Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Keheningan melanda kediaman keluarga Lewin, bibir Seyra menyunggingkan senyum hampa. Matanya menatap lurus ke arah ibunya, layaknya raga kosong tanpa jiwa di dalamnya.
"Mama tahu, perbandingan yang selalu Mama lakukan padaku akhirnya berhasil membuatku sadar kalau aku nggak pernah di anggap anak olehmu." Ujar Seyra sendu.
Raut wajah Maya berubah tegang, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Seyra akan berpikir seperti itu. "Sey, Mama cuma–"
Seyra mengabaikan ucapan ibunya dan menatap sang ayahnya, "Pa, aku bakal setuju dengan semua keputusan Papa. Kalo bercerai bisa membuat Papa tenang, aku nggak bakal menghalanginya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Seyra berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Dia tak menoleh sedikit pun ketika suara koper ibu dan kakaknya menjauh dari rumah itu.
Memang sejak bertengkar tadi, Maya dan Valeri sudah mengemas barang-barang mereka. Andai saja Seyra tiba lebih lama dia tak mungkin melihat hal seperti ini di dalam rumah tersebut.
Di dalam kamar, Seyra merebahkan dirinya di atas kamar. Kedua matanya menangkap pigura yang terpajang di atas meja, foto dirinya dan pemuda yang tidak dia ketahui namanya.
"Ah, dada gue sakit. Kenapa, ya?"
Seyra merasa bingung, mendadak rasa nyeri menerobos masuk ke dalam jantungnya. Seakan ada benda tajam yang merobek bagian dadanya, hingga sekelebat ingatan asing muncul.
'Gue suka sama lo.'
'Tapi, gue nggak pernah suka sama lo, Seyra!'
Seyra memukul kepalanya keras, dia menggeleng cepat berusaha menghilangkan ingatan menyakitkan itu.
Dia tersenyum pahit. Kenangan tidak menyenangkan yang baru saja melintas, merupakan kenangan Seyra Charla yang menyukai seorang pemuda secara sepihak.
"Jadi, cowok ini yang di tembak sama empat tahun yang lalu? sebelum dia pindah ke Paris."
Di luar dugaan, takdir seolah bekerja sama dengan semesta untuk memperlihatkan rasa sakit yang Seyra alami. Bukan hanya sebagai figuran, tapi sebagai seorang gadis yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan.
"Wow, luar biasa. Jadi begini rasanya jatuh cinta, sakit juga, ya?" racau Seyra.
Dia yang jomblo karatan, belum pernah merasakan jatuh cinta pada lawan jenis seperti remaja pada umumnya. Bahkan ada yang menyebutnya tidak normal, namun Seyra acuh tak acuh karena baginya pendidikan lebih penting dari cinta. Hidupnya terlalu sibuk untuk tebar pesona kesana kemari dan mempertahankan peringkat di sekolah, hingga dia lupa jika dia sedang jomblo.
"Cinta nggak bikin kenyang, kenapa Seyra asli bisa suka sama cowok sampai perasaannya ketinggalan begini?" Seyra meletakan kembali pigura itu, dia naik ke ranjang dan menarik selimut kemudian memejamkan kedua matanya. "Cape juga akting tersakiti kayak tadi, untung gue anaknya pinter jadi kelihatan asli haha."
Setelah mengagumi dirinya sendiri, Seyra perlahan terlelap. Membiarkan mimpi indah singgah dalam tidurnya.
***
Keesokan harinya, Seyra sudah ada di ruang makan bersama ayahnya. Suasana di rumah sangat sepi, namun bagi Seyra itu hal yang menenangkan.
"Kamu yakin nggak apa-apa, Sey?" tanya Lewin prihatin.
Pria paruh baya itu merasa cemas, jika putri bungsunya ini menyembunyikan kekecewaannya dan dia takut jika Seyra mendadak nekat. Memang pikiran dia sebagai orang tua terlalu berlebihan, akan tetapi banyak kasus yang melibatkan perceraian berujung fatal untuk anak-anak yang menjadi korban broken home.
Seyra mendongak, dia tersenyum cerah seakan tidak ada beban dalam hidupnya. "Aku baik-baik aja, Pa. Lagi pula, itu keputusan kalian, aku sebagai anak hanya bisa mengikuti."
"Maafkan Papa, karena Papa gagal memberikan keluarga yang harmonis untuk kamu."
Seyra meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya erat, "Pa, bagi aku Papa udah jadi Papa terbaik selama aku hidup. Aku bahagia hidup bareng Papa kok, Papa punya banyak uang dan aku nggak perlu susah-susah cari duit buat makan. Aku bakal jadi pengangguran kaya raya."
Lewin terkekeh mendengar ocehan putrinya, ada sesuatu yang berubah dari Seyra. Sikapnya sekarang sangat terbuka dan tidak pernah menutup diri lagi, Lewin merasa senang karena dulu untuk berkomunikasi saja dia perlu menunggu mood gadis itu benar-benar bagus.
Jika tidak, maka gadis itu akan menolak semua panggilan dan pesannya. Dari laporan sang ayah di Paris, Seyra sangat menyukai motor sport maka dari itu Lewin jauh-jauh hari sudah membelikan motor untuk putrinya itu.
"Kamu bisa aja, oh, iya. Papa ada hadiah buat kamu." Ujar Lewin seraya menyodorkan kunci motor sport ke arah putrinya.
Seyra terbelalak, matanya berbinar penuh antusiasme. "Serius, Pa? ini motor sport buat aku?"
Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dalam sekejap, semua kekhawatiran yang sempat membayangi pikirannya seolah sirna.
"Ya, tapi ingat, keselamatan itu yang paling utama. Jangan lupa pakai helm dan perhatikan aturan lalu lintas," kata Lewin dengan nada tegas, meskipun senyum tak bisa dia sembunyikan.
Seyra mengangguk, merasakan semangat yang menggelora. Dia membayangkan bagaimana rasanya melaju di jalanan, angin kota Jakarta menerpa wajahnya, dan kebebasan yang akan dia rasakan.
Namun, di dalam hatinya ada sedikit rasa sedih yang menggelayuti bagaimana pun, kehidupan yang mereka jalani sudah berbeda dari sebelumnya.
Setelah sarapan, Seyra bergegas ke garasi. Dia menemukan motor sport yang berkilau di bawah sinar matahari pagi, tampak sangat menawan. Dengan tangan bergetar, dia menyentuh bodi motor itu, merasakan getaran semangat di dalam dirinya.
"Aakkhh, bagus banget!" pekik Seyra riang.
Kedua matanya berbinar-binar, seakan baru saja mendapatkan barang impiannya yang sudah lama dia nantikan.
Ketika dia memutar kunci kontak dan menghidupkan mesin, suara menggelegar itu membuatnya bersemangat. Dia mengenakan helmnya, melirik ayahnya yang berdiri di pintu garasi, memberikan anggukan dukungan.
"Jangan kebut-kebutan, ya!" teriak Lewin, meskipun dia tahu Seyra tak akan menuruti perintahnya karen gadis itu sudah sering ikut balapan.
Seyra mengangguk, dia melambaikan tangan sebelum meluncur keluar dari halaman rumah, menghirup udara segar dengan penuh semangat.
Dia merasakan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jalanan yang terbentang di depannya seolah mengundang, dan dia tidak sabar untuk menjelajahi setiap sudut kota.
Setelah berkeliling selama beberapa menit, Seyra berhenti di tepi danau, tempat favoritnya untuk merenung di kehidupan yang dulu. Dia mematikan mesin dan menatap air yang berkilau.
"Gue jadi orang kaya, tapi kenapa rasanya hampa begini?" ujarnya heran.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan kasar. Hidupnya yang dulu tidak jauh berbeda dengan sekarang, dia merupakan korban broken home.
Ayahnya tukang mabuk dan sering memukulinya jika pulang, hak asuh dirinya dulu jatuh pada sang ibu. Namun, ketika mereka tinggal bersama sikap ibunya berubah drastis setelah mengenal seorang pria.
Sialnya, pria itu juga sempat ingin mengambil keperawanannya hingga membuat Seyra murka dan meninju orang itu hingga masuk rumah sakit.
Seyra pikir ibunya akan membela dirinya, namun dia justru di usir hingga menjadi gelandangan. Hidupnya yang sulit, membuat Seyra tumbuh menjadi gadis bar-bar dan bebas. Meski begitu, dia sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang gadis, sampai akhirnya dia mati konyol karena buah anggur.
Sialan memang.
Seyra terkekeh miris ketika mengingat alur hidupnya yang dulu, dia di tinggalkan seorang diri tanpa ada yang bertanya bagaimana kondisinya, apakah mentalnya baik-baik saja? atau bagaimana dia bisa bertahan dengan kerasnya dunia?
"Sering kali, seseorang hanya datang untuk menyapa tanpa berniat untuk tinggal." Gumamnya pada diri sendiri.
Di tengah lamunannya, muncul sebuah notifikasi di ponsel Seyra. Dia bergegas melihat pesan itu. Seketika kening Seyra berkerut halus, di sana tertera nama Arthur dengan emot love di belakang namanya.
"Ini siapa lagi?" heran Seyra.
[Baby, lo dimana?]
Seyra tak membalas, ingatan dari tubuh barunya belum muncul semua hanya beberapa itu pun baru tentang keluarganya. Sebab di dalam novel tidak di jelaskan siapa saja orang yang berhubungan dengannya, karena dia hanya seorang figuran yang tidak penting.
Baru saja Seyra berniat memasukan kembali ponselnya, sebuah pesan kembali muncul. Kali ini di sertai ancaman.
[Baby, kalau lo nggak balas, gue bakal tungguin lo di gerbang sekolah. Lo tahu, gue bela-belain pulang demi lo. Awas aja lo mengabaikan pesan gue lagi!]
"Gila kali nih orang." Dumel Seyra dan memasukan ponselnya tanpa membalas pesan itu.