Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERJANJIAN DI BALIK KABUT
Waktu di Oakhaven terasa seperti jam pasir yang tersumbat; lambat, berat, dan seolah-olah berputar di tempat yang sama. Bagi Kai, jam delapan malam terasa seperti keabadian yang tertunda. Ia menghabiskan sepanjang siang dengan mencoba bekerja di studio kecilnya—atau lebih tepatnya, sudut ruangan yang ia klaim sebagai tempat bernaung bagi ambisinya yang patah.
Sejak pertemuannya dengan Elara di perpustakaan, ada semacam kegelisahan yang tidak biasa menghuni dadanya. Itu bukan kegelisahan yang menyakitkan seperti biasanya, melainkan getaran halus yang membuatnya tidak bisa duduk diam. Ia mencoba menggambar tekstur syal Elara dari ingatan, namun arangnya patah berkali-kali. Jemarinya masih terlalu kaku untuk kelembutan.
Tepat pukul tujuh empat puluh lima, Kai sudah berdiri di depan pintu 'The Last Note'. Salju turun lebih halus malam ini, seperti bubuk kristal yang jatuh tanpa suara. Ia tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang beruap. Rambutnya berantakan, matanya masih menyimpan bayang-bayang kelam, namun ada sesuatu yang berbeda di sana—seberkas cahaya kecil yang ia sendiri takut untuk mengakuinya.
Saat ia melangkah masuk, lonceng berdenting, dan aroma kayu manis serta kopi langsung menyergapnya. Kali ini, Maya tidak ada di balik meja. Seorang pria paruh baya yang tampak bosan menggantikannya. Kai mengedarkan pandangan. Elara sudah di sana.
Wanita itu tidak duduk di depan piano. Ia duduk di meja paling pojok, tempat yang sama di mana Kai duduk kemarin malam. Di depannya ada dua cup kopi yang masih mengepulkan uap, dan selembar kertas kosong di tengah meja.
Kai mendekat dengan langkah ragu. "Kau datang lebih awal," ucapnya sebagai pembuka.
Elara mendongak, matanya yang tenang menatap Kai. Ia mengenakan mantel berwarna biru tua yang sangat gelap, hampir menyerupai hitam, namun bagi Kai yang hanya melihat monokrom, itu tetaplah sebuah gradasi abu-abu yang elegan. "Aku lebih suka menunggu daripada ditunggu. Duduklah, Kai. Kopi ini untukmu. Aku berasumsi kau masih tidak menyukai gula."
Kai duduk di hadapannya. Ia menyesap kopi itu. Rasanya hangat, pahit, dan nyata. "Terima kasih."
"Aku memikirkan apa yang kau katakan semalam," Elara memulai, suaranya yang rendah bersaing lembut dengan musik jazz yang diputar dari speaker kafe. "Tentang menggambar piano di tengah badai. Aku ingin membuat sebuah kesepakatan dengamu."
Kai meletakkan cup kopinya. "Kesepakatan apa?"
Elara memajukan tubuhnya sedikit, ekspresinya menjadi lebih serius. "Kita berdua adalah orang yang rusak oleh masa lalu. Kau kehilangan warnamu, aku kehilangan suaraku. Kita hidup di kota ini untuk bersembunyi. Tapi, bagaimana jika kita menggunakan satu sama lain untuk melihat apa yang masih tersisa di dalam diri kita?"
"Aku tidak mengerti," gumam Kai.
"Ajari aku melihat dunia lewat sketsamu," lanjut Elara. "Dan aku akan memainkan musik untukmu. Bukan musik yang indah untuk menghibur orang-orang di kafe ini, tapi musik yang jujur. Musik yang bisa membantumu menemukan kembali garis-garis yang hilang di kepalamu."
Kai terdiam. Permintaan itu terasa terlalu intim untuk dua orang yang baru bertemu dua kali. Namun, ada bagian dari dirinya yang haus akan hal itu. Bagian yang selama ini berteriak dalam diam, memohon untuk dipahami tanpa perlu menjelaskan luka-lukanya secara mendetail.
"Kenapa kau ingin membantuku?" tanya Kai pelan. "Kau bahkan tidak mengenalku."
Elara menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap ke arah piano tua di sudut ruangan. "Karena aku lelah menjadi satu-satunya orang yang tenggelam di ruangan ini, Kai. Melihatmu semalam... rasanya seperti melihat pantulan diriku sendiri di permukaan air yang gelap. Aku pikir, mungkin jika kita tenggelam bersama, kita tidak akan merasa terlalu kedinginan."
Kai menunduk, menatap meja kayu yang penuh goresan. Ia mengambil sebatang arang dari saku mantelnya—kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan—dan meletakkannya di atas kertas kosong yang dibawa Elara.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa," kata Kai akhirnya. "Kadang-kadang tanganku tidak mau mendengarkan otakku. Kadang-kadang, yang bisa kugambar hanyalah kegelapan."
"Kalau begitu, gambarlah kegelapan itu," balas Elara tanpa ragu. "Aku akan memainkannya."
Elara berdiri dan berjalan menuju piano. Kafe itu mulai sepi, hanya menyisakan satu atau dua pelanggan yang tenggelam dalam ponsel mereka. Ia duduk di kursi kayu itu, mengatur napasnya sejenak, lalu jemarinya mulai menari di atas tuts-tuts gading yang sudah menguning.
Lagu kali ini berbeda. Jika semalam terdengar seperti ratapan, malam ini musiknya terasa seperti pencarian. Nada-nadanya rendah, berulang-ulang, seolah-olah sedang mengetuk sebuah pintu yang terkunci rapat.
Kai merasakan dadanya bergetar. Ia mengambil kertas itu, dan entah kenapa, tangannya mulai bergerak sendiri. Ia tidak melihat kertasnya. Ia hanya menatap Elara. Ia menggambar cara bahu wanita itu bergerak, cara rambutnya jatuh menutupi pipinya, dan cara matanya terpejam seolah-olah ia sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa.
Arang itu menggores kertas dengan kasar, lalu lembut, lalu patah. Kai tidak peduli. Ia terus menggores. Ia merasa seolah-olah nada-nada yang keluar dari piano itu berubah menjadi garis-garis hitam di bawah jemarinya.
Setengah jam berlalu dalam trans yang aneh. Saat Elara berhenti memainkan nada terakhir, ruangan itu terasa sangat sunyi, seolah-olah oksigen baru saja diisap keluar.
Elara berjalan kembali ke meja, sedikit terengah-engah. Ia menatap kertas di depan Kai.
Di sana, di atas kertas putih itu, bukan hanya gambar Elara. Kai telah menggambar sebuah pusaran angin yang terbuat dari ribuan partikel kecil—seperti salju, tapi juga seperti pecahan kaca. Di tengah pusaran itu, ada sebuah tangan yang mencoba meraih sesuatu yang tidak terlihat.
Elara menyentuh gambar itu dengan ujung jarinya. "Ini... ini adalah perasaan yang kurasakan saat aku mencoba menyanyi namun tidak ada suara yang keluar," bisiknya. Matanya berkaca-kaca. "Kau melihatnya, Kai. Kau benar-benar melihatnya."
Kai menatap tangannya yang hitam karena debu arang. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah merasa se-terkoneksi ini dengan orang lain sejak... sejak ia kehilangan segalanya.
"Lagu itu," ucap Kai dengan suara yang sedikit bergetar. "Tadi ada bagian yang terasa seperti... penyesalan. Apa itu tentang orang yang menyebabkannya?"
Elara menarik tangannya kembali, ekspresinya mendingin seketika. Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan Oakhaven yang kini tertutup kabut tebal. "Beberapa hal lebih baik tetap menjadi rahasia, Kai. Setidaknya untuk malam ini."
Kai mengangguk, menghormati batasan itu. Ia sendiri belum siap untuk menceritakan tentang bau bensin dan hancurnya warna merah dalam hidupnya.
"Maaf," ujar Kai singkat.
Elara kembali menatapnya, kebekuan di wajahnya mencair. "Tidak apa-apa. Kita punya 50 bab lagi untuk saling mengenal, bukan?" ia mencoba bercanda, meskipun Kai tidak mengerti referensi itu.
Mereka meninggalkan kafe bersama-sama. Di luar, udara malam terasa sangat menusuk, namun entah kenapa, Kai tidak merasa perlu meringkuk seperti biasanya. Ia berjalan di samping Elara, membiarkan bahu mereka sesekali bersentuhan saat mereka melewati trotoar yang licin.
"Kai," panggil Elara saat mereka sampai di persimpangan jalan menuju apartemen mereka masing-masing.
"Ya?"
"Terima kasih untuk gambarnya. Itu membuatku merasa sedikit... kurang hantu."
Elara berbalik dan berjalan menembus kabut, sosoknya menghilang dengan cepat, menyisakan Kai sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.
Kai berdiri di sana untuk waktu yang lama. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit abu-abu yang biasanya ia benci. Kali ini, ia tidak membayangkan langit itu sebagai penjara. Ia membayangkannya sebagai kanvas besar yang sedang menunggu seseorang untuk berani menorehkan garis pertama.
Malam itu, saat Kai kembali ke apartemennya, ia tidak langsung mematikan lampu. Ia mengambil sisa-sisa kertas yang berserakan, merapikannya, dan menaruhnya di dalam sebuah folder baru. Di sampul folder itu, ia menuliskan satu kata dengan arang:
ELARA.
Ia berbaring di tempat tidurnya, mendengarkan suara angin yang menderu di luar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Kai tidak merasa takut akan hari esok. Ia justru merasa takut jika hari esok tidak datang cukup cepat.
Dalam kegelapan, ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang kini terasa lebih hangat, seolah-olah es yang membungkus hatinya baru saja menemukan retakan kecil pertama. Dan dari retakan itu, meskipun tipis, ia mulai bisa melihat sesuatu yang sudah lama ia lupakan.
Namun, Kai juga tahu satu hal tentang es: saat ia mulai retak, ia bisa menjadi sangat berbahaya sebelum benar-benar mencair. Dan di balik kabut Oakhaven, masa lalu selalu punya cara untuk menemukan jalan pulang.