Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sudah tiga puluh menit berlalu,posisi mereka masih saling diam.Tidak ada yang buka suara, meski tak satupun dari mereka menutup mata.Delanay dan Callum-yang lagi-lagi tidur sekamar, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Delanay tidur miring ke kiri,menghadap pintu walk in closet.Ingatannya terus melayang pada kejadian tadi. Callum yang berani naked di depannya.Memperlihatkan hal yang biasa pria itu tutupi.
Astaga.Pipi Delanay memanas.
Semakin dia berusaha mengusir bayang-bayang tersebut,semakin jelas pula dimana letak tanda lahir Callum.Di bokong sebelah kanan.Dua inci dari pinggang.
Ya Tuhan.
Delanay menggeleng.Ini gila.
Mana ada tanda lahir seseksi itu? Dan bisa-bisanya dia ingat persis letaknya.
“Dasar edan!” umpat wanita itu lirih. Tentu saja untuk dirinya sendiri.
Callum yang memang mendengar hanya diam. Bukan diam sebenarnya,Callum tertawa dalam hati.Sedikit tau apa yang dipikirkan Delanay. Wanita itu pasti masih terpesona dengan kejadian tadi.Saat Callum keluar masuk kamar mandi memamerkan tubuh polosnya.
Callum sengaja oke. Menggoda Delanay.
“Besok jangan lupa,"celetuknya.
Huh?
Mendengar suara Callum,Delanay berguling.Melongok ke arah pria yang berbaring di ranjang.
“Jangan lupa apa?”
Callum yang sedang menyangga kepala dengan kedua tangan,memutar mata.“Pesta. Bukannya kemarin aku sudah bilang kalau kita akan datang ke pesta Narayanan? Itu besok malam,jam 8,”katanya datar.
“Ah.”
Delanay hampir lupa. Besok,Narayanan-konglomerat yang sering diceritakan Elara itu mengadakan pesta. Delanay tidak yakin apa tujuan pestanya. Tugas dia hanya menemani Callum sebagai Nyonya Westwood.
“Apa ada dresscode?”
Satu alis Callum terangkat.
“Ng, aku belum pernah ke pesta.Aku takut nanti malah mengacaukan sesuatu.”
Itu sebuah fakta yang baru Callum tau. Pantas selama ini,sekembalinya dia dari London,Callum tidak pernah bertemu Delanay di pesta manapun. Bahkan dia sempat melupakan putri cantik Tante Soraya.Ingatkan kembali ketika mereka seperti orang asing di pertemuan dulu.
“Tidak ada.Kamu bisa pakai gaun apapun yang kamu inginkan.”
“Benarkah?”
Nada sangsi dalam suara Delanay membuat Callum menoleh.
“Apa boleh terserah? Maksudku,apa sejenis mini dress, maxi, atau ballgown yang harus aku pakai?”
sambung Delanay.
Callum mengerjapkan mata.Memang gaun ada jenisnya?
Callum memang bukan pria penikmat style.Isi lemarinya hanyalah kemeja,kaos,dan celana.Itupun dengan model yang sama.Hanya berbeda warna dan bentuk saja.
Nyaris keseluruhan pakaian Callum adalah pilihan Elara dan Clara.Dua perempuan cerewet yang mengomel saat tau walk in closet Callum,hanya berisi pakaian berwarna putih,hitam,abu-abu,full dark.
“Terserah kamu,"jawab Callum cepat.
“Baiklah.”
Delanay bisa minta tolong pada Elara. Toh,kemungkinan besar besok wanita itu juga diundang ke pesta.
Selepas pembicaraan selesai,keadaan kembali hening.Terkadang mereka lebih suka bergelut dengan isi kepalanya,ketimbang bertanya langsung.Seperti Callum.
Dia ingin bertanya jawaban 'baiklah' itu berarti Delanay akan memakai gaun seperti apa? Dan warnanya?
Setidaknya mereka harus memakai pakaian serasi. Benar kan?
“Kak?”
“Hm.”Callum agak kaget,Delanay memanggilnya.
“Aku boleh tanya sesuatu?”Kebiasaan wanita itu. Selalu izin sebelum bertanya.
“Apa?” Callum tetap menatap langit-langit kamar. Sulit percaya mereka akan sekamar dalam dua hari berturut-turut. Salah Callum sendiri, kenapa tidak kembali ke apartemen? Dan justru menanyakan soal Komi Cafe.Padahal untuk apa dia menanyakan keburukan Sean?
“Apa Kakak benci padaku?”
Callum menoleh.Bertatapan langsung dengan Delanay yang saat itu sudah duduk. Di kasur bawah.
Pertanyaan itu sudah didengarnya sebanyak tiga kali. Dari bibir yang sama.
“Tidak,”jawab pria itu singkat.
Delanay mengamati ekspresi datar Callum. Jelas sekali pria itu berbohong.“Kakak pasti benci kan?Karena aku mengekang Kakak dalam pernikahan ini. Dan harus menanggung beban hidupku."
Tidak mungkin seorang Callum yang terkenal kejam,tidak membenci orang yang mengacaukan hidupnya. It's impossible.
Callum menghela napas. Menarik tangannya, membiarkan kepalanya jatuh ke bantal.
“Mungkin.Aku sedikit membencimu.”
Sakit.Walaupun berusaha kuat,tetap ada yang berdenyut di dada Delanay.
“Apa bisa Kakak tidak membenciku?” harapnya.“Sebentar saja.Aku ingin merasakan hidup tanpa dibenci orang lain. Setidaknya Kakak boleh mengabaikan ku. Kakak boleh menganggap aku tidak ada.Tapi,jangan mengungkit betapa murahannya diriku,betapa bodohnya aku mengandung anak ini.”
Sontak,Callum memberi tatapan tajam. Namun dia tidak memberi reaksi apapun.
“Maaf kalau ini kelewatan.Tapi,aku mohon untuk kali ini.”
Callum mendesah keras. Wanita ini pandai sekali mengaduk-aduk emosinya.
Di satu sisi, Callum ingin terus membenci Delanay. Menyakitinya,sampai wanita itu menyerah dan memilih menjauh.
Namun di sisi sebaliknya,Callum paling tidak tahan dengan permohonan wanita.Dia yang terbiasa menuruti permintaan ibu dan adiknya,pasti juga harus menuruti istrinya,kan?
Ah,istri. Baru sekarang kata itu keluar dari benak Callum.
“Fine.”
Sudut bibir Delanay terangkat.
Senyuman tulus yang untuk pertama kalinya dia berikan pada sang suami.
“Terima kasih,” ucap Delanay bahagia.
Dan demi menyaksikan senyum manis Delanay, ada yang salah dengan diri Callum.Jantungnya bertalu kencang.Manik cokelat madu wanita itu terlihat begitu terang. Entahlah,Callum merasa aneh. Di matanya sekarang,Delanay terlihat...cantik?
Drrt
Getaran dari nakas membuat ucapan Callum menyangkut di ujung lidah.Dia lantas melirik ponselnya yang bergetar dan menampilkan nama'si pengacara maniak'.
Tumben,Brayen menelpon?
Alis Callum berkerut.Dia lekas menyambar ponsel dan memilih berjalan ke depan jendela.
“Hm?”
“Sorry for interrupt,Bung.Kau belum tidur kan?” Suara Brayen agak tenggelam oleh suara mesin.Mungkin mesin mobil.Karena Callum tau pria itu pasti sudah pulang dari luar kota.
“Belum.”
“Thanks, God.” Brayen bersorak.
“Aku benar-benar minta maaf. Kalau boleh bicara jujur,kemarin aku lupa meninggalkan kontrakmu pada Sean.Harusnya hari ini kuambil. Tapi karena ternyata aku ada acara di kota lain, kontrak itu kutitipkan padanya. Dan pas aku ingat,tadi siang kau menanyakannya,aku merasa kau harus mengambilnya sendiri.Can you?”
Callum mengatupkan mulutnya rapat-rapat.Memejamkan mata dan memijit pelipis yang berdenyut nyeri.
“Dasar bodoh.”
“Hei!”Brayen tak terima dikatai bodoh.
“Aku menyuruhmu merahasiakannya.Tapi kau malah menitipkan pada Sean?”
Callum yakin sedewasa-dewasanya Sean,bocah itu tetap bermulut ember. Tak jarang semua rahasia mereka berempat akan diumbar pada yang lain.
Lihat saja besok. Callum mungkin akan ditanyai macam-macam.
Brayen sialan!
“Maaf,aku-”
Tanpa babibu,Callum lekas mematikan panggilan.Masa bodoh dengan si pengacara maniak yang belum selesai bicara,dan kini terus berusaha menelponnya ulang.
“Benar-benar,”geramnya.
Kembali berjalan ke ranjang,Callum menemukan Delanay sudah tertidur. Tubuhnya berbalut selimut seperti kepompong.Apa wanita itu kedinginan? Posisi Delanay benar-benar meringkuk.
Melirik AC dalam keadaan mati,penghangat ruangan dalam keadaan hidup, mungkin-kah ini karena Delanay tidur di bawah?
Menghela napas, Callum lantas melempar ponselnya sembarangan.Kemudian pria itu mendekati Delanay,mengangkat wanita itu sekaligus selimutnya.Callum tidak main-main dengan menempatkan sang wanita ke ranjang.Membiarkan Delanay mengambil tempat yang seharusnya milik Callum.
“Eugh....”Wanita itu melenguh pelan.Merasa terganggu.
“Ssh,tidurlah,” ucap Callum,lembut.
Dan seolah mendengar perintah Callum,Delanay menyamankan diri ke ranjang. Bibir pria itu langsung tertarik mulus. Memperlihatkan lesung pipi yang jarang dilihat orang lain.
Setelah membenahi selimut Delanay, tangan Callum menarik jaket yang berada di stan baju. Dia perlu menemui Sean. Untuk memastikan pria itu tetap tutup mulut andaikan sudah melihat isi kontraknya.
Sepelan mungkin,Callum berjalan pergi.Melewati lorong mansion yang disinari cahaya redup.Mengingat ini hampir tengah malam.
“Mau kemana?”
Callum berjingkat ke samping.Matanya memandang tajam sang ayah yang datang dari dapur, dengan segelas kopi.
“Papa belum tidur?”
Ethan mengedikan bahu.“Ada sedikit pekerjaan."
Callum mengangguk.Ia kemudian berjalan, mengambil sepatu sambil berkata,
“Aku ada perlu dengan Sean. Mungkin aku tidak akan pulang. Tolong katakan pada Mama, besok temani Delanay ke butik.”
“Kamu akan datang ke pesta?”tanya Ethan yang bersandar di tembok.
“Hm.”
“Baiklah.Papa hanya berpesan,jangan bertengkar dengan sepupumu karena masalah sepele."Usai berkata demikian,Ethan berlalu pergi menuju lantai dua.Lebih tepatnya menuju ruang kerja.
Callum diam.
Masalah sepele?
Apa Sean yang seringkali mendatangi Delanay saat makan siang,termasuk masalah sepele?
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih