NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wangi Abadi

Jakarta, masa kini. Pukul 01.23.

Ferdy terbangun terisak, jantungnya berdebar kencang bagai baru menghindari bahaya maut. Dadanya sesak, otot-ototnya kaku. Pipinya basah oleh air mata yang mengalir tanpa ia perintah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi gambaran itu masih melekat: kilatan pedang perak di bawah cahaya bulan purnama yang kejam, genangan hitam yang menguar besi di tanah, jeritan pilu seorang wanita yang merobek kesunyian malam, dan seorang pria—dengan dagu yang sama, alis yang sama, bahkan tahi lalat di pelipis kirinya—terbaring tak bernyawa, matanya menatap kosong ke langit.

Dan wajah-wajah itu. Seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang hingga pinggang, terurai tak teratur, berlumuran tanah dan darah bukan miliknya, menangis histeris sambil mendekap tubuh pria yang sekarat itu. Rasa sakit di wajah wanita itu begitu nyata, menusuk langsung ke jiwa Ferdy.

Ia merasa anehnya terhubung, seperti kabel listrik yang terhubung ke stop kontak jiwanya. Wanita itu terasa dekat, sangat dekat, seperti ada di sini.

Lalu, di balik tirai istana atau ruang singgah, seorang wanita lain. Cantik, tapi kecantikannya tajam dan dingin. Bibirnya menyungging senyum tipis, puas, matanya berbinar licik menyaksikan tragedi itu.

“Ada...apa–siapa...” gumam Ferdy parau, suaranya tersekat. Tangannya mengepal erat mencengkeram sprei. Ini bukan mimpinya. Ia seorang fotografer freelance yang hidupnya berkutat pada edit foto, klien yang menuntut, dan cicilan motor. Bukan pedang, darah, dan istana.

Mimpinya terasa lebih seperti... memori yang dipaksakan masuk. Sebuah rekaman yang diputar paksa di kepalanya. Setiap detailnya terlalu jelas: tekstur kain beludru jubah yang robek, bau campuran tanah basah dan darah, Ini kenangan. Tapi kenangan siapa?

Di sudut kamar yang gelap, di mana sinar lampu jalan hanya menyentuh ujung kasur, Dasima membuka mata. Meditasinya buyar oleh gelombang penderitaan mendadak yang memancar dari tempat tidur.

Melihat Ferdy terguncang, hati Dasima bagai diremas. Sebuah rasa sakit yang familier, tua, dan dalam.

Sudah mulai, pikirnya, suara hatinya bergetar. Ikatan darah kami membangun jembatan. Kenangan Raden menyerbunya. Ia menghela napas panjang yang tak mengeluarkan suara. Lima abad bukan waktu yang singkat untuk menunggu, namun melihat penderitaan ini, meski hanya gema, tetap menyiksa.

Dengan gerakan halus, Dasima melayang mendekat. Wujudnya yang semi-transparan, seperti asap yang dirajut dengan cahaya bulan, berhenti di sisi tempat tidur sempit itu.

Ia memandangi Ferdy—wajahnya yang masih basah, kerut dahinya, bibirnya yang bergetar. Kasihan. Cinta yang lama tertahan membanjiri dirinya.

Tanpa ragu lagi, setelah lima ratus tahun merenung dan mengamati dari kejauhan, Dasima membaringkan wujud energinya di sisi Ferdy.

Tempat tidur single itu tentu saja tidak cukup untuk dua tubuh fisik, tapi Dasima bukanlah tubuh fisik. Perlahan, dengan hati-hati luar biasa agar tidak menimbulkan sensasi angin yang mengganggu, ia melingkarkan lengannya—yang terasa seperti aliran udara dingin yang teratur—di sekitar tubuh Ferdy.

Ia merebahkan kepalanya di bantal yang sama. Jarak antara wajahnya dengan leher Ferdy hanya sebilah jarum. Andai ia masih hidup, nafasnya pasti akan mengusik bulu-bulu halus di sana.

Sentuhan antar alam itu dirasakan Ferdy sebagai perubahan mendadak. Udara panas dan pengap di kamar kosannya tiba-tiba digantikan oleh sejuk yang menenangkan.

Seperti mandi di air terjun pegunungan setelah berjalan jauh. Seperti selimut dingin di hari panas terik. Tubuhnya yang tegang, seketika merespons. Otot-ototnya melemas satu per satu. Napasnya yang tadi tersengal-sengal mulai melambat, menjadi dalam dan teratur.

Ferdy, dalam ketidaksadarannya, merasakan suatu kehadiran. Bukan hantu atau sesuatu yang menakutkan. Ini kehadiran yang kokoh, pelindung, dan... akrab. Sangat akrab, meski ia tak bisa mengingat dari mana. Dengan gerakan setengah tidur, ia membalikkan badan.

Kini, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Dasima.

Matanya terpejam, tapi Dasima memandanginya dari jarak sangat dekat. Ia bisa melihat setiap detail: bekas jerawat kecil di pipi, bulu mata yang lembap, pola freckles yang samar. Bau sampo murah dan keringat ketakutan membaur menjadi aroma yang justru membuat Dasima ingin menangis.

Raden, pikirnya, dan untuk kesekian kalinya dalam lima abad, air mata energi—cairan keemasan murni yang hanya bisa dilihat makhluk sejenisnya—menitik dari sudut matanya dan menguap sebelum menyentuh bantal.

Akhirnya. Aku bisa berada sedekat ini lagi. Lima abad aku mengembara seperti debu, hanya mengingat senyummu. Dan sekarang, di dunia yang sama sekali asing ini, aku menemukanmu lagi.

Tangannya yang tak kasatmata membelai rambut Ferdy yang pendek dan ikal. Sentuhannya ringan, lebih ringan dari sarang laba-laba.

Kau tidak tahu, bukan? Kau tidak ingat janji kita di bawah pohon beringin itu. Kau berjanji, bahkan jika kita terpisah oleh maut sekalipun, kau akan mencari jalannya kembali.

Kau bilang, “Cinta kita akan menjadi kompas bagi jiwaku.” Dan lihatlah… kau benar. Kau kembali. Meski dalam wujud yang berbeda, jiwa itu tetap sama. Aku mengenalinya.

Ferdy bergerak lagi, mendekat. Dahinya nyaris menyentuh dahi Dasima. Dan—energi Dasima yang tenang, hangat seperti sinar matahari pagi, merembes pelan ke dalam kesadaran Ferdy yang tengah bermimpi.

Mimpinya berubah.

Pedang dan darah sirna. Digantikan oleh taman bunga. Seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang—wanita yang sama dari mimpi buruknya—tapi kini tersenyum lembut.

Dia memakai kebaya sederhana, tangannya terulur. Di mimpi itu, Ferdy merasa tenang. Sangat tenang. Wanita itu memegang tangannya, dan mereka berjalan di antara hamparan bunga melati. Wanginya semerbak.

Tidurlah, Radenku, bisik Dasima dalam pikiran, suaranya hanya untuk alamnya sendiri, kata yang penuh kerinduan. Tidurlah dengan damai. Untuk malam ini, biar aku yang berjaga.

Dasima memperhatikan ekspresi Ferdy berubah total. Kerut di dahinya menghilang, digantikan oleh kedamaian. Bibirnya yang tadi berkerut kini melonggar. Ia bahkan hampir tersenyum.

Ini rumahku, pikir Dasima, matanya semakin berat. Rumahku bukan di istana, bukan di bawah pohon beringin, bukan di dalam guci pusaka. Rumahku ada di sini, di mana pun kau berada. Selama ini aku tersesat, karena aku mencari tembok dan atap, padahal rumahku adalah pelukanmu.

Dan untuk pertama kalinya sejak jiwa nya terikat menjadi penunggu, Dasima menutup mata. Bukan untuk meditasi atau mengumpulkan energi, tetapi untuk benar-benar beristirahat. Ia membiarkan kesadarannya larut, energi nya berdenyut pelan selaras dengan detak jantung Ferdy, menyatu dalam frekuensi kedamaian.

Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta. Rintik-rintiknya mengetuk atap seng dan daun pisang dengan irama monoton yang justru menenangkan. Jam digital murah di meja Ferdy berganti angka: 02:17.

Dalam kamar sempit berantakan dengan kabel charger dan tumpukan kaos itu, sebuah keajaiban tenang sedang terjadi. Dua jiwa dari dua zaman dan dua alam yang berbeda, terpisah oleh lima abad sejarah berdarah, akhirnya menemukan kembali pelabuhan masing-masing dalam keheningan malam yang basah.

Ferdy tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa "perasaan aneh" di museum itu adalah panggilan jiwa. Tidak tahu bahwa mimpi buruknya adalah bab pertama dari buku kehidupan lamanya yang belum tertutup.

Tidak tahu bahwa ada sosok yang dengan sabar menyusun mozaik waktu hanya untuk menemukan pecahan terakhirnya: yaitu dirinya. Dan ia pasti tidak tahu bahwa sentuhan dingin yang menenangkan itu adalah pangkuan dari seorang wanita yang rela berkorban demi sebuah janji cinta.

Dasima pun tahu, ini baru permulaan. Kenangan yang bocor seperti ini adalah pertanda. Kekuatan lama, musuh lama, dan takdir lama akan segera berdentum kembali. Tapi untuk malam ini, ia memilih untuk mengabaikannya.

Biarlah esok membawa badainya sendiri, pikir Dasima, setengah sadar. Malam ini adalah milik kita. Milik kita yang telah direnggut terlalu lama.

Dan wangi bunga melati—wanginya sendiri—yang selalu melekat pada energi Dasima, mengisi kamar kosan sederhana itu. Wangi yang tidak akan pernah hilang lagi. Karena sekarang, ia telah menemukan alasan terkuat untuk tetap tinggal: sebuah jiwa yang dipanggilnya sebagai rumah.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!