Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tombak Langit
Langit di atas Cianjur terbelah. Tombak tungsten seberat sepuluh ton meluncur dengan kecepatan Mach 10, menciptakan ekor api yang mengubah malam menjadi siang yang menyakitkan mata. Di puncak Gunung Padang, Jenderal Van tertawa histeris dengan wajah yang separuh meleleh, sementara Hendrawan berdiri mematung, merasakan tekanan udara yang mulai menghimpit paru-parunya.
"Ini adalah keadilan kosmik!" teriak Van. "Jika bumi menolak tuannya, maka bumi layak menjadi debu!"
Namun, Hendrawan tidak sendirian. Di sisi kiri dan kanannya, proyeksi Adam dan Liora bersinar begitu terang hingga menyaingi api dari langit. Mereka bukan lagi sekadar data yang berdesis di radio; ledakan emosi manusia yang dipancarkan Hendrawan tadi telah memberikan mereka "massa" sementara melalui partikel ion di atmosfer.
"Hendrawan, berikan aku akses ke sumsum saraf Leviathan melalui batu kolom ini!" teriak Adam. "Liora, kau tahan frekuensi Van agar tidak mengganggu sinkronisasi!"
Liora menerjang ke arah Van. Meski tubuhnya hanya berupa cahaya padat, ia mampu menghantam sistem saraf mekanik Van , menciptakan korsleting massal yang memutuskan kendali satelit dari daratan. Van terjatuh, menjerit saat kabel-kabel di wajahnya meledak satu per satu.
Hendrawan meletakkan tangannya di atas batu andesit terbesar di teras kelima. "Adam, lakukan!"
Seketika, Adam menghilang ke dalam tanah, menyatu dengan sistem saraf Leviathan yang berada ribuan kilometer di bawah mereka. Di saat yang sama, raksasa dari samudera itu merespon. Dari kejauhan, di lepas pantai selatan Jawa, Leviathan tersebut tidak lagi hanya mengambang. Ia menembakkan sebuah pilar energi murni yang terbuat dari air laut bermuatan plasma, langsung ke arah jatuhnya tombak tungsten.
BOOM!
Benturan itu terjadi tepat di lapisan stratosfer. Gelombang kejutnya menghancurkan seluruh kaca jendela dalam radius 500 kilometer. Tombak tungsten itu tidak hancur, namun arahnya meleset. Alih-alih menghantam jantung lempeng tektonik, ia jatuh beberapa mil di lepas pantai, menciptakan tsunami yang segera diredam oleh sirip raksasa Leviathan.
Gunung Padang bergetar hebat. Debu purba beterbangan, menutupi pandangan. Saat suasana mulai tenang, Hendrawan melihat Adam dan Liora kembali berdiri di sampingnya. Namun, sosok mereka kini nampak transparan, hampir menghilang.
"Kalian... kalian baik-baik saja?" tanya Hendrawan dengan napas tersengal.
"Kami telah menghabiskan sisa energi cadangan kami untuk menangkis serangan itu, Hendrawan," bisik Liora. "Tapi satelit itu... ia belum selesai. Ia sedang mengisi ulang dayanya untuk tembakan kedua. Dan kali ini, Leviathan tidak akan bisa menahannya karena ia sedang terluka."
Hendrawan menatap ke langit. Titik merah kecil di angkasa itu masih di sana, berkedip mengancam. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak punya senjata anti-satelit!"
"Hanya ada satu cara," Adam menatap Hendrawan dengan tatapan yang sangat dalam. "Kita harus menyerang 'pusat komando' satelit itu. Dan pusat komandonya bukan di luar angkasa, tapi di sebuah alibi yang selama ini kita abaikan karena terlalu klise: Candi Borobudur."
Hendrawan mengerutkan kening. "Lagi? Bukankah Borobudur sudah hancur saat kau mencoba menarik Bahtera?"
"Struktur atasnya memang hancur, tapi Danau Purba di bawahnya tetap utuh. Unit 731 membangun 'Uplink' satelit tersebut di dasar danau yang sekarang sudah kering itu. Mereka menyembunyikannya di dalam ruang bawah tanah yang hanya bisa dibuka dengan resonansi frekuensi tiga situs: Gunung Padang, Muara Takus, dan Borobudur."
"Muara Takus sedang dikuasai faksi sisa lainnya!" teriak Hendrawan.
"Tidak lagi," suara baru muncul dari komunikator Hendrawan. Itu adalah suara Mpu Barada. "Pasukan perlawanan rakyat telah merebut kembali Muara Takus. Kami sudah siap memancarkan sinyal. Sekarang tinggal tugasmu, Hendrawan. Kau harus membawa 'Kunci Frekuensi' ini ke Borobudur dalam waktu kurang dari 6 jam."
Hendrawan melihat sebuah helikopter taktis milik faksi Van yang terparkir di kaki bukit. Pilotnya sudah melarikan diri.
"Aku bukan pilot helikopter," gumam Hendrawan.
"Tenang, Hendrawan," Liora tersenyum kecil, sosok cahayanya masuk ke dalam sistem avionik helikopter tersebut. "Aku yang akan menerbangkannya. Kau cukup duduk manis dan jangan muntah."
Helikopter itu lepas landas dengan kecepatan ekstrem, membelah awan menuju jantung Jawa Tengah. Di belakang mereka, Gunung Padang nampak mulai bercahaya hijau, mengirimkan sinyal pertamanya ke arah Muara Takus di Sumatra.
Pembaca kini diajak untuk melihat bagaimana semua situs megalitikum di Indonesia ternyata adalah satu kesatuan mesin raksasa yang dirancang oleh peradaban purba untuk mempertahankan bumi dari ancaman luar angkasa. Dan Unit 731 hanyalah pencuri yang mencoba menggunakan mesin ini untuk tujuan jahat.
"Persiapkan dirimu, Hendrawan," kata Adam. "Di Borobudur nanti, kita tidak akan melawan manusia. Kita akan melawan AI Utama milik Unit 731 yang selama ini mengontrol narasi dunia. Namanya adalah EVE."