NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #31: Perpisahan

Pagi itu, suasana di Ruang Medis Balai Penjaga Jalur Tengah terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena suhu udara, melainkan karena keheningan yang mencekam di sekitar satu pasien khusus.

Geun duduk di tepi ranjang medis. Dia telanjang dada, memperlihatkan tubuhnya yang kini memiliki definisi otot yang aneh—padat, terukir tajam, dan sekeras batu granit.

Di hadapannya, Tetua Tabib Mu-ak yang masih belum pulang ke kota Jeokha, bersama dua asisten senior, Mu-ak sedang melakukan pemeriksaan terakhir sebelum mengizinkan Geun pergi. Wajah mereka bukan wajah dokter yang puas melihat pasien sembuh. Wajah mereka adalah wajah ilmuwan yang melihat eksperimen gagal yang hidup.

"Tahan napasmu," perintah Mu-ak, suaranya sedikit bergetar.

Mu-ak menempelkan tiga jari ke pergelangan tangan Geun. Dia mulai menyalurkan energi murni. Energi lembut yang bersifat penyembuhan sekaligus untuk mengecek kondisi meridian Geun pasca insiden "penempaan palu" tempo hari.

Namun, begitu energi itu masuk ke kulit Geun...

ZAP!

Mu-ak tersentak kaget. Matanya terbelalak.

Bukannya mengalir lancar menyusuri sungai meridian Geun yang meleleh, energi milik Mu-ak disedot dengan kasar oleh tubuh Geun.

Rasanya seperti mencelupkan tangan ke dalam kolam berisi ribuan lintah lapar. Atau lebih buruk, seperti mencelupkan jari ke dalam asam lambung raksasa yang korosif.

"Ugh!" Mu-ak menarik tangannya dengan cepat, napasnya memburu. Ujung jari-jarinya terasa panas dan mati rasa.

"Tetua?" tanya asistennya cemas.

"Tidak ada..." bisik Mu-ak panik. "Tidak ada jalurnya. Meridiannya yang kita rawat supaya membaik... sekarang tidak ada. Atau lebih tepatnya, seluruh tubuhnya adalah meridian yang kacau."

Mu-ak menatap wajah Geun.

Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar memperhatikan mata pemuda itu di bawah sinar matahari pagi yang terang.

Mata yang dulu cokelat gelap biasa, kini telah berubah.

Pupil mata Geun berwarna Merah Darah.

Bukan merah karena iritasi atau sakit mata. Tapi merah delima yang pekat, seolah darah segar telah mengkristal menjadi lensa matanya.

Geun berkedip, tidak sadar dengan perubahan itu.

"Kenapa, Kek? Sudah boleh pergi belum? Aku laper."

Mu-ak mundur selangkah.

Dalam literatur medis kuno, perubahan warna pupil menandakan tubuh fisik yang spesial.

9 Yin Body biasanya membuat mata pucat atau keperakan.

9 Yang Body membuat mata keemasan atau jingga.

Poison Body membuat mata ungu atau hijau.

Tapi Merah Darah?

Tidak ada catatannya. Kecuali dalam legenda tentang iblis yang merangkak naik dari neraka kesembilan.

"Seperti laporan medis sebelumya..." Mu-ak menelan ludah, berbicara pada asistennya dengan suara pelan agar Geun tidak dengar. "Dantian-nya hancur jadi debu. Meridian utamanya sudah meleleh. Kita memang tidak bisa memperbaiki dantian yang rusak, tapi kita bisa mengobati meridiannya, itulah alasan aku meracik obat untuk anak ini semenjak aku datang ke Balai Penjaga Jalur Tengah."

"Namun... aku tidak lagi bisa merasakan Dantian maupun Meridiannya. Sekarang tubuhnya dipenuhi energi internal yang sangat kacau, yang mampu menghisap energi apapun ke tubuhnya. Orang normal dengan Dantian dan Meridian yang rusak parah harusnya lumpuh total atau mati dalam hitungan jam."

"Tapi dia tetap hidup sejak insiden Gudang Silvercrane dan insiden Ramuan Sembilan Matahari," bisik asistennya. "Dia... malah bertambah kuat."

"Dia bukan lagi praktisi bela diri dalam definisi kita," simpul Mu-ak gemetar. "Kita tidak bisa mengklasifikasikan dia sebagai Orthodox maupun Unorthodox. Energi internalnya sangat kacau dan sangat kuat, tidak murni seperti faksi Orthodox namun juga tidak jahat seperti faksi Unorthodox."

......................

Sementara itu, di Paviliun Utama.

Kepala Cabang Wudang duduk berhadapan dengan Baek Mu-jin. Teh di meja sudah dingin, tak tersentuh. Laporan medis dari Tabib Mu-ak tergeletak terbuka di antara mereka.

"Identitas tidak jelas. Teknik tidak dikenal. Dan sekarang, tubuhnya aneh." kata Kepala Cabang berat. "Kita bahkan tidak tahu apakah orang yang kita tampung ini monster atau bukan."

"Tapi dia menyelamatkan nyawa kami, Guru," bela Mu-jin, meski ada keraguan di matanya. "Dia mengambil risiko besar melawan Jo Chil-sung dan Corpse Collector."

"Aku tahu. Karena itu kita tidak bisa membunuhnya atau mengurungnya. Itu akan mencoreng nama baik Wudang sebagai sekte lurus yang tahu balas budi."

Kepala Cabang menghela napas panjang.

"Lepaskan dia. Tapi jangan biarkan tali putus sepenuhnya."

"Maksud Guru?"

"Berikan dia plakat Tamu Kehormatan Tingkat Tiga. Itu tidak memberinya akses ke teknik inti Wudang, tapi cukup untuk membuatnya merasa dihargai dan memiliki hubungan diplomatik dengan kita. Jika suatu hari dia menjadi ancaman bagi Murim orthodox, kita bisa melacaknya lewat plakat itu."

"Baik, Guru."

......................

Satu jam kemudian, di Gerbang Depan Balai Penjaga.

Sebuah kereta kuda mewah yang dibeli Geun dari seorang murid kaya dengan harga miring sudah terparkir. Kuda-kudanya gagah, cat keretanya mengkilap, dan bantal di dalamnya empuk.

Tapi yang paling mencolok adalah sebuah peti kayu besar yang diikat kuat di atap kereta.

Peti berisi 30.000 Tael Perak lebih.

Geun keluar dari gerbang dengan senyum lebar. Dia memakai jubah sutra baru yang agak kebesaran, dan rambutnya disisir rapi menjuntai ke pinggang. Mata merahnya tertutupi sedikit oleh poninya.

"Saudara Geun," panggil Baek Mu-jin yang berdiri di depan gerbang.

"Ah, Saudara Baek!" Geun melambai santai. "Nggak usah repot-repot nganter. Aku tahu kau sibuk meditasi."

Mu-jin melangkah maju. Wajahnya serius.

"Saudara Geun, apakah kau yakin ingin pergi ke Nanjing? Kita itu terkenal sebagai tempatnya faksi-faksi Jianghu Unorthodox yang jauh lebih kejam daripada yang kau bayangkan. Di sini, di cabang Sekte Wudang, kau aman. Kami bisa memberimu posisi Murid Luar Kehormatan kalau kau mau. Kau bisa hidup tenang, belajar mengendalikan... kondisi tubuhmu."

Geun berhenti menaiki tangga kereta. Dia menoleh, menatap Mu-jin dengan tatapan jenaka.

"Saudara Baek, kau orang baik. Tapi jujur saja..." Geun mengupil sedikit. "Wudang itu membosankan setengah mati."

"Membosankan?" Mu-jin tersinggung.

"Karena kalian vegetarian yang hanya makan sayur dan buah-buahan, aku merasa seperti menjadi kambing yang hanya tau makan rumput."

"Lalu aku kesal dengan murid disini yang harus bangun subuh-subuh cuma buat teriak-teriak pegang pedang sampai bikin aku tidak bisa bangun siang.

"Dan yang paling parah..." Geun menunjuk sekeliling. "Nggak ada cewek cantik. Isinya batangan semua."

Mu-jin ternganga. "Hanya karena itu?"

"Hanya?!" Geun melotot. "Aku punya 30.000 tael perak, Saudara! Tiga puluh ribu! Kau pikir aku mau menghabiskan masa mudaku makan tahu rebus sambil dengerin ceramah Tao? Aku mau ke Nanjing! Aku mau makan daging rusa panggang! Aku mau tidur di kasur bulu angsa sambil dipijat tiga bidadari!"

Geun menepuk peti uangnya dengan penuh kasih sayang.

"Uang ini kalau nggak dipake dosa, nanti nangis."

Mu-jin kehabisan kata-kata. Bagi Mu-jin yang berasal dari keluarga Baek yang terkenal, uang yang dimiliki Geun itu tidak seberapa.

Itu membuat Mu-jin yang sudah meninggalkan hal duniawi, merasa tidak bisa berkata-kata karena alasan Geun begitu duniawi, begitu dangkal, tapi diucapkan dengan keyakinan seorang nabi.

"Baiklah..." Mu-jin akhirnya menyerah. Dia mengeluarkan sebuah plakat kayu cendana berukir lambang Wudang. "Setidaknya, terimalah ini. Plakat Tamu Kehormatan. Jika kau butuh bantuan di wilayah yang berafiliasi dengan Wudang, tunjukkan ini."

Geun menyambar plakat itu. "Bisa dipake buat diskon makan nggak?"

"Tidak."

"Cih. Ya sudahlah. Buat kenang-kenangan."

Geun memasukkan plakat itu ke saku, lalu berbalik menghadap Mu-jin.

Tiba-tiba, wajah Geun melembut sedikit. Bagaimanapun, Mu-jin adalah orang yang menggendongnya keluar dari hutan dan memberinya makan ayam.

Baek Mu-jin adalah orang pertama yang memperlakukan Geun dengan hormat dan tulus, sesuatu yang tidak pernah Geun rasakan di jalanan. Bahkan meskipun pertemuan mereka berawal karena kebohongan kecil Geun yang menjadi besar dan tidak bisa dikontrol.

"Jaga diri, Saudara Baek. Jangan terlalu kaku. Sekali-kali mainlah ke rumah bordil, biar energi internalmu lancar."

Geun mengulurkan tangannya, menepuk bahu Mu-jin.

Niat Geun adalah memberikan tepukan hangat persahabatan. Sebuah bro-fist ala pria jantan.

Namun Geun lupa satu hal. Atau lebih tepatnya dia tidak tahu. Dan tidak ada yang tahu.

Tadi malam, dia baru saja naik ranah menjadi Low Master.

Dia yang melakukan Reverse Breathing tadi malam dipadukan dengan pembentukan ulang tubuh di insiden "penempaan palu", tanpa sengaja melahirkan kembali tubuhnya sehingga memadatkan massa tulang dan ototnya menjadi seberat logam.

Dia belum mengkalibrasi kontrol tenaganya. Dia tidak tahu.

Tangan Geun mendarat di bahu Mu-jin.

PLUK.

Suaranya pelan.

Tapi efeknya bencana.

KRAK!

Terdengar suara renyah tulang yang retak halus dari tulang selangka Mu-jin.

BLAM!

Tanah di bawah kaki Mu-jin yang terbuat dari paving batu gunung yang keras, amblas seketika.

Kaki Mu-jin tenggelam sampai sebatas mata kaki ke dalam tanah. Debu mengepul.

"..."

"...?!"

Hening.

Burung berhenti berkicau. Penjaga gerbang melotot sampai mata mereka mau keluar.

Wajah Baek Mu-jin berubah dari warna kulit normal menjadi putih kertas, lalu hijau menahan mual.

Rasa sakit yang luar biasa meledak di bahu kanannya. Rasanya seperti baru saja dijatuhi balok besi seberat 500 kati.

Tapi Mu-jin adalah First Rate. Harga dirinya setinggi langit. Dia tidak boleh berteriak kesakitan cuma karena ditepuk bahu!

"S-sau...dara... Geun..." ucap Mu-jin dengan gigi gemeretak, keringat dingin sebesar biji jagung meluncur di pelipisnya.

Geun menarik tangannya kaget. Dia melihat kaki Mu-jin yang tertanam di batu.

"Lho? Kok amblas? Lantainya jelek amat? Kualitasnya jelek ya?"

Geun buru-buru naik ke keretanya, takut disuruh ganti rugi lantai.

"Sampai jumpa ya! Aku pergi dulu!"

"Jalan, Pak Kusir! Cepat!"

Kereta kuda itu melaju kencang meninggalkan debu.

Baek Mu-jin masih berdiri di sana, kakinya tertanam di batu, memegangi bahunya yang retak.

Di dalam hati dan pikirannya, terjadi badai kebingungan.

"Dia tidak menggunakan energi internal," batin Mu-jin terkejut. "Aku tidak merasakan fluktuasi energi internal sedikitpun. Tepukan tadi... itu murni berat tulang dan kepadatan ototnya?"

Mu-jin menatap jejak roda kereta yang menjauh.

Lalu, setelah memastikan kereta itu tidak terlihat lagi,

"Sshhh... Argh... Tabib! Panggil Tabib Mu-ak! Bahuku Retak!"

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!