NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar emas

​Sore itu, suasana desa yang tenang terusik oleh kedatangan sebuah mobil bak terbuka yang membawa tumpukan barang. Paman Broto, Bibi Sumi, dan Siska turun dari mobil dengan wajah yang berseri-seri, seolah-olah mereka baru saja memenangkan harta karun dari dasar bumi. Orang-orang desa mengintip dari balik tirai jendela mereka, berbisik tentang bagaimana keluarga yang kemarin nyaris dibakar rumahnya oleh rentenir, kini pulang membawa televisi layar datar, lemari kayu jati yang mengkilap, hingga tumpukan kardus berisi pakaian dan peralatan rumah tangga yang mahal.

​Bibi Sumi turun sambil menjinjing beberapa kantong plastik besar. Salah satu kantong itu mengeluarkan aroma yang sangat tajam dan menyengat—aroma bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati, kantil, dan kenanga yang masih segar. Ia sengaja membeli sepaket bunga setaman kualitas terbaik dari pasar besar di kota, lengkap dengan minyak wangi srimpi yang harganya tidak murah.

​"Ingat kata Mbah Garmo, Pak," bisik Sumi pada suaminya saat mereka menurunkan barang-barang. "Mahluk ghaib itu suka wewangian. Semakin wangi Mirasih, semakin senang Ki Ageng Gumboro. Kalau dia senang, maharnya bisa lebih besar lagi minggu depan."

​Broto mengangguk sambil menghisap rokok filternya yang mahal—bukan lagi kretek murahan. "Iya, Bu. Urus anak itu baik-baik. Jangan sampai dia terlihat kuyu. Dia itu kunci kekayaan kita sekarang."

​Setelah semua barang tertata di ruang tengah yang kini tampak mewah namun terasa asing, Bibi Sumi melangkah menuju dapur. Tujuannya adalah memastikan Mirasih sudah memakan hidangan ayam goreng yang ia siapkan tadi siang. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan meja makan.

​Piring berisi nasi pulen dan ayam goreng itu masih utuh. Posisinya tidak berubah sedikit pun sejak ia meninggalkannya tadi siang. Nasi itu sudah mulai mengeras, dan lalat mulai mengerubungi sambal yang sudah layu.

​Wajah Bibi Sumi yang tadinya ceria karena habis berbelanja, seketika berubah merah padam. Matanya melotot menatap piring yang terabaikan itu. Baginya, penolakan Mirasih terhadap makanan enak itu adalah sebuah penghinaan besar terhadap "kemurahan hati" yang ia tunjukkan.

​"Mirasih!" teriak Bibi Sumi, suaranya melengking hingga ke langit-langit rumah.

​Ia berjalan dengan langkah kasar menuju gudang belakang. BRAK! Pintu gudang itu ditendang hingga membentur dinding kayu. Di dalam, Mirasih masih meringkuk di atas dipannya, matanya sembab dan tubuhnya tampak sangat lemah.

​"Heh! Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Bibi Sumi sambil menunjuk-nunjuk wajah Mirasih. "Kamu pikir susah payah aku memasak itu untuk siapa? Aku sudah belikan kamu ayam, aku buatkan kamu susu, tapi sedikit pun tidak kamu sentuh! Kamu mau mati kelaparan, hah?"

​Mirasih tidak menjawab. Ia hanya menatap bibinya dengan pandangan kosong yang sangat dalam. Kehampaan di matanya justru semakin menyulut amarah Sumi.

​"Jawab, Mirasih! Kamu mau pamer kalau kamu itu suci? Kamu mau sok jadi pahlawan dengan tidak makan hasil pemberian kami?" Bibi Sumi mendekat, tangannya sudah terangkat tinggi di udara, siap untuk mendaratkan tamparan keras ke pipi Mirasih yang masih lebam. "Biar kupikirkan kembali cara mengajarimu sopan santun!"

​Mirasih hanya memejamkan mata, menunggu rasa sakit itu datang. Baginya, pukulan fisik jauh lebih ringan daripada rasa perih di batinnya. Namun, tepat sebelum tangan Sumi mengenai wajah Mirasih, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Bibi Sumi dengan kuat.

​"Jangan, Bu! Berhenti!" suara Paman Broto terdengar tegas.

​Bibi Sumi menoleh dengan napas terengah-engah. "Tapi Pak, anak ini melunjak! Dia tidak mau makan! Dia mau merusak rencana kita dengan membiarkan dirinya sakit!"

​Paman Broto menarik istrinya menjauh dari dipan Mirasih. Ia menatap Mirasih sejenak, namun bukan dengan tatapan kasihan, melainkan dengan tatapan seorang pedagang yang sedang memeriksa barang dagangannya yang sedikit cacat.

​"Sudah, Bu. Jangan pakai kekerasan lagi," ucap Broto pelan namun menekan. "Mirasih ini aset kita. Kalau wajahnya makin babak belur karena tanganmu, Ki Ageng bisa marah. Kalau kulitnya rusak atau dia sakit-sakitan, mahluk itu bisa saja berhenti memberi kita emas. Kamu mau kita kembali miskin dan dikejar rentenir lagi?"

​Mendengar kata "miskin", kemarahan Bibi Sumi langsung mereda, digantikan oleh ketakutan yang egois. Ia melepaskan tangannya dan mendengus kesal.

​"Tapi dia harus makan, Pak! Lihat badannya, sudah seperti tulang dibalut kulit," keluh Sumi.

​Broto mendekati Mirasih, lalu berlutut di samping dipan. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar membujuk, meskipun isinya adalah racun. "Mirasih, Nduk... Dengar Paman. Paman tahu ini berat buatmu. Tapi pikirkanlah, kalau kamu sakit atau mati, siapa yang akan mendoakan orang tuamu? Kamu harus hidup, Mir. Makanlah sedikit saja. Paman janji, lusa Paman akan belikan kamu apa pun yang kamu mau."

​Mirasih masih terdiam. Ia merasa muak mendengar nama orang tuanya disebut dari mulut orang yang telah menjualnya.

​Paman Broto berdiri dan menarik istrinya keluar dari gudang. "Biarkan dia sendiri dulu. Nanti kalau perutnya benar-benar lapar, dia juga akan makan sendiri. Yang penting sekarang, kamu siapkan air mandi bunganya. Mbah Garmo bilang, meskipun bukan malam Selasa, dia harus tetap mandi bunga setiap sore supaya bau 'manusia'-nya berkurang dan aroma yang disukai jin tetap menempel."

​Bibi Sumi mendengus, namun ia tetap melangkah menuju dapur untuk menyiapkan ritual mandi itu. Ia mengambil sepaket bunga setaman yang baru dibelinya. Ia mulai memetik kelopak mawar merah dan putih, mencampurnya dengan irisan daun pandan dan bunga kantil yang aromanya sangat mistis.

​"Ini bunga mahal, Mir!" teriak Bibi Sumi dari arah dapur agar terdengar sampai ke gudang. "Cepat keluar! Mandi! Biar badanmu wangi melati, jangan bau keringat terus. Kamu itu sekarang istri penguasa hutan, harus terlihat dan berbau seperti permaisuri, bukan seperti pembantu!"

​Mirasih mendengar suara air yang diguyur ke dalam bak mandi, disusul aroma bunga setaman yang mulai menyebar ke seluruh rumah. Bau itu bagi orang lain mungkin terasa harum, namun bagi Mirasih, itu adalah bau kematian. Itu adalah bau yang mengingatkannya pada malam jahanam di bawah pohon randu alas.

​Dengan sisa-sisa tenaganya, Mirasih bangkit. Ia berjalan melewati ruang tengah yang kini penuh dengan barang-barang baru. Ia melihat Siska sedang asyik mencoba baju-baju baru di depan cermin besar yang mengkilap. Siska meliriknya melalui cermin dengan senyum mengejek.

​"Wah, istri setan kita sudah bangun," sindir Siska sambil memutar badannya yang kini terbungkus gaun sutra berwarna cerah. "Wangi ya bunganya? Harusnya kamu berterima kasih pada kami, Mir. Gara-gara kami, kamu jadi wangi dan bisa makan enak—eh, lupa, kamu kan lagi mogok makan ya? Sok suci banget sih."

​Mirasih terus berjalan tanpa menoleh. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Di sana, Bibi Sumi sudah menunggu dengan gayung di tangan dan senyum yang dibuat-buat.

​"Nah, gitu dong. Sini, Bibi bantu mandikan. Biar segar," ucap Sumi.

​Bibi Sumi mulai mengguyur tubuh Mirasih dengan air yang penuh bunga. Ia menggosok lengan dan punggung Mirasih dengan sabun wangi, namun gerakannya tidak lagi kasar seperti dulu. Ia menggosoknya dengan hati-hati, seolah-olah sedang mencuci porselen mahal yang mudah pecah.

​"Wangi kan? Ki Ageng pasti sangat suka bau melati ini," bisik Bibi Sumi di telinga Mirasih. "Kamu tahu, Mir? Tadi di kota, Pamanmu sudah tanya-tanya soal mobil. Kalau minggu depan maharmu lebih besar, kita bisa beli mobil sendiri. Kamu tidak perlu capek-capek jalan kaki lagi kalau mau ke pasar."

​Mirasih memejamkan mata saat air kembang itu mengalir di wajahnya. Ia merasa ingin tenggelam saja di dalam bak mandi itu. Ia merasa setiap siraman air bunga itu justru semakin menanamkan aroma mahluk ghaib itu ke dalam pori-pori kulitnya. Ia tidak merasa wangi, ia merasa busuk. Ia merasa seperti mayat yang sedang didandani sebelum dimasukkan ke dalam liang lahat.

​Setelah selesai mandi, Bibi Sumi memberikan sebuah kain jarik baru dan kebaya yang halus. "Pakai ini. Jangan pakai baju loakmu itu lagi. Mulai sekarang, kamu harus selalu terlihat cantik, bahkan saat tidur."

​Mirasih kembali ke kamarnya dengan tubuh yang harum semerbak bunga setaman. Namun, di dalam hatinya, ia merasa semakin kosong. Ia duduk di pinggir dipan, menatap makanan yang kini diletakkan Bibi Sumi di dalam gudangnya—piring yang sama, ayam yang sama, namun kini ditambah dengan segelas air putih yang jernih.

​Perutnya berbunyi, menuntut haknya untuk bertahan hidup. Namun setiap kali ia melihat makanan itu, ia teringat wajah orang tuanya dan janji Aditya. Ia merasa jika ia memakan makanan itu, ia secara resmi mengakui bahwa dirinya adalah budak pesugihan pamannya.

​Malam mulai jatuh kembali. Suasana rumah yang baru direnovasi itu terasa sangat sunyi dan dingin, meskipun lampu-lampu baru menyala terang. Di pojok-pojok ruangan, Paman Broto mulai membakar kemenyan, mengirimkan asapnya ke udara sebagai tanda pengabdian.

​Mirasih meringkuk dalam kegelapan, memeluk tubuhnya sendiri yang kini berbau melati tajam. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas—sayapnya patah, namun sangkarnya kini dilapisi permata. Dan ia tahu, Selasa depan hanya tinggal beberapa hari lagi. Ketakutan itu mulai merayap kembali, membayangkan mahluk itu akan datang lagi menagih haknya di malam yang sunyi.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!