Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
"Ibu mau nitipin Alana ke kita."
"Alana adikmu yang masih SMP itu?"
"Hei, dia sudah lulus SMA, Mas. Dia bukan anak SMP lagi."
"Benarkah. Sorry sorry, kita kan jarang pulang ke desa. Dan aku udah nggak pernah ketemu
Alana sejak aku memboyong kamu ke sini. Jadi bayanganku dia masih bocah kayak dulu," terangku. Aku sedikit geli dengan kebodohanku sendiri. Dan Liliana hanya tersenyum simpul menanggapinya.
"Alana kuliah ke kota ini kah?" tanyaku.
"Bukan kuliah, tapi dia mau cari kerja di sini," terang Liliana.
"Kenapa nggak kuliah saja?"
"Dia itu bodoh, Mas. Kasihan Ibuk kalau harus membiayai anakkk seperti dia. Hanya buang-buang uang."
"Aku mau kok biayain dia."
Liliana menoleh ke arahku.
"Kamu tak perlu terlalu baik sama keluargaku," celetuknya.
"Aku nggak keberatan, kok. Malahan aku.."
"Udahlah, Mas." Liliana memotong ucapanku.
"Alana ke sini bukan untuk kuliah, tapi mau bekerja," tegasnya.
Aku pun tak bisa menyanggahnya lagi. Aku tak mungkin memaksakan kehendak, yang mungkin menurutku baik, tapi menurut mereka sama sekali tak baik.
"Aku mau tidur," pamit Liliana. Ia segera merebahkan tubuhnya. Mengatur posisi bantal yang dipakainya. Lalu ia berbaring miring membelakangi keberadaanku.
Aku pun ikut seperti dirinya. Ikut merebahkan tubuhku. Tetapi aku menghadap ke arahnya. Lebih tepatnya, aku menghadap ke punggungnya yang terbuka indah.
Mataku tak langsung terpejam. Aku menatap lekat-lekat Liliana. Wanita yang sampai detik ini belum berhasil untuk kucuri hatinya. Perasaannya masih beku terhadapku. Dia masih belum mau membuka pintu hatinya untukku. Kami menikah atas kemauanku. Aku jatuh cinta padanya sejak pandang pertama. Awalnya kita hanya berteman. Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk tiba-tiba melamarnya. Liliana terkejut. Dan ia berterus-terang padaku, ia sama sekali tak memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Namun, ia juga mengatakan hal yang sangat mencengangkanku.
"Aku mau saja menikah denganmu. Tapi asal kamu mau terima, bahwa aku sama sekali belum memiliki perasaan terhadapmu."
Kata-katanya waktu itu begitu membingungkan. Tetapi kuputuskan, aku bisa menerima dia apa adanya. Kupikir, cinta bisa datang belakangan. Namun pada kenyataannya, sampai hari ini perasaan Liliana masih sama seperti dulu. Aku tetap belum bisa berhasil membuatnya jatuh cinta seperti keinginanku.
Mataku tetap tak lepas dari sosok Liliana. Memandang pundaknya yang putih tanpa celah. Juga bulu-bulu halus yang berada di leher jenjangnya.
Hasratku kembali meluap seperti beberapa saat yang lalu. Hasrat ingin menyentuhnya. Hasrat ingin mendapatkan hakku untuk bisa menyetubuhinya.
Reflek tanganku menjulur ke arahnya. Melingkar ke perutnya. Kukecup pundaknya. Kuhembuskan nafas hangatku ke telinganya yang mulai memerah.
Aku memang nekat. Tapi naluriku sebagai laki-laki, tak bisa menghentikannya.
"Kau mau apa?" Liliana bersuara. Tanpa menoleh. Tanpa merubah posisi tubuhnya.
"Bolehkah malam ini aku menyentuhmu, Liliana? Kumohon, sekali ini saja. Selanjutnya, aku tak akan lagi memaksamu," tuturku.
Liliana tak langsung menjawab. Aku malah mendengar ia menghela nafas pelan.
Settttt....
Tiba-tiba Liliana menyingkirkan lingkaran tanganku dari perutnya.
"Aku sudah bilang, aku belum mau melakukannya. Maaf."
Sudah kuduga ia akan berkata seperti ini. Dia masih terus menolak. Aku belum boleh menyentuhnya. Meski pernikahan kami sudah berjalan hampir tiga tahunan.
Aku lah yang bodoh, coba-coba meminta hal tersebut.
Seharusnya aku tak berharap lebih. Seharusnya aku cukup sadar diri. Dia belum mencintaiku.