NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Toga dan Jarak

Suasana kelas XI-2 yang tadinya cuma bising sama bisik-bisik, mendadak makin heavy pas Gery masuk dengan muka yang bener-bener panik dan rasa bersalah yang kentara banget. Dia langsung lari nyamperin meja Arini.

"Rin! Rin, please maafin gue! Sumpah, gue tadi beneran nggak sengaja nampar lo, itu bener-bener refleks karena gue lagi emosi parah!" seru Gery dengan suara bergetar.

Siska yang denger itu langsung melotot, nyaris nggak percaya. "Apa?! Lo nampar Arini?! Gila ya lo, Ger! Gue bilangin Rian, bisa abis lo!". Gery nggak peduli sama ancaman Siska, dia tetep nunduk di depan Arini yang masih sesenggukan. "Rin, maafin gue, Rin...".

Tepat saat itu, Rian muncul di ambang pintu kelas. Firasat buruk yang tadi dia rasain ternyata beneran valid. Begitu dia liat Arini menangis sambil megangin pipinya yang merah, mata Rian langsung berubah jadi dark dan penuh amarah.

"Arini... kamu kenapa? Kenapa kamu nangis sampai begini?" tanya Rian dengan nada rendah yang bikin merinding.

"Tuh, Yan! Arini ditampar sama Gery!" adu Siska tanpa babibu.

Gery langsung nengok ke Rian dengan muka pucat. "Yan, Yan, lo dengerin gue dulu! Sumpah, gue nggak sengaja—".

Nggak pakai banyak omong, Rian langsung narik kerah baju Gery dan nyeret sahabatnya itu ke luar kelas. Di koridor, Rian langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi sampai Gery babak belur. "Gue nggak suka ya kalau lo nyakitin Arini! Mau lo sahabat gue atau siapa pun, kalau lo bikin dia nangis, lo berurusan sama gue!" teriak Rian yang udah kehilangan kontrol.

Satu sekolah langsung heboh. Siswa-siswa lain lari buat misahin mereka berdua sebelum makin parah. Arini yang denger keributan itu langsung lari ke luar kelas dengan keadaan masih menangis, dia nekat nerobos kerumunan buat narik tangan Rian.

"Sudah, Rian! Cukup!" teriak Arini histeris. Hari itu Arini bener-bener ngerasa done banget. Dia kesel sama Yusa yang jadi pemicu, kesel sama Gery yang main fisik, dan bahkan dia mulai ngerasa muak sama semua ramalan manis yang pernah dibilang Rian padanya. Dia cuma pengen ketenangan.

Arini menarik paksa Rian menjauh dari kerumunan, membawa cowok itu keluar sampai ke gerbang sekolah.

Di bawah pohon dekat gerbang, Rian akhirnya mulai tenang. Dia natap wajah Arini yang sembab dengan rasa bersalah yang dalam.

"Arini... hey, maafin aku ya. Gara-gara aku, pasti Gery jadi berani sakitin kamu, kan? Aku gagal jagain kamu hari ini," lirih Rian sambil nyoba buat ngusap air mata di pipi Arini.

Arini megang tangan Rian yang gemeteran. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Rian. Aku sudah coba buat jauhin Yusa semalam, tapi Yusa tetep kekeh nyamperin aku ke rumah tadi pagi. Aku nggak bermaksud ingkar janji," jelas Arini sejujur-jujurnya.

Rian narik Arini ke dalam pelukannya, meluk erat seolah nggak mau ngelepasin lagi. "Sudah, kita lupain saja semuanya ya? Aku nggak mau bahas itu lagi," bisik Rian di telinga Arini.

Nggak lama, Gery nyamperin mereka dengan muka yang lebam-lebam. "Rin, Yan... gue minta maaf banget ya. Gue bener-bener refleks nampar lo tadi gara-gara kepancing emosi. Gue nyesel parah," ucap Gery tulus.

Arini cuma bisa ngehela napas panjang. "Lupain saja, Ger. Aku sudah capek sama drama hari ini,". Arini langsung balik badan masuk ke kelas buat nenangin diri.

Rian diem sejenak, lalu nepuk bahu Gery pelan. "Gue harap lo jangan pernah sakitin Arini lagi, Ger. Sekali lagi kejadian, gue nggak bakal maafin lo,". Gery cuma bisa ngangguk pasrah, sementara Rian balik menyusul Arini masuk ke dalam kelas.

Waktu berjalan secepat scroll TikTok di tengah malam. Nggak terasa, masa-masa penuh drama, ramalan, dan cemburu di SMA Tunas Bangsa sudah mencapai garis finish. Arini dan Rian berhasil menjaga api cinta mereka tetap menyala sampai hari kelulusan tiba, membuktikan kalau ramalan Rian soal mereka yang bakal bertahan itu bener-bener valid.

Di sudut aula, Yusa cuma bisa berdiri mematung dengan perasaan yang bener-bener empty. Dia harus acceptance kalau sampai detik terakhir kelulusan, dia nggak pernah berhasil memenangkan hati Arini. Usahanya buat jadi penguasa hati Arini berakhir fail total.

"Yeey! Akhirnya kita lulus juga ya, Rin! Officialy jadi alumni!" teriak Siska sambil meluk Arini erat-erat di tengah kerumunan siswa yang lagi sibuk foto-foto estetik pakai toga.

Arini tersenyum lebar, tapi ada sedikit raut melankolis di matanya. "Iya, Sis. Akhirnya ya..."

"Oiya, btw, setelah ini lo mau move ke mana? Sudah ada target kuliah di mana, Rin?" tanya Siska kepo.

Arini menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai berwarna orange. "Gue mungkin bakal kuliah di luar negeri, Sis. Papa sudah nyiapin semuanya di sana,".

Siska langsung melongo, shock berat. "Luar negeri?! Gila, jauh banget! Terus Rian gimana? Dia sudah tahu soal rencana LDR lintas benua ini?"

"Aku bakal bicarain nanti malam sama dia, Sis. Aku cuma belum nemu momen yang pas aja tadi," jawab Arini pelan.

"Yaudah deh, mending sekarang kita enjoy dulu momen ini. Yuk, kita rayain kelulusan kita! No galau-galau club buat hari ini! Yey!" ajak Siska sambil menarik tangan Arini menuju kerumunan teman-temannya yang lain.

Malam harinya, di bawah lampu taman yang temaram, Arini dan Rian duduk berdua. Rian menatap Arini dengan tatapan "penerawangan" yang kali ini terasa sangat tenang namun menyedihkan.

"Kamu mau bilang kalau kamu bakal pergi jauh ya, Rin?" tanya Rian tiba-tiba, memecah keheningan.

Arini tersentak, dia lupa kalau pacarnya ini punya insting yang nggak masuk akal. "Kamu sudah tahu?"

Rian tersenyum tipis, menggenggam tangan Arini erat. "Aku nggak perlu ngeramal buat tahu kalau bidadariku ini punya mimpi yang besar. Aku nggak akan melarang kamu pergi, Arini. Aku mau kamu kejar cita-cita kamu di luar negeri sana,".

Air mata Arini menetes. "Tapi aku takut, Rian. Aku takut jarak bakal ngerubah segalanya..."

Rian narik Arini ke dalam pelukannya untuk terakhir kalinya sebagai siswa SMA. "Percaya sama aku, Rin. Masa depan yang aku lihat tetap sama. Di ujung sana, tetap ada aku yang nunggu kamu pulang. Jarak cuma angka, tapi perasaan aku ke kamu itu selamanya," bisik Rian penuh penekanan.

Malam itu, di bawah saksi bintang-bintang, kisah Arin dan Rian resmi berganti babak. Bukan lagi soal drama sekolah, tapi soal perjuangan cinta jarak jauh yang sudah "terpilih" oleh takdir.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!