Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Adriana
Fiola terus menatap Jetro hingga laki laki masuk ke dalam lift. Dia terus menatapnya walaupun Jetro mengacuhkannya
"Fiola, ya?"
Fiola yang masih menatap pintu lift yang membawa Jetro hingga tertutup, tersentak mendengar suara yang dia kenal. Yang ingin dia jadikan mama mertuanya. Ibu Adriana.
"Ibu Adriana," balasnya santun.
"Kok, di gedung tadi ngga kelihatan?" Adriana saat ini sedang bersama Kamila, mereka baru saja dari restoran.
"Ada, kok, bu." Fiola tersenyum kikuk.
Adriana dan Kamila saling tatap.
"Fiola, kamu ngga berharap lagi, kan, dengan Jetro?" tanya Adriana hati hati. Dia dan Kamila tadi sempat melihat interaksi Jetro dan Fiola.
Fiola ngga bisa menjawab, dia ngga nyangka Bu Adriana akan bertanya begitu.
"Saya tau kamu pasti kecewa, kalian sudah sempat kencan, yah, atas permintaan para orang tua." Adriana tersenyum tenang.
Fiola masih merasa rahangnya kaku.
"Saya.... Saya memang sempat berharap," ucapnya terus terang.
Kamila menatap Adriana dengan perasaan kurang nyaman.
"Itulah yang saya pikirkan sekarang. Saya tidak tau kalo Jetro sudah lama tertarik dengan Febi, adik kamu." Adriana mencoba tetap tenang.
Fiola menyembunyikan keterkejutannya.
Masa?
Ngga mungkin?
"Saya malah dengar dari papa kamu kalo kamu dan Cakra, calon suami Febi saling menyukai. Jadi saya malah bersyukur tidak merusak hubungan kamu dan Cakra."
Fiola menarik nafas perlahan.
"Itu cerita lama, tante," koreksi Fiola setelah oksigen memenuhi paru parunya.
"Cerita lama?" sela Kamila. Perasaannya makin tambah ngga nyaman. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan Fiola.
"Hubungan kami terhalang restu mamanya Cakra. Beliau lebih menyukai Febi." Fiola tersenyum getir. Dia makin menggebu karena diberikan ruang untuk bercerita.
"Karena itu ketika papa mengatakan tentang pertemuan dengan Jetro, saya sedikit berharap."
Adriana jadi kasian, dia tidak menyangka kalo itu alasan yang belum diungkap Anggareksa-papanya Fiola pada malam itu.
"Nanti saya akan bantu bicarakan ini pada mamanya Cakra. Menurut saya, kamu perempuan yang baik. Kamu juga pekerja keras," tukas Adriana menawarkan solusi.
Walau punya perasaan tidak nyaman terhadap Fiola, Kamila merasa kasian juga mendengar alasan penolakannnya.
"Tidak usah, tante. Saya saat ini sedang berusaha menerima yang terjadi pada saya," tolak Fiola sopan.
Adriana dan Kamila saling tatap lagi.
"Tante yakin, jodoh kamu sedang on the way," tukas Kamila.
"Iya, tante juga yakin." Adriana juga ikut menyahut.
"Terimakasih, Bu Adriana, Bu Kamila." Fiola berusaha tetap santun. Sebenarnya dalam hati dia kecewa, karena Bu Adriana sepertinya sudah menyukai adiknya Febi.
Padahal tadinya dia berpikir kalo Bu Adriana menyesali pernikahan putranya.
Setelah berpisah dengan Fiola, Adriana berucap pada Kamila.
"Kalo Baim atau Dave, mau ngga, ya, dijodohkan dengan Fiola?"
Kamila.mengedikkan bahunya.
"Coba nanti kita tanyakan pada mereka berdua."
Adriana mengangguk.
"Tapi sepertinya Anggareksa ingin melanjutkan hubungan Fiola dengan Cakra," sangkal Kamila beberapa saat kemudian.
"Lebih baik nanti aja dikenalkan dengan Baim dan Dave," sambung Kamila.
Adriana mengangguk
"Mil, aku tau gadis itu baik dan sopan selama mengenalnya. Tapi sekarang aku merasa was was," ucapnya pelan.
"Dia masih suka dengan Jetro, itu yang ingin kamu katakan?" tebak Kamila.
Adriana mengangguk.
"Mungkin lebih baik agak kita awasi saja," usul Kamila.
"Ya, mungkin baiknya begitu." Adriana hanya ingin pernikahan putranya baik baik saja.
*
*
*
Febi sudah terbangun awal di pagi ini, seperti kebiasaannya. Dia melihat laki laki itu masih tertidur.
"Nyenyak sekali tidurnya," guman Febi pelan. Tapi kemudian pipinya merona mengingat yang sudah mereka lakukan tadi malam.
Kenapa mereka bisa melakukan secepat ini? Batin Febi ngga habis pikir.
Jantungnya berdebar keras saat mengingat yang pernah dilakukan Jetro padanya.
Apakah mereka memang benar benar saling cinta?
Febi tatap lagi wajah tampan di depannya. Sulit untuk dia percaya kalo dia sudah menyerahkan milik berharganya tadi malam untuk Jetro.
Jantung Febi berdebar ketika menatap wajah tertidur Jetro. Wajah itu tampak tenang. Tidak grasa grusu seperti tadi malam
Pipi Febi memanas lagi.
Lebih baik aku mandi, dari pada lama lama menatap dia, batin Febi sambil turun dari tempat tidur. Perlahan dia melangkah ke kamar mandi.
Setelah pintu tertutup sepasang mata Jetro terbuka. Senyum tipis terulas di bibir Jetro
Menggapa dia makin menggemaskan, batinnya.
Jetro menarik ujung selimut hingga menutupi kepalanya dengan bibir masih tersenyum. Kedua kakinya menekuk dan Jetro memeluk kedua lututnya dengan detak jantung yang makin kencang mengingat lagi yang sudah mereka lakukan tadi malam.
*
*
*
Febi membuka pintu kamarnya ketika mendengar suara ketukan.
Mami Adriana dan kerabatnya yang Febi lupa namanya, tersenyum manis dengan kereta dorong yang berisi banyak makanan, berdiri di depannya.
"Menantu mami yang cantik sudah rapi banget. Anak mami belum bangun, ya?" cecar Adriana bertanya.
"Emm.... Masih tidur, mam." Febi menjawab dengan rona merah di wajahnya. Perasaan malu hadir begitu saja di hatinya.
"Sudah jangan digodain," tukas Puspa menahan tawa. Jadi teringat momen ini dulu.
"Kita, kan, juga pernah begini," lanjutnya yang membuat Adriana jadi melebarkan senyumnya.
Mendengar obrolan itu makin membuat Febi salah tingkah.
"Menu sarapannya, sayang. Kata papi kamu, kamu udah biasa sarapan yang berat, kan?"
Febi mengangguk melihat menu yang ada di kereta dorong itu. Lumayan banyak.
Ini sekalian makan siang, batinnya mengomentari.
"Biasanya pengantin baru akan merasa kelaparan." Adriana seolah tau yang dipikirkan Febi.
Febi masih belum nyambung, jadi dia tersenyum meresponnya.
"Makasih, ya, mam, tante," ucapnya masih kikuk memanggil Adriana mami.
"Mami senang dengarnya." Panggilan mam tadi membuat hati Adriana terharu.
"Tante Puspa, ya. Jangan lupa. Soalnya tantenya Jetro banyak," respon Puspa hangat.
"Iya, tante Puspa."
Kedua wanita paruh baya tapi masih tetap cantik itu masih tertawa walaupun pintu kamar sudah ditutup Febi.
"Oh iya, Adriana. Baim ngga mau kenalan sama Fiola," ucap Puspa setelah mereka mulai meninggalkan kamar pasangan muda itu.
"Oooh.... Ya, ngga apa apa." Adriana mengangguk mengerti.
"Kata Rihana, Dave juga menolak," sambungnya lagi.
"Ya, sudahlah. Kakak Febi mungkin memang jodohnya Cakra," tukas Puspa dengan helaan nafas panjangnya.
Padahal dia sudah ngga sabar melihat putra tunggalnya menikah.
"Tenang, nanti jodohnya pasti datang sendiri. Aku do'akan agar Baim cepat menyusul Jetro," ucap Adriana memahami kegalauan Puspa.
"Juga Dave," lanjutnya yang diangguki Puspa.
"Semoga."
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂