NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUTUKAN SANG PENEBUS DOSA

Hari-hari berikutnya bagi Kanaya adalah sebuah koreografi kepatuhan yang sempurna. Ia bangun sebelum alarm berbunyi, menyiapkan sarapan untuk Maya, dan memastikan seragam PNS cokelat ibunya sudah tergantung rapi tanpa kerutan sedikit pun. Ia berangkat ke toko "Grosir Barokah" tepat waktu, bahkan sepuluh menit lebih awal, hanya untuk memberikan kesan pada Tante Rosa bahwa ia adalah pekerja yang sangat berdedikasi.

Namun, di balik topeng robotik itu, Kanaya sedang menjalani perang gerilya emosional. Setiap kali ia duduk di meja administrasi, matanya tidak lagi menatap kosong pada angka-angka stok barang. Ia mulai memetakan setiap gerak-gerik Tante Rosa. Ia tahu kapan wanita itu akan pergi ke gudang belakang, kapan ia akan sibuk mengobrol di telepon dengan Maya, dan kapan ia akan benar-benar teralihkan oleh tumpukan nota yang harus divalidasi.

Satu minggu berlalu sejak kunjungan "belanja mie instan" Hendri. Selama tujuh hari itu, mereka tidak bertukar pesan teks yang panjang. Hendri menepati janjinya untuk menjadi "diam". Ia hanya mengirimkan satu titik di WhatsApp setiap pagi pukul enam—sebuah tanda bahwa ia masih ada, masih terjaga, dan masih menunggu. Kanaya akan membalas dengan emotikon matahari, sebuah kode bahwa ia siap menjalani hari dalam kerangkengnya.

Namun, pada Kamis siang, saat Maya sedang sibuk dengan rapat guru di sekolah dan Tante Rosa sedang tertidur di kursi goyangnya setelah makan siang yang berat, sebuah pesan berbeda masuk ke ponsel Kanaya.

Hendri: "Aku sudah bicara dengan temanku yang punya biro jasa di luar pulau. Lowongan di Kalimantan itu memang sudah ditutup atas permintaan 'keluargamu', tapi mereka terkesan dengan portofoliomu. Mereka punya posisi serupa di cabang Sulawesi. Jauh lebih terpencil, tapi jauh lebih aman dari jangkauan."

Jantung Kanaya berdegup kencang. Ia melirik Tante Rosa yang mendengkur halus. Jarak sepuluh menit yang dipuja ibunya tiba-tiba terasa seperti jeratan yang mulai melonggar. Ia mengetik dengan cepat, jemarinya gemetar.

Kanaya: "Bagaimana caranya aku pergi? Ibu punya semua kunci. Dia bahkan tidur di sampingku sekarang."

Hendri: "Kita tidak akan lari malam hari. Itu terlalu dramatis dan berbahaya. Kita akan lari saat kamu sedang 'bekerja'. Tante Rosa punya pola, kan?"

Kanaya terdiam. Ia menatap kamera CCTV di sudut ruangan. Benar. Setiap hari Sabtu, Tante Rosa akan pergi ke bank untuk menyetor uang tunai hasil penjualan mingguan selama dua jam. Di jam-jam itu, toko hanya dijaga oleh Kanaya dan dua orang kuli angkut yang sibuk di gudang belakang. Itu adalah celah. Sebuah lubang kecil di dinding penjara yang dibangun Maya.

Malam harinya, suasana di rumah terasa sangat "harmonis" dalam definisi Maya. Maya sedang dalam suasana hati yang baik karena ia baru saja menerima pujian dari kepala sekolah. Ia memasak ayam goreng kesukaan Kanaya dan bercerita panjang lebar tentang betapa bangganya ia memiliki anak yang "penurut" dan tidak "berulah" seperti ibunya dulu.

"Lihat kan, Naya? Ibu bilang juga apa," ucap Maya sambil menyodorkan sepotong paha ayam ke piring Kanaya. "Kerja dekat rumah itu berkah. Kamu tidak perlu kepanasan, tidak perlu ketemu orang-orang tidak jelas di jalan. Tante Rosa bilang kamu sangat rajin. Ibu jadi tenang di sekolah."

Kanaya mengunyah ayam itu, rasanya hambar seperti debu. Ia menatap wajah ibunya. Keriput itu masih ada, rasa kasihan itu masih tersisa di sudut hati Kanaya, tapi rasa haus akan kehidupan yang normal jauh lebih besar. Ia menyadari bahwa jika ia tetap di sini, ia hanya akan menjadi monumen bagi kegagalan masa lalu ibunya. Ia bukan anak; ia adalah penebusan dosa yang dipaksa.

"Iya, Bu. Tante Rosa baik sekali," jawab Kanaya datar.

"Tentu saja. Dia itu sahabat Ibu. Dia tahu betapa Ibu berdarah-darah mengurusmu sendirian," Maya mulai masuk ke narasi pengorbanannya yang biasa. "Ibu tidak menikah lagi itu bukan karena tidak ada yang mau, Naya. Banyak guru laki-laki di sekolah yang mendekati Ibu. Tapi Ibu pikir, siapa yang akan menjagamu kalau Ibu sibuk dengan laki-laki? Siapa yang akan memastikan kamu tidak dipukuli ayah tiri?"

Kanaya ingin berteriak bahwa ia tetap dipukuli meski tidak ada ayah tiri. Ia ingin menunjukkan bekas memar di pahanya yang sekarang sudah memudar namun meninggalkan trauma yang permanen. Namun, ia memilih untuk mengangguk.

"Terima kasih sudah berkorban untuk Naya, Bu," ucap Kanaya. Kalimat itu adalah kejujuran sekaligus salam perpisahan yang disamarkan.

Hari Sabtu tiba. Udara terasa lebih berat dari biasanya. Kanaya membawa tas ranselnya yang biasa, namun di dalamnya ia telah menyelipkan ijazah asli, kartu identitas, dan beberapa lembar pakaian dalam yang ia sembunyikan di balik tumpukan berkas kantor.

Pukul sepuluh pagi, Tante Rosa bersiap-siap dengan tas kulit besarnya. "Naya, Tante ke bank dulu ya. Seperti biasa, kalau ada pembeli partai besar, suruh tunggu atau catat saja di buku hitam. Jangan main HP, Ibu kamu tadi pesan supaya kamu cek stok gudang lantai dua."

"Baik, Tante. Hati-hati di jalan," sahut Kanaya dengan suara yang luar biasa tenang, seolah ia tidak sedang merencanakan penghianatan terbesar dalam hidupnya.

Begitu mobil Tante Rosa keluar dari parkiran, Kanaya langsung mengirim pesan satu kata ke Hendri: "Sekarang."

Lima menit kemudian, sebuah mobil putih berhenti di depan toko. Bukan motor Hendri, melainkan mobil sewaan dengan kaca gelap. Hendri turun dengan cepat, tidak lagi berpura-pura menjadi pembeli. Wajahnya tegang, namun matanya memancarkan kepastian yang membuat Kanaya merasa kuat.

"Semua sudah siap?" tanya Hendri saat masuk ke toko.

Kanaya mengambil tasnya dari bawah meja. Ia melihat sekeliling toko—tumpukan mie instan, aroma kopi, dan kamera CCTV yang masih merekam. Ia tahu, dalam beberapa jam, Maya akan melihat rekaman ini. Ibunya akan melihat Kanaya melangkah keluar dengan sukarela bersama laki-laki yang paling ia takuti.

"Aku tidak bawa banyak barang," bisik Kanaya.

"Barang bisa dibeli, Naya. Kebebasan tidak," jawab Hendri tegas. Ia menggenggam tangan Kanaya, dan untuk pertama kalinya, Kanaya tidak merasa takut akan sentuhan itu. Ia tidak merasa sentuhan itu akan berakhir dengan pukulan atau makian.

Mereka melangkah keluar. Kanaya mengunci pintu toko dari luar dan meletakkan kuncinya di bawah pot bunga, tempat yang biasa digunakan Tante Rosa jika ia pulang terlambat. Saat mobil mulai melaju meninggalkan "Grosir Barokah", Kanaya melihat jam di tangannya.

Sepuluh menit.

Hanya butuh sepuluh menit bagi mobil itu untuk keluar dari batas kota, melewati jalan yang selama ini menjadi tembok penjaranya.

Di rumah, di atas tempat tidur Kanaya yang rapi, terdapat selembar surat yang ia tulis dengan tangan yang tenang semalam.

"Ibu, Naya pergi bukan karena Naya tidak tahu berterima kasih. Naya pergi karena Naya ingin Ibu berhenti menjadi penjaga bagi kesalahan orang lain. Selama Naya di sini, Ibu akan terus melihat wajah Ayah atau wajah Ibu Naya pada diri Naya. Ibu akan terus marah, dan Naya akan terus terluka.

Naya ingin Ibu hidup untuk diri Ibu sendiri sekarang. Jadilah Ibu Maya yang guru, bukan Ibu Maya yang sipir penjara. Naya sudah bekerja di tempat yang jauh. Naya akan tetap kirim uang setiap bulan ke rekening Ibu sebagai tanda bakti. Tapi tolong, jangan cari Naya.

Naya ingin tahu rasanya bangun pagi tanpa rasa takut. Naya ingin tahu rasanya menjadi manusia, bukan sekadar 'produk pengorbanan'. Naya sayang Ibu, tapi Naya lebih sayang pada kewarasan Naya sendiri."

Di dalam mobil, Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu Hendri. Ia melihat ponselnya bergetar hebat. Nama "IBU" muncul berulang kali di layar. Getarannya terasa seperti gempa bumi di genggamannya.

"Kamu mau angkat?" tanya Hendri pelan.

Kanaya menatap layar itu lama. Ia bisa membayangkan wajah Maya yang memerah, suaranya yang melengking meneriakkan kata "durhaka" dan "mati di sana". Ia bisa merasakan tarikan rasa kasihan yang biasa, rasa ingin pulang dan meminta maaf agar ibunya tidak menangis.

Namun, kali ini, Kanaya menarik napas panjang. Ia menggeser tombol merah. Kemudian, ia mengeluarkan kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua bagian.

"Tidak," jawab Kanaya mantap. "Aku tidak akan membawanya ke dalam hidup baruku. Belum saatnya."

Mobil terus melaju menuju pelabuhan. Di depannya, laut membentang luas, memisahkan masa lalu yang penuh memar dengan masa depan yang mungkin masih buram, namun setidaknya, ia yang memegang kemudinya. Kanaya memejamkan mata, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia tidak perlu memikirkan apakah ia masuk lima besar, apakah ada memar di kakinya, atau apakah ia berada dalam radius sepuluh menit.

Ia bebas. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan kasih sayang yang salah arah sekalipun, mengurungnya kembali.

Gemini said

Deburan ombak yang menghantam lambung kapal feri itu terdengar seperti detak jantung yang liar. Kanaya berdiri di tepi dek, membiarkan angin laut yang asin mengacak-acak rambutnya. Di depannya, laut membentang tanpa batas, biru pekat dan dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih besar daripada amarah ibunya. Kapal ini begitu megah, membelah ombak dengan pasti, membawa ribuan jiwa menuju harapan baru. Namun, semakin jauh daratan tertinggal, semakin berat beban di dadanya.

Ia memikirkan Maya. Ia membayangkan bagaimana ibunya pulang dari sekolah, mungkin dengan senyum karena mengira anaknya masih duduk manis di balik meja toko Tante Rosa. Ia membayangkan saat Tante Rosa menelepon dengan suara panik, dan saat Maya mendapati kamar Kanaya kosong dengan surat di atas kasur. Kanaya tahu, bagi wanita sekaku Maya, kepergian ini bukan sekadar kehilangan anak, melainkan runtuhnya seluruh harga diri yang ia bangun selama puluhan tahun sebagai guru dan kepala keluarga.

Tiba-tiba, ponsel cadangan yang ia bawa—yang nomornya hanya diketahui oleh segelintir orang—bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar, membuat napas Kanaya tercekat.

"Ayah."

Laki-laki yang menjadi alasan di balik setiap tetes air mata Maya. Laki-laki yang sosoknya dianggap sebagai kutukan di rumah mereka. Sudah bertahun-tahun mereka tidak berkomunikasi; Ayahnya pergi begitu saja, hanya mengirimkan uang tanpa pernah berani menampakkan wajah. Dengan tangan gemetar, Kanaya menekan tombol hijau.

"Halo?" suara Kanaya hampir hilang tertiup angin laut.

"Naya..." Suara di seberang sana terdengar berat, serak, dan penuh rasa bersalah. Tidak ada basa-basi. "Naya, kamu di mana? Pulanglah sebentar. Ibumu... Ibumu jatuh di depan rumah tadi sore."

Jantung Kanaya seolah berhenti berdetak. "Jatuh? Maksud Ayah apa?"

"Tante Rosa menelepon Ayah karena dia bingung tidak bisa menghubungimu. Ibumu shock berat, Naya. Dia pingsan setelah membaca suratmu dan sekarang ada di Rumah Sakit Umum. Tekanan darahnya sangat tinggi, dokter bilang dia mengalami serangan jantung ringan karena stres yang berlebihan."

Dunia seolah berputar. Laut yang tadi terlihat indah kini tampak seperti jurang yang siap menelannya. Kanaya terduduk di lantai dek yang dingin, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

"Ayah tahu Ayah orang terakhir yang pantas bicara begini," lanjut suara itu, terdengar terisak. "Tapi jangan biarkan dia pergi dengan kebencian, Nay. Dia memang keras, dia memang menyakitimu, tapi dia hancur karena Ayah. Jangan biarkan dia hancur lagi karena kamu."

Kanaya menutup wajahnya dengan satu tangan. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini meledak. Ironi ini begitu kejam; di saat ia akhirnya memiliki keberanian untuk menyelamatkan dirinya sendiri, takdir menariknya kembali dengan rantai rasa bersalah yang paling kuat.

Ia memikirkan wajah Maya saat memakai seragam PNS-nya, memikirkan keriput di dahi ibunya saat tidur semalam, dan memikirkan bagaimana ibunya selalu menyebut Kanaya sebagai satu-satunya "hasil" hidupnya. Jika Maya meninggal sekarang, Kanaya tahu ia tidak akan pernah bisa hidup tenang di mana pun—bahkan di ujung dunia sekalipun. Ia akan membawa predikat "anak pembunuh" di dalam batinnya selamanya.

"Mas..." Kanaya menoleh ke arah Hendri yang berdiri tak jauh darinya, yang sedang menatapnya dengan cemas.

Hendri mendekat, berlutut di depan Kanaya. Ia sudah mendengar samar percakapan itu. "Ibuku, Mas... Ibu masuk rumah sakit karena aku. Aku harus bagaimana?"

Hendri terdiam, matanya menatap laut lalu kembali ke wajah Kanaya yang hancur. Ini adalah ujian terdalam bagi cinta mereka. Jika ia membiarkan Kanaya pulang, mereka mungkin tidak akan pernah punya kesempatan untuk lari lagi. Maya akan mengikat Kanaya lebih kencang dari sebelumnya. Namun, jika ia memaksa Kanaya pergi, ia tahu ia akan menikahi seorang wanita yang jiwanya sudah mati tertimbun penyesalan.

Kanaya menatap layar ponselnya yang kini menggelap, namun suara parau Ayahnya masih terngiang, beradu dengan deru mesin kapal yang terasa semakin menyakitkan di telinga. Ia mendongak, menatap luasnya laut yang beberapa menit lalu ia anggap sebagai gerbang kebebasan, namun kini tampak seperti kuburan massal bagi impian-impiannya.

"Aku tidak bisa, Mas," bisik Kanaya. Suaranya datar, namun penuh dengan keputusasaan yang absolut.

Hendri memegang bahu Kanaya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Naya, dengarkan aku. Ibumu kuat. Ini mungkin reaksinya karena terkejut. Kita sudah sampai sejauh ini—"

"Sejauh apa, Mas?" Kanaya memotong, melepaskan tangan Hendri dari bahunya dengan gerakan yang perlahan namun tegas. "Sejauh ini sampai aku membunuh ibuku sendiri? Sejauh ini sampai aku menjadi alasan dia kehilangan nyawanya di lorong rumah sakit?"

Kanaya berdiri, kakinya terasa lemas namun tekadnya telah bergeser arah. Ia menatap Hendri dengan sorot mata yang berbeda—bukan lagi tatapan kekasih yang memuja, melainkan tatapan seorang pesakitan yang baru saja menerima vonisnya.

"Kita harus berhenti, Mas. Hubungan ini, rencana ini... semuanya salah," ucap Kanaya pedih.

"Salah? Naya, kita hanya ingin hidup tenang!" Hendri mencoba meyakinkan, matanya memancarkan rasa tidak percaya.

"Ketenangan di atas penderitaan orang tua itu tidak ada, Mas. Aku sudah mencoba lari, dan lihat apa yang terjadi? Belum satu hari aku pergi, dunia sudah runtuh. Ibuku sakit, Ayahku yang pengecut itu tiba-tiba menelepon... ini peringatan Tuhan bahwa tempatku memang di samping Ibu. Aku tidak ditakdirkan untuk bebas."

Kanaya menarik napas panjang, menahan sesak yang seolah ingin meledakkan dadanya. "Mulai detik ini, kita putus, Mas. Jangan cari aku lagi. Jangan temui aku lagi. Aku tidak mau menyeretmu ke dalam kutukan hidupku. Kamu pria baik, kamu pantas mendapatkan wanita yang punya masa depan, bukan wanita yang seluruh hidupnya sudah digadaikan untuk menebus luka ibunya."

"Naya, jangan bicara begitu! Kita bisa hadapi ini bersama, aku akan menemanimu ke rumah sakit—"

"Dan membuat Ibu serangan jantung lagi saat melihatmu?" sela Kanaya getir. "Kehadiranmu adalah pemicu amarahnya. Keinginanku untuk bersamamu adalah alasan dia jatuh. Kalau aku ingin Ibu hidup, aku harus membunuh perasaanku padamu."

Kanaya berbalik, melangkah cepat menuju bagian informasi kapal, mencari cara untuk turun di pelabuhan terdekat dan mencari transportasi tercepat kembali ke kotanya. Ia tidak peduli lagi dengan ijazah di tasnya, tidak peduli dengan pekerjaan di Sulawesi, bahkan tidak peduli dengan cintanya pada Hendri yang baru saja ia patahkan secara paksa.

Di atas dek kapal yang terus melaju, Hendri terpaku sendirian. Sementara Kanaya, dengan air mata yang membasahi pipi namun langkah yang tidak lagi ragu, memilih untuk kembali ke dalam kerangkengnya. Ia memutuskan untuk menyerah kalah pada takdir. Ia berpikir, mungkin benar apa yang dikatakan ibunya dulu—bahwa ia adalah penebusan dosa, dan seorang penebus tidak berhak memiliki kebahagiaannya sendiri.

"Ibu, tunggu Naya," batinnya hancur. "Naya pulang. Naya tidak akan pergi lagi. Naya akan menjadi anak yang Ibu mau, asalkan Ibu tetap bernapas."

1
Mega Arum
luar biasa
Mega Arum
bagus sekali ceritanya.. menguras airmata,
sukensri hardiati
👍💪🙏/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
astagaa....bagaas...bagaas...
sukensri hardiati
semuanya sakit...psikis dan fisik
sukensri hardiati
masyaa Allah...kanaya...hebaat kamu...
sukensri hardiati
bagas dateng salah.....nggak dateng salah juga...mbah kung mbingungke...yaaah..kanaya yg jadi korban
sukensri hardiati
banyak sekali yg sayang kanaya.../Rose/
falea sezi
q ksih ne bunga lagi tp kasih boncap banyakkkk
falea sezi
Duh seru lo tambah boncap donk thor/Shame/
nanuna26: boncap itu apa ka
total 1 replies
falea sezi
q ksih bunga karena cerita mu bagus menguras air mata/Sob/
falea sezi
Wanda baik bgt sih uda Hendri urus aja bini mu itu q kira qm. setia perjuangan kan Kanaya nyatanya bini nya lagi hamil dih
nanuna26: kak makasih banyak ya, ini kisah nyata author walau endingny belum sebahagia kanaya hehe
total 1 replies
falea sezi
move on nay qm nanti pasti ketemu jodoh
falea sezi
biarin aja bapak mu yg urus itu kakaknya
Boa: serius kak?
total 2 replies
falea sezi
gila bner. maya ne harusnya di rmh sakit jiwa aja
falea sezi
pergi aja Kanaya ngekos maya jd gila. karena. jd perawan tua
falea sezi
berikan naya bahagia
falea sezi
nyesek amat Kanaya astaga
falea sezi
pengen tak bejek2 si bagas
falea sezi
pergi aja dr situ bagas laki kok. lembek. krja lah ajak anakmu pergi jauh
nanuna26: kak falea makasi udh support
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!