NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Romansa
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rens16

Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Tanpa sengaja bertemu

"Sebentar lagi ya, Be!" ucap Amel sambil menatap Revan yang duduk anteng di sofa sambil menunggu Amel yang masih berkutat dengan beberapa dokumen yang harus Amel tanda tangani.

"Selesaiin aja semuanya, biar kamu nggak kepikiran kerjaan pas di Bandung sana!" ucap Revan santai.

Sasi menatap suami sepupunya itu dengan tatapan kagum. Bertemu dengan Revan baru dua kali dan Sasi tahu Revan itu tipe laki-laki yang jarang sekali mengeluarkan suaranya, dalam bahasa kasarnya Revan itu seperti gagu.

Tapi melihat Revan selancar itu berbicara dengan Amel, Sasi baru tahu bahwa ketika seseorang bertemu dengan jodohnya maka orang tersebut segampang itu membuka diri.

"Lo kenapa, Si?" tanya Amel saat melihat Sasi menatap dirinya dan Revan secara bergantian.

Sasi menggeleng, dia tak mungkin mengatakan kalau dia kagum ke suami sepupunya tersebut.

"Udah selesai, Be! Ayo berangkat!" ajak Amel sambil merapikan dokumen yang dia tanda tangani tadi.

"Kalau ada apa-apa call gue!" Amel menyerahkan dokumen itu kepada Sasi lalu keluar ruangan dengan Revan yang membuntuti di belakangnya.

Kemesraan keduanya tak ayal membuat mereka menjadi pusat perhatian karyawan Amel.

Amel dan Revan masuk ke dalam mobil untuk meneruskan perjalanan mereka ke Bandung.

"Ini langsung meeting atau gimana, Ney?" tanya Revan saat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke Bandung sana.

"Iya aku bilang sih begitu, sampai sana langsung meeting aja biar kerjaan beres tinggal kita nyantai!"

"Bulan madu bisa bebas ya, Ney?" goda Revan sambil mengarahkan mobil ke pintu tol jagorawi.

"Revan ih, yang dipikirin bulan madu terus!" Amel cemberut sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Habis enak sih, kalau nggak enak aku juga nggak nagih!" sahut Revan membuat Amel memalingkan wajahnya dan menatap Revan dengan horor.

Revan terkekeh pelan, sepanjang perjalanan menuju ke Bandung itu keduanya membicarakan banyak hal termasuk rumah impian mereka yang lucunya terdengar mirip.

"Jadi kamu suka rumah kecil berwarna putih dengan jendela-jendela besar bercat hitam?" tanya Amel.

"Iya, halamannya yang luas, biar anak-anak kita nanti leluasa bermain di halaman!"

Amel kembali merona, masa depan yang Revan ceritakan itu membuat Amel terharu dan juga tersanjung.

"Kalau bisa nanti rumahnya open space aja ya, Be?" Amel menambahi.

"Iya, pokoknya nanti kita diskusi lagi kalau kita udah siap.dengan dananya!"

"Harus kerja ekstra biar bisa beli rumah bareng!" ucap Amel.

"Rumah biar aku yang pikirin, kamu nggak usah pusing!" tolak Revan membuat Amel menggeleng tak percaya dengan kedewasaan Revan itu.

Sekali lagi bukan berniat membandingkan dengan Doni, tapi dulu Doni bersedia untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Amel, sedangkan Revan sejak awal selalu menolak menempati rumah itu.

Mobil masuk ke salah satu cafe dan di sana Amel meeting dengan kliennya. Revan setia menunggu dan duduk di meja lain untuk memberikan ruang buat Amel tetap profesional dalam menjalankan pekerjaannya.

"Saya nggak percaya lho, Mbak! Semuda ini tapi Mbak Amel sudah seluar biasa ini. Semua kerjasama yang Mbak Amel tawarkan bisa masuk ke toko saya." ucap klien tersebut dengan senyum mengembang.

"Terima kasih untuk pujiannya, Ce! Saya hanya menekuni hobby yang akhirnya menghasilkan!" Amel merendah.

"Saya tunggu design yang lainnya ya. Untuk po pertama saya minta aksesoris ini dikirim lima puluh buah per-itemnya."

"Oke, Ce! Saya akan segera menginstruksikan pekerja saya untuk memproduksi pesanan Cece!"

"Saya harap secepatnya ya, Mbak Amel!"

"I do my best, Ce!"

Setelah keduanya bersalaman Amel pun meninggalkan tempat itu bersama Revan.

"Aku meetingnya nggak kelamaan kan, Be?" tanya Amel.

"Nggak kok!" Revan menggeleng.

"Syukurlah, aku takut kamu bosan nungguin tadi!"

"Aku juga kerja kok!"

"Oh!" Amel pun mengangguk. Pekerjaan Revan memang bisa dikerjakan dimana saja tanpa perlu duduk di kursi kantornya sana.

"Masih mau makan atau mau langsung ke hotel aja?" tanya Revan setelah mereka kembali masuk ke dalam mobil mereka.

"Ke hotel dulu deh, aku capek banget pengen rebahan dulu!" jawab Amel.

"Siap, Mom!" Revan tentu bersemangat mengarahkan mobil ke hotel yang telah mereka booking kemarin.

Amel menggeleng pelan melihat suaminya seekspresif itu.

Tak lama mobil masuk ke salah satu hotel bintang empat di kota itu. Revan memarkirkan mobilnya lalu mengambil tas berisi baju mereka dari bangku belakang dan menggandeng Amel memasuki hotel itu untuk reservasi.

Amel menunggu di belakang Revan saat Revan sedang melakukan check in ke resepsionis di depannya.

"Makasih, Mbak!" Revan menerima kunci kamar dari tangan mbak resepsionis lalu dengan lembut kembali menggandeng tangan Amel menuju lift.

Revan dan Amel sedang menunggu lift turun dan tetap bercerita tentang sesuatu yang lucu, Amel sampai tertawa dibuatnya.

Saat pintu lift itu terbuka, Revan melihat papanya dan ibu tirinya berada di dalam lift yang terbuka itu.

Ketiganya saling bersitatap untuk sekian detik lamanya lalu Revan menggandeng tangan Amel masuk ke dalam lift itu tanpa mempedulikan keduanya.

Feri dan Dewi menatap pintu lift yang tertutup itu dengan sorot mata tajam.

"Masih piyik udah main masuk hotel sama cewek! Lihat itu anak kamu, Mas!" Dewi mengoceh kepada suaminya yang tampak shock dengan keberadaan Revan tadi.

Terhitung lebih dari lima tahun keduanya tak pernah lagi bertemu, tepatnya saat Revan meninggalkan rumah saat Feri pulang membawa Dewi dan anak perempuan mereka.

Feri menghela nafas panjang saat melihat anak lelakinya sudah tumbuh sebesar itu dan hidup secara bebas dengan perempuan lain.

"Ternyata kabur dari rumah cuman mau jadi berandalan! Emang dasarnya anak keras kepala yang kelakuannya mirip sama ibunya yang sudah mati itu!" omel Dewi lagi.

"Dew..." tegur Feri.

"Bener kan, Mas! Istri Mas itu perempuan nggak bener yang pindah dari pelukan lelaki yang satu ke lelaki yang lain, persis kayak anaknya itu!" gumam Dewi masih terus mengomel sepanjang langkahnya menuju ke mobil mereka.

Feri menggeleng pelan, mau menolak ucapan Dewi itu tapi kenyataannya memang Revan seliar itu. Masih berumur dua puluh tahun tapi sudah berani menginap di hotel bersama perempuan.

Keterlaluan memang anak itu! Maki Feri dalam hati.

1
irma hidayat
mudah2an suatu saat feri menyesal
Rens16: Semogq 😍
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang mengharu biru.,semangat buat para perintis
Rens16: Terima kasih buat bintang limanya 😍
total 1 replies
irma hidayat
cerita bagus
Rens16: Terima kasih 😍
total 1 replies
irma hidayat
yg keterlaluan sebenarnya kamu fery ayah yg gapantas jadi ayah, anak sendiri diabaikn
Rens16: Kita sikat yuk kak 💪🤣
total 1 replies
Soviani
jangan lama2 up nua
Rens16: oke 🤣
total 1 replies
Rini
lnjutt
Rini
lnjutt😍😍
Rens16: Siap 💪
total 1 replies
Rini
lnjuttt
Rini
lamjuttty👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!