“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 - CH 7 : SITUASI MENDESAK
"Mang, oper gigi satu! Oper sekarang atau kita mundur ke liang lahat!"
Teriakan Bara menggelegar, memantul di dinding kabin mobil Daihatsu Espass yang sempit. Suaranya terdengar lebih putus asa daripada teriakan komandan perang yang kehabisan peluru. Di pelukannya, sebuah kotak kue berukuran jumbo berisi Black Forest tiga tingkat itu terguncang hebat, seolah-olah di dalamnya ada gempa tektonik skala kecil.
KREEEKKK!
Suara gir transmisi menjerit pilu, bunyi gesekan logam tua yang dipaksa bekerja di luar batas kewajaran. Mesin 1300cc yang letaknya tepat di bawah bokong mereka menderu panas, mengirimkan getaran hebat yang membuat gigi Lintang beradu. Bau kampas kopling terbakar mulai menyeruak, aroma sangit yang menusuk hidung, bercampur dengan bau parfum jeruk murah yang tergantung di spion tengah.
"Sabar, Den! Si Putih lagi narik napas! Jangan dibentak, nanti dia ngambek malah mati total!" balas Mang Ojak. Wajah pria tua itu sudah merah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat dia bergulat dengan setir yang beratnya minta ampun karena power steering-nya sudah lama tewas. Kakinya gemetar menahan pedal kopling dan gas secara bersamaan dengan teknik 'setengah kopling' tingkat dewa yang hanya bisa dikuasai supir angkot veteran.
Mereka sekarang terjebak di tanjakan Jalan Melati.
Bukan sekadar tanjakan biasa. Ini adalah tanjakan legendaris di perbatasan kota yang kemiringannya mungkin mencapai 45 derajat. Di sisi kiri ada selokan beton sedalam dua meter yang airnya hitam pekat, siap menelan apa saja yang tergelincir. Di sisi kanan, tembok beton rumah orang kaya yang dilapisi kawat berduri. Dan tepat di tengah-tengah tanjakan jahanam itu, ada sebuah "polisi tidur" raksasa yang tingginya tidak masuk akal.
"Mang, jangan berhenti! Kalau berhenti di sini, rem tangan nggak bakal kuat nahan!" seru Bara lagi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai merembes di pelipisnya.
Bara tidak peduli pada nyawanya sendiri. Yang dia pedulikan adalah kotak di pangkuannya. Di dalam sana, ada reputasi Bara's Kitchen, ada uang bayaran tiga kali lipat yang akan dipakai membayar tagihan listrik ruko, dan ada harga dirinya sebagai koki.
"Lintang! Pegangin sisi kiri kotaknya! Jangan main HP mulu!" bentak Bara tanpa menoleh.
Lintang yang duduk terjepit di pojokan, wajahnya sudah pucat pasi seputih tepung terigu. HP-nya tergeletak di paha, menampilkan layar rekaman video yang bergoyang-goyang. "Gue nggak main HP, Mas! Gue lagi rekam wasiat kalau-kalau kita gelinding ke bawah!"
DEG.
Roda depan Si Putih menghantam polisi tidur itu.
Mobil tua itu terhentak ke atas, lalu jatuh lagi dengan bunyi gedebuk yang menyakitkan. Suspensi mobil yang sudah mati tidak bisa meredam apa-apa. Guncangan itu merambat langsung ke tulang ekor mereka, dan yang paling parah, ke kotak kue.
"MAS! KUENYA!" pekik Lintang histeris.
Bara merasakan pergeseran fatal di dalam kotak. Hukum fisika sedang bekerja melawan mereka. Gravitasi menarik kue itu ke bawah, sementara inersia mendorongnya ke belakang. Dia bisa merasakan sensasi whipped cream yang lembut itu mulai menyerah.
"Kue tingkat tiganya... miring, Mang! Miring ke kiri lima belas derajat!" suara Bara tercekat. Matanya melotot menembus celah kardus. Di dalam bayangannya, dia bisa melihat konstruksi sponge cake yang dia susun dengan presisi arsitek itu mulai goyah seperti Menara Pisa. "Mang, pelan-pelan! Jangan gasak lobang lagi!"
"Susah, Den! Jalanannya kayak muka jerawatan, lobang semua!" Mang Ojak meraung, menginjak gas lebih dalam agar mobil tidak melorot mundur.
Asap hitam mengepul dari knalpot, menyelimuti pengendara motor di belakang mereka yang membunyikan klakson dengan brutal.
Setelah drama sepuluh menit yang terasa seperti satu abad, akhirnya Si Putih berhasil merangkak naik ke puncak tanjakan. Mobil itu meluncur landai ke jalan datar, lalu berbelok masuk ke sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Breeeeet... bup bup bup... hisss.
Mang Ojak mematikan mesin. Si Putih langsung batuk-batuk, bergetar sekali lagi, lalu mati dengan tenang. Uap panas terlihat mengepul tipis dari celah kap mesin di bawah jok penumpang.
"Sampai, Den..." Mang Ojak menyandarkan punggungnya yang basah kuyup. "Alhamdulillah, malaikat maut belum jadi jemput."
Bara tidak menjawab. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dengan tangan yang masih gemetar sisa menahan beban, dia membuka tutup kotak kue itu perlahan. Sangat pelan. Seperti penjinak bom yang sedang memotong kabel merah.
"Gimana, Mas?" tanya Lintang, ikut melongok penasaran.
Bara menahan napas.
Kondisinya... kritis. Kue Black Forest tiga tingkat itu masih berdiri. Tapi, strukturnya sudah tidak tegak lurus lagi. Tingkat paling atas miring sekitar sepuluh derajat ke kiri. Ceri merah yang harusnya ada di puncak krim rosette sudah tergelincir jatuh ke tingkat kedua, meninggalkan jejak merah panjang di atas krim putih yang suci.
"Masih bisa diselamatin," bisik Bara, suaranya parau. Otaknya langsung masuk mode analisis. "Lintang, ambil palet kecil di tas emergency. Kita harus geser tingkat atasnya dikit, terus tutupin bekas geserannya pake sisa krim cokelat."
"Tapi Mas, liat tuh!" Lintang menunjuk ke arah rumah mewah di depan mereka.
Sebuah tenda dekorasi bernuansa emas dan putih berdiri megah di halaman. Karpet merah tergelar dari pintu masuk sampai ke teras. Di sana, tamu-tamu undangan yang wangi dan rapi sudah mulai berdatangan. Mobil-mobil Alphard dan Pajero berjejer rapi, membuat Si Putih terlihat seperti rongsokan besi tua yang nyasar ke pameran mobil mewah.
Papan bunga besar berdiri tegak di samping gerbang: “Happy Engagement, Adrian & Sarah”.
"Kita kayak gembel masuk istana, Mas," gumam Lintang, sadar diri dengan penampilannya: kaos oversize bergambar anime, celana kargo belel, dan rambut pink yang acak-acakan. Bara lebih parah, kaos flanelnya ada noda tepung di dada, dan celana jinsnya bau bensin.
"Bodo amat. Kita kurir VIP hari ini. Ayo turun," perintah Bara.
Mereka bertiga turun. Bara membawa kue dengan hati-hati, Lintang membawa tas peralatan "bedah kue", dan Mang Ojak membawa tampang pasrah sambil merapikan kerah kemeja batiknya yang sudah luntur.
Baru tiga langkah mereka masuk halaman, seorang pria muda berjas biru navy berlari menghampiri mereka. Wajahnya ganteng, klimis, tapi matanya memancarkan kepanikan luar biasa. Itu Adrian, si pemesan.
"Lama banget sih! Kalian dari Bara's Kitchen kan?!" semprot Adrian tanpa basa-basi. Napasnya memburu. "Acaranya udah mau mulai! Sarah udah mau keluar dari kamar rias! Mana kuenya?!"
"Macet di tanjakan, Mas. Mobil kami hampir meledak," jawab Bara datar, malas berdebat. "Ini kuenya. Ada sedikit insiden miring, tapi saya bisa benerin dalam dua menit kalau ada meja kosong."
"Nggak ada waktu benerin! Taruh langsung di meja utama! Sekarang!" Adrian mendorong punggung Bara, memaksanya berjalan cepat ke tengah pesta.
Bara terpaksa menurut. Dia meletakkan kotak besar itu di meja bundar yang menjadi pusat perhatian, tepat di bawah chandelier kristal. Tamu-tamu undangan seperti ibu-ibu sosialita dengan tas Hermes dan bapak-bapak pejabat mulai menoleh, menatap heran pada tiga orang asing yang penampilannya "kumuh" ini.
"Buka, Mas! Biar fotografer bisa cek lighting!" perintah Adrian.
Bara membuka kotak itu sepenuhnya. Dia mengangkat kue Black Forest itu dan menaruhnya di atas piring saji perak yang sudah disediakan.
Miringnya kue itu memang terlihat jelas kalau diperhatikan, tapi untungnya dekorasi cokelat serut yang melimpah agak menyamarkannya. Bara sedikit lega. Setidaknya kuenya tidak hancur lebur.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan dua detik.
"Loh?" Adrian tiba-tiba mematung. Matanya terpaku pada tulisan di atas kue.
Wajah Adrian yang tadinya panik karena waktu, kini berubah menjadi pucat pasi seolah darahnya disedot habis oleh vampir. Matanya melotot horor. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.
Bara mengerutkan kening. "Kenapa, Mas? Miring dikit doang, kan? Nanti difoto dari angle kanan aja biar nggak kel—"
Kalimat Bara terputus saat matanya sendiri membaca tulisan di atas kue itu. Tulisan yang dia buat dengan sangat hati-hati menggunakan piping bag cokelat cair tadi subuh, saat matanya masih 5 watt dan otaknya setengah sadar.
Di atas hamparan krim putih itu, tertulis dengan font cursive yang elegan:
"Happy Engagement, Adrian & MONA"
Hening. Dunia seakan berhenti berputar bagi Bara. Dia menoleh pelan ke arah papan bunga di gerbang yang masih terlihat dari situ. Namanya jelas: SARAH.
Bara menoleh ke Adrian. Adrian menoleh ke Bara.
"Mas..." bisik Bara, suaranya mengandung ancaman pembunuhan. "Kenapa di chat WA tadi subuh... lo ngetik nama Mona?"
Adrian gemetar hebat. Kakinya lemas sampai dia harus berpegangan pada tepi meja. "I-itu... itu... sori Mas... tadi subuh gue lagi... lagi chatting sama Mona pas order kue ke lo... gue... gue typo..."
"Typo?" Bara menaikkan alisnya tinggi-tinggi. "Lo mau bilang lo 'typo' nulis nama tunangan lo sendiri? Mona itu siapa? Sepupu lo?"
Adrian menggeleng cepat, keringat dingin bercucuran merusak makeup tipis di wajahnya. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Bara, berbisik dengan nada putus asa. "Mona itu... mantan gue. Eh, bukan mantan. Masih... ya gitu lah. Selingkuhan."
DUARRR!
Rasanya ada petir menyambar tepat di ulu hati Bara. Di sampingnya, Lintang yang mendengar bisikan itu langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya membulat sempurna. "Anjiiir... drama Indosiar real life..." desis Lintang.
"Mas Bara..." Adrian mencengkeram lengan Bara kuat-kuat, kukunya hampir menancap di kulit. "Tolong gue. Demi Tuhan, tolong gue. Sarah itu anak Jenderal. Bapaknya ada di situ, yang pake batik cokelat dan kumis tebel itu. Kalau dia liat ada nama cewek lain di kue lamaran anaknya... gue mati, Mas. Gue beneran mati. Dan ruko lo mungkin bakal diratain pake tank."
Bara menepis tangan Adrian kasar. Amarahnya meluap. Bukan karena dia peduli pada nasib percintaan Adrian yang busuk, tapi karena dia merasa dijebak. Dia benci ketidakprofesionalan. Dan sekarang, dia dipaksa menjadi kaki tangan dalam sebuah kebohongan besar.
"Gue nggak peduli lo mau mati atau nggak," desis Bara tajam. "Masalahnya, ini cokelat beku. Kalau gue kerok, kuenya cacat. Reputasi dapur gue taruhannya."
"ADRIAN!"
Sebuah suara wanita yang lembut namun tegas terdengar dari arah tangga utama rumah. Semua orang menoleh. Sarah, sang calon pengantin, sedang menuruni tangga. Dia terlihat sangat cantik dengan kebaya champagne penuh payet. Dia tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia menatap Adrian... dan kue di depannya.
"Itu kuenya udah dateng? Wah, Black Forest kesukaan kamu ya?" seru Sarah riang sambil berjalan mendekat.
Jarak Sarah ke meja kue tinggal sepuluh meter.
Adrian memucat, seakan siap pingsan saat itu juga. "Mas Bara... please..." rengeknya nir-harga diri. "Berapa aja. Sebut harga lo. Gue bayar cash sekarang."
Bara menatap Adrian dengan jijik, lalu menatap Lintang dan Mang Ojak yang sudah siap kabur. Lalu dia menatap kue itu lagi. Nama MONA tercetak jelas, seolah mengejeknya.
Otak Bara berputar cepat. Sisi idealisnya ingin membiarkan Adrian hancur. Tapi sisi realistisnya sisi yang butuh uang buat bayar tunggakan listrik dan gaji Mang Ojak berteriak lebih kencang. Plus, dia nggak mau berurusan sama bapak-bapak berkumis tebal yang pinggangnya menggembung (kemungkinan bawa pistol) di pojok sana.
Bara menghela napas panjang, pasrah pada nasib buruknya hari ini.
"Mang Ojak, korek api! Sekarang!" perintah Bara setengah berteriak. "Lintang, siapin whipped cream sisa di tas! Jangan banyak tanya, kerjain!"
"D-den? Mau ngapain?" Mang Ojak bingung sambil merogoh saku celananya dengan panik.
"Operasi plastik," jawab Bara dingin sambil menyambar pisau ukir kecil dari saku apronnya. "Gue bakal ubah nama selingkuhan ini jadi nama istri sah dalam waktu kurang dari satu menit. Atau kita semua mati konyol di sini."
Sarah tinggal lima meter lagi. Bara menyalakan korek. Api biru menjilat ujung pisau. Permainan dimulai.