Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 - Presisi
Rapat pagi berlangsung lebih cepat dari biasanya.
Karina berdiri di depan papan, menuliskan tiga poin besar tanpa membuka catatan.
“Media stabil.”
“Penahanan Arga diperpanjang.”
“Tidak ada korban baru.”
Ia menutup spidol.
“Kita gunakan momentum ini.”
Salah satu anggota tim mengangguk.
“Untuk apa, Bu?”
“Untuk mempersempit ruang gerak.”
“Pelaku?”
Karina berhenti sebentar.
“Siapa pun yang merasa masih bermain.”
Tidak ada yang bertanya lebih lanjut.
Cara ia berbicara membuat pertanyaan terasa tidak perlu.
Beberapa jam kemudian, seorang saksi tambahan dipanggil ulang.
Ada detail kecil yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan—
perubahan jam dalam kronologi.
Bukan sesuatu yang besar.
Tapi cukup untuk membuka kemungkinan baru.
Saksi itu duduk dengan tangan saling menggenggam.
Karina tidak langsung berbicara.
Ia membiarkan keheningan memanjang.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lima belas.
Orang sering merasa perlu mengisi sunyi.
Dan benar saja.
“Saya mungkin salah lihat jam,” kata saksi itu pelan.
Karina belum menjawab.
Ia hanya menatap, stabil.
Keheningan kedua.
Dua puluh detik.
“Saya… panik waktu itu.”
Baru kemudian Karina membuka mapnya.
“Panik biasanya membuat orang mengingat lebih jelas. Karena tubuh merekam detail untuk bertahan.”
Ia mengucapkannya tanpa tekanan suara.
Bukan tuduhan.
Lebih seperti observasi ilmiah.
Saksi itu menelan ludah.
“Jam di dinding mati, ya?” lanjut Karina ringan.
Saksi itu terdiam.
Ia belum pernah menyebut soal jam.
“Kami sudah cek. Baterainya habis seminggu sebelum kejadian.”
Itu tidak sepenuhnya benar.
Tim belum memastikan.
Tapi Karina ingin melihat responsnya.
Dan respons itu datang.
Saksi itu mengangguk kecil.
“Iya… mungkin saya lihat dari ponsel.”
Presisi.
Satu dorongan kecil.
Satu asumsi yang diletakkan dengan yakin.
Dan pola mulai bergeser.
Setelah saksi keluar, salah satu juniornya terlihat ragu.
“Bu, soal jam tadi… kita belum punya konfirmasi forensik.”
Karina mengangguk.
“Tidak perlu.”
“Kalau ternyata salah?”
“Kalau salah, kita koreksi. Tapi tadi bukan soal jam.”
Junior itu diam.
“Lalu soal apa, Bu?”
“Soal respons.”
Ia berjalan melewati meja mereka.
“Orang yang tidak menyembunyikan sesuatu tidak akan mengikuti asumsi yang tidak pernah ia ucapkan.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia tidak perlu.
Di kepalanya, semuanya terasa logis.
Terstruktur.
Efisien.
Dan hasilnya terlihat.
Siang hari, pesan masuk lagi.
Kamu mulai menggunakan tekanan sebagai alat.
Karina membaca tanpa mengubah ekspresi.
Ia membalas singkat.
Tekanan mengungkap struktur.
Balasan datang hampir seketika.
Dan struktur mengungkap siapa kamu.
Ia berhenti lebih lama dari biasanya.
Siapa kamu.
Pertanyaan itu seharusnya terasa personal.
Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang lain.
Rasa ingin tahu.
Ia menutup percakapan tanpa membalas.
Malamnya, ia membuka kembali rekaman interogasi siang tadi.
Bukan untuk mencari kesalahan.
Untuk mempelajari ritmenya sendiri.
Ia memperhatikan jeda yang ia gunakan.
Nada suaranya.
Cara ia meletakkan asumsi.
Ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya—
Ia mampu mengarahkan emosi orang lain tanpa meninggikan suara.
Tanpa ancaman.
Tanpa tekanan fisik.
Hanya dengan logika.
Itu bukan manipulasi.
Itu teknik.
Dan teknik bisa diasah.
Ia memutar ulang bagian ketika saksi mulai goyah.
Jeda sepuluh detik.
Ia tersenyum tipis.
Jeda itu efektif.
Di kantor, beberapa anggota tim mulai menyesuaikan diri dengan ritme barunya.
Mereka berbicara lebih singkat.
Lebih langsung.
Rapat tidak lagi penuh diskusi panjang.
Keputusan dibuat cepat.
Dan hasilnya?
Produktivitas meningkat.
Atasan mengirim pesan singkat:
“Kinerja unitmu stabil. Good job.”
Karina membaca pesan itu tanpa emosi berlebihan.
Validasi tidak lagi membuatnya gugup.
Ia menganggapnya sebagai konsekuensi logis.
...----------------...
Larut malam, pesan lain masuk.
Kamu tidak lagi ragu.
Ia mengetik balasan perlahan.
Ragu memperlambat keputusan.
Beberapa detik hening.
Lalu balasan:
Tepat. Dan keputusan membentuk pemain.
Ia tidak menjawab.
Ia hanya meletakkan ponsel di meja dan mematikan lampu ruang kerja.
Kota di luar jendela tampak tenang.
Ia berdiri dalam gelap beberapa saat.
Ia mencoba merasakan apakah ada sesuatu yang salah.
Apakah ia terlalu jauh.
Apakah ia terlalu cepat.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada kegelisahan.
Hanya kesadaran bahwa pikirannya bekerja lebih jernih.
Jika ini permainan, maka ia tidak sedang dipindahkan.
Ia sedang memindahkan.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia tidak lagi mempertanyakan apakah itu benar.
Ia hanya memastikan itu efektif.
...****************...
Di tempat lain, seseorang membaca laporan internal yang bocor.
Metode interogasi.
Perubahan ritme rapat.
Keputusan cepat tanpa konsultasi panjang.
Ia tidak tertawa.
Ia tidak perlu.
Perubahan paling menarik bukan saat seseorang dipaksa.
Tapi saat ia menyimpulkan sendiri bahwa efisiensi lebih penting daripada empati.
Permainan berjalan sesuai desain.
Belum ada korban baru.
Belum ada langkah besar.
Tapi papan mulai terasa berbeda.
Dan Karina—
Mulai bermain bukan untuk bertahan.
Tapi untuk menang.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y