NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 21

BAB 21 — Keberangkatan

Pukul 05.00 WIB. Langit Jakarta masih gelap, tertutup kabut tipis sisa hujan semalam.

Halaman parkir SMA Pelita Bangsa sudah dipenuhi oleh deretan lima bus pariwisata eksekutif berwarna biru metalik. Mesin diesel bus menderu halus, memuntahkan asap putih ke udara pagi yang dingin. Lampu-lampu bus menyorot tajam, membelah kegelapan.

Mayang berdiri di samping pintu Bus 1—Bus Panitia & VIP. Dia memegang papan jalan (clipboard) dengan tangan yang terbungkus sarung tangan wol (bukan sarung tangan bedah lagi, dia beli yang murah di pasar).

Kakinya terbalut sepatu gunung Eiger pemberian Vino. Terasa kokoh dan hangat. Di lehernya, tersembunyi di balik kerah kemeja flanel kotak-kotaknya, menggantung peluit perak.

"Absensi Bus 1. Cek," gumam Mayang sambil mencentang daftar nama.

Siswa-siswa mulai berdatangan. Mobil-mobil mewah pengantar berhenti silih berganti, menurunkan anak-anak orang kaya yang menyeret koper Rimowa seolah mau ke Eropa, padahal cuma ke Puncak.

"Pagi, May!" sapa Naufal riang.

Naufal datang dengan tas ransel North Face besar. Dia memakai jaket varsity tim basket. Dia terlihat segar, wangi parfum sporty, dan sangat bersemangat.

"Pagi, Fal. Masuk. Kursi nomor 5 dan 6 ya," kata Mayang profesional, menunjuk denah kursi.

"Siap. Gue tag kursi sebelah gue buat lo ya?" Naufal mengedipkan mata.

Mayang ragu sejenak. "Aku harus koordinasi sama Ketua Panitia, Fal. Biasanya Sekretaris duduk di depan bareng Ketua."

Naufal cemberut sedikit. "Yaelah. Tiga jam perjalanan lo mau ngomongin anggaran terus? Pusing tau. Sekali-kali santai napa."

Belum sempat Mayang menjawab, sebuah mobil Alphard putih berhenti tepat di depan bus. Pintu otomatis terbuka.

Vivie turun.

Dia memakai coat bulu sintetis warna krem, boots kulit setinggi lutut, dan kacamata hitam (di jam 5 pagi). Gayanya seperti selebriti yang dikejar paparazzi. Dayang-dayangnya, Sarah dan Oline, turun dari mobil belakang.

Vivie berjalan melewati Mayang tanpa menoleh. Dia langsung naik ke bus.

"Vivie, absensi dulu," panggil Mayang.

"Udah diwakilin malaikat pencatat amal," sahut Vivie asal, lalu melenggang masuk.

Mayang menghela napas. Dia mencentang nama Vivie. Hadir (Tanpa Akhlak).

Tak lama kemudian, sebuah Land Rover hitam masuk area parkir. Vino.

Dia turun dari mobil. Penampilannya sederhana tapi intimidatif: Hoodie hitam polos, celana kargo taktis, dan sepatu boots militer. Dia membawa ransel hitam legam. Wajahnya datar, matanya tajam memindai area seperti radar.

Dia berjalan mendekati Mayang.

"Laporan," kata Vino singkat.

"Peserta Bus 1 lengkap. Logistik sudah masuk bagasi. Kotak P3K aman. Supir sudah tes urine dan negatif narkoba," lapor Mayang cepat.

Vino mengangguk. Dia melihat sepatu Mayang.

"Tali sepatu lo kurang kenceng.iket simpul mati. Gue nggak mau acara berhenti cuma gara-gara lo benerin tali sepatu."

Mayang menunduk melihat sepatunya. "Ini udah kenceng kok."

"Kurang. Kencengin lagi nanti."

Vino naik ke bus. Mayang mengikutinya dari belakang.

Di dalam bus, suasana sudah riuh. AC bus sangat dingin.

Vino berjalan menuju kursi paling depan di barisan kanan (kursi strategis untuk memantau jalan dan penumpang). Biasanya, kursi di sebelahnya (koridor) dikosongkan untuk Sekretaris agar mudah koordinasi.

Tapi kursi itu sudah terisi.

Vivie sudah duduk di sana. Dia meletakkan tas Louis Vuitton-nya di pangkuan, tersenyum manis saat melihat Vino.

"Pagi, Vino. Gue duduk sini ya," kata Vivie.

Vino berhenti. Dia menatap Vivie, lalu menatap kursi kosong di sebelah Vivie.

"Itu kursi Sekretaris," kata Vino datar. "Mayang harus duduk di situ buat update rundown."

"Aduh, Vin," Vivie memanyunkan bibir. "Gue mabuk darat kalau duduk di belakang. Gue butuh liat jalan depan. Lagian Mayang kan Sekretaris, dia bisa koordinasi lewat WhatsApp. Masa lo tega ngebiarin gue muntah-muntah?"

Alasan klasik. Kesehatan. Vino tidak bisa membantah alasan medis tanpa terlihat seperti monster, apalagi di depan banyak siswa.

Vino melirik ke belakang. Mayang berdiri di lorong bus, menunggu instruksi.

Vino menghela napas kasar. Dia tidak mau ribut pagi-pagi. Efisiensi energi.

"Geser," perintah Vino pada Vivie. "Lo duduk di dekat jendela. Gue di lorong."

Vivie bersorak dalam hati. "Oke!" Dia buru-buru geser ke dekat jendela.

Vino duduk di kursi lorong. Dia mengeluarkan headphone-nya, memasangnya di leher. Wajahnya masam.

Mayang melihat itu. Dia kehilangan kursinya.

Dia menoleh ke belakang, mencari kursi kosong. Bus penuh.

"May! Sini!"

Naufal melambaikan tangan dari barisan ketiga, sisi kiri. Kursi di sebelahnya kosong.

"Masih kosong nih! Gue jagain buat lo!" seru Naufal.

Mayang melihat Vino. Vino tidak menoleh ke belakang. Dia sibuk mengatur letak tasnya.

Mayang berjalan menuju Naufal.

"Boleh duduk sini?" tanya Mayang.

"Boleh banget! Duduklah, Tuan Putri," Naufal menepuk jok kursi empuk itu.

Mayang duduk. Dia meletakkan tasnya di bawah kaki.

"Makasih, Fal. Untung ada kamu."

"Selalu ada buat lo, May."

Bus mulai bergerak pelan meninggalkan sekolah. Perjalanan menuju Puncak dimulai.

Di Jalan Tol Jagorawi. KM 25.

Matahari mulai terbit, menyinari jalan tol yang padat lancar.

Di barisan depan, Vivie terus berusaha mengajak Vino bicara.

"Vin, lo bawa snack apa? Gue bawa cokelat impor lho." "Vin, nanti di villa kita satu lantai kan?" "Vin, AC-nya dingin banget ya. Pinjem jaket dong."

Vino hanya menjawab dengan gumaman. "Hm." "Nggak." "Bawa sendiri."

Vino memasang headphone-nya. Menutupi telinga sepenuhnya.

Vivie cemberut. Dia mengira Vino sedang mendengarkan musik rock atau podcast saham. Vivie akhirnya menyerah dan memilih tidur (atau pura-pura tidur) sambil bersandar ke arah bahu Vino (yang dengan halus ditepis Vino dengan cara menggeser bahu menjauh).

Tapi Vino tidak menyalakan musik. Playlist-nya kosong. Volume nol. Fitur Noise Cancelling-nya dimatikan. Mode Ambient Sound dinyalakan.

Fitur ini membuat mikrofon di headphone menangkap suara di sekitarnya dan memperjelasnya.

Telinga Vino fokus pada satu arah. Belakang. Serong kiri. Baris ketiga.

Suara tawa renyah terdengar.

"Hahaha! Serius, Fal? Kamu pernah jatoh ke got pas ngejar layangan?"

Itu suara Mayang. Tawa yang lepas. Tawa yang jarang Vino dengar saat Mayang bersamanya (bersama Vino, Mayang biasanya serius, tegang, atau sarkas).

"Iya, May! Sumpah malu banget. Mana pas itu ada cewek yang gue suka lagi lewat. Muka gue item semua kena lumpur got," suara Naufal menimpali, terdengar bangga dengan kebodohannya sendiri.

"Terus ceweknya gimana?"

"Dia lari ketakutan. Dikira gue monster rawa."

Mayang tertawa lagi. "Kamu emang monster, Fal. Monster bakso."

"Enak aja! Gue pangeran basket tau."

Vino menatap lurus ke depan, ke jalan tol yang membosankan. Tapi matanya sesekali melirik ke kaca spion tengah bus yang ada di atas supir.

Dari sudut pantulan kaca itu, dia bisa melihat mereka.

Dia melihat Naufal membuka bungkus keripik kentang, menyuapkannya ke arah Mayang. Mayang menolak sebentar, lalu menerimanya.

Dia melihat Mayang terlihat rileks. Bahunya turun. Dia tidak sedang memegang pulpen atau kalkulator. Dia sedang menjadi remaja normal.

Vino mencengkeram pegangan kursi.

Ada rasa panas menjalar di dadanya. Rasa tidak suka yang irasional.

Kenapa dia nggak pernah ketawa kayak gitu sama gue? batin Vino. Sama gue, dia selalu bicara soal anggaran, soal data, soal bertahan hidup. Kenapa sama Naufal dia bisa bahas layangan dan got?

Logika Vino menjawab: Karena Naufal adalah zona nyamannya. Lo adalah zona perangnya.

Jawaban itu tidak membantu. Justru membuat Vino merasa semakin terisolasi. Dia yang membawa Mayang ke medan perang, dan sekarang dia cemburu karena Mayang menikmati gencatan senjata dengan orang lain.

"Vin," panggil Vivie lagi, terbangun dari tidur palsunya. "Bagi minum dong. Haus."

Vino tidak menjawab. Dia pura-pura tidak dengar. Dia menaikkan volume "kosong"-nya, fokus mendengarkan percakapan di belakang.

"May," suara Naufal berubah serius. "Nanti di villa, lo jangan jauh-jauh dari gue ya."

"Kenapa?"

"Perasaan gue nggak enak. Vivie dari tadi senyum-senyum sendiri. Gue takut dia ngerencain sesuatu."

"Tenang aja, Fal. Aku bisa jaga diri. Vino udah kasih aku... instruksi keamanan."

Vino tersenyum tipis mendengar namanya disebut. Bagus. Dia inget instruksi gue.

"Vino lagi," suara Naufal terdengar kesal. "Dia ngasih instruksi, tapi dia duduk sama Vivie di depan. Liat tuh, asik banget berduaan."

Senyum Vino lenyap. Berduaan? Mata lo katarak, Naufal? Gue lagi tersiksa di sini.

"Jangan gitu, Fal. Vino kan Ketua. Dia harus jaga image. Lagian Vivie yang maksa duduk situ," bela Mayang.

"Lo terlalu baik, May. Lo nggak liat cara Vino natap lo? Dia itu dingin. Dia nggak punya hati. Dia cuma anggep lo alat buat ngelawan bokapnya atau apalah."

Vino menunggu jawaban Mayang. Jantungnya berdegup. Apakah Mayang setuju?

Hening sejenak.

"Mungkin dia dingin, Fal," suara Mayang terdengar lembut. "Tapi es itu... kalau dipegang lama-lama, dia bakal mencair. Dan airnya bisa ngilangin haus."

Vino tertegun. Air yang menghilangkan haus. Analogi itu.

Mayang tidak melihatnya sebagai monster. Mayang melihatnya sebagai sumber kehidupan.

Vino menyandarkan kepalanya ke kursi. Dia menutup mata. Sudut matanya terasa hangat.

Dia tidak jadi marah pada Naufal. Karena dalam satu kalimat sederhana, Mayang baru saja memenangkan perdebatan itu tanpa perlu berteriak. Mayang paham siapa Vino sebenarnya.

"Makasih, Partner," bisik Vino tanpa suara.

Rest Area Puncak Pass.

Bus berhenti untuk istirahat dan mendinginkan mesin sebelum menanjak lebih tinggi. Udara di luar sudah terasa dingin menusuk. Kabut mulai turun.

Siswa-siswa turun untuk ke toilet atau beli jagung bakar.

Vino turun paling akhir. Dia berdiri di dekat pintu bus, mengawasi rombongan.

Dia melihat Mayang turun tangga bus. Mayang sedikit terpeleset di anak tangga terakhir yang licin karena embun.

Hap.

Naufal dengan sigap menangkap lengan Mayang.

"Ati-ati, May! Kan udah gue bilang licin," kata Naufal heroik.

"Makasih, Fal. Sepatu aku agak kegedean dikit kayaknya."

Vino melihat itu. Dia berjalan mendekat.

"Lepas," kata Vino datar pada Naufal.

Naufal menoleh, melepaskan lengan Mayang tapi tetap berdiri dekat. "Kenapa, Bos? Masalah lagi?"

Vino tidak meladeni Naufal. Dia menatap kaki Mayang.

"Sepatu lo kegedean?" tanya Vino.

"Dikit, Vin. Pas jalan datar enak, tapi pas turun tangga agak longgar tumitnya."

"Duduk," perintah Vino, menunjuk bangku panjang di dekat warung kopi.

"Hah?"

"Duduk. Sekarang."

Mayang duduk, bingung.

Vino berjongkok di depan Mayang.

Satu angkatan yang sedang makan jagung bakar langsung hening. Vino Al-Fatih, pangeran sekolah, berjongkok di depan anak beasiswa?

Vino tidak peduli. Dia memegang tali sepatu Mayang.

"Lo iketnya salah," kata Vino. "Buat turunan atau tangga, lo harus pake teknik Heel Lock. Kunci tumit."

Vino melepaskan ikatan tali sepatu Mayang. Lalu dia memasukkan tali itu ke lubang paling atas dengan cara menyilang, membuat simpul khusus yang mengunci pergelangan kaki agar tidak geser.

Gerakannya cekatan. Terlatih.

"Kenceng?" tanya Vino sambil menarik talinya.

"Aw, dikit. Tapi pas," jawab Mayang.

Vino mengikat simpul mati ganda.

"Sekarang coba berdiri."

Mayang berdiri. Dia menggerakkan kakinya. Tumitnya terkunci sempurna. Tidak goyang.

"Wah... enak banget. Kok bisa?"

"Fisika. Gesekan dan tegangan tali," jawab Vino sambil berdiri membersihkan tangannya.

Dia menatap Naufal yang melongo di sampingnya.

"Naufal," kata Vino. "Nangkep orang yang jatuh itu tugas pemadam kebakaran. Tugas Partner adalah mastiin dia nggak jatuh dari awal."

Skakmat.

Vino berbalik, berjalan menuju toilet pria tanpa menoleh lagi.

Naufal wajahnya merah padam. Dia kalah lagi. Kalah dalam hal-hal detail yang tidak pernah dia pikirkan.

Mayang menatap sepatu gunungnya. Simpul itu rapi dan kuat. Simpul yang diikat oleh Vino.

"Ayo, May," ajak Naufal dengan suara lemas. "Kita beli jagung bakar."

"Ayo," Mayang mengikuti Naufal, tapi pikirannya tertinggal di simpul sepatunya.

Di kejauhan, Vivie mengamati kejadian itu dari balik kaca mata hitamnya. Dia sedang memakan sosis bakar dengan garpu, menusuknya kuat-kuat seolah itu adalah jantung Mayang.

"Nikmati momen lo, Mayang," desis Vivie. "Karena begitu kita nyampe villa, sepatu gunung lo nggak bakal bisa nyelamatin lo."

Vivie mengeluarkan ponselnya. Mengirim pesan ke seseorang.

Target OTW. Siapin 'kejutan' di kamar 304.

Bus membunyikan klakson. Perjalanan berlanjut. Jalanan semakin menanjak, berliku, dan berkabut. Jarak pandang semakin pendek. Sama seperti masa depan mereka di tiga hari ke depan: Gelap dan penuh tikungan tajam.

Tiba di Villa Grand Hills.

Pukul 11.00 WIB.

Villa itu megah, berdiri di tebing yang menghadap lembah kebun teh. Arsitekturnya gaya kolonial Belanda dengan pilar-pilar putih dan jendela besar. Indah, tapi juga menyiratkan kesan angker dan dingin.

Mayang turun dari bus. Udara dingin langsung menampar wajahnya.

Dia meniup peluit peraknya pelan, tanpa suara, hanya untuk memastikan benda itu ada.

"Selamat datang di neraka indah," bisik Vino saat lewat di sampingnya sambil membawa koper.

"Neraka atau surga, tergantung siapa setannya," balas Mayang.

Vino tersenyum tipis. "Setannya sudah siap. Pastikan malaikatnya nggak tidur."

Mereka masuk ke lobi. Permainan yang sesungguhnya dimulai.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!