Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Foto yang Tidak Pernah Diceritakan
Kotak itu berbau kayu tua dan kapur barus.
Aku menemukannya terselip di sudut paling belakang gudang, tertutup kain bekas gorden yang sudah menguning. Selama bertahun-tahun gudang ini hanya jadi tempat menumpuk barang rusak: kursi patah, radio mati, kardus buku pelajaran lamaku. Tidak pernah terpikir bahwa di antara benda-benda sekarat itu tersimpan potongan hidup Ibu yang belum kukenal.
Foto di tanganku terasa lebih berat dari selembar kertas.
Ibu berdiri di depan sumur tua, mengenakan baju hamil bermotif bunga kecil. Wajahnya muda, jauh lebih muda dari bayangan yang kusimpan. Di matanya ada senyum yang aneh—bukan bahagia sepenuhnya, lebih seperti orang yang sedang meyakinkan diri sendiri.
Dan tulisan di belakang foto itu:
“Untuk anakku kelak, penjaga terakhir.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali, berharap maknanya berubah. Tapi huruf-hurufnya tetap dingin seperti pertama kali ditulis.
Penjaga terakhir.
Berarti jauh sebelum aku lahir, sebelum Ranti hilang, sebelum Bima dewasa, Ibu sudah mengenal sumur itu. Bahkan mungkin lebih dekat dari siapa pun.
⸻
Aku membawa kotak itu ke ruang tengah.
Ayah sedang menonton berita tanpa benar-benar melihat layar. Ketika aku meletakkan foto di meja, wajahnya langsung berubah—seperti orang yang melihat hantu masa lalunya sendiri.
“Kamu dapat dari mana?” tanyanya pelan.
“Dari gudang.”
Ayah terdiam lama. Tangannya gemetar saat menyentuh pinggir foto.
“Seharusnya ini tidak pernah kamu temukan.”
Kalimat itu membuat dadaku panas.
“Kenapa, Yah? Semua orang sepertinya tahu lebih banyak tentang hidupku daripada aku sendiri.”
Dini yang kebetulan datang ikut duduk, menahan napas.
Ayah akhirnya menyerah pada tatapanku.
“Baik. Sudah waktunya kamu dengar versi yang tidak pernah Ayah ceritakan.”
⸻
Malam itu berubah menjadi ruang pengakuan.
Ayah mulai bercerita tentang Ibu—tentang masa sebelum aku lahir, saat kampung masih sering diganggu “angin aneh”. Ternyata Ibu bukan sekadar perempuan biasa seperti yang selalu kubayangkan.
“Dia pernah jadi murid tidak resmi Pak Karso,” kata Ayah.
“Lebih peka daripada siapa pun.”
Aku terkejut.
“Ibu tahu soal jalur sejak dulu?”
Ayah mengangguk.
“Bahkan lebih awal dari keluarga Bima yang sekarang.”
Menurut cerita Ayah, saat Ibu hamil, gangguan di kampung sempat mereda. Banyak orang mengira kehamilanku membawa semacam penutup alami. Karena itu beberapa tetua menyebutku penjaga terakhir—bukan sebagai takdir, tapi sebagai harapan.
“Tapi Ibu menolak anggapan itu,” lanjut Ayah.
“Dia bilang anaknya harus lahir sebagai manusia biasa, bukan tameng kampung.”
Aku menggigit bibir menahan air mata.
Berarti sejak dalam kandungan, hidupku sudah jadi bahan perdebatan.
⸻
Ayah melanjutkan bagian yang paling sulit.
Beberapa bulan sebelum Ibu meninggal, beliau sering datang ke sumur sendirian. Bukan untuk membuka apa pun, melainkan untuk “bernegosiasi” agar jalur tidak menyentuhku kelak.
“Dia percaya setiap tempat bisa diajak bicara tanpa kekerasan,” kata Ayah.
Aku memandangi foto itu lagi.
Ibu yang tersenyum di depan sumur mungkin sedang melakukan percakapan yang tidak pernah kudengar.
“Lalu kenapa Ibu meninggal, Yah?”
Ayah terdiam sangat lama.
“Dokter bilang karena komplikasi. Tapi di malam terakhirnya, dia berpesan satu hal: jangan biarkan Raisa merasa berutang pada siapa pun.”
Kalimat itu membuat dadaku runtuh.
⸻
Arga datang setelah Ayah meneleponnya.
Begitu melihat foto, dia langsung pucat.
“Ini penting sekali,” katanya. “Berarti garis cerita bukan dimulai dari Bima Darsa, tapi dari Ibumu.”
Dia memeriksa kotak lebih teliti. Di bawah foto kami menemukan buku kecil lain—bukan buku harian, melainkan kumpulan catatan pendek dengan tulisan tangan Ibu.
Beberapa kalimat membuatku merinding:
“Sumur bukan jahat, hanya lapar.”
“Anakku bukan pintu, hanya pendengar.”
“Kalau kelak dia takut, ajari dia mendengar napasnya sendiri.”
Aku menangis tanpa suara membaca baris terakhir.
Seolah Ibu sedang berbicara langsung padaku melewati waktu.
⸻
Namun bagian paling mengejutkan ada di halaman tengah.
Di sana tertulis nama yang tidak asing:
“Bima kecil sering datang bersama kakeknya. Matanya terlalu berat untuk anak seusianya.”
Berarti Ibu mengenal Bima sejak ia masih bocah.
Ayah mengangguk membenarkan.
“Mereka pernah dekat. Ibumu kasihan melihat dia dibesarkan hanya untuk satu tugas.”
Aku membayangkan dua anak di tepi sumur: Bima kecil dengan beban warisan, dan Ibu muda yang sedang mengandungku—dua generasi saling menatap tanpa tahu masa depan akan serumit ini.
⸻
Keesokan harinya aku menemui Bima.
Dia sedang bersiap meninggalkan kampung, tapi begitu melihat foto itu, langkahnya berhenti.
“Aku ingat hari ini,” katanya lirih.
“Bibi itu memberiku roti dan menyuruhku sekolah saja, tidak usah ikut kakek.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu tidak mendengarkan?”
Bima tersenyum pahit.
“Karena anak kecil jarang punya pilihan.”
Kami duduk di teras rumah Pak RT lama sekali. Untuk pertama kalinya aku melihat Bima bukan sebagai tokoh gelap, tapi sebagai korban lain dari cerita yang sama.
Dia menunjuk tulisan di belakang foto.
“Penjaga terakhir… maksudnya bukan kamu menanggung semuanya. Tapi generasi terakhirlah yang berhak menolak.”
Kalimat itu membuka cara pandang baru.
⸻
Malam berikutnya, gangguan kecil kembali muncul.
Bukan serangan, hanya tanda-tanda tipis: lampu kamar berkedip, radio memutar suara statis membentuk potongan lagu nina bobo yang tidak kukenal, dan bau melati sesaat lewat di lorong.
Aku tidak panik.
Aku duduk di tempat tidur, memegang buku catatan Ibu.
“Bu, kalau ini bahasa yang kamu pakai dulu, aku akan belajar mendengarnya.”
Di cermin, bayanganku tampak biasa—tanpa senyum asing, tanpa keterlambatan gerak.
Tapi aku merasa tidak sendirian, dalam arti yang menenangkan.
⸻
Arga menyimpulkan satu hal penting:
“Penutupan di sumur mungkin hanya tahap fisik. Tahap batinnya ada di keluargamu.”
Kami mulai menelusuri masa lalu Ibu lebih jauh: menanyai Bu Mira, membuka arsip kelurahan, bahkan mencari teman sekolah beliau.
Satu per satu potongan muncul.
Ternyata Ibu pernah menolak lamaran seseorang yang berhubungan dengan jaringan Pak Jaya. Ada konflik lama yang sengaja dikubur, mungkin berkaitan dengan mengapa proyek vila begitu ngotot menyasar tanah dekat sumur.
Dunia manusia kembali menunjukkan wajahnya:
uang, dendam, dan ingatan yang tidak mau mati.
⸻
Di tengah pencarian itu, aku mengalami mimpi yang berbeda dari sebelumnya.
Aku bertemu Ibu di halaman rumah masa kecil—tempat yang bahkan tidak kuingat pernah kudatangi.
Beliau tidak menakutkan, tidak dramatis. Hanya duduk menyisir rambutku.
“Takut itu boleh,” katanya.
“Yang tidak boleh adalah merasa berutang pada ketakutan.”
Aku bertanya dalam mimpi,
“Bu, aku harus apa lagi?”
Ibu tersenyum.
“Jaga hidupmu sendiri. Itu saja sudah cukup.”
Aku terbangun dengan pipi basah.
Untuk pertama kalinya, mimpi tidak meninggalkan luka.
⸻
Bab ini berakhir pada satu kejadian kecil tapi penting.
Saat aku menutup kembali kotak peninggalan Ibu, di dasar kotak ada amplop tipis yang tadi terlewat. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas dengan peta sederhana menuju rumah lama keluarga Ibu di kota kecamatan.
Di sudut peta tertulis:
“Kalau sumur masih memanggil, datanglah ke sini. Ada cerita sebelum semua cerita.”
Aku menatap alamat itu lama.
Berarti masih ada bab yang lebih tua dari sumur,
lebih tua dari Bima Darsa,
bahkan lebih tua dari kelahiranku.
Aku sadar perjalanan ini belum selesai—hanya berpindah halaman.