Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Terpuruk.
“Semua gara-gara kamu, Kak. Semua karena kamu!!!” tangis Arumi kembali pecah setelah membuat kamar berantakan. Suara benda yang jatuh dan pecah masih menyisakan gema tipis di ruangan itu. Sudah beberapa hari berlalu sejak keputusan kampus diterima olehnya, dan wanita itu berubah drastis. Dia lebih sering mengurung diri, lebih sering marah-marah tanpa sebab yang jelas, dan semuanya selalu berakhir sama, menangis seorang diri di dalam kamar besar itu, kamar yang dulunya milik Adrian dan Aulia.
Dia benar-benar sendirian. Tidak ada yang memedulikannya selain rasa sakit dan rasa malu yang datang bersamaan, yang terus menghantam dadanya setiap hari.
Adrian sampai bingung harus dengan cara apa mengembalikan Arumi seperti semula. Sudah banyak kalimat penenang yang dia keluarkan untuk membuat hati wanita itu lebih lapang menerima semua ini, tapi kembali lagi, siapa yang akan terima jika kesialan terus menuntun pikirannya kembali ke mode gila?
Bahkan mamanya, ibu kandungnya sendiri, terasa lebih memilih anak sambung yang menghancurkannya dibanding Arumi. Sakit. Dia sendirian, benar-benar sendirian.
“Kamu tau, Kak, aku tak habis pikir kenapa kebahagiaan selalu datang di kamu? Kenapa tidak sekalipun ada yang bersamaku? Sumpah aku muak sekali sama kamu, Kak. Muak!!” desisnya sambil mencoret-coret foto Aulia yang tersenyum sumringah. Foto itu menjadi salah satu yang tersisa di rumah tersebut setelah lebih banyak lagi sudah dia kumpulkan sejak tiga minggu lalu dan dibakar.
“Kenapa aku harus hidup dan tumbuh bersama kamu sejak dulu, kenapa? Dan kenapa aku harus menjadi bayang-bayang dari figur kamu? Aku benci!!”
“Kenapa semua orang lebih mementingkan kamu sementara aku terus dijadikan nomor dua? Kamu harus mati, Kak!!”
Dia begitu iri dengan sosok Aulia yang sejak dulu, sejak pertama kali mereka datang ke rumah yang tidak terlalu mewah tapi lebih besar dan sangat nyaman itu, menjadi satu keluarga karena ibunya menikah dengan papa Aulia. Gadis kecil itu tumbuh dengan berlimpah kasih sayang, dari papanya dan dari semua orang yang ada di rumah itu. Kontras dengan Arumi yang sebelum datang selalu menjadi saksi pertengkaran kedua orang tuanya, yang berakhir dia juga kena imbasnya.
Sejak menjadi anak sambung Papa Abian, Arumi haus akan kasih sayang. Gadis itu terobsesi dengan kehangatan pria itu yang memang terasa menenangkan. Tapi kenapa kasih sayang itu harus dibagi rata dengan Aulia? Jika dilihat dari kacamata Arumi sendiri, pria itu selalu mengutamakan putrinya dibanding dirinya. Padahal sejatinya Arumi hanya ingin semua kasih sayang itu berpusat padanya.
Pun dengan ibunya, kenapa wanita itu begitu mudah memberi kasih sayang kepada Aulia? Seharusnya dia yang menjadi utama dalam segala hal karena dia adalah anak kandung. Tapi kenapa harus dibagi rata? Itu tidak adil menurut Arumi.
Aulia selalu mudah mendapat perhatian, baik dari orang terdekat maupun orang baru yang mereka kenal.
.
.
“Astaga... Arumi!” Adrian hampir berteriak saat mendapati kamar itu pecah berantakan. Pecahan gelas berkilau di lantai, serpihan foto tersebar seperti daun kering. Pria itu memijat keningnya yang tampak pusing, lalu berulang kali menghela napas panjang sebelum melangkah pelan ke dalam, mendekati wanita itu yang masih berdiri di dekat meja rias sambil merobek sisa foto Aulia yang sempat dia renggut lebih dulu.
“Sayang, stop. Stop, Arumi!” Dia membawa tubuh wanitanya ke dalam pelukan, menahannya lebih erat, tak membiarkan Arumi yang berontak dalam dekapannya lepas.
“Stop, Sayang. Jangan begini terus, tidak ada gunanya,” ujarnya sambil mengusap lembut punggung Arumi, tangannya bergerak perlahan naik turun mencoba meredakan gemetar di tubuh itu.
“Sudah Mas bilang? Sudah? Mas pikir nggak bagaimana perasaan aku sekarang? Aku hancur, Mas. Hancur, hiks...” tangisnya pecah dalam dekapan Adrian, meraung hingga memenuhi sudut kamar.
“Sejak awal, Mas. Sejak dulu kenapa aku harus menjadi bayang-bayang wanita itu? Kenapa tidak ada satu pun orang yang melihat aku bahwa itu aku? Kenapa harus, oh Arumi adiknya Aulia, kenapa? Oh Aulia lebih baik dari dia, dia merebut suaminya Aulia. Kenapa harus seperti itu, kenapa?” Dia memukul-mukul dada suaminya itu dengan tenaga yang tersisa.
“Mas juga, kenapa sedari awal Mas memilih dia? Kenapa Mas diam saja? Kenapa Mas lebih memilih menjalin hubungan di belakang Kak Aulia dibanding jujur sama Papa bahwa aku yang Mas mau? Kenapa, Mas? Atau sebenarnya niat Mas dari awal kami berdua? Atau lebih tepatnya Kak Aulia, bukan aku?” Dia mengusap kasar air matanya. Rasa sakit itu terlalu menekan kewarasannya. Bertahap, semua rasa tidak aman Arumi sejak dulu berpusat pada Aulia yang terus menjadi pusat bagi semua orang, sementara dia harus tetap terlihat lugu dan polos, dan meski sudah begitu nyatanya dia tidak dilihat barang sedikit pun.
“Maaf... maafkan aku, Arumi. Aku salah, iya. Aku terlalu pengecut untuk memperjuangkan kita sejak awal. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Sedari dulu tidak ada perasaanku pada Aulia, sungguh,” jawabnya pelan.
“Mustahil! Kalau tidak ada perasaan, mana mungkin dia hamil, Mas? Mana mungkin kalian bisa begituan kalau tidak ada perasaan? Mas saja yang menyangkalnya, iya kan?” tudingnya membuat Adrian terdiam. Pria itu menatap jauh ke depan, tatapannya tak lagi sama. Entah kenapa kalimat Arumi barusan membuat dadanya terasa sesak. Aulia, wanita itu, bagaimana keadaannya sekarang? pikir Adrian sejenak, lalu dia menggeleng cepat, menghapus pikirannya itu.
“Kadang pria dan wanita melakukan itu bukan karena cinta tapi nafsu, Sayang. Aku hanya mencintai kamu, tidak ada Aulia, hanya kita berdua,” ujarnya meyakinkan. Namun tanpa Adrian sadari, saat dia mengucapkan itu ada perasaan asing yang bergerak pelan di dalam dadanya, membuat napasnya terasa sedikit berat.
“Benaran, Mas?” Arumi mendongak. Tangannya bergerak menelusuri rahang tegas suaminya. Gerakannya pelan, lembut. Mata bulatnya terkunci dengan tatapan hitam legam Adrian.
“Iya, benar,” jawab Adrian kemudian sedikit melonggarkan pelukannya setelah menyadari Arumi sudah mulai tenang. Pria itu menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang, membiarkan wanita itu mengatur napasnya.
“Sudah agak tenang?” tanya pria itu saat Arumi terlihat lebih stabil. Wanita itu mengangguk pelan, kembali bergelayut di lengan suaminya. Adrian mengusap lembut rambut panjang Arumi, lalu mengecup lama keningnya.
“Ya sudah, sekarang dengarkan Mas ya. Kamu mau ikut Mas keluar nggak?”
“Kemana, Mas?” tanya Arumi dengan nada malas.
“Ke suatu tempat yang akan membuat suasana hati kamu lebih membaik, mau?” ajaknya.
Arumi mengangguk cepat. “Mau. Kita kemana, mall?”
“Nanti aku kasih tau. Kamu mandi dulu gih.”
Arumi cepat-cepat bangkit lalu melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Adrian yang menatapnya dengan perasaan berat dari belakang.
Huft.
Adrian menghela napas panjang, memegang dadanya yang terasa jauh lebih aneh. Dia berdiri, mulai merapikan ranjang yang tampak berantakan, kemudian beralih ke lantai yang dipenuhi pecahan gelas dan berserakan kertas foto Aulia.
Kemudian pria itu sempat melihat baju-baju Aulia di lemari. Hanya sebentar. Lalu dia menutupnya kembali.
Siang itu Adrian memilih tidak lagi pulang ke kantor, melainkan akan membawa Arumi keluar, ke tempat yang menurutnya paling cocok untuk melepaskan semua kekacauan wanitanya itu.
Tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian