NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 (Part 1) Benang Kusut di Ujung Jemari

Lonceng pintu kafe berdenting sekali lagi saat Reno menghilang di balik kegelapan malam, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dada Kella. Bau parfum Reno yang menyengat seolah masih tertinggal, bercampur dengan aroma kopi dan kecemasan yang kini membumbung tinggi.

Kella menatap layar ponselnya yang retak. Ia ingin sekali menelepon Gala detik itu juga, namun ia teringat peringatan Gala: Jangan hubungi gue di jam kerja kalau nggak darurat medis. Bagi Gala, darurat adalah sesuatu yang mengancam nyawa secara fisik. Namun bagi Kella, ancaman Reno adalah darurat yang bisa menghancurkan jiwa dan rencana mereka sekaligus.

"Kella? Kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," Pak Heru mendekat, tangannya yang keriput memegang nampan kayu.

Kella mengerjapkan mata, mencoba memaksakan senyum profesionalnya kembali. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma sedikit pusing karena kurang tidur."

"Laki-laki tadi... dia teman sekolahmu, kan? Tapi kenapa tatapannya seperti orang jahat?" Pak Heru bertanya dengan nada khawatir. Ia adalah orang yang mengenal Gabriel dengan baik, dan ia tahu betul betapa kerasnya dunia yang dihadapi anak-anak panti asuhan.

"Hanya teman yang suka bercanda, Pak. Jangan khawatir," bohong Kella. Ia segera kembali ke dapur, bukan untuk bekerja, tapi untuk menarik napas di balik lemari pendingin yang bising.

....

Pukul 23.30 WIB.

Kella berjalan pulang menyusuri gang sempit menuju kontrakannya. Setiap bayangan tiang listrik yang memanjang di tanah membuatnya berjengit. Ia merasa seolah mata Reno ada di mana-mana.

Sesampainya di kamar, ia tidak langsung tidur. Ia mengeluarkan buku catatan kerja Gabriel dari bawah kasur. Di sana, tertulis jadwal-jadwal paruh waktu Gabriel yang melelahkan. Di sela-sela jadwal itu, ada coretan kecil: "Gala benci sayur, tapi dia suka susu kotak strawberry. Kalau dia marah, diamkan saja sampai dia capek sendiri."

Kella mengusap tulisan itu. Gabriel mengenal adiknya dengan sangat baik. Namun, apakah Gabriel tahu bahwa adiknya kini tumbuh menjadi pria yang harus menggunakan kekejaman sebagai tameng?

Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Gala.

Kella: Reno datang ke kafe. Dia punya fotoku pakai seragam maid. Dia mengancam akan menyebarkannya kecuali aku memberikan ponselmu padanya besok selama satu jam. Apa yang harus aku lakukan?

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada jawaban.

Kella mulai merasa putus asa. Mungkin Gala sudah tidur, atau mungkin dia sedang diawasi ayahnya. Baru saja Kella hendak meletakkan ponselnya, sebuah panggilan masuk tanpa nama.

"Halo?" bisik Kella pelan.

"Jangan pernah kirim pesan eksplisit kayak gitu lagi ke nomor ini," suara Gala terdengar sangat rendah dan dingin. "Ayah gue punya sistem pelacak kata kunci di semua perangkat yang terhubung ke Wi-Fi rumah. Beruntung gue baru aja ganti enkripsi gue."

"Maaf, Gala. Tapi Reno... dia serius."

Ada jeda panjang di seberang sana. Kella hanya bisa mendengar suara napas Gala yang berat.

"Gue udah tahu Reno bakal bertindak bodoh," ucap Gala akhirnya. "Dia itu kayak anjing yang kelaparan perhatian. Dia ngerasa gue mulai menjauh, jadi dia nyari cara buat narik gue balik lewat lo."

"Lalu ponselmu? Aku nggak mungkin mencurinya, kan?"

"Lo bakal kasih ponsel itu ke dia," kata Gala mantap.

Kella terbelalak. "Apa? Tapi di sana ada—"

"Gue bakal kasih ponsel cadangan yang isinya sudah gue atur. Isinya cuma foto-foto sampah, chat gue sama cewek-cewek random, dan beberapa dokumen palsu yang bakal bikin Reno mikir dia udah dapet emas. Besok, pas istirahat pertama, lo harus akting seolah-olah lo berhasil nyolong ponsel gue dari tas saat gue lagi di toilet."

Kella memijat keningnya. "Kenapa kita nggak langsung hajar dia saja?"

"Karena kalau kita hajar dia sekarang, dia bakal langsung lari ke Ayah gue atau ke Sarah. Kita butuh dia tetap merasa 'menang' sampai hari pesta itu tiba. Reno adalah bidak yang bakal kita gunain buat bikin kekacauan di pesta nanti."

"Baiklah. Aku mengerti," jawab Kella lemas.

"Satu lagi, Kella." Suara Gala melunak sedikit, sangat tipis hingga hampir tak terdengar. "Lo jangan nangis pas dia ancam besok. Kalau lo nangis, dia bakal makin seneng. Tatap matanya seolah lo lebih kuat dari dia."

Klik. Sambungan terputus.

...

Keesokan Harinya – Pukul 10.00 WIB (Jam Istirahat Pertama)

Suasana sekolah terasa sangat panas, meski awan mendung mulai menggantung di langit. Reno duduk di kantin bersama Sarah dan pengikutnya. Ia terus-menerus melirik jam tangannya, matanya yang licin mencari sosok Kella di antara kerumunan siswa.

Kella berjalan dengan langkah yang dibuat gemetar menuju meja Reno. Ia membawa sebuah ponsel hitam dengan casing yang persis sama dengan milik Gala.

"Gimana, Maid kesayangan? Dapet?" tanya Reno sambil menyeringai lebar. Sarah di sampingnya mengernyit bingung.

"Ini," bisik Kella sambil menyodorkan ponsel itu di bawah meja. "Aku ambil dari tasnya pas dia lagi di ruang ganti basket. Kamu cuma punya waktu satu jam. Kalau dia tahu, aku habis, Reno."

Reno menyambar ponsel itu dengan rakus. "Pintar juga lo. Ternyata rasa takut dipermalukan lebih gede daripada loyalitas lo ke Gala, ya?"

"Jangan banyak bicara. Cepat cek apa yang kamu mau," desis Kella, matanya melirik ke arah pintu kantin seolah-olah Gala bisa muncul kapan saja.

Reno mulai mengotak-atik ponsel tersebut. Ia menemukan folder galeri yang dikunci. "Apa kodenya?"

"0704. Tanggal lahirnya," jawab Kella (yang sebenarnya adalah tanggal lahir palsu yang disiapkan Gala).

Mata Reno berbinar saat folder itu terbuka. Di dalamnya ada foto-foto Gala sedang berada di klub malam, foto tumpukan uang, dan beberapa percakapan teks yang terlihat sangat kasar terhadap ayahnya sendiri.

"Wah, wah... ternyata si anak emas Alangkara punya sisi gelap yang asik juga," gumam Reno. Ia mulai mengirim beberapa file dari ponsel itu ke ponselnya sendiri.

Kella memperhatikan dari kejauhan. Di dalam hatinya, ia merasa ngeri melihat betapa mudahnya Reno tertipu oleh umpan yang disiapkan Gala. Namun, ia juga sadar bahwa Gala sedang mempertaruhkan reputasinya sendiri demi menjebak Reno.

Tiba-tiba, suara gebrakan meja terdengar dari arah pintu kantin.

"SIAPA YANG BERANI NYENTUH TAS GUE?!"

Gala berdiri di sana dengan wajah yang merah padam karena amarah (yang Kella tahu itu adalah akting kelas atas). Ia berjalan cepat menuju meja Reno. Seluruh kantin mendadak sunyi.

Reno yang panik segera menyembunyikan ponsel Gala di bawah paha kangkangnya. "Woy, Gal! Santai, Bro. Ada apa?"

Gala mencengkeram kerah baju Reno, mengangkatnya hingga pria itu hampir terjinjit. "Gue tahu ada yang buka tas gue di ruang ganti. Cuma lo yang tahu kode loker gue selain gue sendiri, Ren. Mana ponsel gue?"

"Bukan gue, Gal! Sumpah!" Reno berkeringat dingin. Ia menunjuk ke arah Kella yang berdiri tak jauh dari sana. "Tuh! Si Kella tadi yang dari arah ruang ganti! Gue liat dia!"

Gala menoleh ke arah Kella dengan tatapan yang sangat menakutkan—bahkan Kella sendiri sempat merasa takut benaran. Ia berjalan mendekati Kella dan menjambak rambutnya sedikit (tanpa benar-benar menyakiti).

"Lo lagi?" desis Gala. "Gue udah kasih lo makan, gue kasih lo tempat di sekolah ini, dan lo nyolong dari gue?"

Kella menunduk, bahunya berguncang. "Maaf, Tuan... aku cuma..."

Gala menggeledah saku Kella dengan kasar, tentu saja ia tidak menemukan apa-apa. Ia kemudian berbalik kembali ke Reno.

"Kalau bukan lo yang pegang, kenapa lo pucat banget, Ren? Sini, berdiri!" Gala menarik Reno hingga ponsel di bawah pahanya jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

Krak.

Ponsel itu jatuh dan layarnya retak.

Gala memungut ponsel itu, menatap layarnya yang hancur, lalu menatap Reno dengan dingin. "Lo nyuruh dia buat nyuri ini, kan? Lo mau cari tahu apa soal keluarga gue?"

Reno gemetar. "Nggak, Gal! Gue cuma penasaran—"

"Penasaran bisa bikin lo mati di sekolah ini, Ren," Gala mendekatkan wajahnya ke telinga Reno.

"Jangan pernah sentuh barang gue lagi. Dan lo..." Gala menunjuk Kella. "Ikut gue ke gudang belakang. Sekarang!"

Semua siswa di kantin menarik napas panjang. Mereka tahu, jika seseorang dibawa Gala ke gudang belakang setelah melakukan kesalahan fatal, orang itu tidak akan keluar dalam keadaan "utuh".

...

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!