NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAYAP YANG SENGAJA KU PATAHKAN

Pintu kamar Kanaya dibanting hingga nyaris terlepas dari engselnya. Maya berdiri di sana, napasnya memburu dengan mata yang melotot lebar, memancarkan kebencian yang begitu murni hingga membuat udara di kamar itu terasa membeku. Di tangannya, ia mencengkeram ponsel Kanaya yang entah sejak kapan sudah berada di bawah pengawasannya.

"Jadi kamu tetap ambil yang Kalimantan?!" teriak Maya, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian siang yang tadinya tenang. "Kamu benar-benar tidak menghargai Ibu? Kamu anggap apa usaha Ibu mencarikan kerja yang dekat? Kamu anggap Ibu ini sampah?!"

Kanaya terperanjat, jantungnya seolah melompat keluar dari dadanya. Ia belum sempat menjawab ketika Maya kembali berteriak sambil mengacungkan ponsel itu ke wajah Kanaya.

"Tadi ada telepon masuk dari nomor luar pulau! Ibu angkat! Ibu sudah telepon balik perusahaan itu dan Ibu bilang kamu batalkan! Ibu bilang kamu anak tidak tahu diri yang tidak diizinkan pergi!" Maya tertawa histeris, sebuah tawa yang penuh dengan rasa puas sekaligus luka.

Dunia Kanaya seolah runtuh seketika. Harapan yang baru saja ia susun rapi, tiket menuju napas yang lebih lega, dipatahkan begitu saja oleh tangan yang seharusnya melindunginya. "Ibu... kenapa Ibu lakukan itu? Itu masa depan Naya," bisik Kanaya, suaranya parau, nyaris habis oleh rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.

"Masa depan? Masa depanmu itu di sini, mengurus Ibu! Membayar semua tahun-tahun yang Ibu habiskan untuk mengurus kakekmu dan kamu!" Maya melemparkan ponsel Kanaya ke atas tempat tidur dengan kasar. "Silakan! Kalau kamu masih mau pergi, pergi sana ke Kalimantan! Pergi sendirian! Biar mati kamu di sana! Jangan pernah cari Ibu lagi, jangan pernah sebut namaku lagi!"

Maya melangkah maju, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Dasar anak tidak tahu untung! Darah adikku memang mengalir di tubuhmu, darah pengkhianat! Kamu sama saja dengan mereka semua! Kamu mau meninggalkan aku sendirian di lubang ini sementara kamu bersenang-senang di sana?"

Kanaya hanya bisa menunduk. Ia tidak menangis. Matanya kering, namun hatinya terasa seperti diremas oleh tangan besi. Ia teringat kembali pada memar-memar di masa kecilnya, pada tempat pensil besi yang pernah melayang, dan pada kakeknya yang kini sudah tidak ada lagi untuk berdiri di depannya sebagai tameng.

Kini, tidak ada lagi pelindung.

"Kalau memang Ibu mau aku mati di sana, kenapa Ibu takut sekali aku pergi?" suara Kanaya keluar, sangat rendah, dingin, dan kosong. Ia mendongak, menatap mata ibunya yang sedang kalap. "Ibu takut kehilangan pelampiasan amarah Ibu, kan? Ibu takut tidak ada lagi orang yang bisa Ibu salahkan atas hidup Ibu yang hancur?"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Kanaya, meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke telinga. Maya gemetar, wajahnya pucat pasi.

"Pergi kamu! Pergi sekarang juga kalau berani! Tapi ingat, selangkah kamu keluar dari pintu rumah ini, kamu bukan lagi anakku. Kamu bukan siapa-siapa!" Maya berteriak untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari kamar dan membanting pintu, lalu terdengar suara kunci diputar dari luar.

Kanaya dikunci di dalam kamarnya sendiri.

Ia terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu yang dingin. Ia menatap ponselnya yang tergeletak di kasur. Kesempatan di Kalimantan mungkin sudah musnah karena ulah ibunya, tapi di dalam diri Kanaya, sesuatu yang selama ini ia jaga agar tetap lembut, kini benar-benar telah membatu.

"Aku akan tetap pergi, Bu," bisik Kanaya pada kesunyian. "Bukan karena aku ingin mati di sana, tapi karena aku ingin hidup. Sekalipun tanpa Ibu."

Di tengah keputusasaan itu, Kanaya menyadari bahwa kerangkeng sepuluh menit itu kini telah berubah menjadi penjara fisik. Namun, ia juga tahu bahwa tidak ada gembok yang bisa menahan seseorang yang sudah tidak lagi memiliki rasa takut untuk hancur. Kanaya mulai mengumpulkan sisa kekuatannya, menatap jendela kamarnya yang tidak berteralis. Malam ini, ia akan membuktikan bahwa takdirnya tidak ditentukan oleh siapa pun.

Malam itu menjadi malam yang paling menyesakkan dalam hidup Kanaya. Setelah badai kemarahan yang meluap-luap, Maya melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menyita semua kunci rumah—pintu depan, pintu belakang, hingga kunci pagar—dan menyembunyikannya di tempat yang tak mungkin ditemukan Kanaya. Tidak berhenti di situ, Maya menyeret bantal dan gulingnya, lalu merebahkan diri di samping Kanaya di atas kasur yang sempit itu.

Ia ingin memastikan dengan raganya sendiri bahwa Kanaya tidak akan melangkah satu senti pun keluar dari kerangkeng yang ia buat.

Kanaya berbaring kaku, memunggungi ibunya. Ia bisa merasakan deru napas Maya yang tidak teratur di belakang punggungnya. Suasana kamar yang biasanya menjadi tempat persembunyiannya kini terasa seperti peti mati. Bau minyak angin dari tubuh Maya dan hawa panas dari amarah yang belum sepenuhnya padam membuat Kanaya merasa tercekik.

"Tidur, Naya," suara Maya terdengar dingin di tengah kegelapan. "Jangan pikirkan cara untuk lari. Kamu tidak akan bisa. Ibu sudah kunci semuanya. Kalau kamu nekat lompat dari jendela, Ibu akan teriak maling biar kamu dipermalukan sekalian di depan tetangga."

Kanaya hanya diam, matanya terbuka lebar menatap tembok yang gelap. Ia merasa seperti binatang buruan yang sudah terpojok. Ironisnya, orang yang sedang memburunya adalah orang yang selama ini ia panggil "Ibu"—orang yang ia pahami lukanya, yang ia jaga perasaannya, dan yang ia lindungi martabatnya di depan orang lain.

Di tengah kesunyian itu, ingatan Kanaya kembali pada sosok kakeknya. Ia teringat bagaimana tangan renta sang kakek selalu mengusap kepalanya setiap kali Maya mengamuk. "Sabar ya, Nduk. Ibumu itu hanya sedang sakit hatinya," begitu pesan kakek dulu. Kanaya selalu sabar. Ia selalu mengerti. Tapi malam ini, di bawah pengawasan ketat ibunya yang tidur di sampingnya, Kanaya menyadari satu hal: kesabarannya selama ini justru menjadi racun yang membuat Maya semakin berkuasa untuk menghancurkannya.

Ia meraba saku celananya, mencari ponsel yang tadi sempat dilempar Maya. Beruntung, ponsel itu masih menyala meski layarnya retak seribu. Dengan gerakan sangat perlahan, ia meredupkan cahaya layar sekecil mungkin agar tidak tertangkap oleh sudut mata Maya.

Ada satu pesan masuk dari Hendri.

“Naya, entah kenapa perasaanku tidak enak. Kamu baik-baik saja? Kalau butuh bantuan, aku bisa ke sana sekarang.”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara, membasahi bantal. Kanaya ingin sekali membalas, "Tolong aku, Kak. Aku dikurung." Namun, ia teringat ancaman ibunya. Jika ia membawa orang luar ke dalam kekacauan ini, Maya tidak akan segan-mempermalukan Hendri atau bahkan menyerang pria itu dengan kata-kata yang jauh lebih tajam dari sembilu. Kanaya tidak ingin mengotori tangan Hendri dengan lumpur hidupnya.

Ia mengetik balasan dengan jemari bergetar, "Aku baik-baik saja, Kak. Hanya sedang istirahat. Jangan datang ya."

Setelah mengirim pesan itu, Kanaya mematikan ponselnya. Ia memejamkan mata, namun otaknya terus bekerja. Ia tahu, tawaran di Kalimantan mungkin sudah hangus karena campur tangan ibunya. Ia tahu, besok pagi ia mungkin akan dipaksa bekerja di tempat teman ibunya yang hanya berjarak sepuluh menit itu.

Namun, di dalam kegelapan kamar itu, sebuah tekad baru muncul. Maya boleh mengunci semua pintu, Maya boleh tidur di sampingnya untuk mengawasi setiap geraknya, tapi Maya tidak bisa mengunci pikiran Kanaya. Kanaya menyadari bahwa selama ini ia terpenjara bukan karena kunci pintu, tapi karena rasa kasihan dan "pemahamannya" terhadap luka Maya.

Malam itu, Kanaya tidak tidur. Ia mendengarkan detak jam dinding, menghitung setiap detik yang berlalu. Ia membiarkan ibunya percaya bahwa ia telah menang. Namun dalam hati, Kanaya sedang mempersiapkan sebuah keberangkatan yang berbeda. Jika ia tidak bisa pergi secara fisik malam ini, maka ia akan mulai mematikan seluruh rasa "mengerti"-nya terhadap Maya. Ia akan menjadi orang asing di rumahnya sendiri sampai kesempatan itu datang lagi.

Baginya, tidak menikah atau hidup sendiri di ujung dunia sekalipun jauh lebih baik daripada harus tidur di samping seseorang yang mencintainya dengan cara menghancurkannya setiap hari.

Kanaya memiringkan tubuhnya sedikit, mencuri pandang ke arah wajah ibunya yang terlelap di bawah temaram lampu tidur yang redup. Dalam jarak sedekat itu, amarah yang tadinya membara di dada Kanaya perlahan luruh, digantikan oleh rasa sesak yang jauh lebih menyakitkan. Ia menatap garis-garis keriput yang dalam di dahi dan sudut mata Maya—jejak-jejak kelelahan dari puluhan tahun mengabdi sebagai guru PNS, memikul beban kehormatan seragam cokelatnya sambil merawat orang tua yang sakit-sakitan, dan menanggung malu atas kegagalan adiknya.

Ia teringat betapa Maya selalu menjaga wibawa di depan murid-muridnya, namun di rumah, sisa energi itu habis tak berbekas, berubah menjadi emosi yang meledak-ledak. Tangan Maya yang kasar karena saking seringnya memegang kapur dan memeriksa tumpukan tugas siswa tampak mencengkeram pinggiran selimut, seolah bahkan dalam tidurnya pun, ia takut kehilangan satu-satunya hal yang ia anggap sebagai "hasil didikannya" yang tersisa: Kanaya.

Hati Kanaya yang tadinya sudah sekeras batu, tiba-tiba melunak seperti tanah yang tersiram hujan. Ia merasa seperti orang yang sangat jahat karena sempat berniat melarikan diri dari wanita yang sudah banting tulang menyekolahkannya hingga sarjana dengan gaji PNS-nya yang mungkin sudah habis terpotong cicilan demi kebutuhan keluarga besar. "Aku tidak jahat. Aku tidak boleh jadi orang jahat yang menambah beban di bahu itu," bisiknya dalam hati, tenggorokannya terasa sangat panas menahan tangis agar tidak pecah.

Ia teringat betapa Maya tetap berangkat mengajar dengan wajah tegak meski hatinya hancur setelah ditinggal ayahnya. Ia ingat bagaimana ibunya itu rela tetap memakai seragam yang sudah pudar warnanya demi memastikan Kanaya punya laptop untuk kuliah. Semua pengabdian itu kini terpampang nyata di wajah yang menua itu. Maya mungkin seorang monster saat amarah menguasainya, tapi dia adalah seorang guru yang telah mengorbankan hidup pribadinya demi memastikan Kanaya tidak berakhir tragis seperti ibunya dulu.

"Mungkin memang ini takdirku," pikir Kanaya sambil memejamkan mata rapat-rapat. "Mungkin tugasku bukan untuk menjadi hebat di Kalimantan, tapi untuk menjadi teman bagi Ibu yang sudah memberikan seluruh hidupnya untuk mengajar orang lain, namun gagal menyembuhkan lukanya sendiri."

Ia memutuskan untuk mengubur impiannya dalam-dalam. Ia akan menerima tawaran kerja di toko grosir milik teman ibunya yang hanya berjarak sepuluh menit itu. Ia akan membiarkan dirinya tetap berada dalam jangkauan Maya, menjadi anak patuh yang bisa dipantau setiap saat. Ia memilih untuk mematikan mimpinya sendiri agar ibunya tidak perlu lagi merasa takut ditinggalkan atau merasa gagal sebagai orang tua.

Sambil menahan isak yang menggetarkan dadanya, Kanaya berbisik tanpa suara ke arah ibunya yang tertidur, "Maafkan Naya, Bu. Naya tetap di sini. Naya tidak akan pergi."

Malam itu, Kanaya menyerah pada rasa kasihannya. Ia memilih untuk tetap tinggal di dalam kerangkeng sepuluh menit itu, merelakan masa mudanya demi menjaga sisa-sisa hari tua wanita yang telah memberinya sejuta luka, namun juga satu-satunya orang yang membiayai napasnya hingga detik ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!