Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Di Balik Langit yang Runtuh
Kapal tempur berbentuk hiu logam itu melesat membelah awan yang warnanya sudah tidak karuan. Di bawah sana, Malabar yang biasanya hijau tenang sekarang kelihatan kayak sirkuit elektronik raksasa yang lagi korslet. Api perak berkobar di mana-mana, tapi anehnya api itu tidak membakar kayu, melainkan "menghapus" keberadaan pohon-pohon teh itu sampai jadi abu digital.
Di dalam kabin kapal yang sempit dan penuh layar hologram, suasana rasanya lebih dingin daripada es. Aris sibuk di kursi pilot, tangannya yang sebagian sudah jadi mekanik bergerak lincah menekan tombol-tombol yang memancarkan cahaya biru. Sementara itu, Adrian duduk di bangku belakang, persis di hadapan Sekar.
Sekar cuma diam. Dia membuang muka, matanya menatap kosong ke luar jendela kapal. Kelereng perak yang tadi dia telan sudah bekerja memori aslinya sudah balik. Dan memori itu pahit banget.
Dia bukan sekadar "teman" atau "penjaga" yang kebetulan ada di Malabar. Dia adalah korban ambisi bokapnya Adrian. Orang tuanya dihabisi demi sebuah eksperimen gila untuk menciptakan pelindung sempurna bagi si "Pewaris".
Adrian menarik napas panjang. Jantung emas di dadanya berdenyut pelan, memberikan dia kekuatan fisik yang luar biasa, tapi mentalnya terasa remuk. Dia melihat tangannya sendiri yang sekarang bersih dan kuat. Tangan ini adalah produk dari teknologi yang sama yang sudah menghancurkan hidup Sekar.
"Kar," panggil Adrian pelan. Suaranya nggak lagi ragu-ragu kayak dulu. Ada ketegasan, tapi juga ada rasa bersalah yang sangat dalam di sana. Sekar nggak menoleh. Bahunya cuma sedikit menegang.
"Gua tahu kata maaf nggak bakal bisa balikin orang tua lu," lanjut Adrian. "Gua juga baru tahu kalau raga gua ini, memori gua, bahkan mungkin rasa suka gua ke kebun teh itu, semuanya didesain sama bokap gua. Tapi satu hal yang gua mau lu tahu... gua nggak milih buat jadi anak dia. Gua nggak milih buat lahir sebagai 'proyek'."
Sekar akhirnya menoleh. Matanya yang biasanya jernih sekarang kemerahan, penuh luka yang sudah dipendam selama bertahun-tahun dalam ketidaktahuan. "Lu enak bisa ngomong gitu, Adrian. Lu 'Pewaris'.
Lu yang jadi pusat semesta ini. Sementara bokap lu anggep orang tua gua cuma sebagai 'bahan baku'. Lu tahu rasanya diingat kembali kalau nyawa bokap nyokap lu cuma dihargai setara satu baris kode?"
Adrian nggak mundur. Dia justru memajukan posisi duduknya, menatap langsung ke mata Sekar. Adrian yang sekarang bukan lagi CEO manja atau pemuda yang bingung. Dia sudah bertransformasi jadi sosok yang tangguh karena tekanan yang dia alami.
"Gua tahu. Karena gua juga baru sadar kalau raga asli gua, raga yang lahir dari rahim nyokap gua, sebenarnya sudah mati atau disimpan entah di mana. Gua ini 'pencuri' identitas diri gua sendiri, Kar. Kita berdua sama-sama korban dari orang-orang yang merasa mereka itu Tuhan."
Adrian mengepalkan tangannya. Energi emas tipis merambat di sela-sela jarinya. "Bokap gua mungkin yang ngebunuh orang tua lu, dan gua nggak bakal bela dia. Gua bakal seret dia atau apa pun sisa kesadaran dia yang ada di kapal induk itu buat tanggung jawab sama lu.
Tapi sekarang, dunia lagi dihapus secara fisik. Kalau lu mau benci gua, lakuin nanti setelah kita jatuhin The Harvester. Lu mau pukul gua, lu mau bunuh gua sekalipun, gua terima. Tapi jangan sekarang."
Sekar terdiam cukup lama. Dia melihat kepalan tangan Adrian. Dia bisa merasakan aura kekuatan yang keluar dari raga Adrian, sesuatu yang jauh lebih stabil dan kuat daripada sebelumnya. Adrian tidak lagi bergantung pada perintah sistem, dia sudah mengambil kendali atas kekuatannya sendiri.
"Gua nggak mau bunuh lu, Adrian," bisik Sekar akhirnya, suaranya parau. "Gua cuma... gua cuma bingung siapa yang harus gua percaya sekarang." "Percaya sama tujuan kita," jawab Adrian mantap.
"Gua bakal tebus dosa bokap gua dengan cara matiin semua sistem gila ini. Gua bakal pastiin nggak ada lagi 'Sekar-Sekar' lain yang dijadiin eksperimen. Itu janji gua." Tiba-tiba, kapal berguncang hebat. BUM!
"Woi, drama keluarganya dipending dulu!" teriak Aris dari depan. "Kita sudah masuk zona merah Jakarta. Cleaners udara mulai deteksi keberadaan kita!" Adrian berdiri, dia berjalan ke arah kokpit dan melihat ke depan.
Jakarta sudah tidak lagi terlihat seperti Jakarta. Tembok air raksasa yang tadi menyelimuti kota sekarang sudah berubah jadi menara-menara cahaya yang menjulang sampai ke atmosfer. Kabel-kabel raksasa dari langit nancep ke gedung-gedung, menyedot cahaya dari setiap sudut kota.
"Ris, kenapa lu bantu kita?" tanya Adrian sambil memperhatikan radar yang penuh dengan titik-titik merah yang mendekat. Aris terkekeh, suaranya yang bercampur suara mesin terdengar sinis.
"Gua bukan bantu lu, Adrian. Gua cuma nggak suka kalau bos-bos dari langit itu ambil semua jatah energi di bumi. Gua ini produk gagal, inget? Dan produk gagal biasanya punya sifat dendam yang sangat tinggi. Lagian, bokap lu pernah janjiin gua kebebasan kalau gua jagain lu. Sekarang gua mau tagih janji itu lewat lu."
Aris menarik tuas kontrol. "Pegangannya yang kenceng! Kita bakal masuk lewat celah pembuangan panas di Monas. Itu satu-satunya jalan masuk ke jaringan bawah tanah Jakarta yang belum kena sinkronisasi total."
Di luar jendela, puluhan sosok perak yang terbang tanpa pesawat para Cleaners mulai mengejar mereka. Mereka menembakkan laser-laser perak yang kecepatannya melebihi peluru. Kapal hiu logam Aris meliuk-liuk di antara gedung-gedung pencakar langit yang sudah tertutup kristal.
"Adrian! Pake energi emas lu buat bikin perisai di bagian belakang kapal!" perintah Aris. "Radar gua nggak bisa nahan interferensi mereka!" Adrian langsung bergerak ke bagian belakang kapal. Dia melihat pintu palka kaca. Di belakang mereka, tiga sosok Cleaners terbang mendekat, tangan mereka sudah berubah jadi meriam energi.
Adrian menarik napas, memejamkan mata, dan memanggil sisa "kemanusiaan" bokapnya yang baru saja dia telan lewat kelereng emas. Dia tidak hanya melihat dunia lewat mata, tapi lewat aliran energi. Dia bisa melihat "benang-benang" yang menghubungkan para Cleaners itu ke kapal induk di atas sana.
"Gua nggak bakal biarin kalian hapus siapa pun lagi!" geram Adrian. Dia menghantamkan telapak tangannya ke dinding kapal. SHHHING! Sebuah gelombang cahaya emas berbentuk sayap meledak dari belakang kapal, menciptakan tameng transparan yang sangat kuat.
Laser perak dari para Cleaners menghantam tameng itu dan memantul balik, menghancurkan salah satu pengejar sampai jadi debu bintang. Sekar yang melihat itu berdiri di samping Adrian. Dia menarik busur energi yang muncul dari gelang peraknya senjata asli yang baru dia ketahui cara pakainya setelah memorinya balik.
"Gua masih benci bokap lu, Adrian," ucap Sekar sambil menarik tali busurnya. Cahaya perak terkumpul di ujung anak panahnya. "Tapi lu bener. Kita harus selesaiin ini dulu."
CIIUUUT... BOOM!
Anak panah Sekar melesat menembus tameng emas Adrian dan tepat mengenai inti energi salah satu Cleaner. Ledakan besar terjadi di udara, memberikan celah bagi Aris untuk menukik tajam ke arah lapangan Monas yang sekarang sudah berubah jadi hutan tiang-tiang logam.
"Kita masuk!" teriak Aris. Kapal meluncur masuk ke sebuah lubang besar di bawah tugu Monas yang sudah miring. Gelap menyergap mereka sesaat sebelum lampu-lampu kapal menyala kembali. Mereka sekarang berada di sebuah lorong raksasa yang sepertinya adalah gudang penyimpanan rahasia Dirgantara Group yang paling dalam.
Kapal mendarat dengan suara berdecit keras. Aris langsung melompat keluar, memegang senapan besar. Adrian dan Sekar menyusul. Suasana di bawah tanah Jakarta ini sangat berbeda.
Di sini tidak ada kristal perak. Yang ada hanyalah barisan tabung-tabung kaca yang sangat banyak, jumlahnya mungkin ribuan. Dan di dalam setiap tabung itu... ada rupa manusia yang sama.
Adrian mematung. Dia melihat ke barisan tabung di sebelah kirinya. Semuanya berisi sosok dirinya. Adrian. Tapi dengan berbagai versi umur. Ada yang masih bayi, ada yang remaja, ada yang dewasa.
"Apa-apaan ini?" bisik Adrian. "Ini adalah Backup, Adrian," Aris menjawab sambil terus waspada melihat ke arah pintu masuk. "Bokap lu itu gila. Dia tahu kalau raga organik itu bisa rusak atau gagal sinkron. Jadi dia bikin ribuan cadangan raga buat lu. Dan bukan cuma buat lu... liat ke sebelah sana."
Sekar berjalan ke barisan tabung di sebelah kanan. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Di sana, di dalam tabung-tabung itu, ada ribuan rupa dirinya. Sekar. "Jadi... selama ini kita cuma... suku cadang?" suara Sekar bergetar.
"Nggak," Adrian mendekati Sekar, memegang bahunya dengan mantap. Adrian yang sekarang tidak lagi bisa dipatahkan oleh kenyataan pahit. "Kita yang sekarang berdiri di sini adalah kita yang punya memori, punya rasa sakit, dan punya kehendak. Raga-raga di dalam tabung ini cuma daging kosong. Mereka nggak punya apa yang kita punya."
Adrian menatap ke arah ujung lorong, di mana ada sebuah pintu baja raksasa dengan logo bunga lili yang sudah karatan. "Pusat kendalinya ada di balik pintu itu, kan?"
"Betul," suara seorang pria terdengar dari arah kegelapan di balik pintu baja itu.
Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan uap dingin. Dari dalam sana, berjalan keluar sosok pria yang sangat tua, duduk di kursi roda elektrik yang melayang. Wajahnya sangat keriput, tapi matanya tajam dan bersinar perak. Di sampingnya, berdiri beberapa robot penjaga yang jauh lebih canggih dari Cleaners.
"Bapak?" suara Adrian tercekat. Pria tua itu tersenyum, senyum yang asli, bukan hologram. "Halo, Adrian. Anakku... atau harus kupanggil 'Versi 17.4'? Aku sudah menunggu momen ini. Aku tahu kamu bakal datang setelah menelan kelereng emas itu."
Bokap Adrian batuk kecil, suaranya parau. "Kamu pasti marah. Kamu pasti benci. Tapi dengerin dulu... semua yang kulakukan, ribuan raga cadangan ini, penculikan orang tua Sekar... itu semua untuk satu tujuan yaitu Melawan The Harvester dari dalam." "Lu bohong!" teriak Sekar sambil mengarahkan busurnya ke pria tua itu. "Lu cuma mau jadi penguasa dunia!"
"Dunia ini sudah kalah sejak ribuan tahun lalu, Nak," ucap pria tua itu tenang. "Manusia hanyalah ternak bagi mereka. Aku hanya mencoba menciptakan seekor 'serigala' di tengah kawanan domba.
Dan serigala itu adalah kamu, Adrian. Kamu satu-satunya hasil eksperimenku yang punya empati manusia tapi punya kekuatan alien. Kamu adalah virus yang kusuntikkan ke dalam sistem mereka."
Bokap Adrian menekan sebuah tombol di kursi rodanya. Seketika, layar di seluruh dinding lorong menyala, memperlihatkan kapal induk langit yang sedang mulai membuka kawah besarnya tepat di atas Jakarta.
"Mereka mulai melakukan Format C. Mereka akan menghapus seluruh permukaan bumi dan mulai menanam benih baru. Waktu kalian tinggal tiga puluh menit sebelum raga semua manusia di dunia ini diuapkan untuk jadi bahan bakar."
Adrian melangkah maju, berdiri tepat di depan kursi roda bokapnya. Dia tidak merasa takut, tidak merasa kecil. Dia merasa lebih besar dari pria di depannya. "Kalau gitu, kasih tahu cara buat hentiin mereka sekarang juga," kata Adrian dengan suara yang dalam.
Bokapnya tertawa kecil, tawanya berubah jadi batuk darah. "Cara hentiinnya gampang, tapi harganya mahal. Kamu harus masuk ke inti sistem mereka lewat menara cahaya di pusat Jakarta. Tapi raga kamu nggak bakal kuat nahan arus datanya sendirian. Kamu butuh seseorang buat jadi 'jembatan' memori... dan seseorang buat jadi 'perisai' fisik."
Dia melirik ke arah Sekar dan Aris.
"Sekar punya memori asli 'The Ancients' lewat orang tuanya. Aris punya raga mekanik yang bisa nahan radiasi perak. Kalian bertiga... adalah kunci yang selama ini kusembunyikan di bawah tanah ini."
Tiba-tiba, gedung di atas mereka bergetar hebat. Suara raungan dari langit terdengar sangat kenceng sampai merobek gendang telinga. Cahaya perak mulai merembes masuk lewat sela-sela langit-langit lorong.
"Mereka sudah tahu kalian di sini!" teriak Bokapnya. "Cepat masuk ke lift transmisi di belakangku! Adrian, ingat satu hal... jangan pernah lepasin tangan Sekar saat proses sinkronisasi dimulai. Kalau kalian lepas, kalian berdua bakal terjebak dalam ketiadaan selamanya!"
Adrian menatap Sekar. Sekar menatap Adrian. Ada keraguan di mata Sekar, tapi Adrian meraih tangan Sekar dan menggenggamnya dengan sangat kuat. "Kita lakuin ini bukan buat dia," bisik Adrian ke telinga Sekar. "Kita lakuin ini buat kita."
Sekar mengangguk pelan. Mereka bertiga Adrian, Sekar, dan Aris berlari masuk ke lift transmisi. Pas pintu lift mau tertutup, Adrian melihat bokapnya untuk terakhir kalinya.
Pria tua itu melambai lemah, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Maafkan aku... karena telah memberimu beban untuk menyelamatkan dunia yang tidak pernah memintamu lahir, Nak."
Lift itu melesat ke atas dengan kecepatan cahaya. Adrian merasakan badannya mulai terurai jadi partikel emas. Dia melihat Aris mulai berteriak saat bagian mekaniknya terbakar, dan Sekar yang wajahnya mulai memudar.
Tapi saat mereka hampir sampai ke puncak menara cahaya, sebuah gangguan besar terjadi. Transmisi mereka dicegat di tengah jalan. Adrian membuka matanya dan menyadari dia tidak lagi di lift. Dia berada di sebuah ruang hampa yang luas, berdiri di atas air yang tenang.
Di depannya, berdiri ribuan sosok Adrian yang lain semua raga cadangan yang tadi dia liat di tabung, sekarang hidup dan berdiri menatapnya. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri sosok ibunya, tapi kali ini ibunya memakai zirah perang perak milik The Harvester.
Mengapa raga-raga cadangan Adrian tiba-tiba hidup di dalam ruang transmisi? Apakah ibu Adrian sebenarnya adalah panglima perang dari The Harvester yang bertugas memastikan proses penghapusan bumi berjalan lancar?
Di tengah jebakan memori dan raga cadangan ini, mampukah Adrian menemukan Sekar dan Aris yang hilang dari pandangannya, ataukah dia akan terjebak selamanya menjadi bagian dari koleksi raga tak berjiwa milik penjajah langit tersebut?
semangat update terus tor..