Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Jetro membukakan pintu mobil untuk Febi. Mereka sudah tiba di basemen hotel.
"Masih capek?" tanya Jetro sambil menahan pintu mobilnya.
Febi hanya mengangguk dengan pipi merona. Teringat aktivitas panas yang mereka lakukan di yatch tadi.
Mereka tidak bisa lama lama karena beberapa sepupu dan kerabat Jetro sudah punya maka batita yang mereka titipkan dengan mami mami mereka. Jadi mereka tidak bisa sampai malam di yatch. Selain itu juga pengaruh ramalan cuaca bmkg kalo malam ini akan turun hujan.
Tatap mereka masih bertemu sampai Jetro mengulurkan tangan yang disambut Febi.
Febi heran dengan dirinya, tiap bersama Jetro, dia selalu cosplay jadi putri yang super lembut, seolah dia bukanlah polwan yang sudah beberapa kali menangkap penjahat.
"Besok kamu sudah dinas? Padahal aku maunya kamu dinas di ruanganku aja," keluh Jetro setelah menutup pintu mobil dengan tangan yang lainnya merangkul pinggang Febi.
Febi merinding mendengarnya. Kata kata Jetro kembali mengingatkannya akan yang selalu yang dilakukan laki laki itu saat mereka sedang berdua.
Karena suasana sepi Jetro nekat menci-um bibir Febi.
Febi menjauhkan wajahnya ketika ci uman Jetro mulai menuntut lebih.
"Nanti ada yang lihat."
"Bagus, kan. Kita suami istri," protes Jetro tapi tidak memaksa.
Febi menatap sekitar karena dia merasa mereka sedang diawasi. Nalurinya saja yang membuatnya ngga nyaman.
"Paling nanti mereka.yang lihat akan merasa iri," senyum Jetro dan mengajak Febi melangkah perlahan. Tangannya tetap merangkul pinggang Febi.
Ngga jauh dari keberadaan mereka Fiola yang baru saja kembali dari dinasnya merasakan dadanya seperti terbakar.
Dia yang baru mau keluar dari dalam mobil jadi membatalkan niatnya.
Kemesraan keduanya terlihat dengan sangat jelas. Dia makin ngga terima melihat Febi diratukan seperti itu.
Febi kamu memalukan sekali, makinya dalam hati.
Di tempat lain Marlena dan Cakra juga melihat yang dilakukan Jetro dan Febi.
Wajah Marlena agak pucat dan jengah.
"Mereka sudah sedekat itu?" Marlena mengira Febi tidak bahagia bersama Jetro karena pernikahan mereka yang tak direncanakan. Tapi yang dilihatnya di luar dugaannya.
"Jetro sudah naksir dengan Febi sebelum mereka menikah, mam. Dia pernah mengirimkan Febi bunga, mam," lapor Cakra.
"Oooh...."
Pantas saja, batin Marlena.
"Febi juga?" Marlena dapat melihat sendiri kalo Febi mungkin juga sudah sudah suka dengan Jetro.
"Iya, mam."
Marlena menghembuskan nafas panjang.
"Jadi karena itu juga kamu ngga bisa datang? Karena kamu tau Febi tidak mencintai kamu?"
Cakra terdiam. Bukan, bantahnya dalam hati. Dia pernah menantang Jetro. Dia juga berniat datang, tapi Jetro menggagalkannya.
Dia meringis ketika mamanya mencubit lengannya.
"Kamuh.... Harusnya kamu bilang sama mama. Mama hampir saja menyakiti perasaan Febi," marahnya sambil membuka pintu.
"Ma, kalo aku katakan, Febi mencintai orang lain, mama akan batalkan pernikahan kami?" tahan Cakra.
"Kalo mama tau cinta laki laki itu sangat besar untuk Febi, pasti akan mama batalkan," jawab Marlena sambil keluar dari dalam mobil.
Cakra terdiam melihat mamanya berjalan mendekati Febi. Ternyata sesayang itu mamanya sama Febi.
"Febi sayang."
Febi dan Jetro menghentikan langkahnya.
"Tante...."
Jetro seakan mengerti, dia melepaskan rangkulannya di pinggang Febi, membiarkan istrinya mendekati wanita paruh baya yang berjalan tergesa mendekatinya.
Marlena menggenggam kedua tangan Febi dengan mata penuh air mata.
"Tante...." Febi yang masih terkejut melihat mamanya Cakra merasakan lidahnya kelu. Apalagi kini wanita yang selalu menyayanginya memeluknya erat.
"Kamu ..... bahagia, kan?" ucap Marlena tersendat.
"Iya, tante..... Aku bahagia," jawab Febi dengan mata yang kini juga dibanjiri air mata.
Jetro yang berada beberapa langkah dari kedua wanita yang saling berpelukan itu mendengar derap langkah yang mendekatinya.
Cakra berjalan pelan mendekatinya. Keduanya saling bertatapan penuh makna hingga dia kini sudah berada di samping Jetro.
"Selamat untuk pernikahanmu," ucap Cakra.
Jetro mengangguk.
"Terimakasih."
Keduanya masih tetap bertatapan, kali ini lebih tajam, tapi bukan tatapan permusuhan.
"Kerja kalian rapi. Aku tau sulit menuntutmu karena sudah memberikan aku obat tidur yang dicampur di dalam minuman alkoholku."
Jetro tetap tenang, tidak terpengaruh dengan pancingan Cakra.
"Aku ngga mengerti yang kamu katakan," kilah Jetro tenang.
Cakra tersenyum miring.
"Aku mengapresiasi tindakanmu, lho," sarkas Cakra.
"Aku hanya mengambil yang jadi milikku."
"Ya, ya. Aku tau."
Sementara itu Fiola makin geram melihatnya.
*
*
*
Ketika akan mendekati kamar mereka, Febi mendapat notif pesan dari kakaknya.
Sejak hari pernikahannya, kakaknya sama sekali tidak mengirimkan pesan atau menghubunginya sama sekali. Dia bahkan sempat lupa kalo kakaknya juga menyukai Jetro.
"Ada apa?" tanya Jetro yang sudah bersiap akan membuka pintu kamar melihat wajah ceria Febi yang sedikit berubah setelah melihat ponselnya.
"Hanya pesan ucapan selamat kita sudah menikah dari teman," jawab Febi tenang.
Jetro tersenyum walaupun yakin kalo Febi berbohong.
Ponselnya yang bergetar membuatnya menerima telponnya lebih dulu sebelum menempelkan kartu akses kamar mereka.
Selagi Jetro mengobrol via telponnya, notif pesan dari kakaknya datang lagi, lagi dan lagi. Tapi Febi sudah tidak ingin melihatnya lagi, karena dia tau kakaknya hanya ingin membuatnya menaruh curiga pada Jetro.
Tapi sekarang hatinya benar benar jadi resah dan kecurigaan itu terasa cukup kental dalam pikirannya.
Di malam pertamamu, aku dan Jetro bertemu. Ternyata dia ngga pu@s dengan servicemu.
Febi ingat, malam itu dia tertidur setelah menyerahkan semuanya pada Jetro. Dia tidak menyadari kepergian laki laki itu, karena paginya saat bangun tidur, Jetro ada di sampingnya.
Hatinya tergelitik untuk melihat pesan pesan kakaknya selanjutnya.
Tanyakan saja, dia ketemu aku malam itu.
Kamu ngga tau karena tidurmu sangat nyenyak.
Jangan sedih, ya, kalo nanti dia sering mencari aku.
Hati Febi kini mulai meradang.
Apa apaan ini, geramnya dalam hati.
"Kakakmu bohong."
Febi mengangkat kepalanya ketika mendengar suata bantahan Jetro.
Febi sulit menyimpan perasaan marah, curiga dan merasa dibodohi Jetro dari pancaran sinar matanya.
Jetro malah tersenyum yang makin membuat Febi sebal. Perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa dia cerna lebih dulu kebenarannya.
"Kita bisa ke ruang rekaman cctv."
Tanpa menunggu jawaban Febi Jetro menarik tangan istrinya agar mengikuti langkahnya. Tetap tenang, seolah semua sudah dalam kendalinya.
Untungnya setelah telponnya usai, Jetro mengintip chat yang sedang dibaca Febi dengan serius. Postur tubuhnya yang lebih tinggi memudahkannya membaca chat penuh kebohongan itu.
Sekarang di ruang keamanan, Febi sudah bisa melihat sendiri betapa Jetro mengacuhkan kakaknya.
Dalam hati dia memaki karena tadi kemarahannya sempat tersulut akibat chat penuh racun dari kakaknya.
"Sudah percaya?" Jetro menatap Febi dengan tetap mengekalkan senyumnya.
Febi mengangguk, ketenangan dan kewarasannya sudah kembali.
Aneh, kenapa dia begitu marah saat tau Jetro bertemu kakaknya?
maafkan jika ada kritik, saran/pun komen aq zg tanpa sengaja menyinggung kalian yaaaa.... 😊😊😊