Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertampang kasar masuk ke toko. Ia menggebrak meja kasir, membuat Nadine sedikit terlonjak.
"Mana setoran hari ini?! Bos bilang kamu telat bayar uang keamanan lapak!" bentak pria itu.
Nadine tampak pucat, tapi ia berusaha tetap tegar. "Pak, saya baru buka dua jam. Uangnya belum terkumpul semua. Lagipula, pemilik toko ini sudah bayar pajak ke pasar."
"Jangan banyak bicara! Sini tas uangmu!" Pria itu hendak merangsek maju ke arah kasir.
Insting Aditya sebagai pemimpin langsung mengambil alih. Ia berdiri, tinggi badannya yang menjulang dan aura dominannya seketika membekukan suasana. Tanpa banyak bicara, ia berdiri di antara pria itu dan Nadine.
"Keluar," ucap Aditya dingin. Nada suaranya adalah nada yang biasanya ia gunakan untuk memecat direktur yang tidak becus.
"Siapa kau? Jangan sok pahlawan!" pria itu mencoba menggertak, tapi nyalinya ciut melihat tatapan mata Aditya yang setajam silet.
Aditya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan lembaran seratus ribu terakhirnya, uang yang seharusnya untuk jatah makannya tiga hari ke depan. Ia melemparnya ke dada pria itu. "Ambil ini dan jangan pernah kembali lagi ke toko ini. Atau kau akan berurusan dengan sesuatu yang lebih buruk dari sekadar uang."
Pria itu mendengus, mengambil uangnya, dan pergi sambil mengumpat.
Suasana toko kembali hening. Nadine menatap punggung Aditya dengan perasaan campur aduk, takut, bingung, sekaligus kagum.
"Mas... tidak perlu sampai seperti itu. Itu uang Mas sendiri, kan?" bisik Nadine pelan.
Aditya menoleh., ada sengatan listrik yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.melihat tatapan sendu seorang gadis.
"Uang bisa dicari, Nadine. Tapi ketenanganmu tidak bisa dibeli," jawab Aditya, suaranya melembut secara drastis.
Nadine menatap mata Aditya sebentar, mencari kejujuran di sana. Lalu kembali menunduk"Terima kasih, Mas Adit. Mas baik sekali... padahal kita baru kenal."
Aditya terdiam. Ia baru sadar, di Jakarta ia dikelilingi ribuan orang yang memujinya karena hartanya. Di sini, di toko kue kecil ini, seorang gadis belia menatapnya dengan tulus hanya karena ia telah menolongnya.
"Aku tidak akan pergi dari kota ini," janji Aditya dalam hati. "Masa bodoh dengan warisan Pratama. Aku ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini."
___
Rencana Aditya mulai tersusun rapi di kepalanya. Pria ini memang seorang petarung , ia tidak akan membiarkan dirinya luntang-lantung, tapi ia juga tidak akan menyentuh harta keluarganya.
Ia merogoh saku rahasia di dalam jaketnya, menarik sebuah kartu ATM hitam polos. Itu adalah rekening darurat yang ia buat bersama Rian, sahabatnya yang kini sedang menempuh studi doktoral di Jerman. Atas nama Rian, rekening itu berisi dividen dari investasi pribadi Aditya yang tidak terdeteksi oleh radar ayahnya.
Aditya berjalan keluar dari toko kue, matanya yang tajam langsung tertuju pada sebuah ruko kosong tepat di sebelah Toko Kue Melati. Debu tebal menyelimuti pintunya, dan ada papan DISEWAKAN yang sudah memudar.
"Nadine," panggil Aditya, kembali masuk ke toko. "Ruko di sebelah itu... milik siapa?"
Nadine yang sedang mengelap meja menoleh. "Oh, itu milik Haji Mulyono, Mas. Sudah kosong hampir setahun. Katanya harganya agak mahal, jadi belum ada yang berani ambil. Kenapa, Mas?"
Aditya hanya tersenyum tipis, senyum penuh rencana yang biasanya ia gunakan saat akan mengakuisisi perusahaan saingan. "Aku punya sedikit tabungan. Kurasa aku akan menetap di sini sebentar."
Nadine yang sedang serius bekerja mengernyitkan dahinya bingung.tapi ia tidak berani bertanya kembali,
Sore itu juga, Aditya menemui Haji Mulyono. Sang pemilik ruko terkesan dengan pembawaan Aditya yang sopan namun sangat berwibawa.
"Kamu mau buka apa, Le?" tanya Haji Mulyono sambil menyeruput kopinya.
"Bengkel motor, Pak Haji. Tapi bukan bengkel biasa. Saya ingin tempat di mana orang bisa memperbaiki mesinnya dengan standar terbaik, tapi harga tetangga," jawab Aditya tenang.
Haji Mulyono mengangguk-angguk. "Ruko itu strategis, pas di samping toko kue. Kalau orang servis motor, mereka bisa jajan di tempat Nadine. Ide bagus."
Setelah kesepakatan harga tercapai (yang bagi Aditya terasa sangat murah dibandingkan biaya parkir Lamborghini-nya di Jakarta), ia langsung menuju ATM di pasar. Tangannya yang biasa memegang kemudi mewah, kini menekan tombol angka dengan mantap. Saldo yang tertera lebih dari cukup untuk membangun sebuah kerajaan kecil di sini.
___
Keesokan paginya, Nadine terkejut melihat pintu ruko sebelah terbuka lebar. Ia melihat Aditya yang kini hanya mengenakan kaus polos hitam dan celana kargo sedang sibuk menyapu debu dan menata beberapa peralatan kunci yang baru saja tiba dengan mobil pik up.
Nadine datang membawakan dua potong roti sisir dan segelas teh manis hangat.
"Mas Adit? Mas benar-benar menyewa ruko ini?" tanya Nadine tidak percaya. Matanya berbinar, ada guratan lega sekaligus senang yang tak bisa ia sembunyikan.
Aditya berhenti sejenak, mengusap keringat di dahinya. "Iya. Namanya Pratama Garage. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya, cukup panggil Bengkel Adit saja."
Nadine tertawa kecil, menaruh nampannya di atas meja kerja kayu yang baru dibeli Aditya. "Mas ini nekat ya. Dari Jakarta jauh-jauh ke sini cuma buat buka bengkel?"
Aditya menatap Nadine dalam-dalam. " Nadine. Di Jakarta, aku bosan, panas dan banyak polusi...tapi tidak punya ketenangan. Di sini..." ia menjeda kalimatnya, menatap toko kue tempat Nadine bekerja, "...aku merasa punya alasan untuk bangun pagi."
Wajah Nadine merona merah. Ia buru-buru menunduk. "Mas ini bicara apa sih. Ini dimakan dulu rotinya, tenaga Mas pasti habis buat bersih-bersih."
Sore itu, pemandangan unik terlihat di pinggiran kota kecamatan tersebut. Di satu sisi, aroma roti yang baru matang menyeruak dari toko Nadine. Di sisi lain, dentang kunci inggris dan deru mesin motor mulai terdengar dari bengkel Aditya.
Sesekali, Aditya akan berjalan ke toko kue hanya untuk meminta segelas air, atau sekadar memastikan Nadine tidak diganggu oleh preman pasar lagi. Sebaliknya, Nadine sering mengantarkan kue-kue yang di pesan oleh Aditya.
"Mas Adit, tanganmu kotor sekali!" seru Nadine suatu hari saat melihat tangan Aditya penuh oli hitam.
"Ini baru namanya tangan laki-laki, kan?" canda Aditya.
Nadine menggelengkan kepala, lalu tanpa sadar, ia mengeluarkan sapu tangan nya...yang ia bawa.... Nadine menyerahkannya pada Aditya "Nanti kuman, Mas. Jangan sembarangan."
perhatian itu membuat Aditya terdiam. Gadis ini, yang hafal 30 juz Al-Qur'an, yang setiap katanya penuh dengan adab, telah mencuri hatinya sepenuhnya. Ia lupa pada mansion, lupa pada perjodohan, dan lupa bahwa ia adalah seorang miliarder.
Aditya mengambil sapu tangan itu, lalu mengelap tangannya untuk makan sepotong roti.