Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Angka-Angka yang Berbicara
Rania selalu percaya satu hal: angka tidak pernah berbohong.
Manusia bisa berdusta, wajah bisa berpura-pura, kata-kata bisa dimanipulasi. Tetapi angka—laporan keuangan, catatan transaksi, jejak transfer—semuanya selalu meninggalkan bekas. Dan pagi itu, ketika Rania membuka kembali sistem keuangan perusahaannya, ia tahu satu hal dengan pasti: jika Arga bersalah, maka jejaknya pasti ada di sana.
Rania duduk tegak di kursi kerjanya. Laptop terbuka. Secangkir kopi di sampingnya sudah dingin, tak tersentuh. Ia mengenakan kacamata tipis yang jarang dipakai—bukan karena gaya, melainkan karena fokus.
Ini bukan lagi soal rumah tangga.
Ini tentang perusahaan yang ia bangun dari nol.
Perusahaan yang namanya tertera sebagai CEO: Rania Wijaya.
Dan Arga… hanyalah seorang manajer keuangan yang ia percaya terlalu dalam.
Dulu, saat Rania mengangkat Arga ke posisi itu, semua orang memujinya. “Istri percaya suami, itu luar biasa.” Tidak ada yang tahu bahwa keputusan itu bukan karena nepotisme, melainkan karena cinta. Karena keyakinan bahwa lelaki yang ia nikahi tidak akan mengkhianatinya—bukan sebagai suami, dan tentu bukan sebagai profesional.
Rania membuka laporan arus kas enam bulan terakhir.
Awalnya, semuanya terlihat normal. Pengeluaran rutin. Gaji karyawan. Biaya operasional. Pajak. Namun nalurinya—naluri yang membawanya menjadi CEO di usia muda—mulai berbisik pelan.
Ada sesuatu yang janggal.
Ia memperbesar layar, menelusuri satu per satu transaksi. Lalu ia melihatnya.
Transfer rutin.
Nominalnya tidak besar jika dilihat sepintas. Lima belas juta. Dua puluh juta. Kadang sepuluh. Kadang tiga puluh. Selalu di bawah ambang yang biasanya memicu audit internal otomatis.
Terlalu rapi.
Terlalu aman.
Rania mencatat nomor rekening tujuan. Ia menelusuri lagi. Dan lagi.
Dadanya mengeras.
Semua transfer itu menuju satu rekening yang sama.
Ia membuka data rekening tersebut.
Nama pemilik rekening muncul di layar.
Arga Pratama.
Rania menutup matanya sejenak. Bukan karena kaget. Tapi karena kemarahannya terlalu tenang, terlalu dingin, terlalu terkendali—jenis kemarahan yang jauh lebih berbahaya daripada amukan.
“Jadi bukan cuma selingkuh,” gumamnya pelan. “Kamu juga mencuri.”
Tangannya bergerak cepat sekarang. Ia membuka laporan tahunan, menyandingkannya dengan laporan internal yang seharusnya. Ada selisih. Tidak mencolok, tapi konsisten. Seperti tetesan air yang tampak sepele, tapi lama-lama mampu mengikis batu.
Rania memanggil data tiga tahun ke belakang.
Dan di sanalah semuanya terbuka.
Sejak Arga resmi menjabat sebagai manajer keuangan, ada pola yang sama: dana operasional yang “dialihkan sementara”, pengeluaran fiktif atas nama vendor yang tidak pernah ada, dan reimburse yang disetujui sendiri dengan tanda tangan digitalnya.
Ia tidak serakah.
Ia cerdas.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Rania teringat semua alasan Arga selama ini. Permintaan tambahan uang untuk orang tuanya. Dalih investasi kecil. Cerita soal keuangan keluarga yang “lagi ketat”.
Semua itu dibayar dari uang perusahaan.
Uang Rania.
Uang keringat ratusan karyawan.
Rania berdiri, berjalan pelan ke jendela besar ruang kerjanya. Kota terlihat sibuk di bawah sana. Tidak ada yang tahu bahwa di balik gedung megah itu, seorang istri sedang menyadari bahwa suaminya bukan hanya pengkhianat cinta, tapi juga pengkhianat kepercayaan profesional.
“Berapa lama kamu menganggap aku bodoh?” bisiknya.
Ia kembali ke meja, kali ini membuka akses audit manual—akses tertinggi yang jarang ia gunakan karena selama ini ia percaya. Ia mencetak bukti transfer, menyimpannya dalam folder terenkripsi. Ia menandai setiap transaksi mencurigakan. Memberi catatan. Tanggal. Nominal. Tujuan.
Tidak ada satu pun yang ia lewatkan.
Setiap angka adalah saksi.
Setiap baris adalah bukti.
Menjelang sore, Bu Sarinah mengetuk pintu pelan.
“Mbak Rania… sudah makan?”
Rania menoleh, tersenyum tipis. “Belum, Bi. Nanti saja.”
Bu Sarinah masuk perlahan, meletakkan teh hangat di meja. “Mbak kelihatan capek.”
Rania mengangguk pelan. “Iya, Bi. Tapi sekarang aku akhirnya mengerti.”
“Mengerti apa, mbak?”
Rania menatap layar laptopnya sekali lagi. “Kenapa mereka berani. Karena mereka pikir aku tidak pernah melihat ke belakang.”
Bu Sarinah tidak bertanya lagi. Ia hanya menepuk pundak Rania lembut, lalu keluar.
Malam turun perlahan. Lampu-lampu gedung menyala satu per satu. Rania masih di sana, menatap rangkuman akhir yang baru saja ia susun.
Total dana yang dikorupsi Arga bukan angka kecil.
Jumlahnya cukup untuk membeli rumah kontrakan Maya.
Cukup untuk hidup nyaman tanpa bekerja keras.
Cukup untuk membiayai pengkhianatan mereka.
Rania tertawa kecil—tawa tanpa humor.
“Pantas saja,” gumamnya. “Pantas kamu merasa aman.”
Ia menutup laptop, menyandarkan punggung ke kursi. Tidak ada tangis. Tidak ada keraguan. Hanya satu kesimpulan yang berdiri tegak di kepalanya.
Arga telah membuat kesalahan fatal.
Ia mengkhianati istrinya.
Dan ia mencuri dari CEO-nya.
Dua peran yang sama-sama Rania miliki.
“Permainanmu terlalu rapi untuk orang-orang biasa,” ucap Rania pelan pada ruang kosong. “Tapi kamu lupa satu hal, Mas.”
Ia berdiri, mengambil ponselnya, lalu mengunci semua akses keuangan yang dimiliki Arga—tanpa notifikasi, tanpa drama. Ia juga mengatur jadwal audit eksternal rahasia, menggunakan nama samaran, tanpa melibatkan manajemen internal.
Semuanya ia lakukan tenang.
Terukur.
“Yang paling berbahaya,” lanjutnya dingin, “bukan perempuan yang marah. Tapi perempuan yang diam, mengamati, lalu bertindak.”
Rania mematikan lampu ruang kerja, melangkah keluar dengan langkah mantap.
Di rumah, Arga masih berpikir istrinya tidak tahu apa-apa.
Maya masih merasa aman.
Mereka tidak sadar—semua pintu sudah mulai tertutup satu per satu.
Dan kali ini, bukan Rania yang akan terjebak.
Babak baru telah dimulai.
Bukan lagi tentang cinta.
Melainkan tentang keadilan.
Malam itu, hujan turun deras, membasahi kaca jendela rumah dengan suara ritmis yang menenangkan—atau setidaknya seharusnya menenangkan. Rania duduk di ruang keluarga dengan lampu redup, sebuah map cokelat tergeletak di pangkuannya. Di dalamnya, salinan laporan keuangan, bukti transfer, dan catatan tangan yang ia susun sendiri. Semua rapi. Semua siap.
Pintu terbuka. Arga masuk sambil mengibaskan jaketnya yang basah.
“Hujannya parah,” katanya ringan, seolah hari itu tak menyimpan apa pun yang perlu dibicarakan.
Rania menoleh, tersenyum lembut. “Kamu pasti capek. Aku sudah siapkan teh hangat.”
Arga terdiam sesaat, lalu tersenyum balik. Ia tidak curiga. Justru merasa nyaman—terlalu nyaman.
Rania memperhatikan suaminya dari balik cangkir teh. Gerakannya. Cara ia duduk. Cara ia menghindari tatapannya terlalu lama. Semua kini terlihat jelas.
“Kamu kelihatan sibuk belakangan ini,” ujar Rania pelan, nada suaranya netral.
“Iya,” jawab Arga cepat. “Banyak urusan kantor.”
Rania mengangguk. “Aku percaya.”
Dua kata itu membuat Arga menghela napas lega. Dan di situlah Rania tahu—kepercayaan itu selama ini bukan lagi ikatan, melainkan tameng.
Malam berjalan tanpa pertengkaran. Tanpa pertanyaan. Rania bahkan menyiapkan pakaian kerja Arga untuk esok hari, seperti biasa. Ia memainkan perannya dengan sempurna.
Di kamar, saat Arga tertidur, Rania bangkit perlahan. Ia membuka ponselnya, menyalin semua bukti ke penyimpanan terenkripsi cadangan. Ia juga mengirim pesan singkat ke seorang kenalan lama—akuntan forensik independen yang dulu pernah membantunya menyelamatkan perusahaan dari krisis.
*Besok kita perlu bicara. Rahasia.*
Pesan terkirim.
Rania memandang wajah Arga yang terlelap. Lelaki yang dulu ia cintai, kini terasa asing. Ia tidak membencinya. Tidak lagi. Yang ada hanyalah jarak dan kewaspadaan.
Keesokan harinya, Rania menerima laporan awal audit internal. Ada beberapa transaksi baru—masih menggunakan akses Arga—yang mencoba menutup jejak lama. Terlambat. Setiap perubahan tercatat.
Rania tersenyum kecil.
Ia lalu menghubungi Maya.
“May, nanti sore bisa ketemu?” tanya Rania ceria.
“Bisa! Ada apa?”
“Cuma kangen,” jawab Rania ringan.
Telepon ditutup. Rania berdiri di depan cermin. Ia tahu pertemuan itu bukan untuk konfrontasi. Belum. Itu hanya untuk memastikan satu hal: seberapa jauh Maya merasa aman.
Sore itu, mereka bertemu di kafe kecil. Maya terlihat santai, tertawa, bercerita. Rania mendengarkan dengan sabar, mengamati detail-detail kecil—gerak tangan, jeda kalimat, kebohongan yang dibungkus tawa.
“Arga baik-baik saja kan?” tanya Maya tiba-tiba.
Rania menyesap kopinya. “Baik. Seperti biasa.”
Maya tersenyum lega. Terlalu lega.
Rania menatapnya tenang. *Kalian benar-benar menganggap aku tidak melihat.*
Saat malam tiba, Rania pulang dengan satu kesimpulan yang semakin menguatkan tekadnya. Ia tidak perlu terburu-buru. Waktu justru berpihak padanya.
Ia menutup hari dengan satu keputusan terakhir: semua bukti akan dikunci, semua langkah akan disiapkan, dan ketika tirai akhirnya dibuka, tidak ada satu pun yang bisa lari.
Karena bagi Rania, keadilan bukan soal teriak paling keras.
Melainkan siapa yang paling siap saat kebenaran akhirnya berbicara.