NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Tanda Tangan yang Mengubah Cara Orang Melihat.

Pagi itu aku datang seperti biasa. Jam enam kurang. Udara masih dingin, lantai koridor masih agak basah. Aku jalan cepat ke ruang pramuka, buka pintu, nyalain lampu. Di papan tulis, masih ada sisa coretan latihan kemarin. Aku hapus. Aku suka ruang ini rapi, walau rapi versi aku: fungsional, bukan cantik. Beberapa menit kemudian Faris masuk. Disusul Rizal. Mereka ngobrol soal jadwal diklat yang makin dekat.

“Nanti jam segini kita mulai briefing ya,” kata Faris.

“Iya,” jawabku. “Aku catat.”

Aku buka buku agenda, nulis cepat. Tanganku udah hafal geraknya. Kalau nggak dicatat, aku takut lupa. Rara datang agak belakangan. Rambutnya rapi, wajahnya cerah. Dia langsung duduk di kursi depan, buka tas. “Nay,” katanya. “Bu Santi bilang nanti jam sepuluh kita ke ruangannya bentar.”

“Oh.”

“Katanya mau jelasin detail revisi kecil.”

“Oke.”

Nada suaranya biasa. Aku balas biasa juga. Tapi entah kenapa, sejak proposal disetujui, setiap ada nama Bu Santi disebut, kepalaku otomatis siap.

Jam sepuluh kurang, kami bertiga aku, Rara, Faris jalan ke ruang guru. Di depan pintu, Rara ngetuk. “Masuk,” suara Bu Santi dari dalam.

Kami masuk. Bu Santi duduk di kursinya, beberapa map di meja. Proposal kami ada di atas, dengan kertas tambahan disteples. “Duduk,” katanya. Kami duduk.

“Secara umum sudah oke,” lanjutnya. “Tinggal teknis kecil. Jadwal sudah pas, anggaran masuk akal.” Aku ngerasa lega. Rara mengangguk.

“Yang bertanggung jawab utama nanti Rara, ya,” kata Bu Santi sambil lihat ke arah Rara. “Sebagai ketua.”

“Iya, Bu,” jawab Rara cepat. Aku duduk diam. Faris juga.

“Wakilnya bantu koordinasi lapangan,” lanjut Bu Santi. “Naya, ya?”

“Iya, Bu,” jawabku.

Bu Santi tersenyum. “Bagus. Kalian kelihatan kompak.”

Kami keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Lega, iya. Tapi juga… ada sesuatu yang geser sedikit di dalam kepala aku. Di koridor, Rara langsung bilang, “Nanti aku share detail revisinya ya.”

“Oke.”

“Kamu fokus ke teknis lapangan aja. Aku urus surat-menyurat.”

“Iya.”

Kalimat-kalimat itu sebenernya masuk akal. Pembagian tugas yang wajar. Tapi entah kenapa, cara orang-orang mulai ngomong ke aku berubah pelan-pelan. Di kantin, Devi nyamperin Rara.

“Ra, nanti diklatnya jadi berapa hari?”

“Tiga,” jawab Rara.

“Oh. Keren ya kamu bisa ngurus ginian.”

Rara ketawa kecil. “Ah, rame kok. Kita bareng-bareng.” Aku duduk di samping, makan gorengan. Nggak ada yang nanya ke aku. Dan aku nggak nyari buat ditanya.

Sore harinya, latihan lagi. Kali ini lebih serius. Anak-anak mulai tegang karena diklat makin dekat.

“Dengerin Rara ya,” kata salah satu adik kelas ke temennya. “Dia ketuanya.” Kalimat itu nyangkut di telingaku lebih lama dari yang seharusnya.

Aku jalan muter lapangan. Ngecek tenda, tali, patok. Semua ada. Semua aman. “Naya,” panggil Faris. “Nanti koordinasi konsumsi sama kamu aja ya. Rara lagi ada urusan.”

“Iya.” Aku ngelakuin semua yang diminta. Aku juga nambah hal-hal kecil yang menurutku perlu. Tanpa disuruh. Tanpa bilang. Malamnya, grup pramuka rame. Rara share info.

Rara: Teman-teman, diklat fix tanggal sekian. Detail menyusul. Terima kasih atas kerja samanya

Balasan berdatangan.

Vira: Siap, Kak

Anin: Mantap

Billa: Semangat ketuaa

Aku baca satu-satu. Lagi-lagi, jempolku berhenti. Aku mikir mau ngetik apa. Akhirnya aku ngetik:

Aku: Siap.

Cuma satu kata. Besoknya, suasana sekolah mulai beda. Bukan drastis. Tapi ada geser kecil yang kalau nggak peka, nggak kelihatan. Di lorong, ada adik kelas yang nyapa, “Kak Rara.”

Aku lewat di sampingnya. Mereka cuma senyum ke aku. Nggak manggil. Di ruang pramuka, ada yang nanya, “Kak Rara ada?”

“Belum,” jawabku.

“Oh, nanti bilangin ya.”

“Iya.”

Kalimat “bilangin ya” itu bikin aku ngerasa kayak penghubung, bukan pusat. Siang hari, aku duduk satu meja sama Rara. Kami ngerjain tugas sekolah. “Nay,” katanya sambil nulis. “Tadi ada yang nanya kamu nggak marah kan aku jadi sering disebut-sebut.”

Aku berhenti nulis. Nengok.

“Nggak,” jawabku cepat. “Kenapa harus marah?”

Dia keliatan lega. “Soalnya aku takut kamu ngerasa aku ngambil peran kamu.”

Aku senyum tipis. “Nggak. Kita kan satu tim.”

“Iya.” Kalimat itu keluar lancar. Dan saat itu, aku beneran percaya sama yang aku bilang. Tapi kepercayaan itu diuji pelan-pelan. Suatu sore, setelah latihan, kami kumpul bentar. Rara berdiri di depan. “Besok aku nggak bisa lama,” katanya. “Ada urusan keluarga. Kalau ada apa-apa, koordinasi ke Faris dulu ya.” Semua mengangguk. Aku berdiri di samping. Nunggu kalau namaku disebut. Tapi nggak. Latihan bubar. Anak-anak pulang. Aku masih beresin alat. “Naya,” kata Rizal sebelum pergi. “Terima kasih ya udah ngurus ini-itu.”

Aku kaget sedikit. “Oh. Iya.”

“Capek pasti.”

“Iya,” jawabku jujur. Dia senyum, lalu pergi. Malam itu, aku pulang dengan badan pegel. Duduk di kamar, aku ngerasa capek yang beda. Capek yang nggak cuma di kaki atau tangan. Capek yang bikin pengin diem lama. Aku buka HP, scroll chat lama sama Rara. Dari dulu, isinya kerjaan. Jarang hal personal. Aku nggak keberatan. Tapi sekarang aku mulai sadar, kami makin sering ngobrol soal tugas, makin jarang soal hal lain. Dan di luar itu, orang-orang mulai lihat Rara dengan kacamata baru. Ketua. Penanggung jawab. Wajah depan. Aku? Wakil. Pendukung. Yang selalu ada kalau dibutuhkan, tapi jarang disebut. Aku nggak nyalahin siapa-siapa. Beneran nggak. Semua ini logis. Struktur organisasi memang begitu. Tapi logis nggak selalu bikin perasaan ikut tenang.

Beberapa hari kemudian, Bu Santi datang ke ruang pramuka pas kami lagi briefing. “Rara,” katanya, “nanti tolong siapkan surat izin orang tua ya.”

“Iya, Bu.”

“Naya,” lanjutnya, “kamu bantu data peserta.”

“Iya, Bu.”

Nada Bu Santi sama ke kami berdua. Tapi entah kenapa, waktu nyebut nama Rara, orang-orang langsung nengok. Waktu nyebut namaku, mereka tetep nunduk nulis. Sore itu, aku pulang paling akhir lagi. Ruang pramuka sepi. Lampu aku matiin satu-satu. Aku berdiri sebentar di tengah ruangan. Aku mikir: kapan terakhir kali orang manggil namaku tanpa embel-embel “wakil”? Kapan terakhir kali aku ditanya pendapat sebelum keputusan diumumin? Aku geleng-geleng sendiri. “Naya, kamu lebay,” kataku dalam hati. Aku naik motor, pulang. Angin sore kena muka. Aku tarik napas panjang.

Malam itu, aku tidur dengan kepala penuh. Nggak ada mimpi aneh. Tapi pas bangun, rasa berat masih ada. Tanda tangan itu cuma coretan di kertas. Tapi efeknya nyebar ke mana-mana. Aku masih ketawa. Masih kerja. Masih bilang “nggak apa-apa.”

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!