Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21.Ejekan merubah segalanya.
Minggu itu berlalu dengan bau kandang yang seolah menolak pergi dari kulit mereka.
Aneh.
Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mengeluh lagi.
Shi tidak lagi berbicara paling keras.
Han tidak lagi mencibir.
Xin tidak lagi memerintah dengan dagu terangkat.
Qiao bahkan mulai terbiasa duduk di sebelah Yun Lan tanpa komentar sinis.
Dan entah sejak kapan, barak kecil mereka yang dulu terasa seperti tempat orang asing dipaksa tidur bersama… berubah menjadi ruang yang hangat.
Mereka mulai makan bersama.
Berlatih bersama.
Bahkan diam bersama tanpa canggung.
Jika Yun Lan terlambat kembali dari latihan, Xin akan bertanya.
Jika Qiao tidak terlihat, Shi akan mencarinya.
Dan jika Han batuk terlalu lama di malam hari, Yun Lan yang bangun mengambilkan air.
Hubungan mereka membaik begitu alami sampai Yun Lan sendiri hampir lupa bahwa ini adalah orang-orang yang dulu meremehkannya.
Hampir lupa.
Karena ada satu tempat di kamp yang tidak pernah berubah.
Ruang makan.
Ruang makan adalah dunia lain.
Tempat di mana ratusan prajurit berkumpul.
Tempat di mana suara sendok, tawa kasar, dan komentar tajam bercampur tanpa saringan.
Dan di sanalah Yun Lan selalu menjadi sasaran.
Hari pertama setelah hukuman, mereka duduk berderet membawa mangkuk kayu masing-masing.
Baru saja Yun Lan duduk, suara dari meja belakang terdengar cukup keras untuk semua orang.
“Eh, lihat itu.”
“Ternyata prajurit gemuk itu masih makan paling banyak.”
Tawa kecil menyusul.
Yun Lan diam.
Ia menyuap makanannya perlahan.
Qiao menoleh tajam ke arah suara itu.
Shi menggenggam sendoknya lebih keras.
Han terlihat hendak berdiri.
Xin menahan lengannya di bawah meja.
“Jangan,” bisiknya.
Komentar lain menyusul.
“Tidak heran jatah kita makin sedikit. Lihat tubuhnya saja.”
“Kandang ternak belum cukup menguruskan dia, ya?”
Tawa lagi.
Kali ini lebih keras.
Yun Lan tetap makan.
Tenang.
Tanpa ekspresi.
Seolah suara-suara itu tidak ada.
Tapi di dalam—
Setiap kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke dadanya.
Ia memang gemuk.
Tubuhnya lebih besar dari prajurit lain.
Bahunya lebar.
Pipinya penuh.
Lengannya tebal.
Hal yang selama ini ia anggap biasa… kini terasa seperti aib di hadapan ratusan orang.
Dan yang paling menyakitkan—
Ia adalah wanita.
Di kehidupan lalu, ia menjadi ejekan warga desa Ying. karena tubuh gemuknya, dan sekarang juga sama dia menjadi bahan ejekan prajurit yang lain.
Yang berbeda hanya ejekan prajurit itu lebih kejam di dengar, karena mereka tidak tahu kalau Yun lan adalah wanita.
Warga desa selalu mempertanyakan, pria mana yang mau bersama dengan dirinya.
Ejekan itu, yang dulu sudah ia kubur dalam kematian… kini bangkit lagi dalam bentuk ejekan prajurit kasar mengenai bentuk fisiknya.
Shi berdiri setengah badan.
“Kalau kalian—”
Tangan Yun Lan menahan lengannya di bawah meja.
Ia menggeleng pelan.
Jangan.
Shi menatapnya tidak terima.
Qiao memaki pelan.
Han menggeram.
Xin memandangi Yun Lan lama.
Ia mengerti.
Yun Lan tidak ingin mereka membuat masalah.
Tidak ingin menambah musuh.
Yun Lan tersenyum tipis.
Senyum yang sangat dipaksakan.
“Ayo makan. Nanti latihan lagi,” katanya ringan.
Mereka menahan diri.
Tapi sejak hari itu, setiap kali di ruang makan, hal yang sama terjadi.
Komentar.
Tawa.
Sindiran.
Tentang tubuhnya.
Tentang nafsu makannya.
Tentang jatah makanan.
Tentang bentuk badannya.
Dan setiap kali, Yun Lan hanya diam.
Di barak, mereka semakin dekat.
Di ruang makan, Yun Lan semakin sendiri.
Malam itu, setelah semua tidur, Yun Lan keluar pelan dari barak.
Udara malam dingin.
Langit gelap.
Lampu-lampu minyak di kejauhan menyala redup.
Ia duduk di batu besar di luar pagar kamp.
Diam.
Tidak menangis.
Tidak mengeluh.
Hanya duduk.
Menatap tanah.
Dadanya terasa berat.
Bukan karena hinaan prajurit.
Tapi karena ia sadar—
Kata-kata itu menyakitkan karena ia peduli.
Karena di balik penyamarannya sebagai pria…
Ia tetap seorang wanita yang punya hati lembut.
Yang terluka oleh ejekan fisik.
Yang merasa malu.
Yang merasa tidak cukup.
Langkah pelan terdengar di belakangnya.
Yun.
Ia berdiri tidak jauh.
Memandangi Yun Lan yang duduk membungkuk.
“Kenapa keluar?” tanyanya.
Yun Lan tidak menjawab.
Yun mendekat.
Duduk di sampingnya.
Hening beberapa saat.
“Apa kau memikirkan kata-kata mereka?” tanya Yun.
Yun Lan menghela napas pelan.
“Mereka tidak salah.”
Yun menoleh.
“Tubuhku memang besar. Makananku memang banyak.”
Yun terdiam.
Lalu berkata dengan nada datar yang menyebalkan.
“Memang benar. Kau kelihatan seperti bisa menghabiskan jatah satu tim sendirian.”
Yun Lan menoleh cepat.
Matanya membelalak.
“Kau—!”
Yun mengangkat bahu.
“Aku hanya jujur.Dewa tidak boleh berbohong,jika aku bohong nanti bisa menyakiti perasaan mu”
Yun Lan memalingkan wajah lagi.
Dadanya semakin sesak.
Ia berharap dihibur.
Tapi Yun justru ikut mengejek.
Dan anehnya…
Kalimat Yun terasa lebih menyakitkan daripada ejekan prajurit.
Karena Yun adalah satu-satunya yang tahu siapa dirinya sebenarnya.
Satu-satunya yang tahu ia wanita.
Dan bahkan Yun melihatnya seperti itu.
Hening panjang.
Lalu Yun berkata pelan.
“Tapi kau juga yang paling kuat di antara mereka.”
Yun Lan tidak menjawab.
“Tubuh itu bukan kelemahan. Itu alasan kau bisa menarik dua orang dari jurang.”
Yun Lan tetap diam.
“Tapi jika itu membuatmu tidak nyaman… ubah saja.”
Yun Lan menoleh pelan.
“Maksudmu?”
“Kurangi makan.”
“……”
“Lari lebih banyak.”
“……”
“Latihan lebih keras.”
Yun memandang lurus ke depan.
“Kau punya kendali atas tubuhmu. Mereka tidak.”
Kalimat itu membuat Yun Lan terdiam lama.
Benar.
Ia selalu menerima tubuhnya apa adanya.
Tidak pernah mencoba mengubah.
Tidak pernah peduli.
Tapi sekarang—
Tubuh itu menjadi sumber ejekan.
Dan ia tidak ingin terus merasa seperti ini.
Yun Lan berdiri perlahan.
Yun menatapnya.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Yun Lan menatap lapangan latihan yang gelap.
“Besok… aku mulai lebih awal.”
Yun mengangkat alis.
“Seberapa awal?”
“Lebih awal dari siapa pun.”
Keesokan harinya, sebelum fajar menyentuh langit, Yun Lan sudah bangun.
Tanpa suara.
Tanpa membangunkan yang lain.
Ia keluar.
Mulai berlari mengelilingi kamp.
Putaran pertama.
Putaran kedua.
Putaran ketiga.
Napasnya berat.
Kakinya pegal.
Tapi ia tidak berhenti.
Yun berdiri jauh, mengawasi.
Tanpa komentar.
Hari itu, saat sarapan, Yun Lan mengambil porsi setengah dari biasanya.
Shi langsung sadar.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
Qiao menatap mangkuknya.
“Kenapa sedikit?”
“Tidak lapar.”
Xin memperhatikannya diam-diam.
Hari-hari berikutnya, pola itu berlanjut.
Bangun paling pagi.
Berlari.
Latihan lebih keras dari yang lain.
Makan lebih sedikit.
Dan perlahan—
Tubuh Yun Lan mulai berubah.
Pipinya sedikit mengempis.
Lengan dan bahunya tampak lebih tegas.
Langkahnya lebih ringan.
Dan di ruang makan…
Komentar mulai berkurang.
Bukan karena mereka berhenti mengejek.
Tapi karena mereka bingung.
Prajurit gemuk itu tidak lagi terlihat begitu gemuk.
Suatu hari, saat latihan angkat beban, Shi menatap Yun Lan lama.
“Kenapa kau jadi lebih cepat sekarang?”
Yun Lan tersenyum kecil.
“Tidak tahu.”
Yun, dari kejauhan, hanya memandang dengan mata tenang.
Ia tahu.
Ini bukan tentang tubuh.
Ini tentang Yun Lan yang akhirnya memutuskan mengambil kendali.
Bukan lagi hanya menyembunyikan kekuatannya.
Tapi juga membentuk dirinya sendiri.
Dan tanpa sadar—
Perubahan itu bukan hanya terlihat oleh teman sekamarnya.
Tapi juga…
Wajahnya terlihat lebih tampan sama dengan Yun yang membedakan warna kulit Yun lan yang kecoklatan.
Tapi warna kulit itu bukan warna aslinya, tapi bedak khusus yang dibuat ibunya menutupi kulit putih mulusnya.