NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : PERTEMUAN YANG DIANTARIKAN

Sinar matahari pagi sudah mulai menyinari setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia menyelesaikan cucian terakhir dari ruangan perawatan anak-anak. Udara masih segar dengan sedikit embun yang menempel pada permukaan bak cuci besar yang terbuat dari beton bertulang. Dia duduk bersandar pada tembok bata yang sudah lapuk akibat paparan cuaca selama bertahun-tahun, tangan kirinya masih basah dan berlendir deterjen setelah menghabiskan satu jam penuh mencuci sepuluh karung pakaian pasien yang dikumpulkan dari berbagai ruangan rawat inap. Di mejanya yang hanya terbuat dari papan kayu bekas yang disambung-sambungkan, sebuah bingkai foto kecil berbentuk hati terpampang jelas – tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik berwarna biru muda, wajah mereka masih kusam akibat efek kamera jadul yang digunakan oleh teman kerja suaminya saat lahirnya delapan tahun silam.

Setiap garis pada wajah bayi itu tertanam jelas di ingatan Lia. Mal yang terletak di sisi kiri foto memiliki lekukan kecil di bibir bawahnya yang sama persis dengan Lia, sementara Rini di sisi kanan memiliki alis yang sedikit miring ke atas seperti ayahnya. Namun yang paling membuat hatinya terasa sakit adalah bayi di tengah – Adit – yang memiliki bintik merah kecil berbentuk hati di bagian punggung kanannya, sebuah ciri khas yang tidak akan pernah dia lupakan meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Foto itu ditempelkan pada bingkai kayu yang dia buat sendiri dari potongan kayu bekas yang dia temukan di belakang rumah sakit, dilapisi dengan kain flanel merah muda yang menjadi hadiah dari Mal saat ulang tahunnya yang ke-7.

Bayangan itu selalu menghiasi malam-malam Lia sejak Supriyanto meninggal dalam kecelakaan konstruksi, tepat seminggu sebelum ia melahirkan kembar tiga. Saat itu, ia hanya memiliki cukup uang untuk biaya persalinan dasar dan obat-obatan sederhana yang diberikan oleh rumah sakit. Tanpa keluarga yang bisa membantu – orang tuanya sudah meninggal jauh di Dusun Wonosari, Kabupaten Jombang dan saudara-saudaranya sibuk dengan kehidupannya masing-masing – Lia terpaksa tinggal di kontrakan kecil milik Bu Warsih, seorang ibu tunggal yang juga bekerja sebagai penjaga malam di rumah sakit tersebut.

“Siang sudah, Lia. Udara mulai panas nih, kamu istirahat sebentar saja,” ucap Pak Joko, kepala bagian cuci yang telah mengenalnya selama lima tahun, sambil membawa segelas air putih hangat yang diberikan oleh Bu Siti dari bagian makanan rumah sakit. “Kamu sudah menyelesaikan semua pakaian dari ruangan perawatan intensif dan anak-anak. Istirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan sore – ada pesanan cuci dari ruangan dokter yang harus diselesaikan sebelum jam empat sore.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima gelas air putih hangat dengan rasa terima kasih yang mendalam. Dia menyimpan bingkai foto kecilnya yang selalu ada di mejanya – sebuah kenangan yang tak akan pernah hilang meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Dia merenungkan keputusan yang paling sulit dalam hidupnya – ketika dia terpaksa menyerahkan Adit kepada keluarga yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik, meskipun hati nuraninya terus menerus merasa sakit dan kosong.

“Kamu harus kuat, Lia,” ucap Bu Warsih yang sudah datang membawa makanan hangat untuk anak-anak. “Anak-anak sudah mulai mengerti keadaan kita, mereka tidak akan pernah menyalahkanmu karena sudah melihat betapa kerasnya kamu bekerja setiap hari hanya untuk mereka.”

Lia mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia melihat ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan saat matahari mulai terbenam. Di kejauhan, dia bisa melihat sekelompok anak-anak dari sekolah dasar dekat desa sedang bermain dengan riang di halaman depan rumah sakit – suara tawa mereka seperti musik yang selalu menghangatkan hatinya yang sering merasa kesepian.

Di dalam tas kerja yang selalu dia bawa kemana-mana, terdapat buku catatan kecil yang dia gunakan untuk mencatat setiap informasi tentang anak-anak yang mungkin memiliki kondisi serupa dengan Adit. Setiap halaman berisi nama, usia, dan ciri khas yang mungkin bisa membantunya menemukan jejak anaknya yang hilang. Dia telah mengumpulkan ribuan nama selama bertahun-tahun bekerja di rumah sakit, namun tidak ada satupun yang memiliki ciri khas yang sama dengan Adit.

“Saya akan terus mencari sampai menemukan dia, Bu Warsih,” ucap Lia dengan suara penuh tekad. “Aku tidak akan pernah berhenti mencari sampai bisa memeluknya lagi dan memberinya cinta yang sudah kutinggalkan dulu karena keadaan yang tidak menguntungkan.”

Bu Warsih mengangguk dengan pengertian yang dalam. Dia sudah melihat betapa besarnya cinta yang Lia miliki pada anak-anaknya, bahkan pada anak yang sudah hilang selama bertahun-tahun. “Kamu adalah ibu yang hebat, Lia,” ucapnya dengan suara hangat seperti ayah bagi Lia yang sudah lama tidak merasakan kehangatan keluarga. “Cinta yang kamu berikan pada anak-anakmu tidak akan pernah hilang, bahkan jika mereka berada di tempat yang jauh dari sini.”

Lia mengambil foto kecil itu dengan hati-hati, menatap wajah bayi yang sudah tidak bisa dia peluk selama bertahun-tahun. Dia merasakan kehangatan yang dulu ada di dalam pelukan suaminya yang sudah tiada, serta harapan yang selalu ada dalam hatinya untuk bisa bersama anaknya lagi suatu hari nanti.

Di sudut halaman belakang rumah sakit, pohon jambu yang dia tanam sendiri dari potongan kayu bekas sudah tumbuh besar dengan buah yang manis setiap tahunnya. Setiap buah yang jatuh ke tanah menjadi makanan bagi anak-anak di sekitar kontrakan, sebuah kenangan kecil yang selalu menghubungkannya dengan masa lalu yang penuh dengan cinta dan kehilangan yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!