NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 22: Jebakan

Adelia dan Arlan menyusun strategi untuk mengungkap kejahatan Pak Surya sebelum studio mereka hancur total.

​Suasana di studio A&A Pictures terasa mencekam. Pak Surya kini bertindak seolah ia adalah pemilik perusahaan, memangkas anggaran di sana-sini dan mengintimidasi staf. Namun, di ruang editing yang tersembunyi, Arlan dan Adelia sedang menyusun rencana perlawanan.

​"Reihan sudah mengirimkan dokumen dari vendor kamera," bisik Adelia sambil menunjuk layar laptop. "Pemesanan alat tua itu ternyata ditandatangani langsung oleh Pak Surya, menggunakan nama samaran perusahaan cangkang. Dia sengaja memilih alat yang rusak untuk menyabotase syuting kita."

​Arlan mengepalkan tangannya. "Brengsek. Dia benar-benar ingin kita bangkrut."

​"Kita punya bukti, tapi ini belum cukup kuat untuk memecatnya di depan investor," ujar Adelia tenang. "Kita butuh dia mengakui sabotase itu secara langsung. Kita butuh jebakan."

​Rencana mereka sederhana namun berisiko tinggi. Arlan akan berpura-pura menyerah dan setuju dengan semua tuntutan Pak Surya untuk proyek iklan berikutnya, sebuah proyek skala besar yang sangat penting bagi kredibilitas A&A Pictures.

​Keesokan harinya, Arlan menemui Pak Surya di ruangannya.

​"Pak Surya," ujar Arlan dengan nada yang dibuat pasrah. "Saya sadar Anda benar.

Efisiensi adalah kunci. Saya setuju menggunakan vendor alat termurah untuk proyek iklan produk otomotif minggu depan."

​Pak Surya menatap Arlan dengan curiga, namun kemudian tersenyum puas. "Keputusan yang bijaksana, Arlan. Akhirnya kamu sadar kalau seni tidak ada gunanya tanpa keuntungan."

​"Tapi," lanjut Arlan, "karena alatnya murah, saya butuh Anda yang turun tangan langsung untuk memastikan alat itu layak pakai saat hari syuting. Saya tidak mau disalahkan lagi kalau ada kerusakan."

​Pak Surya tertawa kecil. "Tentu. Saya sendiri yang akan memeriksanya."

​Adelia, yang mendengar percakapan itu dari balik pintu, segera menyiapkan perangkat perekam suara dan kamera tersembunyi di lokasi syuting.

​Hari syuting tiba. Pak Surya datang ke lokasi dengan angkuh, membawa daftar periksa alat yang sudah ia siapkan. Ia tampak yakin bahwa sabotase kali ini akan membuat Arlan benar-benar tidak bisa bekerja sama sekali.

​Saat Pak Surya sedang memeriksa kamera, ia tidak sadar Adelia mendekatinya dengan membawa secangkir kopi.

​"Pak Surya, ini kopi kesukaan Bapak," ujar Adelia ramah, menaruh cangkir di meja dekat kamera. Di dalam cangkir itu tertanam mikrofon kecil.

​Di balik kamera tersembunyi yang dipasang di sela-sela lampu studio, Arlan mengamati melalui ponselnya.

​"Hati-hati dengan kamera itu, Pak," ujar Adelia pura-pura panik. "Itu kamera sewaan terakhir yang tersedia."

​Pak Surya mencibir. "Tenang saja. Saya tahu apa yang saya lakukan. Kamera ini tidak akan bertahan sampai jam makan siang. Sama seperti kabel kemarin."

​Suara Pak Surya terekam jelas di perangkat Adelia. Adelia bertukar pandang dengan Arlan yang berdiri jauh di sudut set.

Jebakan berhasil.

​Namun, Pak Surya tiba-tiba sadar ia terlalu banyak bicara. Ia menatap Adelia dengan curiga. "Kenapa kamu bertanya hal itu?"

​"Tidak apa-apa, Pak. Hanya memastikan," jawab Adelia santai, lalu bergegas pergi.

​Di ruang rapat, Arlan dan Adelia langsung mengecek rekaman suara. Suara Pak Surya terdengar sangat jelas mengakui sabotasenya.

​"Sekarang kita punya bukti," ujar Arlan lega.

​"Belum cukup," potong Adelia. "Kita harus mengirim bukti ini ke pihak investor sekarang, sebelum Pak Surya menyadarinya dan menghapusnya."

​Mereka mengirimkan rekaman tersebut ke firma hukum independen yang menaungi investor, dan juga ke pihak kepolisian terkait dugaan penipuan dan perusakan aset.

​Tiba-tiba, Pak Surya masuk ke ruang rapat tanpa mengetuk pintu, wajahnya merah padam. "Apa yang kalian lakukan?!"

​Arlan berdiri, menatap Pak Surya dengan berani. "Kami sedang memastikan bahwa orang yang mencoba menghancurkan A&A Pictures akan menerima balasan yang setimpal, Pak Surya."

​Polisi datang beberapa menit kemudian. Pak Surya mencoba melarikan diri, namun polisi sudah mengepung area studio. Saat dibawa keluar, Pak Surya menatap Arlan dan Adelia dengan tatapan penuh kebencian. "Kalian tidak akan menang. Ini belum berakhir!"

Kemenangan atas Pak Surya membawa tantangan baru dalam memulihkan kepercayaan dan reputasi.

​Berita tentang penangkapan Pak Surya atas dugaan penipuan dan sabotase tersebar cepat di industri kreatif Jakarta. Studio A&A Pictures kini bebas dari pengawasan yang mencekik, namun situasi tidak langsung membaik. Kepercayaan para investor goyah, dan rumor tentang A&A Pictures yang "bermasalah" mulai beredar.

​Arlan duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan email pembatalan kontrak dari dua klien kecil yang ketakutan akan skandal tersebut. Adelia masuk membawa berkas-berkas hukum, wajahnya lelah namun tetap fokus.

​"Investor utama ingin bertemu kita besok sore, Arlan," ujar Adelia sambil duduk di depan meja Arlan. "Mereka menuntut penjelasan langsung kenapa kita membiarkan sabotase itu terjadi di bawah pengawasan kita."

​Arlan menghela napas panjang, bersandar di kursinya. "Kita membiarkannya agar kita bisa mengumpulkan bukti, Adel. Tapi aku tahu, di mata mereka, kita terlihat lemah karena kecolongan."

​"Kita harus meyakinkan mereka bahwa kita berdua adalah tim yang solid," Adelia membuka map berkas. "Aku sudah menyusun dokumen pertahanan kita. Kita akan tunjukkan bahwa meskipun ada sabotase, kita tetap menyelesaikan syuting iklan produk kopi tepat waktu dengan hasil yang memuaskan."

​Keesokan harinya, pertemuan dengan para investor berlangsung tegang. Ruang rapat dingin, dan tatapan para investor tajam menuntut jawaban.

​"Arlan, Adelia," ujar perwakilan investor utama, seorang wanita paruh baya bernama Bu Marina. "Kami menyuntikkan dana besar karena reputasi Arlan. Namun, penangkapan direktur keuangan kami di studio kalian... itu merusak citra kami."

​Arlan berdiri, tatapannya tenang namun tegas. "Bu Marina, saya mengerti kekhawatiran Anda. Pak Surya adalah orang yang disusupkan untuk menghancurkan studio ini dari dalam, bukan seseorang yang saya pilih sendiri. Namun, saya dan Adelia berhasil mengungkapnya dan memastikan tidak ada data rahasia yang bocor."

​Adelia menambahkan dengan percaya diri, "Hasil syuting iklan terakhir, meskipun di bawah tekanan sabotase, terbukti sukses dan klien sangat puas. Itu bukti profesionalisme A&A Pictures."

​Bu Marina terdiam sejenak, meneliti bukti-bukti yang disodorkan Adelia. "Kalian cukup berani. Tapi, investor membutuhkan jaminan stabilitas."

​"Jaminan stabilitas adalah saya yang memegang kendali penuh, tanpa direktur keuangan yang mencampuri visi kreatif," tegas Arlan.

​Setelah diskusi panjang yang alot, Bu Marina akhirnya mengangguk. "Kami akan memberikan kesempatan kedua. Namun, jika ada satu lagi skandal yang merugikan investor, kontrak akan diputus secara sepihak."

​Meninggalkan ruang rapat, Arlan dan Adelia merasa beban berat terangkat dari pundak mereka. Mereka berhasil, namun mereka tahu mereka berada di bawah pengawasan ketat.

​Malam itu, mereka kembali ke studio. Keheningan malam memberikan kesempatan untuk bernapas.

​"Kita berhasil menyelamatkan studio ini lagi, Adel," ujar Arlan, merangkul Adelia di ruang editing yang kini terasa tenang.

​Adelia bersandar di bahu Arlan. "Iya. Tapi janji aturan baru kita, Arlan... tidak ada pekerjaan di atas jam sembilan malam."

​Arlan tersenyum, menyadari waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. "Ups. Baiklah, Nyonya Besar. Kita pulang sekarang."

​Di dalam taksi menuju apartemen, Arlan menatap Adelia yang tertidur karena lelah. Ia menyadari, reputasi dan uang bisa dicari, namun Adelia adalah sosok yang tidak bisa digantikan. Ancaman Pak Surya yang mengatakan "ini belum berakhir" masih terngiang, tapi untuk malam ini, Arlan memilih untuk fokus pada wanita di sampingnya.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!