Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak berubah
Semenjak menikah, hidup Lala nyaris tidak berubah.
Ia masih bangun pagi, bersiap ke kantor, menembus jalanan yang sama, duduk di meja kerjanya, menatap layar yang sama. Rutinitas itu tetap utuh, seolah status barunya tidak menggeser apa pun.
Hanya satu hal kecil yang berbeda.
Ia sampai di rumah lebih cepat.
Jika dulu perjalanan pulang bisa memakan waktu hampir satu jam lebih, sekarang hanya dua puluh sampai tiga puluh menit. Waktu yang dulu habis di jalan, kini berubah menjadi jeda. Jeda untuk bernapas. Jeda untuk tidak terburu-buru.
Hari itu pun ia berangkat seperti biasa. Tidak ada rasa istimewa. Tidak ada kupu-kupu di perut. Hanya Lala yang sama, dengan tas kerja di pundak dan langkah yang tetap.
Sampai akhirnya ia tiba di kantor.
Belum sempat ia duduk dan membuka laptop, beberapa rekan sedivisinya sudah menghampiri. Nada suara mereka bukan marah, bukan iri lebih ke kaget bercampur penasaran.
“Lala, kamu menikah?”
“Hah, serius?”
“Kok nggak bilang sih, ini kabar bahagia loh.”
Pertanyaan datang bertubi-tubi, membuat Lala refleks tersenyum kecil. Ia mengangguk, agak kikuk, merasa seolah baru saja ketahuan menyimpan rahasia besar padahal ia tidak berniat menyembunyikan apa pun.
“Iya,” jawabnya singkat.
Beberapa dari mereka langsung bereaksi berlebihan. Ada yang menepuk lengannya, ada yang langsung menuntut cerita, ada juga yang mulai menebak-nebak siapa suaminya. Lala hanya tertawa kecil, menangkis sebisanya.
Yang tahu lebih dulu memang hanya kepala divisinya dan HRD. Itu pun karena urusan administratif. cuti, dokumen, dan tanda tangan yang tidak bisa dihindari. Bukan karena ia sengaja membatasi kabar.
Bukan juga karena ia tidak ingin berbagi.
Hanya saja, pernikahannya berjalan dengan sangat sederhana. Tidak ramai. Tidak besar. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Dan entah kenapa, ia merasa tidak enak jika harus bercerita panjang tentang sesuatu yang tidak semua orang ia undang.
“Aku nikahnya sederhana,” akhirnya ia menjelaskan. “Intimate aja.”
Kalimat itu terdengar cukup. Tidak perlu alasan lain.
Rekan-rekannya mengangguk, sebagian mengerti, sebagian lagi tetap penasaran tapi memilih tidak memaksa. Obrolan pun perlahan mereda, kembali ke rutinitas pagi yang biasa.
Saat Lala akhirnya duduk di kursinya dan membuka laptop, ia menghela napas pelan.
Tidak ada euforia.
Tidak ada pengumuman besar.
Tapi di sela notifikasi email dan tumpukan pekerjaan, ia menyadari satu hal kecil yang terasa aneh tapi nyata.
Ia tidak keberatan menyebut dirinya sudah menikah. Tidak merasa ingin menutupi.
Tidak juga merasa perlu menjelaskan berlebihan.
Status itu kini terasa... netral.
Seperti bagian dari hidup yang sudah ia terima, meski belum sepenuhnya ia pahami.
Dan untuk pertama kalinya, Lala merasa baik-baik saja dengan itu.
Siang harinya, Lala memutuskan turun ke kantin kantor. Perutnya sudah mulai memberi sinyal sejak tadi, dan ia merasa perlu menjauh sebentar dari meja kerja yang sejak pagi penuh distraksi bukan cuma pekerjaan, tapi juga ucapan selamat yang datang silih berganti.
Kantin cukup ramai. Suara sendok beradu dengan piring, obrolan setengah berbisik bercampur tawa kecil. Lala mengambil makanannya, lalu mencari tempat duduk yang agak ke pinggir. Baru saja ia duduk dan membuka tutup minumnya, sebuah suara menyapanya.
“Selamat ya, atas pernikahannya.”
Lala mendongak. Brian.
Nada suaranya datar tapi jelas, seolah kalimat itu sudah lama ingin ia ucapkan dan akhirnya menemukan momen yang pas. Terlalu tiba-tiba, sampai Lala sempat kaget sesaat. Tapi ia tidak heran. Kabar itu pasti sudah menyebar ke hampir seluruh lantai.
“Iya, Mas. Terima kasih,” jawab Lala singkat, sopan.
Brian duduk di kursi seberangnya tanpa banyak basa-basi. Ia menatap Lala beberapa detik, lalu bertanya, “Nikah sama siapa?”
“Temenku,” jawab Lala cepat.
Jawaban itu bukan bohong. Hanya... tidak lengkap.
Brian mengangguk pelan. “Rendra”
“Iya,” Lala mengaduk makanannya pelan, menghindari tatapan Brian. Mungkin Brian tau dari storynya di ig, ia hanya memposting satu postingan fotonya dengan Rendra setelah akad.
Ada jeda di antara mereka. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat udara terasa sedikit lebih berat. Brian tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.
“Kamu kelihatan... tenang,” katanya akhirnya. “aku kira kamu bakal kelihatan ribet atau kelimpungan.”
Lala terkekeh kecil. “Emang keliatan ribet ya kalo nikah?”
“Bukan gitu,” Brian mengangkat bahu. “Cuma... ya, aku kira bakal ada tanda-tanda.”
Lala berhenti mengaduk. Ia menatap Brian sebentar, lalu tersenyum bukan senyum lebar, tapi cukup untuk menutup percakapan.
“Mungkin karena nikahnya juga nggak ribet,” katanya ringan. “Jadi gaperlu gimana juga.”
Brian mengangguk lagi. Kali ini lebih lambat. “Ya... yang penting kamu bahagia.”
“Iya,” jawab Lala. “Makasih.”
Percakapan itu tidak berlanjut jauh. Mereka makan dalam diam yang tidak canggung, tapi juga tidak hangat. Setelah beberapa menit, Brian berdiri lebih dulu.
“Aku balik duluan,” katanya. “Enjoy makan siangnya.”
“Iya, Mas.”
Lala memperhatikan Brian berjalan menjauh, lalu kembali fokus ke makanannya. Anehnya, tidak ada rasa sedih. Tidak ada sesal. Hanya satu kesadaran kecil yang muncul pelan-pelan.
Masa lalu memang bisa menyapa kapan saja. Tapi ia tidak lagi tinggal di sana.
Dan itu... terasa cukup.
—
Brian sudah menghilang di antara keramaian kantin, tapi sisa percakapan barusan masih tertinggal di kepala Lala. Bukan karena kata-katanya yang tajam. justru karena terlalu biasa. Seperti menutup satu halaman tanpa perlu membacanya ulang.
Lala menghabiskan makan siangnya perlahan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari ritme hidupnya berubah tipis, hampir tak terasa. Dulu, bertemu Brian mungkin akan membuatnya gelisah seharian. Sekarang... tidak. Ia hanya melanjutkan makan, merapikan piring, lalu kembali ke lantai atas.
Di meja kerjanya, notifikasi ponsel menyala.
Rendra:
Udah makan belum?
Lala menatap layar sebentar, lalu tersenyum kecil.
Lala:
Udah. Baru aja. Lo?
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Rendra:
Baru mau. Meeting molor.
Nanti pulang jangan kemaleman.
Kalimat itu sederhana. Tidak posesif. Tidak menggurui. Tapi ada nada yang... memperhatikan. Bukan karena kewajiban sebagai suami, tapi karena kebiasaan yang mulai terbentuk.
Lala:
Iya, siap Bos 🙄
Rendra membalas dengan emoji tertawa. Lala meletakkan ponselnya, lalu kembali bekerja. Fokusnya tidak lagi buyar seperti pagi tadi. Ada sesuatu yang menenangkan saat tahu, di luar sana, ada seseorang yang mengingat hal-hal kecil tentang dirinya tanpa perlu ia minta.
Sore hari, jam pulang tiba lebih cepat dari yang ia kira. Saat Lala merapikan tas dan bersiap keluar, beberapa rekan kerjanya masih sempat menyelipkan candaan.
“Pulang cepet nih, Bu Istri.” “Rumah deket, enak ya.”
Lala hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia tidak membantah, tidak juga merasa perlu menjelaskan. Semua terasa... wajar.
Di perjalanan pulang, di dalam bus yang membawanya melintasi jalanan sore yang padat, Lala menatap keluar jendela. Pantulan wajahnya di kaca terlihat sama seperti biasanya tidak ada perubahan besar. Tapi perasaannya berbeda.
Ia tidak lagi pulang ke rumah orang tuanya. Ia pulang ke rumah yang kini berbagi nama dengan orang lain.
Dan entah sejak kapan, pikiran itu tidak lagi menakutkan.
semangat kak... salam dari Edelweiss...