kafe kecil bukanlah perkara besar baginya.
"Lo pikir lo bisa nipu gue pakai Fake GPS, Bel?" gumam Reno dengan rahang mengeras.
Jemarinya menari di atas keyboard, menjalankan skrip untuk menarik rekaman CCTV dari server kafe yang ia kunjungi kemarin. Barisan kode hijau mengalir di layarnya, dan beberapa saat kemudian, sebuah thumbnail video muncul.
Reno menekan tombol play.
Video hitam-putih itu perlahan menjadi jernih. Ia melihat Abel masuk ke kafe dengan wajah ragu, dan di sana, di meja pojok, duduk seorang laki-laki. Reno melakukan zoom maksimal pada wajah laki-laki yang memakai topi dan kacamata hitam itu.
Saat laki-laki di video itu melepas kacamatanya sejenak untuk mengusap mata, Reno menekan space bar. Freeze.
Gambar itu sangat jelas. Wajah tegas, rambut yang sedikit acak-acakan, dan aura arogan yang terpancar kuat. Reno langsung membuka browser, mengetikkan nama SMA Abel dan mencari daftar siswa populer atau ekstrakurikuler yang menjadi unggulan. Hanya butuh waktu dua menit bagi Reno untuk menemukan wajah Arslan, dan mencari foto profil akun Instagram resmi tim basket sekolah Abel.
"Arslan Raendra," ucap Reno dingin, membaca nama di bawah foto jersey nomor 07. "Jadi, si Kapten Basket ini yang berani narik adek gue ke permainan backstreet-nya?"
Reno menyandarkan punggungnya di kursi. Ia tidak akan langsung melabrak. Sebagai anak IT, ia tahu serangan terbaik adalah serangan yang tidak terduga. Ia mengambil pemantik inisial 'A' dari sakunya, menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Lo mau main rahasia-rahasian sama adek gue, Lan? Oke. Gue bakal kasih lo permainan yang nggak akan pernah lo lupain."
Reno mulai mengetik sesuatu. Bukan pesan untuk Abel, melainkan ia meretas sistem ponsel Abel. Ia ingin tahu seberapa jauh Arslan bermain-main sebelum ia menghancurkan reputasi sang kapten di depan satu sekolah.
Siang itu, udara di parkiran sekolah terasa begitu menyesakkan bagi Arslan. Saat ia baru saja hendak menghidupkan mesin motornya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Pesan dari: Abel
"Temui aku di gudang tua belakang sekolah sekarang. Ada sesuatu yang mendesak soal Kak Reno. Jangan sampai ada yang lihat."
Arslan menyeringai. Ia mengira ini adalah momen drama lainnya dari si gadis kutu buku. Namun, saat ia sampai di sana, bukan sosok Abel yang gemetar yang ia temukan, melainkan seorang pria dewasa dengan jaket kulit hitam yang bersandar di dinding dengan aura yang sangat mengintimidasi. Reno.
"Mana Abel?" tanya Arslan, masih berusaha bersikap tenang meski jantungnya mulai berpacu.
Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, lalu melemparkan sebuah pemantik api berinisial 'A' tepat ke arah dada Arslan. Arslan menangkapnya dengan refleks cepat.
"Gue nggak suka basa-basi, Arslan!" Ucap Reno, suaranya rendah dan tajam seperti mata pisau. Ia menunjukkan layar ponselnya—sebuah potongan gambar CCTV kafe yang sangat jernih. "Lo pikir gue buta? Gue tahu trik fake GPS lo. Gue tahu lo narik adek gue ke hubungan sampah lo ini. Dengerin gue baik-baik, anak bau kencur... jauhin Abel, atau gue pastikan karier basket dan reputasi 'kapten hebat' lo berakhir di tempat sampah hari ini juga."
Reno mencengkeram kerah baju Arslan, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Abel itu terlalu berharga buat dimainin sama cowok kayak lo. Sekali lagi gue liat lo deket sama dia, gue nggak bakal pakai cara digital. Paham?"
Reno menghempaskan Arslan, lalu berjalan pergi setelah memberikan tatapan mematikan yang bisa membuat nyali siapapun ciut.
Arslan berdiri mematung, merapikan kerah bajunya yang kusut. Amarah membakar dadanya. Ia tidak terbiasa diancam, apalagi oleh seseorang yang menganggapnya remeh. Bukannya takut, ancaman Reno justru memicu sisi gelap dalam diri Arslan.
“Lo mau main kasar, Kakak Ipar?” batin Arslan sambil mengepalkan tangan hingga kuku jarinya memutih. “Oke. Gue bakal tunjukkin gimana rasanya kehilangan kontrol atas sesuatu yang paling lo jaga.”
Di kepala Arslan, sebuah strategi jahat mulai tersusun. Jika sebelumnya ia mendekati Abel hanya demi taruhan 30 juta, kini motivasinya berubah: Balas Dendam.
Ia tidak akan menjauhi Abel. Sebaliknya, ia akan membuat Abel merasa bahwa Reno adalah iblis yang menghalangi kebahagiaannya. Ia akan memposisikan dirinya sebagai satu-satunya perlindungan bagi Abel.
Sore itu juga, Arslan menelepon Abel dengan suara yang terdengar lemas dan ketakutan—sebuah akting yang sempurna.
"Abel... Kakak kamu tadi nemuin aku. Dia... dia kasar banget, Bel. Dia ancam bakal lakuin sesuatu yang buruk ke aku kalau aku tetep sama kamu," ucap Arslan lewat telepon, memanipulasi suara agar terdengar gemetar.
"Apa?! Kak Reno ngelakuin itu?" suara Abel di seberang sana terdengar panik dan mulai terisak.
"Iya. Tapi aku nggak peduli, Bel. Aku sayang sama kamu. Tapi aku rasa... mungkin kita harus cari tempat yang lebih aman. Aku nggak mau Kakak kamu nyakitin kamu lagi," Arslan tersenyum miring saat mendengar Abel mulai menyalahkan Reno habis-habisan di telepon.
Arslan tahu, semakin Reno menekan, semakin Abel akan memberontak. Dan saat Abel memberontak, ia akan lari ke pelukan Arslan. Arslan berencana menarik Abel masuk ke dunianya yang gelap—dunia balap liar dan pergaulan bebas yang selama ini ia sembunyikan—hanya untuk menunjukkan pada Reno bahwa ia telah gagal menjaga adiknya.