Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN DI DESA KECIL.
Pagi di desa kaki bukit itu terasa jauh lebih segar daripada hiruk-pikuk Jakarta. Haniyah berdiri di balkon vila, menghirup aroma tanah basah dan pucuk teh yang baru saja disapa embun. Di belakangnya, Haris dan Rosita sedang berdebat kecil tentang menu sarapan yang paling aman untuk ibu hamil bayi kembar.
"Mas, sudah kubilang aku ingin memetik sendiri sayurannya di kebun bawah," ucap Haniyah sambil menoleh ke arah suaminya.
"Hani, tanahnya masih licin karena hujan semalam. Kalau kamu terpeleset bagaimana?" Haris langsung menghampiri istrinya dengan wajah cemas yang berlebihan.
Rosita pun ikut menimpali sambil membawa segelas susu hangat. "Benar kata Haris. Biar Ibu saja yang turun ke kebun. Kamu duduk di sini, hirup udaranya saja sudah cukup untuk bayi-bayimu."
Haniyah menghela napas, ia merasa seperti tawanan di istananya sendiri. Namun, perdebatan itu terhenti saat ponsel Haris bergetar. Sebuah panggilan internasional dari Paris. Haris segera mengangkatnya dan menyalakan mode pengeras suara.
"Halo, Farel? Ada apa menelepon sepagi ini?" tanya Haris.
"Halo, Bos. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda di desa. Saya dan Ratih baru saja mendarat di bandara. Kami memutuskan untuk memotong masa bulan madu kami," suara Farel terdengar tegas namun ada nada kegembiraan yang tertahan di sana.
Haris terkejut. "Apa? Bukankah tiket kalian masih untuk lima hari lagi? Kenapa pulang secepat ini?"
Kali ini suara Ratih yang menyahut dengan teriakan ceria dari balik telepon. "Haris! Hani! Kalian pikir aku bisa tenang berlama-lama di Paris setelah mendengar kabar Haniyah hamil kembar? Aku ingin segera melihat perut sahabatku! Farel juga tidak bisa fokus karena dia terus memikirkan keamanan kalian di desa."
Haniyah tertawa mendengar suara sahabatnya. "Ratih, kamu berlebihan! Tapi aku senang kalian pulang. Cepatlah ke sini, aku sedang mengidam ingin makan masakanmu."
"Siap, Nyonya Besar! Kami sedang dalam perjalanan menuju desa. Tunggu kami tiga jam lagi!" balas Ratih sebelum menutup telepon.
Tepat tiga jam kemudian, deru mesin mobil jip Farel terdengar mendaki tanjakan vila. Ratih langsung melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna. Ia berlari kecil menghampiri Haniyah yang duduk di kursi rotan depan vila.
"Hani! Ya Tuhan, mana dua keponakanku?" Ratih langsung berlutut dan mengelus perut Haniyah yang sudah mulai tampak membuncit kecil.
Farel turun dengan wajah yang lebih segar, namun lengannya masih dibalut kain kasa tipis sebagai tanda luka yang mulai mengering. Ia memberikan hormat singkat pada Haris dan Rosita.
"Lapor, Bos. Tugas bulan madu selesai lebih awal," ucap Farel dengan gaya formalnya yang kaku namun diiringi senyum tipis.
Haris menepuk bahu asistennya. "Kau ini, perintahku adalah bersenang-senang, bukan malah pulang lebih cepat. Tapi jujur saja, aku butuh bantuanmu di sini. Istriku ini mulai membuatku pusing dengan keinginan-keinginannya yang ajaib."
"Keinginan apa, Bos?" tanya Farel heran.
"Dia ingin memanjat pohon jambu di belakang vila karena katanya jambu itu terlihat sangat manis kalau dipetik langsung dari dahan paling atas," keluh Haris sambil melirik Haniyah.
Ratih tertawa terbahak-bahak. "Hani, kamu benar-benar luar biasa! Tapi jangan khawatir, biarkan suami-suami kaku kita ini yang memanjat. Farel, cepat naik ke pohon jambu itu untuk Haniyah!"
Farel menatap pohon jambu yang cukup tinggi itu dengan wajah datar. "Apakah ini termasuk dalam tugas pengawalan, Nona? Eh, maksudku, Istriku?"
Ratih mendekati Farel dan merapikan kerah bajunya dengan gerakan manis. "Tentu saja, Suamiku sayang. Anggap saja ini latihan kelenturan setelah seminggu kita hanya berdiam diri di kamar hotel."
Wajah Farel mendadak memerah mendengar sindiran istrinya di depan bos dan orang tua angkatnya. Tanpa banyak bicara, ia segera melepas jaketnya dan mulai memanjat pohon jambu itu dengan lincah, seolah-olah ia sedang melakukan misi penyusupan rahasia.
Sore harinya, suasana di vila menjadi sangat hangat. Farel dan Haris duduk di teras sambil membersihkan jambu hasil petikan tadi, sementara Ratih dan Rosita sedang asyik memasak sayur lodeh di dapur. Haniyah merasa sangat bahagia melihat pemandangan di depannya yang terasa hangat ditengah kebersamaan mereka.
"Mas, terima kasih ya sudah membawaku ke sini," bisik Haniyah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Haris.
"Apapun untukmu dan anak-anak kita, Hani. Aku hanya ingin kamu bahagia," jawab Haris sambil mencium pucuk kepala istrinya.
Di sisi lain, Ratih keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hangat. Ia melihat Farel sedang mengamati area sekitar vila dengan tatapan waspada, seolah-olah anak buah Juragan Darwis bisa muncul kapan saja dari balik semak-semak.
"Farel, berhentilah bersikap waspada. Nikmati tehmu," panggil Ratih.
Farel menoleh dan menerima cangkir teh itu. "Kebiasaan lama sulit hilang, Ratih. Apalagi sekarang aku punya dua hal yang harus kujaga; keluarga Bos Haris dan dirimu."
Ratih tersenyum dan duduk di samping suaminya. "Kau tahu, Farel? Aku sangat bahagia. Meskipun pernikahan kita kilat, karena berawal dari kejadian yang tidak terduga, aku merasa inilah takdir terbaikku."
Farel meletakkan cangkir tehnya dan meraih tangan Ratih. Ia menggenggamnya dengan hangat, tidak lagi sekaku dulu. "Aku juga, Ratih. Maaf kalau aku belum bisa menjadi suami yang seromantis pria-pria di Paris itu. Tapi aku berjanji, setiap langkahku akan selalu untuk melindungimu."
Ratih mengecup pipi Farel dengan cepat, membuat pria itu kembali tertegun. "Tidak butuh kata-kata puitis, Farel. Pria yang rela memanjat pohon jambu demi sahabat istrinya itu sudah jauh lebih romantis di mataku."
Tawa pun pecah di antara mereka berempat. Di desa yang sunyi itu, cinta dan persahabatan terjalin semakin kuat. Haris dan Haniyah yang menanti kehadiran sang buah hati, serta Farel dan Ratih yang baru memulai lembaran baru mereka, semuanya merasa bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang tempat mewah atau pesta megah, melainkan tentang siapa yang berdiri di samping kita saat badai menerjang dan saat pelangi akhirnya datang.
Malam mulai turun menyelimuti vila, namun cahaya di dalam rumah itu tetap terang benderang oleh tawa dan harapan. Dua detak jantung baru di rahim Haniyah seolah menjadi simbol bahwa kehidupan akan selalu memberikan kejutan yang indah bagi mereka yang sabar dan tulus dalam mencintai.