Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Kedua
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Siska duduk di balkon kamar rumah orang tuanya.
Angin berhembus pelan.
Tapi isi kepalanya?
Ribut banget.
Pertemuan dengan Kevin beberapa hari lalu masih terulang jelas.
Kevin yang sekarang…
Bukan lagi lelaki kurus dengan kaos lusuh dan mata penuh lelah.
Sekarang dia berdiri tegap.
Rapi.
Tenang.
Aura dinginnya bukan karena marah.
Tapi karena dia sudah belajar mengendalikan semuanya.
Dan justru itu—
Yang bikin dada Siska makin sesak.
“Kenapa sih hidup gue harus muter kayak gini…” gumamnya pelan.
Bayangan Cantika muncul.
Anak kecil itu sekarang sudah besar.
Cantik.
Cerdas.
Dan terlihat bahagia.
Tapi waktu mata Cantika menatapnya kemarin…
Ada jarak.
Ada canggung.
Dan Siska tahu—
Itu salahnya.
Di sisi lain kota.
Kevin duduk di ruang kerja rumahnya.
Lampu temaram.
Laptop terbuka.
Tapi pikirannya jauh.
Cantika tadi sebelum tidur bertanya pelan,
“Papa… tadi itu beneran Mama ya?”
Kevin diam cukup lama sebelum menjawab.
“Iya, Nak.”
Cantika mengernyit.
“Kenapa Mama nggak pernah datang dulu?”
Pertanyaan polos.
Tapi rasanya seperti pisau kecil yang menekan dada.
“Karena Mama lagi nyari jalan hidupnya sendiri.”
“Terus sekarang Mama mau tinggal sama kita?”
Kevin tersenyum tipis.
“Papa belum tahu.”
Dan memang…
Dia belum tahu.
Dia nggak benci.
Tapi dia juga nggak lupa.
Bukan cinta.
Bukan juga luka yang mentah.
Entah apa.
Beberapa hari kemudian—
Orang tua Siska datang ke rumah.
Arman Pratama menyambut mereka di ruang tamu besar.
Kevin turun beberapa menit kemudian.
Wajahnya tenang.
Tapi jantungnya berisik.
Siska ikut datang.
Matanya sempat bertemu Kevin.
Lalu cepat-cepat menunduk.
Ayah Siska membuka pembicaraan.
“Kevin… kami datang bukan buat ngungkit masa lalu.”
Kevin mengangguk.
“Silakan, Pak.”
Ibu Siska menahan tangis.
“Kami salah dulu. Terlalu keras. Terlalu menilai kamu dari keadaan.”
Kevin terdiam.
Ia nggak pernah membayangkan kalimat itu akan keluar.
Ayah Siska melanjutkan pelan,
“Tapi yang terjadi setelahnya… juga bukan sepenuhnya salah kami.”
Semua mengerti maksudnya.
Siska.
Tangannya menggenggam ujung baju erat-erat.
“Aku salah, Kev.”
Kevin menatapnya.
“Aku ninggalin kamu waktu kamu lagi berjuang. Aku ninggalin anak kita. Aku milih hidup yang kelihatannya gampang.”
Napasnya bergetar.
“Ternyata hidup nggak pernah segampang itu.”
Hening.
Kevin berdiri. Berjalan ke jendela.
“Aku nggak pernah benci kamu, Sis,” katanya pelan.
“Tapi aku juga nggak pernah lupa.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Siska menangis pelan.
“Aku nggak minta balikan. Aku cuma pengen kesempatan jadi ibu yang bener buat Cantika.”
Itu yang paling jujur.
Kevin menoleh.
“Cantika butuh ibu. Tapi dia juga butuh kepastian. Aku nggak mau dia terluka lagi.”
“Aku nggak akan pergi lagi,” jawab Siska cepat.
“Kalau kamu izinin… aku mau mulai dari nol.”
Arman yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Kevin,” suaranya tenang, “hidup bukan cuma soal benar atau salah. Tapi soal siapa yang mau belajar.”
Kevin menatap ayahnya.
“Papa dulu kehilangan kamu bertahun-tahun. Kalau Papa berhenti cari karena marah, mungkin kita nggak duduk bareng sekarang.”
Kevin terdiam lama.
Beberapa minggu setelah itu—
Siska mulai datang rutin.
Bukan sebagai istri.
Bukan sebagai penghuni rumah.
Tapi sebagai seseorang yang ingin menebus.
Ia menjemput Cantika.
Mengantar les.
Makan es krim bareng.
Duduk di taman sambil mendengar cerita kecil.
Awalnya Cantika masih canggung.
Tapi anak kecil nggak menyimpan dendam lama.
Suatu sore—
Kevin berdiri dari kejauhan.
Ia mendengar Cantika berkata,
“Mama… nanti ulang tahunku Mama datang kan?”
Siska langsung memeluknya.
“Datang. Mama janji.”
Kevin menunduk.
Hangat.
Tapi berat.
Hubungan Kevin dan Siska mulai mencair.
Mereka ngobrol di ruang tamu setelah Cantika tidur.
Tanpa saling menyalahkan.
Tanpa nada tinggi.
Hanya dua orang dewasa yang pernah salah.
“Kev…” Siska berkata suatu malam.
“Kamu pernah bahagia nggak… waktu sama aku dulu?”
Kevin tersenyum kecil.
“Pernah. Walau susah, tapi pernah.”
“Aku juga bahagia,” Siska mengaku.
“Cuma aku nggak kuat waktu itu.”
Kevin mengangguk.
“Aku juga terlalu sibuk berjuang sampai lupa kamu capek.”
Siska tersenyum pahit.
“Kita sama-sama salah ya.”
“Iya.”
Dan mungkin—
Itulah awal kedewasaan.
Malam lain.
Kevin duduk berdua dengan Arman di balkon.
“Kamu masih cinta sama dia?” tanya Arman langsung.
Kevin diam lama.
“Aku nggak tahu itu cinta atau bukan,” jawabnya akhirnya.
“Tapi aku tahu aku nggak ingin dia menderita lagi.”
Arman tersenyum tipis.
“Kadang cinta itu bukan soal jantung berdebar. Tapi soal siapa yang tetap kita pedulikan meski pernah menyakiti.”
Kevin menatap langit.
Mungkin ini kesempatan kedua.
Atau mungkin—
Ini cuma bab baru yang belum jelas arahnya.
Di kamar tamu.
Siska menatap langit-langit.
Ia nggak tahu apakah pantas dapat kesempatan lagi.
Tapi untuk pertama kalinya—
Ia nggak ingin lari.
Ia ingin tinggal.
Menghadapi.
Memperbaiki.
Dan kalau takdir mengizinkan…
Suatu hari nanti, ia kembali.
Bukan sebagai tamu.
Tapi sebagai keluarga.
Di kamar sebelah—
Cantika tidur lelap memeluk bonekanya.
Anak kecil itu nggak tahu rumitnya dunia orang dewasa.
Ia cuma tahu satu hal.
Mama dan Papa ada di dekatnya sekarang.
Dan untuk sementara—
Itu sudah cukup.
Bab selanjutnya mungkin belum tentang bahagia.
Tapi setidaknya…
Kali ini,
Mereka tidak berjalan sendiri.