Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Renung
Malam itu, Arsa berbaring di kasurnya dengan mata yang terbuka lebar menatap langit-langit kamar.
Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar mengingat kejadian siang tadi.
Pertengkarannya dengan Asha. Ucapan-ucapannya yang begitu kejam. Wajah Asha yang hancur saat mendengar semua itu.
Dan tatapan terakhir Asha... Tatapan kosong yang penuh dengan kekalahan dan penyerahan total.
Arsa menutup matanya dengan keras, berusaha mengusir bayangan wajah Asha dari kepalanya.
Tapi bayangan itu tidak mau pergi. Terus menghantui. Terus menyiksa.
"Gw... Gw udah keterlaluan..." gumam Arsa dengan suara yang pelan.
Ia meraih hp barunya yang tergeletak di samping bantal. Hp yang ia beli beberapa minggu lalu karena hp lamanya masih rusak dan belum selesai diperbaiki di konter.
Hp baru yang kosong. Tanpa kontak. Tanpa foto. Tanpa kenangan.
Arsa membuka galeri hp-nya. Kosong. Tidak ada apa-apa.
'Hp lama gw masih di konter. Semua foto... Semua kenangan... Masih di sana...' batin Arsa dengan perasaan yang aneh.
Ia tidak tau apa yang ada di hp lamanya. Tidak tau foto-foto apa yang tersimpan di sana. Tidak tau kenangan apa yang terekam.
Tapi entah kenapa, ada sebagian dari dirinya yang... Penasaran.
Arsa menggelengkan kepalanya dengan keras. "Gak. Gak usah. Itu cuma akan bikin gw makin bingung."
Ia menaruh hp-nya kembali dan menatap langit-langit lagi. Di dalam benaknya, ucapannya sendiri terus terngiang.
"Lo yang bikin gw kehilangan ingatan. Lo yang bikin gw jadi kayak gini."
"Kalau bukan gara-gara lo... Mungkin gw gak akan kecelakaan."
Arsa menutup matanya lagi. Dadanya terasa sesak mengingat ucapan itu.
"Kenapa... Kenapa gw bilang hal sekejam itu..." gumam Arsa dengan suara yang bergetar.
Ia tau ucapannya tidak sepenuhnya benar. Kecelakaan itu adalah kecelakaan. Bukan salah siapa-siapa.
Tapi kenapa, kenapa ia menyalahkan Asha? Kenapa ia mengatakan hal yang begitu menyakitkan?
'Apa... Apa gw melakukan hal yang benar?' batin Arsa dengan perasaan yang campur aduk.
Di satu sisi, ia merasa harus tegas dengan Asha. Harus membuat gadis itu mengerti bahwa mereka tidak ada hubungan lagi.
Tapi di sisi lain... Di sisi lain ia merasa sangat bersalah. Merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang sangat kejam.
Arsa membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang gelap.
Kamar yang sepi. Kamar yang dingin. Kamar yang... Kesepian.
Seperti biasa.
Sejak dulu, kamar ini selalu seperti ini. Sepi. Dingin. Tanpa kehangatan.
Seperti seluruh rumah ini.
🌷🌷🌷🌷
Arsa teringat masa kecilnya. Masa-masa ketika ia masih sangat kecil dan rumah ini... Rumah ini tidak sedingin sekarang.
FLASHBACK - 10 TAHUN YANG LALU
Arsa kecil berusia sekitar 8 tahun duduk di kamarnya sembari mengerjakan PR. Ia bisa mendengar suara dari ruang tamu.
Suara keras. Suara marah. Suara yang membuatnya takut.
"KAMU PIKIR GW GAK TAU?! KAMU PIKIR GW BODOH?!" teriak suara ayahnya dengan nada yang sangat tinggi.
"Mas, tolong... Jangan kayak gini... Arsa bisa denger..." suara ibunya yang lembut tapi penuh ketakutan.
"GW GAK PEDULI! GW MAU LO JUJUR SAMA GW SEKARANG!"
Arsa kecil menutup telinganya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar ketakutan mendengar teriakan ayahnya.
Ini bukan pertama kalinya. Sudah sering. Sangat sering.
Hampir setiap malam, ayah dan ibunya bertengkar. Tentang apa, Arsa tidak begitu mengerti. Yang ia tau hanya satu hal.
Rumah ini tidak bahagia, isinya hanya pertengkaran, perkelahian, dan kesalahpahaman saja.
"Mas... Aku mohon... Aku udah jelaskan berkali-kali... Itu cuma temen kantor..." isak ibunya.
"TEMEN KANTOR?! JANGAN BOHONG! GW UDAH LIAT KALIAN BERDUA!"
Suara pecahan barang terdengar. Arsa kecil semakin ketakutan. Ia ingin keluar. Ingin memeluk ibunya. Ingin melindungi ibunya dari kemarahan ayahnya.
Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia terlalu takut.
"Mas... Arsa... Arsa bisa denger... Please..." tangis ibunya semakin keras.
"BIARKAN DIA DENGER! BIAR DIA TAU IBUNYA KAYAK GIMANA!"
Arsa kecil menangis di kamarnya. Menangis dengan pelan agar tidak terdengar.
Ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa ayah dan ibunya selalu bertengkar. Kenapa mereka tidak bisa bahagia seperti keluarga temannya yang lain.
🌷🌷🌷🌷
HARI BERIKUTNYA - PAGI
Arsa kecil turun dari kamarnya untuk sarapan. Ia melihat ibunya sedang memasak di dapur dengan mata yang sembab.
"Ibu..." panggil Arsa kecil dengan suara yang pelan.
Ibunya berbalik dan langsung tersenyum meskipun senyuman itu terlihat dipaksakan. "Arsa, sayang... Ayo sarapan dulu."
Arsa kecil duduk di meja makan. Ia melirik ke arah ruang tamu yang berantakan. Vas bunga pecah. Beberapa bingkai foto jatuh.
"Ibu... Kenapa semalam Ayah marah-marah?" tanya Arsa kecil dengan hati-hati.
Ibunya terdiam sejenak. Tangannya yang memegang spatula sedikit bergetar.
"Ayah... Ayah cuma lagi cape, sayang. Gapapa kok" jawab ibunya dengan suara yang dipaksakan ceria.
Tapi Arsa kecil tau ibunya berbohong. Ia bisa melihat mata ibunya yang merah. Bisa melihat lebam kecil di lengan ibunya.
"Tapi Ayah teriak-teriak..." ucap Arsa kecil dengan suara yang semakin pelan.
Ibunya berjalan mendekat dan memeluk Arsa kecil dengan erat. "Arsa, sayang... Dengerin Ibu ya..."
"Kadang orang dewasa itu berantem. Itu hal yang biasa. Tapi Ayah sama Ibu tetep sayang sama Arsa kok."
Arsa kecil memeluk ibunya dengan erat. "Arsa gak suka kalau Ibu nangis..."
Ibunya menangis mendengar ucapan Arsa kecil. Ia memeluk anaknya dengan semakin erat.
"Maafin Ibu, sayang... Maafin Ibu..." isak ibunya dengan suara yang sangat pelan.
🌷🌷🌷🌷
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Pertengkaran di rumah itu semakin sering terjadi. Hampir setiap hari.
Ayah Arsa pulang semakin larut. Kadang tidak pulang sama sekali.
Dan setiap kali ia pulang, pasti ada pertengkaran.
"KAMU KEMANA AJA?! UDAH BERAPA HARI LO GAK PULANG?!" teriak ibunya dengan suara yang penuh kekecewaan.
"ITU BUKAN URUSAN LO! GW KERJA BUAT NAFKAHIN KELUARGA INI!" balas ayahnya dengan nada yang tidak kalah keras.
"KERJA ATAU SAMA SELINGKUHAN LO?!" teriak ibunya dengan air mata yang jatuh.
PLAK!
Suara tamparan keras terdengar.
Arsa kecil yang berdiri di tangga langsung membeku. Matanya terbelalak melihat ayahnya yang baru saja menampar ibunya.
"Jangan... Jangan berani-berani nuduh gw selingkuh..." ucap ayahnya dengan suara yang rendah dan mengancam.
Ibunya memegang pipinya yang memerah. Air matanya jatuh semakin deras. Tapi ia tidak berkata apa-apa lagi.
Ayahnya lalu berbalik dan melihat Arsa kecil yang berdiri di tangga.
Untuk sesaat, wajahnya terlihat menyesal. Tapi kemudian ia langsung berjalan keluar dari rumah dan pergi.
Arsa kecil berlari turun dan memeluk ibunya yang menangis. "Ibu... Ibu gapapa?"
Ibunya memeluk Arsa kecil dengan erat sembari menangis sejadi-jadinya. "Maafin Ibu, sayang... Maafin Ibu yang gak bisa kasih keluarga yang bahagia buat Arsa..."
Arsa kecil juga menangis di pelukan ibunya. "Arsa gak butuh keluarga yang bahagia... Arsa cuma butuh Ibu..."
🌷🌷🌷🌷
SETELAHNYA
Hari-hari di rumah itu semakin berat. Ayah Arsa jarang pulang. Dan kalau pulang, pasti ada pertengkaran.
Ibunya menjadi semakin pendiam. Semakin kurus. Semakin terlihat tidak bahagia.
Tapi di depan Arsa kecil, ia selalu berusaha tersenyum. Selalu berusaha membuat Arsa kecil merasa dicintai dan diperhatikan.
"Arsa, sayang... Ibu mau bilang sesuatu..." ucap ibunya suatu malam saat menidurkan Arsa kecil.
"Apa, Bu?" tanya Arsa kecil dengan mata yang sudah mengantuk.
"Arsa harus jadi anak yang kuat ya. Harus jadi anak yang baik. Harus jaga diri dengan baik..." ucap ibunya dengan suara yang bergetar.
Arsa kecil mengangguk meskipun tidak begitu mengerti. "Iya, Bu. Arsa janji."
Ibunya tersenyum dan mencium kening Arsa kecil. "Ibu sayang banget sama Arsa. Arsa tau kan?"
"Arsa juga sayang sama Ibu!" ucap Arsa kecil dengan ceria.
"Kalau... Kalau suatu hari nanti Ibu gak ada... Arsa harus tetep kuat ya. Harus tetep jadi anak yang baik..." ucap ibunya dengan air mata yang mulai jatuh.
Arsa kecil mengernyit bingung. "Kenapa Ibu nangis? Ibu mau kemana?"
Ibunya menggeleng sembari tersenyum di balik air matanya. "Gak kemana-kemana kok, sayang. Ibu cuma... Cuma pengen Arsa tau kalau Ibu sayang banget sama Arsa."
"Mau Arsa jadi apa pun, Ibu akan selalu sayang sama Arsa. Selalu bangga sama Arsa."
Arsa kecil memeluk ibunya dengan erat. "Arsa juga akan selalu sayang sama Ibu!"
Ibunya memeluk Arsa kecil dengan semakin erat. Ia menangis dalam diam, berusaha untuk tidak terdengar oleh anaknya.
🌷🌷🌷🌷
AKHIR FLASHBACK
Arsa membuka matanya. Air matanya jatuh tanpa sadar.
Kenangan tentang masa kecilnya yang penuh pertengkaran. Kenangan tentang ibunya yang selalu berusaha melindunginya dari kekacauan rumah tangga mereka.
Kenangan tentang ayahnya yang dingin dan sering marah.
"Ibu..." bisik Arsa dengan suara yang sangat pelan.
Ia merindukan ibunya. Merindukan pelukan ibunya. Merindukan senyuman ibunya.
Tapi ibunya... Ibunya sudah tidak ada lagi.
Arsa menghapus air matanya dengan kasar. "Kenapa... Kenapa gw jadi inget ini semua..."
Ia merasakan dadanya yang sangat sesak. Perasaan yang begitu berat.
Dan tiba-tiba, ia teringat pada Asha.
Asha yang juga dari kecil tidak pernah memiliki sosok ayah, Asha yang juga tidak pernah mendapatkan dukungan seorang ibu.
Asha yang... Yang mungkin mengerti bagaimana rasanya tumbuh di keluarga yang penuh masalah.
'Tapi gw... Gw malah nyakitin dia...' batin Arsa dengan perasaan bersalah yang luar biasa.
Ia teringat ucapannya sendiri yang menyalahkan Asha atas kecelakaannya.
"Lo yang bikin gw kehilangan ingatan. Lo yang bikin gw jadi kayak gini."
Arsa memegang kepalanya dengan frustrasi. "Sial... Kenapa gw bilang hal sekejam itu..."
Ia tau... Ia tau bahwa ucapannya tidak adil.
Asha tidak bersalah atas kecelakaannya. Itu adalah kecelakaan. Nasib buruk. Bukan salah siapa-siapa.
Tapi ia... Ia menyalahkan Asha. Mengatakan hal yang paling menyakitkan yang bisa ia katakan.
Dan sekarang... Sekarang Asha sudah benar-benar menyerah. Sudah benar-benar pergi dari hidupnya.
"Apa... Apa ini yang gw mau?" gumam Arsa dengan suara yang bergetar.
Ia merasakan perasaan yang aneh di dadanya. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan penyesalan. Bukan rasa bersalah. Tapi... Kehilangan?
Arsa menggelengkan kepalanya dengan keras. "Gak. Gak mungkin. Gw gak ngerasain apa-apa sama dia."
Tapi kenapa... Kenapa dadanya terasa begitu sesak? Kenapa ia merasa ada sesuatu yang hilang?
Kenapa ia merasa... Kosong?
🌷🌷🌷🌷
Arsa bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menatap langit malam yang gelap.
Di dalam benaknya, berbagai pertanyaan mulai bermunculan.
'Apa gw melakukan hal yang benar?'
'Apa gw terlalu kejam sama Asha?'
'Apa gw... Apa gw seharusnya ngasih kesempatan buat dia?'
Arsa menggelengkan kepalanya lagi. "Gak. Udah terlambat. Gw udah bilang hal-hal yang gak bisa ditarik lagi."
"Asha... Asha pasti udah benci sama gw sekarang."
Ia teringat tatapan terakhir Asha. Tatapan yang kosong. Tatapan yang penuh dengan kekalahan. Dan untuk pertama kalinya, Arsa merasakan perasaan yang sangat tidak enak di dadanya.
Perasaan bahwa... Ia telah kehilangan sesuatu yang penting.
Sesuatu yang mungkin... Tidak akan pernah ia dapatkan lagi.
🌷🌷🌷🌷
Arsa kembali berbaring di kasurnya. Ia memeluk bantalnya dengan erat. Di dalam hatinya, ada perasaan yang begitu kacau. Perasaan yang tidak bisa ia mengerti.
'Kenapa... Kenapa gw ngerasa kayak gini...' batin Arsa dengan frustrasi.
Ia tidak mengerti perasaannya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa begitu tidak tenang setelah pertengkaran tadi.
Di satu sisi, ia merasa harus tegas dengan Asha. Harus membuat batasan yang jelas.
Tapi di sisi lain... Di sisi lain ia merasa sangat bersalah. Merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang sangat salah.
"Asha..." bisik Arsa dengan suara yang sangat pelan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa... Ia merasa kehilangan Asha.
Bukan sebagai pacar. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai seseorang yang pernah berarti baginya.
Seseorang yang mungkin masih berarti baginya, meskipun ia tidak mengingatnya.
Arsa menutup matanya dengan erat. "Maafin gw, Asha... Maafin gw..."
Tapi ucapan maaf itu hanya terucap di dalam kamar yang sepi. Tidak ada yang mendengar.
Tidak ada yang peduli.
Seperti biasa.
Seperti yang selalu ia rasakan sejak dulu.
Kesepian.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Sedih banget! 😭 Bab ini ngasih kita insight tentang masa lalu Arsa yang penuh pertengkaran orang tua. Rumah tangganya penuh kekerasan dan ketidakbahagiaan...
Arsa kecil harus menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar hampir setiap hari. Bahkan ayahnya sampai menampar ibunya di depan Arsa 💔
Dan sekarang, setelah menyakiti Asha dengan begitu kejam, Arsa mulai merasakan penyesalan. Dia mulai mempertanyakan apakah keputusannya sudah benar...
Tapi apa sudah terlambat? Apa Asha masih bisa memaafkan setelah semua yang Arsa katakan?
Oh iya, hp lama Arsa yang masih di konter itu isinya apa ya? Pasti banyak foto dan kenangan sama Asha! 📱
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku