Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pusara Rindu
Pemakaman Mewah Insira Memorial– 08.30 WIB
Cuaca pagi itu tak terlalu panas, cenderung sejuk dengan awan tipis yang menghalangi terik matahari. Angin sepoi-sepoi menyapu beberapa dedaunan kering yang jatuh di atas marmer-marmer mewah. Di sebuah sudut yang lebih tenang, di bawah naungan pohon kamboja tua yang rindang, terbaring sosok yang paling dicintai oleh sang penguasa bisnis, Cintya Arumi Mahes.
Lima belas tahun sudah ia tidur di sana. Tuan Besar Hadi berdiri mematung, menumpu berat tubuhnya pada tongkat jati. Ia menatap nisan sederhana istrinya yang dikelilingi rumput hijau pendek. Di pemakaman yang penuh dengan monumen megah ini, makam Cintya adalah yang paling bersahaja, sesuai pesan terakhirnya sebelum menghembuskan napas terakhir. Di sisi makam itu, masih ada sepetak tanah kosong yang sengaja dikosongkan untuk Hadi kelak.
Hadi berlutut perlahan, jemarinya yang mulai keriput mengusap permukaan nisan yang dingin.
"Cintya... aku kembali," bisik Hadi, suaranya parau oleh beban rindu yang menumpuk belasan tahun. "Rasanya aku sudah sangat lelah hidup sendirian tanpa teguranmu di pagi hari. Kadang aku ingin segera menyusulmu, merebahkan kepalaku di sisi tanah ini dan melupakan semua urusan duniawi."
Hadi terdiam sejenak, menahan sesak di dadanya. "Tapi urusanku belum selesai, Sayang. Rumah yang kita bangun dengan cinta sekarang penuh dengan duri. Wisnu dan Gio... kedua anak lelakimu itu tidak pernah bisa akur semenjak kau pergi. Mereka seperti orang asing yang saling menghunus pedang di bawah satu atap. Aku gagal menjaga mereka untukmu."
Hadi menundukkan kepala lebih dalam. "Dan Althea... putri bungsu kita. Sampai detik ini hatiku masih menolak percaya bahwa dia sudah tiada dalam kecelakaan itu. Berikan aku petunjuk, Cintya. Jika memang putri kecil kita masih bernapas di suatu tempat di dunia ini, tuntun aku padanya sebelum Tuhan memanggilku."
Tiga jam Hadi habiskan dalam keheningan doa dan curahan hati. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia bangkit dan melangkah kembali ke mobilnya.
Di Dalam Perjalanan Pulang – 11.45 WIB
Saat mobil melaju membelah kemacetan, pikiran Hadi tiba-tiba tertuju pada Zavian Hersa. Ia ingat anak muda itu memiliki pandangan bisnis yang tajam, sangat berbeda dengan Andreas yang masih mentah. Hadi mencari nomor telepon Zavian dan langsung menghubunginya.
Panggilan itu diangkat pada nada ketiga.
"Halo, Tuan Hadi? Selamat datang kembali di Indonesia," suara Zavian terdengar tenang di seberang sana.
"Terima kasih, Zavian. Aku ingin bertemu denganmu siang ini. Ada hal penting yang ingin kubicarakan mengenai ekspansi industri di Eropa. Apa kau punya waktu untuk makan siang?" tanya Hadi langsung.
Di seberang sana, Zavian terdiam sejenak. "Mohon maaf sebelumnya, Tuan Hadi. Saat ini saya sedang berada di rumah sakit, saya sedang menjaga seseorang yang sangat berarti bagi saya yang masih dalam perawatan intensif. Saya tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."
Hadi mengernyitkan dahi. "Seseorang yang berarti? Kekasihmu?"
"Benar, Tuan."
Hadi mengangguk pelan, ia menghargai kesetiaan. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan menghampirimu. Ada kafe atau restoran di dekat rumah sakit itu? Kita bertemu di sana satu jam lagi."
"Ada sebuah kafe bernama 'Blue Orchid' tepat di seberang lobi utama rumah sakit, Tuan. Saya akan menunggu Anda di sana."
"Setuju. Sampai jumpa, Zavian."
Kantor Pusat Blue Diamond Corp – Ruang Kerja Andreas
Suasana di ruangan Andreas mendadak mencekam. Miller masuk dengan wajah tegang, menyerahkan sebuah map berwarna merah yang berisi dokumen darurat.
"Apa ini, Miller?" tanya Andreas, matanya yang sembab menatap dokumen tersebut.
"Laporan penghentian produksi di pabrik Tangerang dan Bekasi, Tuan. Kita mengalami krisis bahan baku utama," jawab Miller dengan nada suara rendah.
Andreas tersentak, ia membuka dokumen itu dengan kasar. "Penghentian produksi? Bagaimana bisa? Kita punya kontrak jangka panjang dengan supplier lokal!"
"Itulah masalahnya, Tuan. Setelah pengecekan acak pagi ini, ditemukan bahwa sepuluh ton bahan baku yang baru masuk ternyata tidak sesuai dengan standar mutu yang kita tetapkan. Jika kita nekat menggunakan bahan itu, produk akhir kita akan cacat dan membahayakan konsumen," jelas Miller.
"Mengapa bisa kecolongan hal sepenting ini, Miller?! Di mana tim Quality Control?!" bentak Andreas, ia menghempaskan dokumen ke meja.
"Supplier mengirimkan dokumen sertifikasi yang tampak asli, namun fisik barangnya berbeda. Selama sepuluh tahun lebih kita bekerja sama dengan mereka, sistem kepercayaan telah terbentuk sehingga tim lapangan jarang melakukan pengecekan ulang secara mendalam pada setiap pengiriman. Celah itulah yang mereka gunakan untuk bertindak nakal," Miller menjelaskan dengan rinci.
Andreas memijat kepalanya yang mulai berdenyut. "Lalu cari supplier lain! Sekarang juga!"
"Masalahnya, tidak ada supplier lokal lain yang memiliki stok siap pakai dengan kualitas yang sama, Tuan. Semua sudah terikat kontrak dengan kompetitor. Satu-satunya jalan adalah mengimpor dari Jerman atau Korea, dan itu membutuhkan waktu minimal tiga minggu untuk pengiriman tercepat."
"Tiga minggu?!" Andreas berdiri dari kursinya. "Itu artinya produksi kita mati total selama tiga minggu! Berapa kerugiannya?!"
"Harganya nyaris dua kali lipat dari harga lokal karena biaya kargo udara dan kurs mata uang, Tuan. Belum lagi denda keterlambatan pengiriman kepada klien yang sudah menunggu. Kerugian diprediksi mencapai miliaran per hari."
Andreas terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. "Ini bukan sekadar supplier nakal, Miller. Ini sabotase. Seseorang sengaja menutup keran bahan baku kita tepat saat Kakek pulang. Mereka ingin menunjukkan bahwa aku tidak kompeten memimpin perusahaan ini."
"Saya juga mencurigai hal yang sama, Tuan. Saat ini tim audit internal sedang memeriksa siapa yang menandatangani penerimaan barang tersebut di gudang," sahut Miller.
"Lakukan apa pun! Hubungi koneksimu di luar negeri, minta pengiriman dipercepat tanpa memedulikan biaya! Aku tidak mau Kakek melihat pabrik kita berhenti beroperasi besok pagi!" Andreas berteriak penuh frustrasi.
Di balik pintu ruangan, Gio yang secara tidak sengaja lewat, mendengar teriakan Andreas. Ia menyeringai lebar sambil memperbaiki letak dasinya. Permainan yang ia siapkan mulai membuahkan hasil, dan ini baru permulaan dari kehancuran yang ia janjikan untuk keponakannya.