NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Gengsi dan Napas yang Tersengal

Suasana di meja makan pagi itu terasa seperti medan perang yang membeku. Hanya ada suara denting sendok Andini yang beradu dengan piring porselen—salah satu barang "mewah" di rumah itu yang hanya boleh digunakan olehnya. Syifa sudah kembali dari klinik dua hari yang lalu, namun wajahnya masih pucat, duduk diam di sudut meja sambil mengunyah roti tawar tanpa selai.

Andini meletakkan ponselnya dengan hentakan keras. Matanya berkilat, bukan karena amarah yang meledak-ledak seperti biasanya, melainkan karena sebuah ambisi yang dingin.

"Mas, aku butuh uang. Sepuluh juta. Tunai, besok pagi," ucap Andini datar, seolah-olah ia hanya meminta uang untuk membeli sayur di pasar.

Hilman yang sedang meneguk teh tawar hangatnya tersedak. Ia terbatuk kecil, tangan kirinya secara refleks menekan dadanya yang terasa nyeri. "Sepuluh juta? Untuk apa, Dek? Biaya klinik Syifa kemarin saja sudah menghabiskan tabungan operasional kita, dan Mas baru saja bayar uang semesteran sekolah Syifa yang menunggak."

Andini mendengus, ia menyandarkan tubuhnya dan menatap Hilman dengan pandangan menghina. "Reuni akbar SMA-ku minggu depan, Mas. Kamu tahu kan, teman-temanku itu siapa? Ada yang suaminya anggota dewan, ada yang punya dealer mobil. Masa aku mau datang pakai tas secondhand yang kamu kasih kemarin? Itu tas sudah nggak musim! Aku butuh tas seri terbaru yang lagi hype. Harganya diskon jadi sepuluh juta kalau beli besok."

"Tapi Dek... sepuluh juta itu besar sekali bagi kita. Itu bisa untuk makan kita tiga bulan, atau untuk tabungan darurat kalau—"

"Tabungan darurat apa lagi?!" potong Andini dengan nada melengking. "Mas ini selalu saja bicara soal darurat. Darurat itu adalah saat istrimu dipermalukan karena penampilannya seperti gembel di depan teman-temannya! Itu yang darurat!"

Hilman menghela napas panjang. Wajahnya yang kuyu tampak semakin menua dalam hitungan detik. "Mas benar-benar tidak punya uang sebanyak itu sekarang, Andini. Tabungan yang ada di bawah jok motor itu hanya sisa tiga ratus ribu untuk bensin dan makan siang Mas di pabrik."

Andini berdiri, ia menghampiri Hilman dan mencondongkan tubuhnya. "Jangan bohong. Aku tahu Mas punya simpanan lain. Mas kan 'si paling hemat'. Mas pasti punya uang yang disembunyikan. Aku mau uang itu sekarang. Kalau tidak, jangan harap Mas bisa melihat aku di rumah ini saat Mas pulang kerja besok. Aku akan pergi ke rumah ibuku dan bilang kalau Mas sudah tidak mampu menafkahiku!"

Ancaman itu adalah senjata pamungkas Andini. Ia tahu Hilman sangat menjunjung tinggi keutuhan keluarga dan sangat takut jika Syifa kehilangan sosok ibunya.

Hilman menatap piringnya yang kosong. Pikirannya berputar hebat. Ia memang punya satu tabungan rahasia—tabungan deposito yang ia siapkan untuk masa depan jangka panjang. Namun, ia bersumpah tidak akan menyentuh uang itu kecuali untuk urusan nyawa. Tapi di sisi lain, ia melihat Andini yang sudah mulai mengemasi tas kecilnya, sebuah gertakan yang selalu berhasil menghancurkan pertahanan Hilman.

"Jangan pergi, Dek... Kasihan Syifa," bisik Hilman lirih.

"Maka kasih aku uangnya!"

Malam itu, Hilman tidak tidur. Setelah Andini tertidur pulas dengan mimpi tentang tas mewahnya, Hilman berangkat menuju pelabuhan. Ia mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh angkut barang impor yang masuk pada jam dua pagi. Pekerjaan ini jauh lebih berat daripada di pabrik plastik; ia harus memindahkan peti kemas kecil dan peti kayu berisi mesin yang beratnya tidak main-main.

Setiap kali ia mengangkat beban, dadanya terasa seperti dipukul palu godam. Rasa amis darah kembali terasa di tenggorokannya, namun ia menelannya kembali. Ia bekerja seperti orang kesurupan. Jika satu shift tidak cukup, ia mengambil dua shift sekaligus. Ia tidak peduli jika jantungnya berdegup tidak beraturan atau keringat dinginnya membasahi seluruh pakaiannya.

Pukul delapan pagi, dengan tubuh yang gemetar hebat dan mata yang merah karena tidak tidur, Hilman pulang. Ia mampir ke bank untuk menarik sisa uang dari tabungan "darurat" yang ia kumpulkan selama tiga tahun—uang yang rencananya akan ia gunakan untuk merenovasi atap rumah yang bocor. Ditambah dengan upah kasar dari pelabuhan tadi malam, ia berhasil mengumpulkan sepuluh juta rupiah.

Ia pulang ke rumah dan mendapati Andini sudah siap dengan pakaian rapi, seolah-olah ia sedang menunggu kurir pengantar uang. Hilman meletakkan amplop cokelat itu di meja makan.

"Ini uangnya, Andini," kata Hilman dengan suara yang nyaris hilang.

Andini segera menyambar amplop itu, menghitung isinya dengan mata berbinar-binar. "Nah, begini kan enak. Ternyata kalau dipaksa, Mas bisa juga cari uang cepat. Makanya, Mas, jangan malas. Kerja itu yang cerdas, jangan cuma pakai otot tapi hasilnya receh."

Andini bahkan tidak menyadari bahwa suaminya berdiri dengan kaki yang goyah, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia tidak bertanya darimana uang itu berasal, atau mengapa baju Hilman kotor penuh debu pelabuhan dan noda minyak mesin.

"Aku pergi ke mall sekarang ya, takut barangnya habis. Syifa, kamu di rumah sama Ayah!" Andini pergi begitu saja, meninggalkan aroma parfum yang tertinggal di udara, sementara suaminya jatuh terduduk di kursi kayu dengan napas yang tersengal.

"Ayah... Ayah sakit?" Syifa mendekat, memegang tangan ayahnya yang terasa sedingin es.

Hilman mencoba tersenyum, meski dadanya terasa sangat sesak hingga ia sulit untuk bicara. "Hanya... lelah sedikit, Sayang. Ayah mau istirahat sebentar di lantai."

Hilman merebahkan tubuhnya di atas lantai semen yang dingin, berharap rasa dingin itu bisa meredam panas yang membakar di dalam dadanya. Ia memejamkan mata, namun bayangan masa depan yang gelap terus menghantui. Ia tahu fisiknya sudah mencapai batas. Penyakit paru-paru yang ia rahasiakan, ditambah kelelahan ekstrem, mulai menggerogoti nyawanya perlahan.

Sore harinya, Andini pulang dengan wajah kemenangan. Ia menjinjing sebuah kotak besar dengan merek terkenal dunia. Ia langsung menuju kamar dan melakukan sesi unboxing untuk konten media sosialnya.

"Halo guys! Surprise! Akhirnya aku dapatkan tas impianku. Ini benar-benar investment piece ya, harganya nggak main-main. Beruntung banget punya suami yang selalu mengerti kemauanku," ucap Andini di depan kamera ponselnya, memberikan kesan kepada dunia bahwa hidupnya sangat sempurna dan bergelimang harta.

Ia sama sekali tidak menoleh ke arah dapur, di mana Hilman sedang mencoba memasak mi instan untuk Syifa karena tidak ada uang lagi untuk membeli lauk. Hilman harus menahan diri agar tidak terbatuk saat Andini sedang merekam video, karena Andini pernah memarahinya karena "suara batukmu merusak audionya".

Malam harinya, saat Andini sibuk mematut diri di depan cermin dengan tas barunya, Hilman duduk di teras sambil memandangi motor tuanya. Ia tahu, esok hari ia harus kembali bekerja di dua tempat. Pabrik di pagi hari, dan pelabuhan di malam hari. Ia harus mengembalikan uang tabungan darurat yang ia ambil tadi, karena ia punya firasat buruk bahwa "waktu darurat" yang sesungguhnya tidak akan lama lagi datang.

Hilman mengambil buku catatan kecilnya. Di halaman paling belakang, ia menuliskan sebuah angka: Rp 1.000.000.000. Di bawahnya, ia mencoret angka kecil yang baru saja ia ambil untuk didepositokan kembali.

"Sedikit lagi, Andini. Kalau aku pergi nanti, tas itu mungkin akan rusak atau ketinggalan zaman, tapi uang ini akan menjagamu dan Syifa agar tidak dihina orang lagi. Maafkan suamimu yang bau matahari ini, karena hanya ini warisan yang bisa kuberikan."

Andini keluar dari kamar, melihat suaminya sedang menulis. "Mas! Besok antar aku ke tempat reuni ya jam 10 pagi. Tapi tolong, pakai baju yang agak bagusan dikit, jangan pakai jaket dekil itu. Dan motornya tolong dicuci, kalau bisa pinjam motor tetangga yang lebih baru. Aku nggak mau tas sepuluh jutaku ini jomplang gara-gara motor bututmu!"

Hilman menutup bukunya, menatap istrinya dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki—sebuah senyum perpisahan yang tidak disadari oleh Andini. "Iya, Dek. Mas usahakan."

Andini kembali ke kamar dengan hati riang, tanpa tahu bahwa setiap lembar uang sepuluh juta itu adalah tebusan dari sisa umur Hilman yang kini tinggal menghitung hari. Di bawah lampu jalan yang remang, Hilman kembali terbatuk, dan kali ini, ia tidak bisa lagi menyembunyikan bercak darah yang memenuhi sapu tangannya.

Dunia Andini masih berwarna merah muda, sementara dunia Hilman perlahan mulai memudar menjadi abu-abu.

1
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Mistikus Kata: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!